APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinikahi Berondong Bucin

Dinikahi Berondong Bucin

Mentari Harsaya, janda cantik yang sering digunjingkan, terus dikejar oleh Ranggi, pemilik kafe muda yang pantang menyerah. Meski lelah menolak, Mentari akhirnya menerima Ranggi dengan asumsi pria itu akan segera bosan. Namun, pengabdian Ranggi yang tulus perlahan meluluhkan hatinya. Di tengah kebahagiaan, sebuah rahasia masa lalu muncul mengancam keutuhan pernikahan mereka. Mampukah cinta mereka bertahan menghadapi ujian yang begitu hebat?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Bunda!" Sasi menjerit dari dalam rumah.

Mentari segera menutup pintu dari luar. Dia menatap nyalang satu per satu ketiga perempuan yang mengganggu ketenangannya itu. Ada tiga orang. Dua di antaranya yang melemparinya dengan telur barusan. Satu sisanya merekam aksi keji itu.

Mentari sontak mengepalkan tangan. Bau busuk dari telur menusuk penciuman. Dia sebenarnya sangat mual. Namun, rasa itu masih kalah dari kekesalannya. "Apa-apaan ini?" bentak Mentari.

"Wanita jalang penggoda suami orang sepertimu memang pantas diperlakukan seperti ini. Rasakan!" ucap salah satu dari mereka sambil melempari Mentari lagi, diikuti yang lainnya.

"Dia adalah janda gatal yang hobi menggoda para laki-laki. Parahnya, suami orang juga dia embat," ucap perempuan yang memegang ponsel.

Mentari segera berlari menghampiri mereka dengan sekujur tubuh yang bau, basah, dan kotor. Tangannya lalu bergerak cepat merebut ponsel yang sedang merekam, lantas membantingnya ke paving blok. Mentari tidak segan menginjak benda itu berkali-kali sampai layarnya retak.

"Kurang ajar!" Pemiliknya sontak menjerit marah yang memekakkan telinga.

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mentari. Tidak sampai di situ, kerudungnya dipaksa lepas. Rambutnya dijambak dari berbagai arah. Ketiga perempuan itu bekerja sama menyerang Mentari.

"Mbak Tari!" Itu suara Ranggi.

Tubuh Mentari kemudian tertarik ke belakang. Ranggi berdiri melindunginya dengan kedua tangan yang terentang lebar. "Saya bisa melaporkan perbuatan kalian ke polisi." Pria itu mengancam.

"Siapa kamu? Gigolo si sundal?"

"Bundaku perempuan baik-baik. Berhenti memanggilnya seperti itu!" pekik Sasi dengan suara bergetar. Gadis berusia lima belas tahun itu lekas memeluk Mentari sambil terisak.

"Jangan, Bulanku. Bau," ucap Mentari lirih.

Namun, Sasi menggeleng.

"Ibu kamu itu memang lacur! Pelakor! Dia sudah menggoda suamiku."

"Mana buktinya?" tanya Sasi berteriak. "Jangan asal menuduh!"

"Aku tidak asal menuduh. Suamiku justru menyebut namanya saat kami sedang bersama!" ucap perempuan yang sejak awal paling vokal mengata-ngatai Mentari.

Dia hendak menyerang Mentari lagi. Namun, Ranggi lebih sigap mencekal tangannya.

"Mana buktinya?" Ranggi mengulangi pertanyaan Sasi.

"Ya, itu tadi!"

"Itu bukan bukti, Bu. Itu asumsi. Siapa yang menyebut nama Mbak Tari? Suami Anda, kan? Hal itu tidak berarti Mbak Tari ada hubungannya," ucap Ranggi.

Ranggi melanjutkan, "Kenapa tidak menyalahkan suami Anda saja yang justru memikirkan perempuan lain? Kenapa tidak bertanya kepada diri sendiri kenapa suami Anda sampai mengabaikan Anda?"

"Sudah jelas itu karena dia!"

"Bisa jadi karena Anda memang tidak menarik di mata suami Anda, karena bagi saya, Anda sama sekali tidak menggairahkan," kata Ranggi.

"Jangan asal bicara kamu, ya!" Perempuan lain membela.

"Om Ranggi tidak asal bicara!" ujar Sasi di belakang tubuh Ranggi.

"Sasi!" Mentari segera memperingati putrinya itu.

Namun, Sasi tidak mendengarkan peringatan ibunya. "Sudah pasti suami ibu lebih menyukai bunda saya. Ngaca, dong! Itu bedak apa tepung terigu? Pakai makeup bukannya cantik malah cemong."

"Sasi!" Mentari terpaksa mencubit pinggang Sasi. Bukannya tidak senang dibela anak. Mentari hanya tidak ingin Sasi menjadi sasaran kemarahan mereka.

