APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dilamar Tuan Duda

Dilamar Tuan Duda

Pasca kematian tragis sang istri yang menjadi korban pembunuhan, Rain, seorang pria duda, tiba-tiba muncul di hadapan Sea. Meski Sea hanyalah seorang siswi SMA yang baru ia kenali, Rain mendesaknya untuk segera melangsungkan pernikahan. Di balik permintaan ganjil tersebut, tersimpan misteri besar mengenai alasan sebenarnya Hanna dibunuh. Mengapa Rain begitu terburu-buru menikahi Sea? Rahasia kelam apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh sang duda?
Bab
Bagikan

Bab 3

Maya melirik ke arah tangan Hendra yang menggenggam pergelangan tangan Hanna sambil berlarian.

Hanna pun melepas genggaman di tangannya begitu melihat Cyra dan berlari menggendong putrinya yang sedang dituntun Maya.

"Cyra, are you okay? Mama khawatir banget, Nak."

"I'm okay, Mama," jawabnya disertai anggukan.

Rain datang dari kejauhan langsung memeluk Cyra dan Hanna.

"I'm sorry, Papa," lirih Cyra menyesal.

"It's okay. Kita pulang, ya, sekarang."

***

Di rumah, dua hari sebelumnya.

"Hendra, kita langsung jalan ke lokasi proyek Grand William hotel hari ini!” perintah Rain pada sopirnya yang sedang duduk di teras.

"Baik, Pak," jawab Hendra.

"Sayang, ini bekalnya ketinggalan?" ujar Hanna dari dalam rumah sambil membawakan lunch box berwarna turquoise favoritnya.

"Thank you, Hun," sambil mengecup keningnya.

"Kamu pakai baju santai, Pa?"

"Iya, aku mau ke lokasi proyek, takut kotor bajunya, Hun.”

"Hmm ... oke. Take care, Pa," sahut Hanna sambil melambaikan tangan dan menuntun Cyra.

"Bye, Hun, Cyra ....”

"Maya, bagaimana proyek perencanaannya?" tanya Rain di dalam mobil.

"Ya, ini rencana struktur bangunan dan ini dalam bentuk digitalnya, Pak." Maya menerangkan sambil menyodorkan tablet lipatnya ke Rain yang duduk di belakangnya.

"Bagaimana dengan fasilitas?"

"Kolam renang menghadap tepat ke barat yang memandang langsung ke arah bukit. Kids zone ada di lantai bawah di antara pusat kebugaran dan salon atau spa. Jadi, anak-anak bisa terlihat langsung oleh orang tuanya saat sedang beraktifitas.

“Dan sebuah penthouse yang dilengkapi ruang tamu besar dan akses langsung menuju rooftoop. Dokter jaga perusahaan sudah disiapkan dan service menunya ditangani oleh koki lokal yang sudah tidak diragukan lagi.”

"Kerja bagus!"

Maya tersenyum sambil melihat tatapan mencurigakan Hendra dari balik spion mobil.

Proyek Grand William Hotel sudah mulai difondasi. Perkiraan selesai dibangun sekitar dua bulan yang akan datang. Rain selaku direktur sedang fokus dalam mengamati rencana proyek hotelnya. Ia akan berkunjung ke kantor jika ada hal-hal mendesak atau pertemuan penting saja.

Siang hari di lokasi proyek, Rain berkeliling bersama Maya untuk melihat para pekerja dan progress pembangunannya.

Saat jam makan siang, pria dengan tinggi 180 sentimeter itu tidak malu memakan bekalnya bersama para pekerja bangunan lain yang dalam kondisi pakaian kotor dan berisik suara mesin. Mereka makan bersama sembari bercengkerama dan bercerita satu sama lain.

"Aah, air minum saya ketinggalan di rumah.”

"Biar saya belikan, Pak?" Maya menawarkan diri.

"Tidak usah, Maya. Kamu makan saja, biar saya beli sendiri!" tegas Rain menolaknya.

Maya mengangguk sambil meneruskan makan siangnya.

Ia pun pergi ke minimarket yang lokasinya tidak jauh dari area hotel. Setelah membeli satu botol air mineral, ia melihat seekor kucing yang mencuri perhatiannya. Kucing berwarna orange dengan bulu lebat, tetapi tak terurus itu mengeong, berjalan pelan mencari-cari makanan di sekitarnya.

