APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dicerai Suami, Dipinang Sultan

Dicerai Suami, Dipinang Sultan

Dunia Asha runtuh saat Raka, suaminya yang model terkenal, menceraikannya demi karier. Pernikahan tiga tahun itu berakhir karena Asha dianggap beban. Di tengah rasa sakit, hadir Rafael Adiwangsa, duda konglomerat sekaligus wali murid di sekolah tempat Asha mengajar. Rafael menawarkan kasih sayang yang jauh berbeda dari masa lalu Asha yang kelam. Mampukah Asha menyembuhkan luka hatinya dan menerima cinta pria berkuasa ini saat dirinya merasa tidak punya apa-apa lagi?
Bab
Bagikan

Bab 3

Hening malam di apartemen Asha terasa begitu sunyi, hampir menyakitkan. Setelah pertemuannya dengan Rafael dan Rania pagi tadi, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang tak mampu ia abaikan. Suara tawa kecil Rania, tatapan tajam Rafael, dan kehangatan yang mereka bawa seolah menciptakan sebuah kekosongan baru dalam hidupnya.

Asha menyalakan lampu kecil di sudut ruang tamu, duduk di atas sofa usang yang sudah mulai kehilangan empuknya. Di atas meja tergeletak album foto pernikahannya dengan Raka. Ia tak tahu kenapa benda itu masih ia simpan. Ia bahkan tak punya keberanian untuk membukanya lagi.

Namun, malam ini, entah karena dorongan rasa sakit atau keinginan untuk menutup luka, tangannya bergerak dengan ragu-ragu membuka sampul album itu.

Di halaman pertama, terlihat foto pernikahan mereka. Ia tersenyum, berdiri di samping Raka yang tampak gagah dengan setelan jas putih. Di foto itu, matanya bersinar penuh harapan. Seakan aku lupa kalau sinar itu akan dipadamkan oleh orang yang ada di sampingku sendiri, pikir Asha, perih.

Ia membalik halaman demi halaman, melihat senyuman palsu yang dulu ia pikir nyata. Setiap foto adalah pengingat akan mimpinya yang hancur berkeping-keping.

Namun, di halaman terakhir, sebuah catatan kecil tertempel di sudut. Tulisan tangan Raka yang rapi menghiasi kertas itu:

"Asha, terima kasih sudah mau berjalan bersamaku. Aku tidak tahu apa masa depan akan selalu mudah, tapi aku tahu, dengan kamu di sampingku, aku bisa menghadapi apa pun."

Air mata Asha jatuh begitu saja. Kebohongan macam apa ini? Jika kau percaya aku adalah kekuatanmu, kenapa kau pergi? Kenapa aku yang kau salahkan atas kegagalanmu?

Ia menutup album itu dengan kasar, membiarkan isakannya memenuhi ruangan yang kosong. Di tengah tangisnya, sebuah kenangan tiba-tiba muncul-malam terakhir sebelum mereka benar-benar berpisah.

Malam itu

"Aku ingin kita bercerai, Asha," kata Raka tanpa basa-basi, tatapannya dingin seperti es.

Asha menatapnya dengan mata yang mulai memerah. "Kenapa, Raka? Apa aku begitu buruk sebagai istrimu?"

Raka mendengus, melipat tangan di dada. "Kamu bukan buruk, Asha. Kamu... biasa saja. Hidupku terlalu besar untuk seseorang yang biasa-biasa saja seperti kamu."

Kalimat itu menghancurkan Asha lebih dari apa pun yang pernah ia dengar. Selama tiga tahun, ia mencurahkan segalanya untuk mendukung Raka-membantunya mengelola jadwal, menjaga rumah tetap nyaman, dan selalu berusaha menjadi istri yang baik. Tapi semua itu ternyata tidak cukup.

"Kamu pernah bilang aku rumahmu, Raka," bisik Asha, mencoba menahan air matanya. "Apa itu hanya omong kosong?"

Raka mengangkat bahu, tidak terganggu oleh tangisannya. "Aku salah. Rumah yang aku butuhkan bukan kamu. Aku butuh kebebasan, bukan beban."