"Anak dan ibu sama saja. Sok cantik. Pasti besarnya mengikuti jejak jadi pelakor," ucap perempuan yang ponselnya dibanting Mentari sambil menunjuk-nunjuk Sasi dengan tatapan garang.

"Iya, benar. Akan kurebut suami Ibu nanti." Sasi justru semakin menjadi-jadi.

Ya ampun! Tanpa banyak bicara Mentari segera menarik Sasi ke dalam rumah. Mereka masih mencoba menyerang Mentari. Akan tetapi, semuanya dihentikan oleh Ranggi.

Entah apa yang Ranggi katakan kepada mereka sampai akhirnya mereka mau pergi. Pria itu kemudian menyusul ke dalam. "Sudah aman, Mbak," ucapnya.

"Kenapa mereka jahat sekali ke kita, Bun?" tanya Sasi sambil terisak.

"Di dunia ini tidak hanya diisi orang baik," jawab Mentari.

"Kita, kan, tidak pernah berbuat jahat ke mereka."

"Hidup memang kelihatan tidak adil. Tapi, segala sesuatu pasti ada balasannya."

Setelah itu Mentari membersihkan dirinya dibantu Sasi. Dia mempersilakan Ranggi untuk pergi. Namun, pria itu bersikeras ingin tetap tinggal. Mentari tidak berniat mendebat karena sudah tidak tahan dengan bau busuk yang menyelimuti tubuhnya.

"Aku rasa Bunda memang harus menikah," ucap Sasi sambil mengeringkan rambut Mentari menggunakan hairdryer.

"Menikah bukan solusi untuk semua masalah, Bulanku, Putriku."

"Tapi menikah adalah solusi untuk masalah kita, Bundaku, Matahariku." Sasi tidak mau kalah.

"Tidak semudah itu," ujar Mentari.

Setelah rambutnya benar-benar kering, dan Mentari memakai kerudung, keduanya segera keluar. Ranggi yang masih berada di ruang tamu mendongak menatap mereka.

"Aku sudah menyiapkan rumah untuk kalian berdua," tutur pria itu.

Mentari sontak mengernyit. "Apa maksud kamu?"

"Mbak, keberadaan kalian di sini sudah tidak aman. Kalian harus segera pergi. Mbak tidak memperhatikan sekitar, kan, saat ada tiga perempuan tadi?"

"Memangnya kenapa?" tanya Mentari.

"Tetangga Mbak Tari semuanya hanya menonton. Beberapa ibu bahkan ada yang tersenyum seolah puas melihat Mbak Tari diperlakukan seperti itu. Setidaknya pikirkan Sasi, Mbak."

"Jangan menjadikan Sasi sebagai alibi." Mentari menatap tidak suka kepada lawan bicaranya.

"Tapi, Om Ranggi benar, Bunda. Aku takut banget tadi."

Hanya berselang satu detik setelah Sasi mengutarakan pendapatnya, ketiga orang yang berada di dalam rumah itu menjengit kaget karena kaca jendela tiba-tiba pecah, diikuti Ranggi yang langsung mengaduh kesakitan.

"Aw!" Pria itu meringis sambil memegangi pelipisnya.

"Ranggi?" Mentari berujar panik. Sebuah batu berukuran sekepalan tangan orang dewasa teronggok di lantai setelah mengenai Ranggi.

Mentari semakin membelalak lebar saat darah merembes dari balik tangan pria itu.

"Ya ampun!" serunya sambil beranjak mengambil kotak P3K.

Mentari segera mengobati luka Ranggi. Pria itu hanya bisa meringis kesakitan.

"Bunda, aku takut." Sasi merengek dengan air mata bercucuran.

"Mbak Tari, kalian benar-benar harus segera pergi dari sini," ucap Ranggi lagi setelah luka di pelipis kanannya dibalut kain kasa.

"Iya, Bunda." Sasi menyetujui, padahal dia biasanya paling malas pindah-pindah rumah.

Mentari menelan ludah. Dia lantas mengangguk. Perempuan itu tidak punya pilihan lain demi keselamatan putrinya.

Dibantu Ranggi, mereka langsung pindah siang harinya. Untuk urusan data kependudukan nanti saja, yang terpenting mereka aman dulu dari sekumpulan emak-emak barbar. Namun, Mentari masih menyempatkan diri berpamitan kepada RT dan RW setempat.

Pak RW sangat terkejut dengan kejadian yang menimpa Mentari. Dari reaksinya dia tidak tahu menahu soal petisi itu. Pak RW juga sempat menahan Mentari dan berjanji akan mendinginkan suasana. Akan tetapi, Mentari menolaknya.

Ranggi membawa mereka ke sebuah rumah bergaya split level di sebuah kompleks. Kata pria itu saat di jalan, rumah ini baru selesai diperbaiki. Ranggi membelinya secara cash beberapa bulan lalu. Dia sendiri tinggal di rumah yang berada di blok lain.

