APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dikhianati di Ranjang Pengantin

Dikhianati di Ranjang Pengantin

Hidup Aurora Valencia hancur setelah dijebak oleh Sabrina, saudara tirinya, hingga hamil anak orang asing. Akibat skandal itu, Jenderal Wirya Atmaja mengusir putri kandungnya demi kehormatan. Enam tahun berselang, Aurora kembali ke Jakarta dengan kekuatan baru untuk menuntut balas. Ia bertekad mengoyak topeng busuk ibu serta saudari tirinya, sembari mengungkap identitas pria misterius yang menjadi ayah dari anak kembar jenius miliknya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pintu gerbang rumah Jenderal Wirya Atmaja yang menjulang tinggi itu tertutup di depan wajah Aurora, bukan dengan bunyi keras, melainkan dengan keheningan yang mematikan. Keheningan yang seolah mengatakan, 'Kamu sudah mati bagi kami.'

Aurora berdiri di pinggir jalan, di bawah terik matahari pagi yang menusuk kulit. Dia masih mengenakan gaun malam yang lecek dan robek di bagian bahu karena tarikan pengawal tadi. Dia tidak punya apa-apa. Tidak ada tas, tidak ada dompet, bahkan sepatunya sudah hilang entah ke mana saat dia diseret.

Dia berjalan tanpa tujuan, kaki telanjang di atas aspal panas. Air mata sudah habis, digantikan oleh rasa perih yang teramat dalam. Bukan perih karena perlakuan Jenderal Wirya-dia sudah lama tahu ayahnya lebih mencintai kehormatan daripada dirinya-tapi perih karena tipu daya Sabrina.

"Sabrina, kau lihat apa yang kau lakukan padaku? Kau menghancurkan hidupku," bisiknya, suaranya parau.

Aurora terus berjalan sampai dia tiba di sebuah warung kecil yang menjual sarapan. Perutnya berbunyi nyaring, mengingatkannya bahwa dia belum makan sejak pesta semalam. Dia menatap uang kembalian receh yang ditinggalkan tukang ojek yang tadi dia tumpangi (dia memohon belas kasihan pada tukang ojek itu, berjanji akan membayar dobel jika dia bisa membawanya menjauh dari kompleks itu).

Itu uang terakhirnya.

Dia membeli sebungkus nasi uduk paling murah dan memakannya perlahan-lahan. Saat itulah ponselnya berdering. Itu nomor asing.

Dia menerima panggilan itu dengan tangan gemetar.

"Halo?"

"Aurora. Dengar baik-baik. Ini Tuan David," suara pria itu dalam, dingin, tanpa emosi, suara yang dia ingat samar-samar dari malam itu.

Jantung Aurora berdesir kencang, antara jijik dan penasaran. "Kamu! Beraninya kamu meneleponku setelah apa yang kamu lakukan?"

"Aku nggak tahu apa yang direncanakan saudari tirimu itu. Aku dijebak, sama sepertimu," katanya, suaranya terdengar meyakinkan tapi terlalu tergesa-gesa. "Aku sudah di bandara. Aku mau pergi dari negara ini. Aku nggak peduli sama keluarga gilamu, tapi aku nggak mau ikut terseret dalam skandalmu. Kau urus saja masalahmu sendiri."

Aurora terdiam, air mata kembali menggenang. "Kamu pikir semudah itu? Kamu merenggut segalanya dariku! Dan kamu bilang aku harus mengurusnya sendiri?"

"Aku sudah transfer sedikit uang ke rekening lama atas namamu. Jumlahnya cukup untuk bertahan beberapa bulan, anggap saja kompensasi karena aku juga terlibat, meskipun nggak sepenuhnya salahku. Sekarang lupakan aku. Jangan pernah cari aku. Jangan pernah sebut namaku. Sampai jumpa."

Sambungan terputus.

Aurora memeriksa pesan di ponsel yang dia pinjam dari pemilik warung. Ada notifikasi transfer masuk. Jumlahnya... lumayan besar. Cukup untuk modal awal hidup baru. Rasa sakit hati yang dirasakannya bercampur dengan rasa lega yang memuakkan. Dia benci menerima uang itu, tapi dia tahu dia membutuhkannya untuk bertahan hidup.

