APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Disangka miskin diperantauan

Disangka miskin diperantauan

Sisil dan orang tuanya terus-menerus dikucilkan serta dianggap rendah oleh keluarga besar mereka. Karena dipandang miskin, ia dilarang terlibat dalam urusan keluarga. Tak tahan dihina, Sisil bertekad mengubah nasib dan mengangkat derajat orang tuanya di mata dunia. Ia memulai langkah besar untuk membuktikan kesuksesannya sekaligus membalas rasa sakit hati terhadap mereka yang dulu meremehkannya. Perjuangan Sisil pun dimulai demi sebuah harga diri.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Sudahlah tidak usah berdebat, aku tidak akan memberikan sertifikat rumah ini kepada keluarga paman, memangnya tidak bisa pesta seperti biasa saja? Kenapa harus pesta mewah jika paman memang tidak punya uang!" Intonasi ku sedikit naik kali ini, emosiku sangat terpancing dengan jawaban-jawaban paman Adit.

"Ya karena kami keluarga terpandang, kami harus menggelar pesta yang mewah di kampung ini!" jawab bibi Santi pongah.

"Ya kalau mau kayak gitu kenapa ga pake sertifikat rumah paman saja? Rumah yang Paman tempati juga sama-sama rumah warisan, kenapa harus pakai sertifikat rumah bapak?" aku mulai geram dengan keluarga Paman ku ini, sepertinya bakal ada udang di balik bakwan, ujung-ujungnya mereka pasti tidak akan mulus membayar cicilan.

"Loh ya ngga bisa dong__"

"Ya aku juga gabisa dong, bibi saja enggak bisa kenapa aku harus bisa?" belum selesai bibi Santi berbicara, aku segera memotongnya.

"A, kami tersinggung dengan anak aa, aku harap aa bisa membantu kami, jika aa memang bersedia nantinya, tolong antarkan sertifikat rumah ini ke rumahku, apa aa lupa? bahwa kata emak dan Abah sesama adik kakak itu harus saling membantu!" luar biasa tidak tahu malunya pamanku ini, dia bisa-bisanya membawa almarhum Abah dan Nini dalam peminjaman sertifikat ini.

Aku merogoh tas dan segera mengeluarkan uang ber-nominal 3 juta rupiah.

"Ini, aku ikut menyumbang untuk pernikahan Sintya, menurutku segini lebih dari cukup untuk kakak adik saling menolong, meskipun aku tidak pernah merasa ditolong oleh keluarga paman," ucapku sambil menyimpan uang itu di hadapan paman Adit.

"Yaelah, duit segitu cukup apa!" cibir Septian, lelaki kemayu itu sepertinya makin menjadi saja, dan aku juga melihat Paman Adit tidak mengambil uang itu.

"Gamau? Yaudah aku bawa lagi!" bergegas Aku membawa uang itu kembali.

"Ehhh kalo udah ngasih jangan di pinta lagi, pamali!" Bibi Santi lalu menyambar uang itu.

"Ayo kita pergi, cukup sudah harga diri kita di injak-injak di rumah butut ini!" ajak Paman Adit kepada rombongannya, aku tidak menyahut ucapannya sama sekali.

Tanpa basa-basi dan mengucap salam, mereka bertiga keluar dari rumahku.

"Awwww aduh!!!"

Aku mencubit kecil lengan Septian, meskipun cubitan nya kecil, tapi aku yakin rasanya perih.

"Kenapa sih kamu Tian!" tanya bibi Santi pada keponakanya.

"Auuwww ateu, aku dicubit Sisil huhuhu," dengan gaya khas kemayu nya, Septian mengadu pada bibi Santi.

Bibi Santi berbalik dan memelototiku, akupun hanya mengangkat kedua bahuku.

Kini keluargaku semuanya duduk di ruang tamu, adik-adikku antusias membuka koper yang aku bawa, karena di dalam koper banyak barang dan juga oleh-oleh yang aku beli.

"Waaaah kak, bagus banget ini bajunya, sepatunya juga, aku suka kak!" ucap Lisa adik bungsuku.

Aku melihat Rifki pun bahagia, tapi mungkin karna dia anak laki-laki jadinya tidak eksfresif seperti Lisa.

