APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku

Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku

Upaya Laras melarikan diri dari rumah berubah menjadi mimpi buruk saat ia dan ketiga buah hatinya diculik oleh seorang sopir travel. Di dalam penyekapan yang penuh siksaan, Laras harus menelan pil pahit kehilangan salah satu anaknya. Tragedi ini memicu dendam membara dalam dirinya. Ia bertekad mengungkap dalang serta motif keji di balik penderitaan mereka. Mampukah Laras menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa dan lolos dari jeratan maut yang mengancam nyawa?
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku mengusap darah yang mulai mengering di ujung bibirku yang bengkak akibat penganiayaan yang hampir setiap hari kuterima.

Sudah hampir 2 minggu kami terkurung di sini. Berbagai macam perlakuan kejam dan tak layak menderaku serta ketiga anakku.

Kami hampir tak diberi makan sama sekali. Dalam waktu sekitar 2 minggu ini kami hanya mendapatkan dua bungkus biskuit dan dua liter air mineral. Tak ada makanan berat, kecuali nasi yang kadang sudah agak basi. Kami menderita kelaparan yang hebat. Dan kedua anakku yang paling kecil jadi sering rewel karena lapar.

“Mama sakit?” tanya Andra saat melihatku meringis menahan sakit di area intimku akibat pelecehan brutal yang dilakukan penjahat itu. Sudah empat kali ia menggauliku dengan kasar dan menyakitkan. Badanku terasa remuk karena setiap kali ia melampiaskan nafsunya, selalu menghajarku hingga babak belur.

“Mama nggak apa. Andra lapar? Mau biskuit?” tanyaku, agar ia tak terlalu khawatir.

Andra seperti ragu menjawab. “Nanti aja sama-sama Kak Nurul, Ma.”

Aku tersenyum. Kulihat di depanku Nurul sedang menepuk punggung Melina. Anak sulungku itu memang telaten menjaga adik-adiknya meski baru berumur 12 tahun.

“Ma, nanti kalau Om Jahat datang lagi mau nyeret Mama keluar, Andra akan lawan. Andra akan hajar Om Jahat biar nggak nyakitin Mama.”

Aku mengelus kepalanya. “Nggak usah Sayang, nanti malah kamu yang dipukul sama dia. Jangan ya.”

“Kok gitu Ma? Biarin, Andra nggak takut. Andra kan anak laki-laki, harus bisa lindungin Mama kan?”

“Iya, tapi jangan mukul Om itu, soalnya dia jahat biarpun sama anak kecil,” kataku.

Belum selesai pembicaraan kami, pintu terbuka. Lelaki itu lagi-lagi datang dalam keadaan mabuk.

Tanpa berkata apa-apa dia datang mendekatiku, menampar dan meninju perutku berulang kali. Bibirku yang tadinya sudah mengering, kini mengeluarkan darah lagi.

Aku sudah tak berdaya. Tenagaku benar-benar terkuras habis. Makanan yang sangat sedikit dan tak layak untuk dimakan membuat aku tak punya kekuatan sama sekali untuk melawannya.

Dia menyeretku lagi, kali ini ia menarik kakiku. Aku berusaha menggapai apa pun yang ada di sekitar, namun tak kutemukan sesuatu yang bisa kutangkap.

“Jangan bawa Mamaku!!” kudengar teriakan Andra. Kulihat dengan samar ia berusaha meninju dan menendang, dan lelaki itu berteriak saat Andra menggigit tangannya. Ia melepaskan kakiku, ku rasa emosinya terpancing dengan kelakuan Andra. Kini kulihat ia mendekati Andra dan mulai menampar dengan keras anak lelakiku itu.

“Andra... Jangan... Jangan pukul anakku... Aku akan ikut kamu... Jangan...” Kataku lemah. Sekuat tenaga aku berusaha bangun. Mendekatinya yang kini sedang menginjak-injak perut dan kepala Andra dengan ganas. Nurul menjerit-jerit, berusaha menolong adiknya, namun baru saja mendekat ia sudah ditampar dan didorong.

“Bang jangan Bang... Tolong lepaskan anakku. Aku akan ikut..” Aku memeluk Andra yang sudah tak bergerak, sepertinya ia pingsan karena masih bisa kurasakan ia bernapas meski sangat lemah.

Pria itu membabi-buta memukuliku yang melindungi tubuh Andra. “Hahh...!!! Bikin nafsuku hilang saja!” katanya sambil melengos pergi.

Aku lega saat ia membanting pintu dan keluar. Kugoyangkan badan Andra, ia sama sekali tak bergerak. “Andra, Sayang Mama... Bangun Nak. Om Jahat udah pergi. Andra nggak pa-pa kan?” tangisku.

Mata Andra lebam, bibirnya pecah dan hidungnya mengeluarkan darah. Kubuka kaos yang melekat di tubuhnya, kuraba perut dan dada Andra. Tanganku berhenti saat merasa sebuah keadaan di dadanya yang aneh. “Ya Allah, apa tulang rusuk Andra patah? Kenapa seperti ini?” pikirku. Aku meraba tulang rusukku sendiri. Benar-benar sepertinya tulang rusuk Andra patah. Aku menangis. Keras sekali. Aku sungguh takut. Keadaan Andra sekarang bahkan lebih parah daripada keadaanku.