Dengan uang itu, Aurora menyewa kamar kost kecil di daerah pinggiran Jakarta. Kamar itu sempit, pengap, dan bau apek, tapi itu adalah tempat berlindung. Dia membeli pakaian seadanya, membuang gaun hitam terkutuk itu, dan menghapus jejak masa lalunya.

Beberapa hari pertama adalah neraka. Aurora hanya bisa menangis dan tidur. Trauma malam itu terus menghantuinya. Setiap sentuhan, setiap aroma, membawanya kembali ke kamar suite yang gelap itu. Dia merasa dirinya sudah hancur. Dia ingin membalas dendam, tapi bagaimana? Dia tidak punya kekuasaan, tidak punya nama, dan tidak punya koneksi.

Semua orang di dunia ini-termasuk ayahnya-mempercayai bahwa dia adalah anak yang merusak nama baik keluarga demi uang.

Satu minggu berlalu. Dua minggu. Tiga minggu.

Pola makannya berantakan. Dia tidak nafsu makan, dan bahkan ketika dia memaksa dirinya makan, dia akan merasa mual hebat tak lama kemudian.

Aku cuma stres. Pasti karena trauma, pikirnya.

Namun, rasa mual itu semakin menjadi-jadi. Bahkan bau masakan dari warung sebelah pun bisa membuatnya lari ke kamar mandi. Ini bukan lagi stres biasa.

Aurora memutuskan untuk mendatangi klinik kecil di dekat kostnya. Dia berbohong pada dokter, mengatakan dia baru saja pindah dan pola hidupnya berubah drastis. Dia meminta obat untuk mengatasi sakit perut dan mual.

Dokter itu, seorang wanita paruh baya yang tampak ramah, mengangguk-angguk saat memeriksa Aurora. Dia mengajukan beberapa pertanyaan rutin, termasuk soal siklus menstruasi.

"Kapan terakhir kali kamu datang bulan?" tanya dokter itu sambil menulis di notes.

Aurora terdiam. Dia menghitung mundur. Seharusnya dia sudah datang bulan dua minggu yang lalu. Tapi karena dia terlalu fokus pada kehancuran hidupnya, dia tidak menyadari keterlambatan itu.

"Sekitar... lima minggu yang lalu," jawab Aurora, suaranya tercekat. Tiba-tiba, firasat buruk menyerangnya.

Dokter itu tersenyum tipis. "Oke. Saya rasa kamu tidak perlu obat sakit perut, Nak. Tapi kita harus pastikan dulu."

Dokter meminta Aurora melakukan tes kehamilan sederhana.

Aurora menunggu di ruang tunggu yang sepi. Jantungnya berdebar-debar seolah ingin meledak. Dia berharap, berharap penuh, bahwa ini semua hanyalah salah diagnosis, bahwa dia hanya kelelahan. Dia tidak bisa. Dia tidak boleh.

Beberapa menit kemudian, dokter memanggilnya kembali ke dalam ruangan. Di atas meja, tergeletak alat tes dengan dua garis merah yang sangat jelas.

"Selamat, Nona," kata dokter itu dengan nada ramah. "Kamu hamil. Usia kandunganmu sekitar satu bulan lebih sedikit."

Dunia Aurora runtuh, lagi. Kali ini, tidak ada lagi air mata. Hanya ada rasa dingin, kosong, dan amarah yang membakar.

Hamil. Hamil anak pria yang bahkan dia tidak ingat wajahnya. Hamil anak dari malam terkutuk yang merenggut seluruh hidupnya. Hamil.

Ini bukan sekadar skandal lagi. Ini adalah hukuman seumur hidup.

"Nona, apa kamu baik-baik saja?" tanya dokter itu khawatir, melihat Aurora mematung.

Aurora tersentak. Dia memaksakan diri untuk tersenyum, senyum yang jauh dari kata bahagia. "A-aku baik-baik saja, Dok. Terima kasih."

Dia meninggalkan klinik itu dengan langkah gontai. Di tangannya, selembar kertas bertuliskan hasil positif, seolah itu adalah surat hukuman mati.

Dia berjalan menuju taman kota yang sepi dan duduk di bangku kayu yang sudah reyot. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan badai yang bergolak di dadanya.

Aku nggak bisa. Aku nggak bisa punya anak dari pria itu. Anak ini akan menjadi pengingat permanen tentang kehinaan yang aku alami.