Aku melihat bapak duduk dan menghela nafas panjang, sebelum bapak membuka obrolan, aku terlebih dulu membuka pembicaraan.

"Bapak, kenapa bapa dengan mudah memberikan sertifikat rumah pada paman Adit?" tanyaku sambil mengusap lengan bapak dengan lembut, aku tidak ingin terkesan mengintimidasi bapak.

Akupun melihat wajah emak yang sangat kesal dan geram kepada bapak, sepertinya sebelumnya ada keributan di antara emak dan bapak.

"Maafkan bapak neng Sil, bapak merasa kasihan pada adik bapak itu, tadi dia memohon sekali pada bapak," sungguh, kali ini aku kecewa pada bapak, padahal aku yakin bahwa bapak tahu tabiat adik dan kakaknya.

"Tapi pak, apa mereka menolong kita sewaktu kita kesusahan? jika kita yang meminta tolong pada mereka, aku yakin hanya hinaan yang akan kita dapatkan," aku berbicara dengan nada bergetar menahan tangis, mengingat kekejaman dan keserakahan kakak dan adik bapak.

"Emak sudah lelah dengan sifat bapakmu yang seperti itu, entah ibu harus bagaimana lagi, haruskah ibu pulang ke rumah orang tua ibu pak?," ujar emak sambil menangis, melihat suasana yang mencekam, Lisa dan juga Rifki pun terdiam.

"Ighstifar Mak, apa yang ibu bicarakan?" tanya bapak tidak menyangka.

"Emak sudah lelah dengan bapak, apa gunanya emak di sini jika emak tidak pernah didengar sama sekali, bukannya emak tidak ingin membantu adik atau kakak bapa, tapi orang bagaimana dulu yang harus di tolong?" suara emak semakin serak.

Bapak mengusap wajahnya pelan, terlihat gurat penyesalan di wajahnya yang semakin menua.

"Bapak sayang, coba sedikit lebih tegas kepada saudara-saudara bapak, bapak lebih ingin melihat anak-anak dan istri bapak kecewa seperti ini? kelak jika nanti bapak tua, bapak akan meminta diurus kepada kami, bukan kepada saudara-saudara bapak!" aku berusaha bersuara sangat lembut supaya tidak menyinggung perasaan bapak.

"Iya bapak tau neng, bapak hanya menjalankan wasiat dari emak dan Abah, untuk saling menolong sesama adik kakak, ditambah lagi bapa anak laki-laki pertama," lagi-lagi alasan ini lagi yang di keluarkan oleh bapak.

Aku pun menghela nafas panjang untuk meredakan emosi ku.

"Pak, kakak dan adik bapak itu sudah berumah tangga, bapak sudah tidak ada kewajiban untuk membantu mereka lagi, mungkin jika membantu sedikit dan sewarajanya tidaklah menjadi masalah, tapi menurut pandangan Sisil, bapak sudah terlalu melewati batas, tanggung jawab bapak sekarang bukanlah kepada adik dan kakak bapak, melainkan pada anak dan istri," tak kuasa lagi aku menahan tangis, air mataku akhirnya tumpah.

Aku melihat kedua adikku pun menangis, bapak pun menitikkan air matanya.

"Maafkan bapak sudah dzalim pada kalian, maafkan bapak Mak, maaf, jangan pergi pulang kerumah orang tuamu, bapak sadar, sudah 30 taun emak menemani bapak hiks," bapak minta maaf memohon sambil memegang lengan ibu, memang untuk mendapatkan ku, cukup sulit untuk emak dan bapak, emak kosong kandungan selama 9 tahun.

"Emak juga minta maaf pak, tidak mungkin emak meninggalkan bapak jika tidak Allah yang memanggil emak," emak pun semakin tergugu.

Kami semua pun larut dalam tangisan bersama, tangis haru bahagia dan juga lega karena sudah menemukan akar masalah.

"Sil, beliin gulan ke warung Mak Esih," emak menyuruhku ke warung mak Esih untuk membeli gula, sebenarnya aku malas jika harus ke sana, karena di sana sarang ibu-ibu menggibah.

"Wahhh Sisil kemana aja? Pulang dari kota makin glowing aja nih, kerja apa sil?" tanya seorang ibu-ibu dengan nada nyinyir.