"Ini benaran rumah Om?" tanya Sasi.

Mereka bertiga menaiki tangga di luar yang menuju pintu utama ke ruang tamu.

"Iyalah," jawab Ranggi seraya mengeluarkan kunci dari saku jaketnya.

Mentari menangkap kebanggaan dari nada bicara pria itu.

"Kamu bisa menganggap rumah ini seperti rumah sendiri, Calon Anak," sambung Ranggi.

"Kita hanya sementara, mungkin sampai Sasi beres ujian." Mentari menyahut.

"Selamanya juga tidak apa-apa, Mbak. Aku justru lebih senang begitu."

Alih-alih menanggapi ocehan Ranggi barusan, Mentari memilih bertanya hal lain. "Ranggi, apa yang kamu lakukan kepada tiga perempuan tadi sampai mereka akhirnya pergi?"

"Oh ... itu." Ranggi menggaruk bagian belakang kepalanya. Dia lalu tersenyum lebar. "Aku bilang kalau aku itu calon suami Mbak Tari, jadi mereka tidak perlu takut Mbak Tari akan mengganggu rumah tangga mereka."

Mentari sontak terperanjat. "Apa?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel After That Night
8.2
Rebecca kehilangan segalanya tepat sebelum hari pernikahannya akibat sebuah jebakan malam yang merusak reputasi serta jalinan cintanya. Di tengah kehancuran nama baik dan pengusiran oleh keluarga, ia menyadari bahwa insiden tragis tersebut justru menghubungkannya dengan sosok Glenn Romanov. Takdir kini mempermainkan dua orang asing ini dalam pusaran masalah yang kian rumit. Akankah Rebecca mampu bangkit saat hidupnya terikat pada pria yang tak ia kenal?
Sampul Novel Aku Bukan Orang Ke 3 (Tak Kuasa Menolak Takdir Cinta)
8.6
Almira Mayangsari berjuang membesarkan dua keponakan tanpa berharap menemukan pria yang tulus. Takdir mempertemukannya dengan miliarder Bastian Navarell yang menyelamatkannya dari bahaya. Meski saling jatuh cinta, Almira memilih lari saat tahu Bastian telah beristri karena tak ingin jadi orang ketiga. Bastian yang terobsesi tidak menyadari bahwa Almira sebenarnya masih perawan. Akankah kebenaran ini menyatukan mereka dalam jalinan cinta yang elegan dan penuh haru?
Sampul Novel  Birahi Janda Binal
9.3
Widya Ayu Ningrum harus menghadapi kenyataan pahit sebagai janda di usia yang sangat muda, yakni 24 tahun. Sejak suaminya, Harjo, meninggal dunia akibat kecelakaan tragis saat pulang merantau tiga tahun lalu, Widya berjuang menjalani perannya sebagai orang tua tunggal. Kini, ia mendedikasikan hidupnya demi membesarkan putra semata wayangnya, Evan Dwi Harjono. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup Widya dalam melewati lika-liku sebagai ibu rumah tangga tanpa pendamping.
Sampul Novel Cinta yang Membara: Tidak Bisa Melupakanmu
8.1
Diana, seorang yatim piatu, berhasil menikahi pria paling berkuasa di kota meski tanpa landasan cinta. Setelah tiga tahun, kehamilannya justru disambut dengan surat perceraian karena kesalahpahaman tentang kesetiaan masing-masing. Saat Diana bersiap pergi, sang suami justru berubah pikiran dan menyatakan perasaan aslinya. Kini Diana terjebak dalam dilema antara benci dan kasih sayang. Haruskah ia bertahan demi masa depan anaknya atau pergi selamanya?
Sampul Novel Jadi Suamiku Ya, Om?
9.2
Nindya terobsesi mengejar Andy, guru SMA sekaligus teman ayahnya, meski pria itu sudah memiliki kekasih bernama Raya. Nindya terus mendesak Andy menikahinya, mengklaim posisi istri di masa depan. Andy menganggap Nindya bocah pengganggu, sementara Raya sangat membenci kehadirannya. Persaingan sengit terjadi antara Raya yang temperamental dan Nindya yang pandai bersandiwara seolah teraniaya. Di antara keduanya, siapakah yang akhirnya berhasil memenangkan hati Andy?
Sampul Novel Jesslyn Terpaksa Menikah
9.1
Jesslyn menolak keras keinginan ayahnya untuk menjodohkannya secara sepihak. Di tengah luka hati yang belum pulih akibat baru putus cinta, ia justru dipaksa menikah dengan pria asing yang kabarnya sudah memiliki kekasih. Tanpa rasa cinta dan kepercayaan yang tersisa, Jesslyn harus merelakan masa mudanya demi rencana orang tua yang tak bisa ia hindari. Akankah pernikahan tanpa perasaan ini membawa kebahagiaan atau justru menambah penderitaan baru bagi hidupnya?