Pikiran tentang menggugurkan kandungan muncul dengan kuat. Itu adalah jalan keluar yang paling mudah, paling bersih. Dia bisa melupakan malam itu, memulai hidup baru, dan fokus pada balas dendam.

Aurora meletakkan tangannya yang gemetar di perutnya yang masih rata.

Dia diam di sana selama berjam-jam, membiarkan kebisingan kota larut malam mengelilinginya. Dia memikirkan ayahnya, yang pasti akan menghinanya lagi jika tahu. Dia memikirkan Sabrina, yang pasti akan tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba, dia merasakan sedikit gerakan di perutnya, atau mungkin hanya imajinasinya.

Dia menarik tangannya. Itu hanya embrio kecil, setitik darah. Tapi entah kenapa, saat tangannya menyentuh kulit perutnya, perasaan aneh muncul. Bukan rasa jijik, melainkan rasa... perlindungan.

Enam tahun lalu, sebelum ibunya meninggal dan Jenderal Wirya menikah lagi, Aurora adalah anak yang sangat dicintai. Dia selalu ingin memiliki adik kecil. Dia selalu memimpikan keluarga yang hangat.

Anak ini. Walaupun dia tercipta dari malam yang kelam, anak ini tidak bersalah. Anak ini adalah bagian dari dirinya. Jika dia menggugurkannya, dia sama saja membiarkan Sabrina menang, membiarkan trauma itu menghancurkannya sepenuhnya.

Tidak.

Anak ini akan menjadi kekuatannya. Anak ini akan menjadi rahasianya. Anak ini akan menjadi alasan terkuatnya untuk bangkit dan kembali. Dia tidak akan membiarkan anak ini lahir di negara yang akan melabelinya sebagai anak haram dari aib keluarga militer.

Keputusan sudah bulat. Aurora akan menjaga anak ini, dan dia harus pergi, jauh dari jangkauan Jenderal Wirya, Mama Karina, dan terutama, Sabrina.

Aurora kembali ke kostnya. Dia menghabiskan waktu semalaman merencanakan pelarian. Dengan uang transfer dari Tuan David, dia memesan tiket pesawat paling murah ke London. London, kota yang jauh, tempat tidak ada yang tahu siapa Aurora Valencia, putri Jenderal yang diusir.

Dia menelepon satu-satunya orang yang dia yakini masih akan mendengarkannya: Bibi Marni, mantan pengasuhnya yang kini tinggal di Bandung. Bibi Marni adalah satu-satunya orang yang tahu kebenaran hatinya.

"Bi, aku diusir. Aku cuma punya uang ini, dan aku... aku hamil," kata Aurora di telepon, suaranya pecah lagi.

Bibi Marni di seberang sana terdiam lama. Ketika dia bicara, suaranya dipenuhi kasih sayang yang sudah lama tidak didengar Aurora.

"Ya Tuhan, Nak. Ya sudah. Jangan takut. Bibi akan bantu kamu. Kamu butuh identitas baru. Kamu nggak bisa pakai nama Valencia lagi. Itu terlalu berbahaya. Bibi akan urus surat-suratmu."

Bibi Marni ternyata memiliki kenalan di kantor imigrasi yang bisa membantunya membuat paspor darurat dengan nama tengah dan belakang yang diubah, sekadar untuk melarikan diri dari Jakarta. Dalam dua hari, semua dokumen sudah siap.

Pada hari keberangkatan, Aurora mengenakan pakaian paling biasa, menutupi perutnya yang masih rata dengan jaket longgar. Dia menatap ke belakang, ke arah kota Jakarta yang megah sekaligus kejam.

Selamat tinggal, Jenderal Wirya. Selamat tinggal, Sabrina. Aku pergi sebagai pecundang, tapi aku akan kembali sebagai pemenang.

Di dalam pesawat, di kursi paling belakang, Aurora menangis diam-diam. Tangisan itu bukan lagi tangisan kesedihan, melainkan tangisan janji.

Dia menyentuh perutnya. "Kita akan kuat, Sayang. Kita akan membalas mereka."