Belum aku menjawab, sudah ada ibu lain yang menimpali.

"Halaaaah, dalam waktu 2 tahun mana mungkin sukses dan jadi glowing kalo gajadi lonet di kota hahaha," aku langsung terdiam dan menatap ibu-ibu itu dengan tatapan tajam, Siapa penyebar gosip pertama nya?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Code Name Amaryllis
8.6
Indonesia tahun 2050 hancur akibat korupsi yang melumpuhkan hukum. Demi memulihkan keadilan, Presiden membentuk lembaga rahasia berisi pemuda berbakat dengan peralatan mutakhir. Mereka bergerak di balik bayang-bayang untuk menghancurkan konspirasi para pejabat korup. Cerita ini berfokus pada agen muda berkode Amaryllis yang mempertaruhkan nyawa dalam misi penuh intrik dan aksi berbahaya. Sebagai harapan terakhir bangsa, mampukah Amaryllis menumpas akar kejahatan di tanah air?
Sampul Novel Dalam Genggaman Sang Penguasa
7.9
Jonathan Smith berhasil mengubah nasibnya dari kemiskinan menjadi orang terkaya di kota Rivera berkat kecerdasan dan kerja kerasnya. Meski banyak rival bisnis dan musuh berusaha menjatuhkannya, ia tetap tak tergoyahkan di puncak kekuasaan. Kerajaan bisnisnya justru kian perkasa dan tak tersentuh setelah ia resmi menjabat sebagai Perdana Menteri. Kini, Jonathan berdiri angkuh mengendalikan segalanya dari kursi kepemimpinan tertingginya.
Sampul Novel Dinginnya Bodyguard, Hangatnya Cinta
9.4
Nyawa Alexa, pewaris dinasti politik, terancam bahaya. Ayahnya menugaskan Rafael, mantan pasukan khusus yang kaku dan disiplin, sebagai pengawal pribadi. Meski Rafael berusaha menjaga batas profesional, pesona Alexa perlahan meruntuhkan pertahanannya. Di tengah intaian musuh, sebuah godaan muncul. Bagi Rafael, melindunginya dari pembunuh adalah tugas rutin, namun tantangan terberatnya justru menahan perasaan agar Alexa tidak jatuh hati padanya.
Sampul Novel I Love You, Om Bodyguard!
8.6
Demi melunasi utang sang ayah, Mayzura terpaksa menghadapi pernikahan dengan pria tua. Saat mencoba melarikan diri bersama kekasihnya, ia diselamatkan oleh Sadewa dari ancaman penjahat. Sadewa pun ditugaskan menjadi pengawal pribadinya hingga hari pernikahan tiba. Namun, kedekatan mereka justru memicu perasaan cinta yang tak terduga. Mampukah Sadewa melewati segala rintangan demi Mayzura? Lantas, apa rahasia besar di balik identitas asli sang bodyguard?
Sampul Novel Jebakan Utang Mafia
8.8
Evelyn Rossi terjebak utang warisan kakeknya pada Riccardo Valentini, pemimpin Kartel La Sanguina yang kejam. Bekerja di kedai pizza yang menjadi kedok transaksi ilegal, Evelyn menjadi target obsesi sang mafia. Meski sempat kabur dan dilindungi bos mafia Rusia, Nikolai Volkov, selama empat tahun, Riccardo akhirnya menculik Evelyn kembali. Kini, Evelyn terperangkap dalam persaingan berdarah antara Riccardo yang posesif dan Nikolai yang mencintainya secara mendalam.
Sampul Novel Nelangsa TAKDIR
8.7
Pertemuan kembali setelah belasan tahun memicu obsesi gelap bagi Caleb. Saat Eddith gagal mengingat masa lalu mereka, kebahagiaan Caleb berubah menjadi kekejaman yang tak terduga. Pria tanpa belas kasihan itu kini menguasai hidup Eddith sepenuhnya. Meski Eddith berusaha melawan dan menolak, hasrat Caleb justru semakin membara. Di bawah ancaman rasa sakit yang lebih hebat, Eddith terjebak dalam cengkeraman takdir pria yang kini ia sebut sebagai seorang bajingan.