Asha tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kata-kata Raka menusuk lebih dalam dari yang ia bayangkan. Malam itu, ia hanya berdiri diam, menatap punggung Raka yang berjalan menjauh, meninggalkannya dengan luka yang tak pernah sembuh.

Kembali ke masa kini, Asha memejamkan matanya, mencoba menghapus kenangan itu. Tapi bayangan Raka dan kata-katanya terus menghantuinya, seperti bayangan gelap yang tak mau pergi.

Ia menghela napas panjang, memutuskan untuk mengambil selimut dan memaksakan dirinya tidur. Tapi sebelum ia bisa benar-benar terlelap, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk.

Rafael:

"Miss Asha, maaf mengganggu malam Anda. Saya hanya ingin memastikan Rania tidak merepotkan Anda tadi pagi. Dia terus membicarakan Anda sepanjang hari."

Asha membaca pesan itu beberapa kali, merasakan sesuatu yang hangat di balik kata-kata sederhana itu. Sudah lama sekali tidak ada orang yang benar-benar peduli padanya. Bahkan perhatian sekecil ini terasa asing dan menakutkan.

Dengan ragu, ia mengetik balasan:

Asha:

"Rania tidak merepotkan sama sekali, Pak Rafael. Dia gadis kecil yang luar biasa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya."

Tak lama setelah ia mengirim pesan itu, ponselnya kembali berbunyi.

Rafael:

"Saya tahu ini mungkin tidak pada tempatnya, tapi jika Anda butuh seseorang untuk berbicara, saya selalu siap mendengar. Saya mengerti bagaimana rasanya berjuang sendiri."

Kata-kata itu menghentikan napas Asha sejenak. Ia tidak tahu harus merasa apa-lega, terharu, atau justru lebih takut. Membuka diri pada orang baru bukanlah sesuatu yang mudah setelah apa yang ia alami.

Namun, di lubuk hatinya, ia tahu bahwa tawaran Rafael tulus. Ia mengingat tatapannya tadi pagi, penuh ketegasan tapi juga kehangatan yang sulit dijelaskan.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Asha merasa ada secercah harapan. Tidak besar, tapi cukup untuk membuatnya berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, hidupnya belum benar-benar berakhir.

Di luar, hujan mulai turun lagi, tapi kali ini, suara tetesan air itu terdengar lebih seperti melodi daripada tangisan. Asha memandang ke luar jendela, membiarkan hujan itu menjadi saksi dari awal langkah kecilnya menuju pemulihan.**Bab 3: Luka yang Perlahan Terbuka**

Hening malam di apartemen Asha terasa begitu sunyi, hampir menyakitkan. Setelah pertemuannya dengan Rafael dan Rania pagi tadi, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang tak mampu ia abaikan. Suara tawa kecil Rania, tatapan tajam Rafael, dan kehangatan yang mereka bawa seolah menciptakan sebuah kekosongan baru dalam hidupnya.

Asha menyalakan lampu kecil di sudut ruang tamu, duduk di atas sofa usang yang sudah mulai kehilangan empuknya. Di atas meja tergeletak album foto pernikahannya dengan Raka. Ia tak tahu kenapa benda itu masih ia simpan. Ia bahkan tak punya keberanian untuk membukanya lagi.

Namun, malam ini, entah karena dorongan rasa sakit atau keinginan untuk menutup luka, tangannya bergerak dengan ragu-ragu membuka sampul album itu.

Di halaman pertama, terlihat foto pernikahan mereka. Ia tersenyum, berdiri di samping Raka yang tampak gagah dengan setelan jas putih. Di foto itu, matanya bersinar penuh harapan. *Seakan aku lupa kalau sinar itu akan dipadamkan oleh orang yang ada di sampingku sendiri,* pikir Asha, perih.

Ia membalik halaman demi halaman, melihat senyuman palsu yang dulu ia pikir nyata. Setiap foto adalah pengingat akan mimpinya yang hancur berkeping-keping.

