APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Donat Penyelamat

Donat Penyelamat

Cita menjalani biduk rumah tangga penuh rintangan bersama Danang, pria yang terpaut sepuluh tahun lebih tua darinya. Badai besar menghantam saat sebuah kecelakaan tragis membuat kaki Danang lumpuh total. Kini, Cita terpaksa memikul beban sebagai tulang punggung keluarga sendirian. Tak hanya berjuang demi ekonomi, ia pun harus menghadapi penolakan keras dari mertuanya sendiri. Akankah cinta mereka bertahan dan menemukan kebahagiaan di tengah cobaan berat ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Kecelakaan itu telah mengubah segalanya. Melenyapkan senyum di bibirnya. Bahkan perlahan merenggut tatapan hangat nan menenangkan, serta membuat emosi mas Danang menjadi sangat tidak stabil.

Satu tahun yang lalu…

"Cita, udah siap belum?!" Teriakan mas Danang membuatku terburu meraih tas dan cepat menggendong Tia. Lalu keluar kamar dengan wajah berseri.

"Udah mas. Ayo," Sahutku.

Hari ini hatiku senang sekali, setelah sekian lama tidak menjenguk orang tuaku, hari ini kerinduanku pada mereka akan terbayar tunai.

Aku memang ikut mas Danang tinggal di kampung mertua, mengingat kebun cengkeh milik bapak mertua lebih dekat jaraknya dari sini.

"Oleh-oleh buat emak sama bapak udah dimasukin semua?" Tanya mas Danang sesaat sebelum mobil yang kami tumpangi melaju.

"Sudah mas. Yang di dus itu semuanya oleh-oleh." Jawabku. Sambil menunjuk dus cukup besar di jok belakang.

Mas Danang memang suami yang baik. Tidak pelit dan meskipun jarang menemui emak dan bapak, namun setiap bulan ia selalu menyisihkan sejumlah uang dan menyuruhku mengirimkannya pada mereka.

Mobil baru saja dihidupkan, ketika kulihat ibu mertuaku tergopoh berlari menemui kami.

"Ealah kalian mau kemana, Nang?" Tanyanya dengan napas ngos-ngosan.

"Mau ke rumah emak bapak Cita. Kemarin kan kita udah ngomong sama ibu." Jawab mas Danang.

"Harus sekarang emang? Kenapa nggak lebaran aja nanti. Toh tinggal beberapa bulan lagi. Jangan keseringan nengokin orang tua, nanti istrimu nggak betah dirumah! Lagi pula, besok lusa panen. Siapa yang mengontrol kebun?" Sahutnya seraya melirik padaku.

Kupaksakan tersenyum menjawab ucapan ibu mertuaku.

"Mas Danang langsung pulang lagi kok Bu. Lagian Cita kan udah lama nggak pulang. Pengen nengokin emak sama bapak." Jawabku pelan.

Ibu mertuaku tak menjawab, matanya melirik ke jok belakang. Membuatku salah tingkah. Aku tahu, ibu sedang mencari tahu apa saja yang kami bawa.

"Kok bawaannya banyak banget? Mau lama kamu disana?" Selidiknya. Sesekali tersenyum pada Tia, dan memainkan jari tangannya yang mungil.

"Ng… itu cuma sedikit oleh-oleh, Bu." Sahutku pelan. Mas Danang meremas jariku. Aku paham. Ya, aku selalu mencoba sabar menghadapi sikap ibu mertuaku.

"Itu mah banyak, Cita! Ya udah, hati-hati Nang. Oh ya, mobil mau dipake Sumi nanti malam. Jadi jangan sampai kamu menginap disana." Ingatnya.

Kuhelas napas perlahan, sementara mas Danang hanya mengangguk.

Kami memang belum memiliki mobil. Meskipun orang tuanya terbilang kaya raya dan dikenal dermawan pada orang lain, namun kenyataannya mereka tidak seperti itu. Mas Danang yang anak kandungnya saja, tetap digaji seperti karyawan lainnya.

Namun lain halnya perlakuan mereka kepada kedua kakak lainnya. Mereka sangat baik, terutama pada istri-istri mereka. Apa mungkin karena aku cuma orang kampung yang nggak sederajat dengan kedua kakak iparku yang lainnya?

"Ya sudah kami pamit ya Bu. Assalamualaikum." Pamit mas Danang. Kuraih pula tangan ibu lalu menciumnya takzim.

"Waalaikumsalam." Jawabnya singkat.

Sepanjang perjalanan tak banyak yang kami bicarakan seputar keluarga. Kami hanya membahas tentang perjalanan. Tentang pemandangan dan lainnya.

