APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dijodohin With Gus

Dijodohin With Gus

Anindya Alisya Syahreza dikenal sebagai siswi nakal yang hobi membuat onar di sekolahnya. Dari merundung adik kelas hingga sering bolos bersama Lita dan Gilang, ulahnya selalu memicu amarah guru. Namun, kehidupan bebas Anindya terancam berakhir saat orang tuanya memutuskan untuk mengirimnya ke pondok pesantren milik rekan ayahnya. Tak disangka, di sana ia justru terjebak dalam persaingan cinta antara dua Gus bersaudara yang berusaha memenangkan hatinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah perdebatan dan mendapatkan siraman rohani, Anindya langsung pamit jalan-jalan bersama Gilang. Mereka berdua akan menuju alun-alun kota yang terdapat banyak jajanan.

Alih-alih menyusul Lita, mereka berdua malah menuju alun-alun kota. Gilang tak kuasa menolak permintaan  Anindya, bisa berabe nanti kalo Gilang tidak mendapat maaf dari sepupunya itu. Anindya memang paling pinter memanfaatkan keadaan.

Gilang hanya bisa pasrah, kalau seperti ini Anindya sangat gencar dalam mengincar uang Gilang yang baru di transfer Ayahnya. Tak apalah, penting nggak pergi ke mall, kemauan Anindya bejibun soalnya.

"Kalo si Lita marah gimana?" Tanya Gilang dengan wajah sok cemasnya, mulutnya tak berhenti mengunyah telur gulung yang dibelinya.

"Biarin, kita bawain dia es krim aja, luluh dia," Kata Anindya tanpa menatap wajah Gilang. Matanya tak berhenti menatap berbinar pada penjual jajanan masa kecilnya.

"Lo mau itu?" Gilang menunjuk pada penjual aru manis. Lalu pandangannya beralih pada Anindya.

Anindya menganggukkan kepalanya senang. "Mauuu, gih beliin." Anindya memerintah Gilang.

"Cosplay jadi babu lo kalo kayak gini, beli sendiri sono." Gilang menyodorkan dua lembar uang berwarna merah pada Anindya.

"Enggak mauuu."

"Lo yang mau bukan gue, jadi lo yang harus beli."

"Gilangggg."

"Apa?! Yang mau kan elu cielah, masa gue yang harus beli lagi..."

Anindya menggelengkan kepalanya. "Elu aja yang beli pokoknya, sekalian beli es krimmmm."

"Ck! Siap kanjeng ratu," Pasrah Gilang, kalau dilanjutkan bisa panjang perdebatannya.

"Iya babu," Balas Anindya tertawa senang.

"Babu matamu!"

°°°°°

Mobil Gilang berhenti dipertigaan komplek perumahan dekat sekolahan, Lita menghentak-hentakkan kakinya menghampiri Gilang dan Anindya.

"Heh! Kalian tahu nggak sih, gue nunggu kalian lama bangetttt. Mending gue tadi kagak usah bolos sekolah, nilai gue udah anjlok tambah anjlok. Kalian jemput gue pake ngaret segala, huh!" Omel Lita.

"Utututu, sini bestyy masuk dulu. Panas tahu diluar." Anindya menarik tangan Lita menuju mobil.

"Kalian berdua ke mana aja hah! Gue panas-panasan nunggu kalian, tadi gue juga nolak ajakan anak SMP waktu mau barengin gue!" Sembur Lita mengeluarkan segala unek-uneknya.

"Idih, anak SMP nggak tuh." Anindya tertawa dibuatnya.

"Udah-udah, maafin kita ya Lita cantik. Kalo marah-marah lo makin jelek deh," Ucap Gilang seraya menyodorkan kantong kresek yang dalamnya terdapat beberapa es krim.

"Ck! Lo niat muji gue atau ngejelekin gue sih, btw apaan?" Lita mengangkat sebelah alisnya.

"Buka aja deh, makan. Nyerocos mulu kaya mercon." Gilang menggelengkan kepalanya, mengendarai mobilnya santai.

"Lo tau nggak Anindya, setelah ceramah tadi berasa banyak dosa gue." Gilang memulai pembicaraan.

"Dosa lu emang bejibun kali." Lita menyahuti sembari menyomot 2 es krim ditangannya.

"Enak aja, lo juga ya! jangan munafik." Gilang tak terima.

"Lo mah, gue mau tobat aja setelah ini," Kata Lita.

"Kek nggak tau aja sifat lo, gegayaan tobat tapi besoknya balik lagi sama kelakuan yang nauzubillah." Respon Gilang tidak terkejut lagi ketika Lita mengatakan ingin tobat.