Namun, di halaman terakhir, sebuah catatan kecil tertempel di sudut. Tulisan tangan Raka yang rapi menghiasi kertas itu:

_"Asha, terima kasih sudah mau berjalan bersamaku. Aku tidak tahu apa masa depan akan selalu mudah, tapi aku tahu, dengan kamu di sampingku, aku bisa menghadapi apa pun."_

Air mata Asha jatuh begitu saja. *Kebohongan macam apa ini? Jika kau percaya aku adalah kekuatanmu, kenapa kau pergi? Kenapa aku yang kau salahkan atas kegagalanmu?*

Ia menutup album itu dengan kasar, membiarkan isakannya memenuhi ruangan yang kosong. Di tengah tangisnya, sebuah kenangan tiba-tiba muncul-malam terakhir sebelum mereka benar-benar berpisah.

---

**Malam itu**

"Aku ingin kita bercerai, Asha," kata Raka tanpa basa-basi, tatapannya dingin seperti es.

Asha menatapnya dengan mata yang mulai memerah. "Kenapa, Raka? Apa aku begitu buruk sebagai istrimu?"

Raka mendengus, melipat tangan di dada. "Kamu bukan buruk, Asha. Kamu... biasa saja. Hidupku terlalu besar untuk seseorang yang biasa-biasa saja seperti kamu."

Kalimat itu menghancurkan Asha lebih dari apa pun yang pernah ia dengar. Selama tiga tahun, ia mencurahkan segalanya untuk mendukung Raka-membantunya mengelola jadwal, menjaga rumah tetap nyaman, dan selalu berusaha menjadi istri yang baik. Tapi semua itu ternyata tidak cukup.

"Kamu pernah bilang aku rumahmu, Raka," bisik Asha, mencoba menahan air matanya. "Apa itu hanya omong kosong?"

Raka mengangkat bahu, tidak terganggu oleh tangisannya. "Aku salah. Rumah yang aku butuhkan bukan kamu. Aku butuh kebebasan, bukan beban."

Asha tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kata-kata Raka menusuk lebih dalam dari yang ia bayangkan. Malam itu, ia hanya berdiri diam, menatap punggung Raka yang berjalan menjauh, meninggalkannya dengan luka yang tak pernah sembuh.

---

Kembali ke masa kini, Asha memejamkan matanya, mencoba menghapus kenangan itu. Tapi bayangan Raka dan kata-katanya terus menghantuinya, seperti bayangan gelap yang tak mau pergi.

Ia menghela napas panjang, memutuskan untuk mengambil selimut dan memaksakan dirinya tidur. Tapi sebelum ia bisa benar-benar terlelap, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk.

**Rafael:**

_"Miss Asha, maaf mengganggu malam Anda. Saya hanya ingin memastikan Rania tidak merepotkan Anda tadi pagi. Dia terus membicarakan Anda sepanjang hari."_

Asha membaca pesan itu beberapa kali, merasakan sesuatu yang hangat di balik kata-kata sederhana itu. Sudah lama sekali tidak ada orang yang benar-benar peduli padanya. Bahkan perhatian sekecil ini terasa asing dan menakutkan.

Dengan ragu, ia mengetik balasan:

**Asha:**

_"Rania tidak merepotkan sama sekali, Pak Rafael. Dia gadis kecil yang luar biasa. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya."_

Tak lama setelah ia mengirim pesan itu, ponselnya kembali berbunyi.

**Rafael:**

_"Saya tahu ini mungkin tidak pada tempatnya, tapi jika Anda butuh seseorang untuk berbicara, saya selalu siap mendengar. Saya mengerti bagaimana rasanya berjuang sendiri."_

Kata-kata itu menghentikan napas Asha sejenak. Ia tidak tahu harus merasa apa-lega, terharu, atau justru lebih takut. Membuka diri pada orang baru bukanlah sesuatu yang mudah setelah apa yang ia alami.

Namun, di lubuk hatinya, ia tahu bahwa tawaran Rafael tulus. Ia mengingat tatapannya tadi pagi, penuh ketegasan tapi juga kehangatan yang sulit dijelaskan.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Asha merasa ada secercah harapan. Tidak besar, tapi cukup untuk membuatnya berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, hidupnya belum benar-benar berakhir.