*

"Mas mau pulang sekarang juga? Tapi hujannya besar banget. Cita khawatir ada longsor di jalan." Ujarku cemas. Menatap keluar rumah emak.

"Tapi mobil mau dipake sama Sumi. Ibu bisa marah besar kalau mas belum pulang sebelum magrib." Sahutnya bersikukuh. Ia memang tak berani membantah orang tuanya, terutama ibu.

"Padahal mobil Bapak ada empat. Masa iya sih mereka nggak boleh pinjam barang sehari aja. Besok pagi mas baru pulang. Mas coba hubungi ibu, bilang kalau disini hujan deras." Usulku.

Gemas pada sifat pelit mertuaku. Sejenak mas Danang terlihat berpikir, kemudian mengangguk. Ia merogoh ponsel dalam tas pinggangnya, kemudian menempelkan ponselnya ditelinga.

"Assalamualaikum, Bu…"

kemudian mas Danang mengungkapkan maksud dan tujuannya.

Aku tidak bisa mendengar jawaban ibu, namun dari raut wajah yang ditunjukkan mas Danang, nampaknya ia kecewa.

"Ya sudah. Danang berangkat sekarang. Assalamualaikum…" tutupnya pelan. Matanya masih menatapku lekat.

Ia menghela napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. Kuusap punggung tangannya perlahan.

"Ya sudah, mas jalan ya." Pamitnya.

Aku hanya mengangguk lemah. Entah kenapa perasaanku sepertinya kurang enak.

Setelah berpamitan pada emak dan bapak, aku menatap wajah mas Danang lekat untuk ke sekian kalinya.

"Mas hati-hati ya. Kabari Cita kalo udah sampai rumah." Pesanku.

Mas Danang mengangguk. Ia mengelus puncak kepalaku, dan kuraih tangannya lalu menciumnya takzim.

Tak lupa kugendong Tia, mengantar mas Danang hingga depan rumah.

Mas Danang mencium pipi Tia berulang kali. Kemudian segera berlari menuju mobil.

Rumah emak memang tidak berada di jalur jalan raya. Dari jalan besar, harus masuk lagi dengan jalanan cukup curam. Bisa terjadi kecelakaan jika tidak hati-hati. Terutama saat musim penghujan seperti waktu itu.

Kutatap mobil yang dikemudikan mas Danang. Tak lupa ku doakan semoga suamiku selamat sampai rumah.

Namun satu jam kemudian sebuah kabar kuterima, dari pakle Mukhlis yang kebetulan baru pulang dari kota. Beliau membawa kabar tentang kecelakaan jatuhnya sebuah pohon besar yang menimpa mobil.

Awalnya pakle tak tahu siapa yang kecelakaan, namun setelah melihat korban, ia tahu bahwa itu mas Danang.

Tubuhku seketika jatuh luruh. Kepala pusing dan pandangan berkunang-kunang. Aku jatuh pingsan sebelum menemui mas Danang yang dibawa ke puskesmas terdekat ketika itu.

*

Flashback off

"Mama, mamam…" suara Tia membuyarkan lamunanku.

"Tia mau makan?" Tanyaku.

Tia mengangguk. Aku tersenyum lantas mengambil piring.

"Tunggu sebentar ya." Ujarku. Tia mengangguk.

Kuseret langkah menuju kamar, lalu ku ulurkan kepala ke dalam kamar. Mas Danang tengah berbaring menatap langit-langit kamar. Tatapannya redup seolah tak memiliki lagi semangat hidup.

"Mas mau makan sekarang?" Tanyaku pelan. Kuhampiri dirinya kemudian duduk di sampingnya. Ia menggeleng.

"Dari pagi mas belum makan apa-apa. Atau mau makan donat? Cita tadi lebihin dua. Mau?" Tanyaku lagi.

"Aku nggak mau, Cita! Apa kamu nggak ngerti gelengan kepala?" Teriaknya. Aku berdiri. Lalu meninggalkannya.

Tak ada yang bisa kulakukan setiap kali mas Danang membentakku, kecuali meninggalkannya dengan mata basah.

*

"Cita!"

Aku yang sedang menidurkan Tia sembari menscroll aplikasi biru, mengernyit.

"Tia tunggu sebentar ya."

Aku bangkit lantas perlahan menuruni tempat tidur. Kemudian melangkah keluar kamar.

"Bude Lasmi?" Alisku saling bertaut melihat kedatangan Bude Lasmi. Ingatanku teringat kejadian kemarin.

"Cita, kamu nggak percaya kalo saya bakalan ambil donat kamu?" Serunya.