Tanpa berpikir panjang, Rain pun membeli makanan di warung makan terdekat dan kembali ke tempat kucing tadi. Lalu, ia berjongkok, mengelus-elus kucingnya yang terlihat ketakutan. Setelah kucing itu tenang dalam usapan tangannya, ia memberikan makanan tadi pada kucing itu.

"Om, kenapa makanannya diberikan ke kucing? Memangnya, makanan itu gak enak?” Seorang gadis yang melintas tiba-tiba bertanya.

"Tidak, saya hanya kasihan." Rain tak menoleh pada gadis berambut keriting gantung itu. Setelah menemani kucing itu menghabiskan makanannya, Rain beranjak pergi ke lokasi proyeknya.

"Om, ini!" panggil gadis itu sambil memberikan paksa bungkusan putih.

"Apa ini?"

"Ini buatmu, Om. Om pasti merasa lapar karena makanannya diberikan ke kucing."

"Tapi, saya su—"

"Udah, gak usah malu-malu! Terima saja, Om,” paksa gadis itu sambil berlalu pergi meninggalkannya.

"Hei, memang kamu siapa!"

"Oh, saya Sea, Om. SE-YA!" teriaknya sambil mengeja nama dan segera berlari menjauh.

"Maksud saya, siapa kamu sembarangan memberi saya makanan! Siapa juga yang kelaparan, Dasar Gadis Aneh!" decaknya.

Ia pun kembali ke lokasi proyek, menghampiri mobil sedan hitam di depannya, dan mengetuk kaca mobil yang di dalamnya ada Hendra sedang tertidur.

"Dra, udah makan belum?"

Hendra terperanjat, kemudian membuka jendela mobilnya.

"Belum, Pak. Saya ketiduran."

"Nih, makan!” ujarnya sambil mengasongkan sebungkus makanan yang tadi diberikan gadis aneh.

"Terima kasih, Pak.”

***

Satu hari sebelumnya

Rabu pagi di kota Bandung dengan udara yang masih dingin setelah diguyur hujan, Rain pergi ke lokasi proyek hanya dengan kaos berwarna navy merek Gucci, celana pendek merek Hush Puppies, sandal kulit merek Birkenstock Milano Birko-Flor Nubuck, dan tak lupa ransel favoritnya.

Pengerjaan proyek sudah sampai pada tahap struktur bangunan. Rain bersama mandornya sedang memantau para pekerja dari bawah gedung.

Mereka berkeliling ditemani Maya dan Hendra. Di tengah bisingnya suara exavator dan dump truck yang lalu lalang keluar masuk proyek, Hendra mendengar samar-samar suara gesekan besi yang sedikit bergema. Ada perasaan gelisah timbul menggerayangi pikirannya.

"Awas, Maya!" Hendra berteriak lantang.

Sontak Rain menoleh ke arah Hendra dan melihat ada sesuatu yang akan terjatuh dari atas. Ia melangkah jauh, lantas mendorong tubuh Maya hingga terjatuh bersamaan. Beberapa scaffolding berjatuhan dan menimpa kaki Rain.

“Aaaaaah!”

"Pak Rain!" teriak Hendra.

Ia menolak bantuan Hendra walaupun kakinya kesakitan. "Saya baik-baik saja. Cepat kamu bantu Maya!" Rain memanggil orang proyek untuk merapikan scaffolding yang menimpa mereka.

"Maya, kamu baik-baik saja?" tanya Rain pada Maya yang masih shock. "Kepalamu terluka!" Ia melihat darah di kening dan luka gores di tangan serta kaki Maya.

"Hendra, kamu bawa dia ke tempat yang aman. Saya beli obat dulu!" Rain bangun perlahan dan membersihkan kotoran yang menempel di pakaiannya. Kemudian, ia berusaha jalan ke luar lokasi proyek. Saat keluar minimarket, ada sesuatu yang berjalan mengelilingi kakinya.

"Kamu lagi,” gumamnya ketika seekor kucing berputar-putar di kakinya.

Rain merendahkan tubuhnya untuk mengelus kucing yang kelihatannya meminta makanan lagi dan ia berpikir untuk mampir ke sebuah warung yang sebelumnya ia datangi untuk membeli nasi beserta lauknya. Kemudian, pria bertubuh atletis itu mengajak kucingnya ke pinggir jalan pedestrian agar aman selama menyantap makanan.

"Om, ini!" Suara seorang gadis yang memakai seragam SMA menggamit bahu Rain dari belakang.

"Hah, kamu lagi!" pekiknya.