***

Aku berbaring di samping Andra. Sudah dua hari Andra masih belum begitu sadar. Dan badannya panas. Matanya yang tidak tertutup sempurna membuat aku selalu menangis setiap kali melihatnya.

Aku berulang kali memohon pada orang yang telah menyekap kami untuk membawa Andra ke rumah sakit, agar mendapatkan pertolongan secepatnya karena aku sangat yakin kalau Andra banyak mendapatkan luka dalam. Namun ia tak menggubris permintaanku, dia bilang takut aku akan melarikan diri.

Kini aku hanya bisa pasrah memandang Andra. Menangis tanpa mengenal waktu, menyesali segala hal yang terjadi.

“Andra, jangan tinggalkan Mama. Mama nggak bisa hidup tanpa Andra. Janji ya sama Mama, Andra akan sembuh.” Hanya kalimat itu yang berulang kali kuucapkan setiap kali berbisik di telinganya.

“Ma... Ma...” aku terkejut merasa mendengar sebuah bisikan yang sangat kecil saat baru saja aku terlelap. Aku membuka mata dan melihat Andra yang menggerakkan bibirnya.

Dengan cepat aku bangun, meletakkan kepalanya di pangkuanku. Sementara Nurul yang melihat adiknya sadar langsung mendekat.

“Andra udah sadar Sayang? Andra mau apa? Mau makan biskuit? Masih ada yang sakit?”

Tak satu pun pertanyaanku yang dijawab Andra. Ia hanya menatapku dengan tatapan redup, seolah cahaya itu akan menghilang. Bibirnya bergerak-gerak, namun tak ada satu kata pun yang keluar. Ia hanya menggerakkan tangannya, cepat kutangkap dan kugenggam. Seulas senyum ia perlihatkan. Apa ini? Kenapa aku merasa dia seolah-olah mengatakan,” Ma, Andra udah berusaha melindungi Mama kan? Andra udah menjalankan kewajiban Andra sebagai anak laki-laki yang menjaga Mama kan? Sekarang Andra mau pamit.”

Kenapa?? Kenapa aku merasa Andra sedang berkata seperti itu? Tangisku pecah dan aku berteriak-teriak seperti orang gila, saat kulihat Andra menutup matanya perlahan dan tak lagi kulihat perutnya yang turun naik seperti sebelumnya. Ia menghembuskan nafas terakhirnya, di pangkuanku.

Aku berguling-guling. Menjerit, menangis, menjambak dan memukul dadaku sendiri. Tak kupedulikan rasa sakit di badanku setiap kali aku menghempaskan tubuh ini di lantai. Sungguh hatiku jauh lebih sakit.

Nurul menangis, antara karena melihat keadaanku yang seperti kesetanan, atau karena kepergian Andra untuk selamanya. Atau mungkin karena keduanya. Melina yang masih kecil menangis ketakutan. Keadaan sungguh sangat kacau. Kami semua menangis.

“Apa sih ini, ribut banget! Nggak bisa biarkan orang istirahat apa?!” penjahat itu muncul di pintu.

Aku melihatnya dengan nafsu membunuh yang sangat besar dalam diriku. Karena dia, anakku meninggal. Kudekati ia dan kupukul badannya berulang kali.

“Lihat apa yang kau lakukan bajingan! Kau membunuh anakku! Kau membunuhnya!!” aku terus mengamuk seperti orang gila. Ia tak membalas pukulanku, bahkan ia terlihat tertegun melihat tubuh Andra yang sudah terbujur kaku.

“Anakmu... Mati?” katanya seperti orang yang ketakutan. Ia pun sepertinya tak menyangka kalau Andra akan meninggal akibat perbuatannya kemarin, saat sedang mabuk.

“Kembalikan anakku... Kembalikan anakku kau manusia brengsek!”

***

“Kamu ini bodoh atau apa sih, Redy? Gimana kejadiannya kalau udah kayak gini? Belum apa-apa kamu udah bunuh anaknya.” Kudengar seorang wanita bicara dengan nada protes. Ah, ternyata nama lelaki itu adalah Redy?

“Aku nggak sengaja. Aku nggak sadar, kan lagi mabuk.”

“Makanya mabuk aja terus. Bego kok dipelihara. Bereskan kekacauan ini! Kuburin tuh anaknya. Jangan cuma diliatin doang!”

“Nggak bisa. Tuh Emaknya ngamuk tiap kudeketin.”

“Pinter dikit lah. Masa’ hal kayak gini aja kamu nggak bisa?”

“Iya nanti aku kubur anaknya.”

“Jangan nanti-nanti... Aku mau pergi dulu, uang kamu di atas meja.”

“Iya, bawel!”

Kudengar suara langkah kaki wanita itu menjauh. Dan lelaki bernama Redy itu berjalan mendekatiku yang pura-pura tidur.

“Heh, bangun! Kita harus nguburin anak kamu. Udah jadi bangkai itu, bau banget!”