Aku paham sekarang. Kedatangannya untuk membahas donat yang urung diambilnya.

"Bukan gitu bude, saya cuma takut donatnya udah nggak bagus lagi. Dan benar 'kan, bude nggak datang kemarin." Jawabku membela diri.

"Lah, ini buktinya saya datang! Bilang aja kalau kamu nggak percaya sama saya. Nih, liat! Ini duit semua. Cuma jualan donat aja belagu banget!" Unjuknya sembari menepuk tas yang isinya entah benar atau tidak.

"Maasya Allah bude, Cita percaya kok sama bude. Makanya Cita nggak pengen bude makan kue yang sudah didiamkan beberapa jam. Kalau bude mau pesan lagi, ya boleh. Biar Cita adon sekarang." Bujukku.

"Udah nggak mood! Udah males. Mending jelas-jelas Jajan di mall. Udah bermerk, penjualnya juga nggak belagu. Bahannya juga udah pasti higinis!" Sahutnya sambil menaiki motor maticnya, lantas pergi meninggalkan aku yang masih bengong menatap kepergiannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakku Menjadi Saksi Mata Perselingkuhan Suamiku
9.1
Kehidupan Nayla yang awalnya terasa sempurna seketika hancur berkeping-keping. Lewat kepolosan Cahaya, sang putri kecil, sebuah perselingkuhan yang dilakukan suaminya dengan Rosa terungkap secara tidak sengaja. Kesaksian jujur dari anaknya tentang kejadian di balik pintu kamar yang terkunci menjadi awal dari penderitaan yang tak terbayangkan. Kini, Nayla harus memilih antara bertahan atau merelakan semuanya. Sanggupkah ia menghadapi pengkhianatan ini dengan tegar?
Sampul Novel Gairah Liar sang keponakan
8.4
Kehidupan seorang pria berubah drastis sejak keponakan yang dititipkan kakaknya mulai bertindak liar. Gadis yang awalnya terlihat polos itu ternyata menyimpan obsesi cinta hingga berhasil menjeratnya dalam satu malam penuh gairah. Kini, ia terjepit antara hasrat dan tuntutan restu sang kakak atas hubungan yang dianggap tabu oleh dunia. Namun, sebuah rahasia besar dari masa lalu perlahan terungkap, membongkar status hubungan mereka yang sebenarnya.
Sampul Novel Jatuh Padamu
8.2
Andreas Pramoedya menjadi sosok yang makin dingin dan tertutup sejak kematian tragis istrinya, Namira. Peristiwa memilukan itu memperkuat keyakinannya bahwa ia memang ditakdirkan untuk ditinggalkan. Namun, pertahanannya goyah saat Serena Amerta hadir dan menyusup ke hatinya. Meski gairah panas membara setiap kali mereka bersentuhan, Andreas bersikeras menutup diri. Ia takut kembali terkecoh oleh perasaan yang berujung pada luka abadi yang perlahan akan membunuhnya.
Sampul Novel Kontrak Eksklusif untuk Kanaya
8.7
Keserakahan sering kali membutakan nurani, seperti nasib malang yang menimpa Kanaya. Akibat ketamakan ibu tirinya, masa depan gadis ini terancam hancur dalam sekejap. Tanpa izin, ia dijadikan jaminan utang kepada rentenir paling kejam di kota. Kini Kanaya terjebak dalam situasi pelik yang mempertaruhkan hidupnya. Apakah ia mampu bangkit melawan takdir pahit tersebut, atau justru terpaksa menyerah pada keadaan yang merenggut kebebasannya?
Sampul Novel Lelaki Yang Tak Terlihat Kaya
9.8
Gerald Crawford tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah drastis dalam semalam. Selama ini, ia mengira keluarganya hanyalah pekerja biasa di luar negeri. Namun, sebuah pengakuan mengejutkan dari orang tua dan saudara perempuannya mengungkap identitas aslinya. Gerald ternyata adalah pewaris takhta kekayaan bernilai triliunan dolar. Kini, sang pemuda harus menghadapi realita baru sebagai keturunan konglomerat yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel Orderan Kue Untuk Hari Pertunangan Suamiku
8.3
Selama tiga tahun membina rumah tangga, sosok suami yang kukira setia ternyata menyimpan rahasia gelap di balik punggungku. Perselingkuhan itu menghancurkan kepercayaan yang telah lama kujaga. Meski hati tersayat, aku memilih untuk tidak gegabah dalam melabraknya secara emosional. Bagiku, membalas pengkhianatannya dengan cara yang elegan dan terencana jauh lebih memuaskan daripada sekadar amukan yang sia-sia di depan matanya.