"Ya jangan gitu lah, Lang. kali ini gue serius kok."

"Makan tuh serius."

"Mikin tih siriis," Ejek Lita memonyongkan bibirnya.

"JODOH NIH, JODOHHH." Anindya bersorak setelah berdiam diri memperhatikan perdebatan Gilang dengan Lita.

"Gundulmu jodoh!" Lita melirik sinis.

Anindya tertawa terbahak. "Aminin napa?"

"GAK!!" Ucap Gilang dan Lita kompak.

"Nah, jodoh ini nih jodoh." Sorak Anindya, lagi.

"Apaan sih!! Nah sampai," Kata Gilang.

"Lo culik gue kemana?" Tanya Anindya beranjak keluar mobil.

"Enak aja dibilang nyulik," Kata Gilang sambil menyugar rambutnya.

"Ya ya ya, terserah lo." Anindya mengendikkan bahunya.

"Yuk masuk, gue tinggal baru tau rasa," Ajak Anindya antusias melihat Kafe yang belum pernah dimasukinya.

Mereka pun masuk ke dalam Kafe itu, entah kenapa saat ketiganya masuk semua pandangan langsung tertuju pada mereka.

"Duduk dipojokan deket jendela." Intrupsi Gilang.

Mereka mengambil posisi duduk dimeja pojokan deket jendela, meja favorit di manapun mereka berada.

"Gilang, Lo cowo kan?" Tanya Anindya melirik Gilang disebelahnya.

"Iyalah anjir! Baru nyadar?"

"Lo yang mesen ya, biar gentle gitu, ya nggak Ta." Anindya tersenyum senang.

"Iya dong, pasti."

"Siapapun ayo culik gue, gue ternistakan ini, gue tersakitiii," Ucap Gilang dramatis.

"Apa! Lo mau mati." Pekik Anindya kaget.

"Lo sarap? Yakali gue mau mati disini."

"Hilih, Gue kira Lo mau mati."

"Nyumpahin gue mati lo?"

"Gue kira dodol." Anindya menoyor kepala Gilang kesal.

"Sakit bambang."

"Sikit bimbing." Tiru Anindya menye-menye.

"Kalau diperhatikan, Lo emang jarang diperhatikan." Ujar Gilang meneliti tampang Anindya.

Anindya mendengus kesal. "Lo juga."

"Lo lebih jarang."

"Lo apalagi."

"Gilang!"

"Anindya!"

"Gil---"

"STOP!" Tiba-tiba Lita bangkit dan menggebrak meja. Pandangannya menatap sekitar, seketika malu-malu pada orang-orang di sekelilingnya.

"Kalian kenapa sih... Kalo ketemu mesti berantem mulu! Gue di kacangin lagi! Kacang mahal loh sekarang."

"Tadi marah-marah, sekarang malah bahas kacang." Gilang menggelengkan kepalanya.

"Lebay kau loh..." Kata Anindya.

"Humalabaik!" Balas Lita cepat.

Gilang tertawa terbahak. "Kok bisa pas ya."

"Iya yah," Ucap Lita dan Anindya kompak.

"Dih! ngikut-ngikut." Anindya menggerakkan bibirnya ke kanan dan kiri mengarahkan pada Lita.

"Situ kali yang ngikut." Balas Lita tak kalah menggerakkan bibirnya cepat.

"Lo yang ngikutinnnnn."

"Halah... Kalian berdua juga gitu, kalo ketemu mesti berantem dan gue di kacangin lagi! Kacang mahal."

"Itu kata-kata gue." Lita menatap tajam Gilang.

"Hehe, gue minjem dulu," Kata Gilang.

"Mana ada minjem."

"Cepet mesen, perut gue udah demo minta makan nih," Kata Anindya melirik Gilang.

"Iya-iya, gue mesen dulu." Ucap Gilang beranjak pergi memesan makanan.

"Eh Anindya, emang tadi Lo sama Gilang abis di ceramahin apaan? Sama siapa sihh? Kok gitu amat." Sifat kepo Lita mulai menampakkan dirinya.

"Ayah, Bunda gue. Biasa ceramah ibu-ibu pengajian."

"Nggak nyangka gue Bunda bisa kaya gituan, tausiyah apaan emang?" Lita segera menyiapkan telinganya untuk mendengar jelas ucapan Anindya.

"Tentang zina. Jujur aja hati gue rada tersentuh sih, tapi ya namanya juga Anindya, sebisanya aja dan berusaha menjadi lebih baik."

"Loh-loh, lo kok ngikut jadi gitu sih, kaya ukhti-ukhti."