Dia tahu perjalanannya akan sangat sulit. London adalah kota asing, dia tidak punya skill kerja formal, dan dia akan menjadi seorang ibu tunggal di negara orang. Tapi dia tidak gentar. Kebenciannya pada Sabrina dan cinta yang mulai tumbuh untuk janin di perutnya adalah bahan bakar yang jauh lebih kuat daripada uang atau kekuasaan.

Saat pesawat lepas landas, menembus awan tebal di atas Jakarta, Aurora Valencia mengambil napas dalam-dalam.

Dia tidak lagi memikirkan Tuan David, pria yang menghancurkannya. Dia tidak memikirkan Jenderal Wirya, ayah yang membuangnya. Dia hanya memikirkan satu hal: balas dendam, dan sebuah kehidupan baru untuk anak yang tak berdosa.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 Sayap Pelindungku
9.0
Lauren, bungsu keluarga Torres yang sakit-sakitan, kembali dari Gereja Mistik setelah empat tahun. Awalnya, ketiga kakaknya menolak kehadirannya dengan sinis. Namun, suasana berubah drastis saat pesta ulang tahunnya. Ternyata, Lauren memiliki kemampuan meramal masa depan. Ia menyelamatkan nyawa kakak sulungnya, mencegah kebangkrutan kakak keduanya, dan mendeteksi penyakit kakak ketiganya. Kini, para kakak yang dulu membencinya justru menjadi pelindung setia bagi Lauren.
Sampul Novel AFFAIR
9.5
Mauren yang masih 19 tahun terpaksa menikahi Aron, duda kaya berusia 45 tahun, setelah dijual oleh ayahnya. Di sisi lain, putra Aron yang berumur 23 tahun, Liam, terjebak dalam pernikahan hambar bersama Bella karena ketidakpuasan ranjang. Sementara Liam merasa frustrasi dengan istrinya, Mauren harus menderita melayani nafsu pria tua tanpa pernah merasakan kepuasan. Takdir pahit ini menjerat mereka dalam kemelut rumah tangga yang penuh penderitaan batin.
Sampul Novel Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.
9.2
Banyu menerima surat misterius yang menyatakan dirinya terpilih sebagai avatar setelah pengamatan enam bulan oleh tim rahasia. Meski bingung dan curiga, ia diminta datang ke Jalan Lembayungkuning No. 17, tepat di samping kantor MNG Group, untuk mendapatkan penjelasan lengkap melalui sesi wawancara. Didorong rasa penasaran sekaligus takut, Banyu akhirnya memutuskan memenuhi panggilan tersebut. Keputusan nekat ini menjadi awal mula petualangan besar dalam hidupnya.
Sampul Novel Dark Love
8.0
Albert Kenzi Erdinata terjebak dalam dendam masa lalu atas kematian tragis ibunya. Ia bertekad menghancurkan hidup Akira, putri dari wanita yang dianggapnya bertanggung jawab. Setelah menculik dan merusak kehormatan Akira, Albert menjebaknya menjadi asisten pribadi demi menyiksanya lebih jauh. Namun, kedekatan mereka justru menumbuhkan benih cinta yang tak terduga. Kini Albert harus memilih antara membalas dendam atau mengikuti kata hatinya saat rahasia masa lalu mulai terungkap.
Sampul Novel Es Batu
8.1
Relva Arilia adalah gadis konyol berhati tulus yang jatuh hati pada Steven Grellyn, pemuda sedingin es yang selalu mengabaikannya. Meski sering ditolak, kegigihan Relva perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Steven yang awalnya enggan menjalin hubungan. Kisah ini bukan sekadar romansa, melainkan perjuangan emosional penuh liku dan air mata demi masa depan. Keduanya harus mengorbankan ego demi cinta yang mampu mencairkan kebekuan hati dan mengubah hidup mereka.
Sampul Novel Guruku Adalah Istriku
8.6
Kehidupan seorang murid berubah total saat ia harus terikat dalam tali pernikahan dengan gurunya sendiri. Hubungan yang awalnya bermula dari perjodohan kedua orang tua ini memaksa mereka untuk menyeimbangkan peran di sekolah dan di rumah. Bagaimana cara mereka menyembunyikan rahasia besar ini dari teman-teman dan rekan kerja? Ikuti perjalanan asmara unik mereka yang penuh lika-liku dari bab awal hingga akhir dalam kisah romansa masa muda ini.