"Aku kasihan. Om cuma bekerja bangunan di sana.” Sambil menunjuk lokasi proyek. “tapi, malah memberi makanannya ke kucing. Gaji bangunan, kan, enggak seberapa," paparnya.

Rain terkekeh, "Uangnya kamu tabung saja daripada membelikan saya makanan!"

"Uang jajan saya masih banyak, kok. Om tenang aja," katanya sambil mengelus kucing itu juga.

"Om, suka kucing atau memang suka binatang?" lanjutnya sambil memandang pria yang terlihat berantakan itu.

Rain tak menjawab. Ia malah berlalu pergi meninggalkannya bersama kucing jalanan itu.

"Ooom ...!" teriaknya.

Ia tetap tidak menoleh, tetapi gadis itu menarik lengannya.

"Mau apa kamu, hah!" ketusnya sambil menatap lengan yang menariknya dan menangkisnya kemudian.

"Tangannya ....” tunjuk Sea ke lengan Rain yang mengeluarkan darah.

Sea lantas menarik tangan Rain dan mendudukkannya di pinggir jalan khusus pedestrian. Ia melihat kantong obat yang baru saja dibeli Rain dan merebutnya. Kemudian, dibukalah obat itu dengan saksama, diambilnya kapas untuk membersihkan darah pada tangan yang terluka, lalu memberikan obat antiseptik dan terakhir menutupnya dengan perban.

"Beres!" serunya sambil tersenyum sipit melihat pria yang lebih dewasa darinya itu.

"Ah, kepalanya juga ...." Sea menunjuk ke arah dahi si pria.

Tak senang dengan perlakuan gadis itu yang bersikap tanpa izin, Rain pun menangkis tangan Sea yang akan menyentuh pelipisnya. Ia lantas berdiri, kemudian melangkah ke lokasi proyek tanpa menghiraukan si gadis aneh.

"Take care, Om.”

"Dra, ini.” Sambil memberikan kantong berisi obat. “Tolong obati Maya!"

"Baik, Pak!"

"Pak Rain tangannya sudah diobati?" tanya Maya.

"Sudah!" jawabnya masih dengan nada kesal setelah bertemu si gadis. "Dra, setelah ini kamu antar Maya pulang dulu.”

"Maya, besok kamu selesaikan pekerjaan di kantor saja!"

"Tapi, Pak—"

"Kamu mau saya pecat? Saya sudah bilang berbahaya buat wanita ada di lapangan seperti ini. Kamu kerjakan saja urusan lain di kantor," tegasnya sambil berjalan kembali mengamati proyek.

Maya hanya mengangguk dan merengut.

***

Hari Kejadian, Starbreak Coffee

"Pak Raja, kalau boleh saya tahu apa yang membuat Anda memilih saya sebagai rekanan proyek ini?"

"Saya suka visi misi Anda, Pak Rain. Terlebih lagi saat Anda mengatakan tidak akan membatasi warga. Di situ saya bisa melihat ketulusan Anda."

Sambil menyeruput kopi hitam, Rain menahan malu sekaligus bangga pada diri sendiri.

"Lantas, bagaimana dengan Delta dan Graha Bumi, Pak?"

"Saya sudah memberi penjelasan kepada mereka kalau visi dan misi mereka berbeda jauh dari Anda."

"Apakah mereka tidak akan memberi jalan bagi warga di kampung ini ?"

"Begitulah, Pak Rain. Walaupun kelak lahan ini berpindah tangan, tapi saya tidak ingin warga di sini terganggu apalagi sampai tidak ada jalan bagi mereka. Saya tidak mau mereka tertindas oleh orang-orang beruang."

"Orang-orang beruang?" Rain bingung.

"Orang berduit, Pak Rain," jelas Pak Raja, nama pendek Pak Raharja.

"Oh, ber-uang maksudnya Pak Raja. Saya sampai berpikir jauh.” Rain terkekeh. "Oh, ya, ngomong-ngomong panggil saya Rain saja, Pak. Saya bukan siapa-siapa, kok."

"Ah, kamu ini bisa saja, Rain. Kalau Nak Rain yang begitu bukan siapa-siapa, terus saya yang begini apa, dong? Kacang rebus?" guyon Pak Raharja membuat Rain terbahak.

Mereka tertawa sambil bersenda gurau setelah meeting selesai.

"Baik, kalau begitu semua surat-suratnya sudah ditandatangani dan dananya akan di urus oleh asisten saya, ya, Pak Raja."

"Iya, terima kasih, Rain. Lain waktu mampir ke rumah saya, ya."