"Ya ya ya, gue berusaha aja dulu, jalanin prosesnya." Anindya merubah posisi tangannya, menyilangkan di depan dada.

"Tumben pikiran lo nggak sesat, rahasianya apaan tuh." Lita menarik turunkan alisnya, seolah menanyakan 'apa'.

"Bunda ngancem mau masukin gue ke pondok pesantren, sebenarnya gue biasa aja sih nanggepinnya soalnya mana mungkin Bunda tega. Apalagi anak satu-satunya." Anindya mengendikkan bahunya sambil memperhatikan sekitarnya.

"Wagelasehh, bener banget sih apa kata lo." Lita bertepuk tangan.

"Tapi siapa tahu kan? Gue nggak bisa mastiin kedepannya bakal gimana kalau gue tetep ngerusuh di sekolah," Ucap Anindya memelas.

"Kalo semisal Bunda masukin lo ke pondok pesantren beneran, gimana?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Harta Tahta Kesayangan Duda
8.9
Apa jadinya jika seorang gadis unik seperti gue mendadak dikejar oleh seorang duda kalem? Rasanya ingin kabur, namun kehadiran anaknya yang menggemaskan justru membuat gue bimbang. Meski takut terlihat cepat tua jika bersamanya, kekayaannya yang melimpah menjadi pertimbangan tersendiri. Saat lamaran tiba, gue pun mengajukan syarat untuk memiliki bayi yang lucu. Jawaban santainya pun membuat masa depan kami kini berada di ujung keputusan yang tak terduga.
Sampul Novel Ipar adalah Maut Pernikahan
9.6
Dian terjebak dalam perselingkuhan dengan Raihan, pria yang terikat pernikahan tanpa cinta. Meski dihantui rasa bersalah terhadap suaminya, Galih, dan sahabatnya, Laras, Dian sulit melepaskan diri. Saat ia mencoba menjauh, obsesi Raihan justru kian menguat. Situasi memanas ketika Laras mendatangi kamar Dian tanpa curiga. Kini, Dian harus menghadapi konsekuensi atas dosa yang mengancam menghancurkan reputasi, persahabatan, serta masa depannya selamanya.
Sampul Novel Istri Serakah
8.1
Wanita yang menjadi pendamping hidupku ternyata menyimpan ambisi gelap. Ia tidak sekadar haus akan kemewahan harta yang kumiliki, namun juga berambisi mengendalikan seluruh eksistensiku. Sayangnya, kabut cinta membutakan mataku hingga segalanya terlambat. Aku baru menyadari sifat serakahnya setelah seluruh kekayaanku habis tak bersisa dan hidupku hancur lebur. Penyesalan mendalam datang saat aku telah kehilangan semua yang pernah aku perjuangkan selama ini.
Sampul Novel Jejak Cinta di Kota Hujan
9.7
Naya, penulis yang sedang buntu ide, mencari inspirasi di kota kecil penuh hujan. Di sana, ia terpikat oleh Arga, barista misterius yang menyimpan rahasia besar. Saat benih cinta tumbuh, Naya menemukan fakta bahwa Arga adalah penulis ternama yang sengaja menghilang akibat skandal masa lalu. Kini Naya terjebak dalam dilema moral yang sulit. Haruskah ia mengungkap identitas Arga demi kebenaran, atau melindungi pria yang ia cintai demi menjaga rahasianya?
Sampul Novel Kita Tidak Akan Pernah Berpisah Lagi
9.6
Pasca tewas tragis akibat cinta buta, Maeve terlahir kembali dengan tekad menjalani hidup baru yang bebas. Ia pun menghancurkan ambisi rival lamanya di dunia musik melalui bakat yang tak tertandingi. Sambil meniti puncak karier, Maeve tetap menunjukkan sisi lembut pada pria yang dicintainya. Di balik ketegasannya, ia tak ragu menggoda sang kekasih hingga pria itu membalasnya dengan bisikan penuh gairah yang menjanjikan malam tak terlupakan.
Sampul Novel Permainan Pewaris
9.3
Tiga tahun menjalin kasih, Kristian Dobson justru mengkhianatiku demi menikahi Laura Clarke, sang pewaris kaya. Berdalih ingin diakui keluarga, dia malah mengurungku dalam kemewahan yang menyesakkan. Puncaknya, Kristian tega memaksaku melompat dari lantai tujuh belas demi memuaskan istri barunya. Mereka mengira aku lemah dan bisa dihancurkan begitu saja. Namun, mereka tidak sadar bahwa akulah pewaris tunggal kekayaan terbesar di kota ini yang sesungguhnya.