APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DILEMA SUAMI BAYARAN

DILEMA SUAMI BAYARAN

Barra Farzan, seorang duda yang mendambakan kebahagiaan, akhirnya menikahi Astra, putri konglomerat cantik. Namun, saat resepsi pernikahan berlangsung penuh tawa, seorang wanita tiba-tiba muncul dan menampar Astra. Ia mengaku sebagai istri sah Barra yang ditinggalkan bersama anak mereka. Tuduhan pelakor pun seketika menghancurkan suasana. Rahasia gelap apa yang disembunyikan Barra? Sanggupkah mereka bertahan, atau Barra hanya akan menjadi suami bayaran?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi-pagi sekali Alby sudah membangunkan Barra, hari itu saatnya mereka belanja untuk kebutuhan warung makan.

"Catatannya mana. Al?" Barra bertanya pada Alby. Catatan yang dimaksud adalah daftar bahan makanan yang akan mereka beli di pasar pagi.

"Sudah di dalam tas, Da." Sahut Alby. Selain kuliah, Alby menjalankan rumah makan Minang bersama Ervi si adik bungsu.

"Uda. Aku titip kue talam ya. Semalam, Ibu bilang ingin makan kue itu." Ervi bicara pada Barra. Bu Neini akan bangun saat kedua anaknya sudah kembali dari pasar tradisional. Bukan karena Bu Neini pemalas, namun kondisinya yang sakit membuat Bu Neini sering kesulitan tidur saat malam tiba. Ervi menyiapkan bumbu masakan khas Padang.

"Iya. Dek, nanti Uda belikan. Jangan lupa buatkan Ibu bubur." Barra mengingatkan adiknya. Biasanya Ervi lupa untuk lebih dahulu memasak bubur untuk sang Ibu. Bu Neini tak bisa terlambat sarapan, makan pun harus yang lembut-lembut.

Jam di tangan Barra menunjukkan angka lima. Setelah dua jam mengelilingi pasar pagi komplek Garuda, Barra dan Alby menyewa angkot untuk membawanya beserta barang belanjaan pulang ke rumah. Mereka tak malu melakukan aktivitas tersebut, biarpun terkadang ada saja yang mengatai mereka dengan sebutan pria rasa emak-emak. Namun kedua pria itu menikmati kebiasaan baiknya.

"Hari ini kuliah jam berapa?" Tanya Barra saat mereka sudah berada di dalam angkot.

"Jam tiga sore, hari ini cuma satu mata kuliah. Kayaknya Ervi lebih padat jadwalnya hari ini." Jawab Alby.

"Ya sudah, sepintar-pintarnya kalian saja mengatur jadwal. Kalau memang pas bareng jamnya, jangan dipaksakan. Panggil aja Teh Elis, kalau cuma menunggu kan bisa. Toh ada Ibu juga." Barra memberi saran pada Alby. Barra hanya bisa membantu warung makan ketika libur akhir pekan. Malam hari Barra juga seringkali tak bisa, ia mengejar lembur di kantor. Terlebih setelah Barra kembali menikahi Annisa. Barra juga harus ke rumah Annisa saat diperintah.

Mereka terlibat obrolan santai sampai angkot tersebut berhenti di depan rumah sederhana bercat hijau daun.

* *

Masih pukul setengah tujuh, Barra sudah berada di halaman parkir gedung pencakar langit bernama Bus Property Corp (BPC). Barra menjadi salah satu karyawan yang memiliki loyalitas tinggi. Sampai satpam perusahaan sangat hafal dengan wajah Barra. Tak salah Pak Abbas menerimanya sebagai calon menantu. Kinerjanya tak perlu diragukan lagi.

Meski begitu, banyak pegawai lain yang iri dengan Barra. Terutama mereka yang punya jabatan tinggi di perusahaan. Tak sedikit yang menggunjing di belakangnya, baik pria maupun wanita.

"Itu, itu dia yang bernama Barra. Menurut ku dia biasa saja. Lebih tampan juga Pak Chan." Bisik seorang gadis pada rekan kerjanya.

"Iya, kenapa juga Bu Astra memilih pria seperti dia. Dia kan cuma karyawan biasa, ada juga yang bilang dia orang susah." Balas karyawan lain. Seolah mereka adalah dewi yang berhak menentukan jodoh seseorang.

Bisikan-bisikan yang menjatuhkan Barra terdengar sampai telinga Barra. Sepertinya mereka sengaja berbisik dengan volume suara sedikit tinggi. Barra tak merespon sikap buruk rekan kerjanya. Barra hanya diam, menunggu pintu lift terbuka.

"Kak Barra." Astra memanggil, dengan berlari kecil. Astra menghampiri Barra, ia baru saja tiba di kantor.

"Nanti pulang lebih awal aja ya. Hari ini, aku full rapat di luar." Astra melanjutkan ucapannya.

"Hhmm. Hati-hati bawa mobilnya, jangan lupa makan siang ya." Jawab Barra, tak lupa mengingatkan Astra yang mempunyai kebiasaan buruk dalam urusan makan.