Di luar, hujan mulai turun lagi, tapi kali ini, suara tetesan air itu terdengar lebih seperti melodi daripada tangisan. Asha memandang ke luar jendela, membiarkan hujan itu menjadi saksi dari awal langkah kecilnya menuju pemulihan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Yang Ku Bawa Dalam Rahimku
8.6
Baru seminggu bekerja di kediaman Arsanta, Alesha Devandra mengalami tragedi kelam saat Reiner yang sedang mabuk akibat dikhianati kekasihnya melampiaskan amarah padanya. Alesha yang trauma memilih kabur ke desa, namun ia justru mendapati dirinya hamil. Kini ia terjepit antara menuntut tanggung jawab pada Reiner yang mungkin lupa, atau membesarkan bayinya sendirian di tengah cibiran. Akankah Reiner mengakui darah dagingnya saat rahasia ini terungkap?
Sampul Novel Istri Palsu Miliarder
8.7
Vivienne mengkhianati Soren Blackwood dengan berselingkuh dan mencoba membunuhnya. Namun, bawahan Soren justru salah menangkap Kira, saudara kembar Vivienne. Kini Kira terjebak menjadi istri palsu sang CEO kejam yang lumpuh akibat insiden tersebut. Di tengah pusaran kebohongan dan dendam, Soren mulai menaruh hati pada sosok Kira yang berbeda. Akankah rahasia ini bertahan saat Vivienne asli kembali? Sebuah kisah romansa penuh misteri dalam lingkaran pengkhianatan.
Sampul Novel ISTRIKU YANG MENGGAIRAHKAN(IYM)
9.2
Isabell Fernandez, model ternama sekaligus istri CEO Damian Devardo, jatuh miskin akibat kelicikan ibu mertuanya. Setelah dilecehkan dan dibuang ke jurang, ia terbangun di New York tanpa ingatan. Kini, Isabell bekerja sebagai penari erotis di bar kasino demi bertahan hidup. Di sisi lain, Damian yang frustrasi terus mencarinya hingga seorang bawahan menemukan sosok yang sangat mirip sang istri. Akankah cinta mereka bersatu kembali saat Isabell telah berubah status?
Sampul Novel MENIKAHI CEO LUMPUH
9.1
Demi kesembuhan sang ayah, Sofia yang baru berusia 19 tahun terpaksa menikahi Yesaya, seorang CEO lumpuh berumur 33 tahun. Awalnya penuh tekanan, perasaan Sofia berubah menjadi cinta tulus saat menemukan surat wasiat bunuh diri suaminya. Namun, cinta itu justru dibalas penolakan. Yesaya sengaja menjauhkan diri dan melakukan tindakan ekstrem demi melindungi rahasia serta kebahagiaan Sofia, meski hal tersebut malah menghancurkan hidup istrinya.
Sampul Novel Pernikahan Janda Kembang
8.3
Ayu adalah janda memesona yang menyimpan misteri kelam. Empat suaminya tewas secara tiba-tiba, hingga ia dituduh menggunakan ilmu hitam. Meski rumor mengerikan beredar luas, Ruben tetap teguh pada pendiriannya. Pemuda tampan sekaligus miliarder kaya raya ini bertekad mempersunting Ayu walau sang ibu menentang keras hubungan mereka. Ruben siap menghadapi risiko maut demi cintanya pada sang janda kembang di tengah pertentangan keluarga yang sangat sengit.
Sampul Novel PERNIKAHAN PAKSA : Menikah Tanpa Cinta
9.6
Baskara, pewaris Adiputra Group, terpaksa menghadapi perjodohan orang tuanya saat ia masih menjalin kasih dengan Viona. Ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Hanna, gadis ceria yang patuh pada keputusan ayahnya. Di tengah dilema besar, Hanna harus menerima kenyataan bahwa suaminya masih mencintai wanita lain. Akankah pengorbanan mereka berujung pada kebahagiaan tak terduga, atau justru luka yang semakin mendalam bagi keduanya?