"Pasti, Pak Raja, pasti. Sampai bertemu lagi, Pak.”

Sepeninggal kliennya, Rain menghabiskan waktu makan siang berdua dengan Maya yang duduk di dekat jendela kafe. Sementara itu, Hendra hanya memperhatikan Rain dan Maya dari dalam mobil.

"Oh, ya. Hendra ajak ke sini, Maya. Dia belum ma—"

"Hendra bilang tadi belikan saja untuknya. Nanti dia makan di mobil," sela Maya memotong ucapan Rain.

"Kalau begitu, tolong pesankan makanan dan minumnya untuk Hendra."

“Baik, Pak.”

Lima belas menit kemudian Maya kembali dengan makanan yang dibungkus untuk Hendra.

"Ayo. Kita segera kembali ke kantor!"

"Ada hal penting, Pak?" tanya Maya.

"Saya mau selesaikan urusan kantor lalu cepat-cepat pulang!"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.
9.2
Banyu menerima surat misterius yang menyatakan dirinya terpilih sebagai avatar setelah pengamatan enam bulan oleh tim rahasia. Meski bingung dan curiga, ia diminta datang ke Jalan Lembayungkuning No. 17, tepat di samping kantor MNG Group, untuk mendapatkan penjelasan lengkap melalui sesi wawancara. Didorong rasa penasaran sekaligus takut, Banyu akhirnya memutuskan memenuhi panggilan tersebut. Keputusan nekat ini menjadi awal mula petualangan besar dalam hidupnya.
Sampul Novel Dicintai Raja Siluman Ular
9.4
Alana nekat menikahi Cakra tanpa restu orang tua demi cinta dan kemewahan. Namun, kehidupan barunya berubah mencekam saat ia menyadari hobi aneh suaminya yang memelihara ular liar di dalam rumah. Selain sering menemukan ular besar di ranjangnya, Alana dihantui mimpi erotis bersama pria asing. Penyelidikannya mengungkap rahasia kelam bahwa mantan istri Cakra hilang secara misterius, memicu kecurigaan besar tentang identitas asli sang suami yang sebenarnya.
Sampul Novel Empat Puluh Sembilan Buku, Satu Perhitungan
9.2
Baskara menukar perselingkuhannya dengan buku langka. Empat puluh sembilan kali ia berkhianat, dan sebanyak itu pula aku bungkam. Namun, saat ia mengabaikan ayahku demi membelikan Jelita apartemen dan membiarkan selingkuhannya menodai taman kenangan ibuku, segalanya berakhir. Baskara bahkan membocorkan duka keguguranku pada wanita itu. Kini, sebagai ahli strategi politik, aku memasang penyadap. Buku kelima puluh bukan lagi permintaan maaf, melainkan kehancuran kariernya.
Sampul Novel Monster Yang Bersamaku
7.9
Rein yakin telah menghabisi suaminya, Hary, dan berniat menyerahkan diri kepada Adrian, sahabat lamanya yang berprofesi sebagai polisi. Namun, situasi berubah mencekam saat seorang pria misterius muncul dan mengaku sebagai Hary. Meski wajahnya serupa, perangainya jauh lebih lembut dan penuh kasih sayang. Jika Hary asli sudah tewas, siapakah sosok asing yang kini mendekapnya? Apakah Rein terjebak delusi atau ada rahasia gelap yang sengaja disembunyikan pria itu?
Sampul Novel Pembalasan Saudara Kembar
7.9
Terpisah sejak kecil karena kecelakaan maut yang merenggut nyawa orang tua mereka, Angel dan Tiara akhirnya terhubung kembali melalui media sosial. Namun, reuni ini berakhir tragis saat Tiara tewas secara mengenaskan. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Tiara meminta Angel menuntut balas atas kekejaman para pelaku. Kini, Angel harus memulai aksi berbahaya demi membongkar konspirasi di balik kematian kembarannya dan menuntaskan dendam yang tersisa.
Sampul Novel Perhitungan Pahit Seorang Istri
9.1
Banyu menipuku dengan alasan kondisi genetik langka demi menghindari keturunan. Namun, ia justru menghamili Arini, wanita yang dipilih sebagai ibu pengganti. Di balik punggungku, suamiku merencanakan pernikahan rahasia di Labuan Bajo dan memuja gairah selingkuhannya. Setelah mendengar pengkhianatan total ini, aku tak lagi tinggal diam. Sambil berpura-pura menjadi istri setia, aku menghubungi jasa khusus untuk melenyapkan orang secara permanen.