Semua karyawan yang melihat aksi cukup romantis yang mereka lakukan, lantas ikut mendengar diam-diam. Mereka terkenal ratu gosip di divisinya. Apalagi itu topik terhangat yang sedang menyebar di penjuru kantor.

"Lihat, mereka sangat tidak pantas. Penampilan Bu Astra mencerminkan orang kaya, sedangkan calon suaminya. Astaga... Kumal sekali." Ucap salah satu karyawan perempuan.

Meskipun mereka menggunakan suara pelan, namun masih mampu di dengar oleh telinga normal Astra. Gadis tersebut tak terima kalau ada yang menjelekkan Barra. Bagi Astra, Barra yang terbaik. Sedangkan Barra hanya menunduk, ia lupa semalam tak menyetrika pakaian kerjanya. Ia bisa memaklumi gunjingan teman lain divisinya tersebut.

Astra melayangkan tatapan tajam ke arah empat karyawan perempuan yang masih berdiri diambang pintu masuk.

"Hey, kalian! Apa kalian tidak butuh pekerjaan lagi? Kalian sudah bosan, bekerja di sini?!!" Astramarah, ia memberikan pertanyaan horor.

"Ma-ma'af Bu. kami, permisi dulu." Seketika mereka diam dan pergi dari sana.

"Sudah, jangan marah-marah. Nanti kau akan kehabisan tenaga sebelum memimpin rapat." Barra meraih tangan Astra dan mengusap punggung tangannya untuk menenangkan.

"Jangan diam saja kalau mereka berkata tak sopan.!!" Astra masih dengan kemarahannya. Bibirnya turun, cemberut. Membuat wajah itu malah terlihat menggemaskan bagi Barra.

"Jika kau seperti ini, aku tidak akan fokus bekerja." Jawab Barra sembari mengusap puncak kepala Astra. "Sana berangkat, atau kau akan dipecat oleh Kak Zen." Ucap Barra selanjutnya.

Mereka mengakhiri percakapannya, keduanya berlalu ke arah yang berlawanan. Barra memasuki lift yang akan membawanya ke lantai empat belas, di mana kubikelnya berada. Sedangkan Astra menjalankan tugas sebagai sekertaris CEO, yang selalu mengikuti kemanapun bosnya mengadakan rapat.

Barra tampak fokus mengerjakan tugasnya. Ia harus menyelesaikan semua sebelum meninggalkan kantor. Akan menjadi calon menantu pemilik perusahaan tak menjadikan Barra semena-mena. Ia tetap mengingat tanggung jawabnya. Berjam-jam Barra habiskan waktu di depan komputer, ia sampai melewatkan jam makan siang.

"Bar, kau tak makan siang?" Butet bertanya. Jam sudah berada di angka setengah tiga, namun Barra tak juga beranjak dari kursinya. Kubikel Butet berada tepat di samping Barra. Sedangkan Barra ditempatkan di pojok ruangan divisi pemasaran tersebut.

"Tidak. Setengah jam lagi, aku pulang." Barra menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.

"Bah, awal sekali kau pulang."

"Hm. Aku ada janji dengan Astra."

"Okelah calon pengantin." Setelah mengatakan itu, Butet menghilang di balik kubikel miliknya.

Perhatian Barra teralih pada dering telepon. Ia mengangkat panggilan tersebut, dan menutup setelah mengatakan 'iya' pada lawan bicaranya di seberang telepon.

Beberapa menit kemudian, Barra sudah berada di dalam mobil kesayangan Astra. Mereka berencana untuk menghabiskan sore di mall. Tujuan utama Barra dan Astra adalah toko perhiasan. Mengingat waktu semakin dekat dengan hari pernikahan yang telah ditetapkan. Barra harus segera membelikan Astra sebuah mahar.

Barra melajukan kendaraan roda empat tersebut. Kecepatan sedang menjadi pilihannya untuk menikmati momen berdua dengan calon istrinya.

"Kau mau mahar apa dariku?" Barra memulai percakapan. Tangannya lincah bergerak memutar kemudi setir.

"Apa saja, itu tidak terlalu penting menurutku." Jawab Astra seraya menyibakkan rambutnya ke belakang telinga.

Ddrrtt ddrtt.... Getar ponsel milik Barra menyita perhatian. Astra melirikkan sudut matanya. Ia dapat menangkap nama yang tertera di layar. Dengan gerakan lambat, Barra menjawab panggilan tersebut. Barra tak mengeluarkan satu kata pun, hingga ponsel pintar tersebut kembali ia letakkan di atas pangkuannya.

Barra mengurangi kecepatan, ia menghentikan laju mobil di pinggir jalan. Astra menatapnya keheranan, ia tak mengerti maksud Barra.