“Pergi!!!” teriakku. Membuat lelaki itu terkejut dan spontan terlonjak ke belakang. Namun tak lama ia kembali mendekat dan menarik tubuh yang sejak tadi ku peluk.

“Nggak... Jangan bawa dia pergi!” kataku sambil memeluk erat tubuh kaku anakku.

“Sadar heh, orang gila! Anak kamu itu udah mati! Lepaskan tanganmu, aku mau menguburkannya.”

Terjadi tarik-menarik antara kami. Hingga aku mendapatkan sebuah tamparan di pipiku, yang membuatku terdiam.

“Heh, dengar,” katanya sambil menjentikkan jari beberapa kali di depanku. “ Anakmu ini udah empat hari mati. Baunya menganggu banget, dan aku nggak mau dia jadi arwah gentayangan di rumah ini kalau nggak dikuburkan secepatnya.”

Aku seperti mendapatkan sedikit kesadaran dan ingatanku. Air mataku meleleh. Aku ingat, Andra telah pergi. Dan memang kini sudah saatnya bagiku untuk melepas jasadnya, membiarkannya dikubur.

Melihatku diam tanpa respon, ia menggulung tubuh Andra dengan menggunakan tikar pandan.

“Nggak perlu mengucapkan perpisahan lagi kan? Aku udah beri waktu empat hari,” katanya sambil meletakkan tubuh Andra yang terbungkus tikar ke atas pundaknya.

“Tolong...” suaraku menghentikan langkahnya yang hendak keluar dari kamar. “Tolong kuburkan ia dengan layak.” Kataku disertai air mata yang kembali jatuh.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Benua terkutuk kini menjadi neraka akibat perdagangan manusia dan penindasan kejam bagi yang lemah. Demi mengakhiri penderitaan ini, para dewa mengutus Dewi Kematian untuk membasmi kejahatan di sana. Namun, sebuah insiden fatal saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Sang dewi justru terlahir kembali sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Mampukah ia menjalankan misi sucinya dan menyelamatkan mereka yang tertindas tanpa kekuatan dewa?
Sampul Novel Calamity Of Love
9.4
Camilio Danielle Osvaldo adalah jenius ber-IQ 150 dengan prestasi militer gemilang. Namun, patah hati mendalam akibat ditinggal wanita tercinta mengubah hidupnya. Mike, petinggi Black Nostra, mengajaknya bergabung ke sindikat mafia global tersebut. Meski awalnya menolak karena nurani, Camilio akhirnya luluh setelah melihat solidaritas luar biasa di sana. Di balik aksi kriminal, ia menemukan kehangatan keluarga yang tak terduga dalam kelompok tersebut.
Sampul Novel Jatuh Cinta Pada Luka
7.9
Damian Verano, bos mafia tangguh, nyaris tewas setelah dikhianati dalam perebutan wilayah. Terhanyut di sungai selama tiga hari, ia ditemukan oleh Alira, gadis desa berusia delapan belas tahun yang sangat sederhana. Meski Damian masih terbayang sosok Sierra, pesona polos Alira justru memicu getaran cinta yang tak terduga di hatinya. Akankah sang penguasa dunia bawah tanah yang kejam mampu bersatu dengan gadis dusun yang buta akan masa lalunya yang kelam?
Sampul Novel JERAT CINTA DETEKTIF TAMPAN
9.3
Tiga tahun mendampingi Arsen sebagai asisten detektif spesialis kasus berbahaya, Leina memendam perasaan yang dalam. Meski begitu, pria itu terus menolak cinta Leina karena perbedaan usia dan risiko pekerjaannya yang penuh musuh. Sikap Arsen yang dingin membuat hati Leina terluka, namun ia tetap bersikeras berjuang. Kini, para musuh mulai mengincar Leina sebagai titik lemah Arsen. Akankah Arsen tetap menjaga jarak demi keselamatan Leina atau akhirnya mengakui perasaannya?
Sampul Novel Mantan Istriku yang Penurut Adalah Seorang Bos Rahasia?!
9.4
Tiga tahun Emilia mengabdi sebagai istri penurut Brandon berakhir sia-sia demi wanita lain. Namun, setelah bercerai, ia muncul kembali sebagai sosok tangguh yang jauh berbeda. Brandon terkejut saat mengetahui identitas rahasia Emilia sebagai peretas, dokter, hingga pembalap. Saat pria itu berusaha mengejarnya kembali, Emilia justru menikmati kebebasan dan menunjukkan keahliannya yang tak terbatas. Kini, Brandon harus menghadapi kenyataan bahwa mantan istrinya adalah bos rahasia.
Sampul Novel Pendewaan
8.8
Zen Luo, seorang bangsawan yang jatuh kasta, kini terhina sebagai budak sekaligus sasaran latihan fisik sepupunya. Namun, sebuah kecelakaan mengubah tubuhnya menjadi senjata mistis yang tak terpatahkan. Di tengah kekacauan dunia akibat persaingan antar klan, Zen bangkit membawa misi balas dendam dan ambisi besar. Dengan fisik sekuat pusaka, ia menantang para pendekar kuat demi meraih keabadian. Mampukah ia menaklukkan takdir dan menjadi legenda?