"Ma'af.. barusan ibu yang menelpon, aku harus cepat pulang. Sepertinya rencana kita harus ditunda sampai lusa? Bagaimana?" Tanya Barra meminta pendapat. Barra memulai kebohongannya, dan ia menjadikan sang Ibu sebagai kambing hitam.

Astra mengangguk, ia sangat mengerti kondisi Bu Neini. Ia juga pernah mengunjungi calon Ibu mertuanya tersebut. Bukan suatu hal yang aneh saat tiba-tiba Barra memutuskan untuk segera pulang. Selama menjalin hubungan dengan gadis bermata lentik tersebut, Barra seringkali melakukannya. Dan tak jarang Astra turut mengikuti Barra merawat sang Ibu.

"Aku antar." Astra menawarkan diri. Barra meninggalkan vespanya di parkiran kantor. Akan membuang-buang waktu ketika ia harus kembali kesana untuk mengambil kendaraan tersebut.

"Tidak, maksudku jangan. Bukan, maksudku tidak perlu, jangan karena Ibu sepertinya hanya ingin bertemu denganku. Bukan aku tak mau diantar." Barra semakin terlihat gugup.

Astra tertawa kecil, ia tak merasa curiga dengan sikap aneh yang Barra tunjukkan. Ia justru merasa Barra sungguh lucu dengan sikap kekanakan. Baru sekali ini Astra melihat tingkah konyol seorang Barra. Astra yakin, jika Barra sudah sangat nyaman dengannya. Ia tak lagi canggung menunjukkan sifat-sifat yang memalukan.

Astra kemudian memesankan taksi online untuk Barra. lengkap dengan alamat tujuan yaitu jalan sukmawati. Jalan yang merupakan alamat rumah hunian Barra.

Sekali lagi Barra mengutarakan permintaan ma'af. Lalu ia menghilang di dalam mobil merah tersebut.

'Ma'afkan aku yang berani membohongimu, Astra.' Barra membatin setelah mobil melesat menjauhi gadis kesayangannya.

* *

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Rahasia Berakhir Api Dendam
8.3
Hidupku hancur setelah menyadari bahwa Raja, CEO yang kucintai, hanya memanfaatkanku sebagai pion balas dendam. Pria dingin itu menjebakku ke penjara, merekam momen intim kami, dan membiarkan kekasihnya merusak warisan ayahku. Setelah menderita siksaan kejam di balik jeruji besi atas perintahnya, aku kini telah bebas. Aku kembali ke hadapannya bukan untuk mengemis cinta, melainkan membawa amarah membara demi menghancurkan hidup sang iblis yang telah memusnahkan segalanya.
Sampul Novel Cinta yang Terpendam: Rahasia Suamiku
9.1
Sonia terjebak tipu daya calon mertua hingga terpaksa menikahi Verdi, paman tunangannya yang lumpuh dan sakit-sakitan. Meski awalnya mengira hidupnya akan hancur, Sonia justru dihujani kemewahan dan kasih sayang. Namun, rahasia besar terungkap saat ia menyadari Verdi hanya berpura-pura sakit demi mengawasinya. Saat kedoknya terbongkar, pria yang dikenal kejam ini rela berlutut memohon ampun demi menjaga perasaan istrinya yang tengah mengandung.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel Gadis Simpanan yang Melahirkan Anakku
8.1
Demi membiayai pengobatan ayahnya yang kritis, seorang gadis polos terpaksa menjadi wanita simpanan bagi CEO berkuasa di Amerika. Sang miliarder tidak hanya menginginkan kepuasan, namun juga menuntutnya melahirkan ahli waris karena istrinya mandul. Terjebak dalam kemewahan yang penuh rahasia kelam, ia kini menghadapi konflik batin yang hebat. Ia harus memilih antara mempertahankan harga diri atau mengikuti benih cinta yang mulai tumbuh di situasi yang salah.
Sampul Novel Jaring Kebohongan Suami Miliarderku
9.6
Sebagai istri miliarder teknologi bernama Kian, aku adalah penenang jiwanya. Namun, ia justru memberikan dana medis adikku kepada selingkuhannya demi suaka kucing. Saat kecelakaan tragis merenggut nyawa adikku, Kian membiarkanku terluka demi wanita itu. Puncak pengkhianatan terungkap saat aku ingin bercerai; pernikahan kami ternyata palsu dan penuh tipu daya. Kini, aku menghubungi pria dari masa laluku untuk membalas dendam dan menghancurkan kerajaan Kian.
Sampul Novel Jodohku Soulmateku
9.5
Fahri dan Damar sepakat menjodohkan Dita dan Bagas sejak kecil. Namun, kondisi kesehatan Fahri yang memburuk serta krisis finansial di perusahaan Damar memaksa pernikahan dini saat Dita berusia 16 tahun. Usai akad, mereka terpisah tanpa pernah bertemu selama bertahun-tahun. Takdir mempertemukan mereka kembali saat Dita hampir lulus jadi dokter spesialis dan Bagas telah menjabat CEO. Mampukah pernikahan lama yang dingin ini berubah menjadi cinta sejati?