APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dosa Yang Indah - Zina

Dosa Yang Indah - Zina

Zina lahir dari rahim seorang wanita yang penuh noda masa lalu. Sebagai anak yang tercipta dari perbuatan terlarang, ia tumbuh di tengah penderitaan hidup yang tiada henti. Sang Ibu, yang menyimpan luka mendalam akibat siksaan seorang pria, bertekad melakukan segalanya demi membalas dendam. Dalam kisah romansa modern ini, Zina menjadi simbol dari dosa indah sekaligus alat untuk menuntaskan amarah ibunya terhadap sosok yang telah menghancurkan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pemuda tak di kenal itu menariknya dan membuatnya berlari sangat jauh hingga akhirnya mereka pun berhenti. Mereka berhenti tepat di ujung tebing yang lumayan tinggi; dibawah tebing itu terbentang luas lautan beserta ombaknya. 

“Hufhh.”

Pemuda itu terlihat kelelahan, tapi tidak dengan Zina.

“Kamu baik-baik aja?” tanya pemuda itu. 

Zina tak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya diam. Saat ini kepalanya masih penuh dengan pertanyaan. Semua yang terjadi beberapa saat yang lalu benar-benar membuatnya syok. 

“Hey!”

Pemuda itu menepuk kedua telapak tangannya tepat di depan wajah Zina, membuatnya sontak tersadar dan air matanya yang dari tadi berusaha ia tahan kini jatuh membasahi wajah cantiknya. 

“Hmmm?” Zina sontak melihat kearah pemuda itu yang terlihat bingung melihatnya. 

“Kamu menangis? Kenapa? Kamu baik-baik aja kan? Apa kamu terluka?”

Pemuda itu melontarkan banyak pertanyaan, tapi semua itu hanya di jawab gelengan kepala oleh Zina. 

Melihat respon Zina, pemuda itu langsung paham kenapa sikapnya seperti ini sekarang. Pemuda itu tak segaja tahu akan alasan sikap Zina. Beberapa saat yang lalu ia tengah bersantai di bawah pohon sampai waktu santainya terganggu oleh Zina dan pria paruh baya tadi. 

“Kamu mikirkan perkataan Pak tua tadi?” tanya Pemuda itu seraya duduk dekat dengan ujung tebing.

Sekali lagi Zina hanya menggeleng.

“Jangan bohong. Aku tahu, dan maaf karena aku nggak segaja nguping percakapan kalian,” ucapnya seraya tersenyum menatap laut. 

“Nggak papa,” sahut Zina pelan. 

“Kamu bakal terus berdiri? Duduk!”

Zina melihat ke pemuda itu, dan tampaknya dia anak baik-baik, jadi Zina pun mengikuti perkataannya. Zina duduk tepat di sampingnya, dan masih dalam kondisi termenung memikirkan perkataan pria paruh baya tadi.

“Kamu masih memikirkan tentang tadi?” Sekali lagi pemuda itu menebak dengan tepat. 

“Nggak,” sahutnya dengan cepat. 

“Jangan berbohong, aku nggak bisa di bohongin. Jangan coba menipu aku. Itu nggak akan berhasil,” ucapnya.

“Terserah.” Zina merasa tak memiliki cukup tenaga untuk melawani pemuda itu. 

“Tapi, kamu siapa?” tanya Zina baru menyadari jika wajah pemuda itu tampak asing baginya. Jelas dia bukan warga desa ini. 

“Kamu bukan warga desa ini 'kan? Kamu siapa?” tanya Zina. 

Pemuda itu tersenyum kecil. 

“Aku? Aku, Rama. Aku memang bukan orang sini,” ungkapnya. 

“Terus?”

“Sebenarnya aku disini datang bareng orang tuaku. Nenekku yang orang sini, jadi hari ini Ibu mau ketemu sama Nenek, makanya kami dateng. Nama kamu Zina 'kan?” Rama balin bertanya. 

Zina mengangguk kecil. 

“Berapa usiamu? Sepertinya kamu lebih muda,” katanya. 

“Aku 15. Kamu?”

Rama tertawa kecil. 

“Wah, aku benar. Aku lebih tua. Aku 18 tahun,” jawabnya.

“Oh ….”

Zina memberikan reaksi yang biasa saja. 

“Kenapa reaksimu begitu?”

“Jadi aku harus gimana? Harus gitu aku bilang wow?”

“Nggak harus juga sih ….”

“Kalau begitu baguslah.”

Zina kembali tertunduk. Ia merasa sangat frustrasi dengan apa yang baru saja terjadi. Ia tak ingin percaya, tapi … yang pria tadi katakan itu memberikannya alasan yang kuat untuk percaya, karena hal itu membuatnya mendapatkan jawaban tentang alasan sikap warga desa padanya.

Beberapa kali air matanya jatuh. 

Rama melihat hal itu. Melihat itu membuatnya merasa tak enak. 

“Berhentilah menangis!” serunya.

“Berhenti ikut campur!” jawabnya dengan tegas. 

“Kamu menangis karena memikirkan perkataan Pak tua tadi 'kan?” 

“Aku bilang berheti ikut campur!”

“Kenapa? Kamu tidak percaya dengan apa yang dia katakan? Atau, tidak ingin percaya?”

Zina terdiam. 

“Yang dikatakan Pak tua benar,” ungkapnya secara tiba-tiba. 

“Apa?” Zina terkejut.

“Sebenarnya aku dan keluargaku sudah beberapa kali kesini, dan beberapa kali juga aku dengar Ibuku dan Nenekku membicarakan tentang anak perempuan yang bernama Zina yang lahir karena dosa. Ternyata itu kamu ….”

Rama tersenyum kearah Zina, seakan-akan mengejeknya. 

“Itu nggak benar! Ibuku bukan wanita seperti itu!” seru Zina dengan suara lantang.

“Berhenti menyangkal fakta jika memang benar Ibumu itu bukan wanita baik-baik.”

“Berhenti!” teriaknya dengan keras. 

“Sekeras apa pun kamu menyangkal kenyataan, hal itu nggak akan berhasil ngerubah apa pun! Kamu terima aja kenyataan soal kamu yang lahir dari rahim wanita nggak baik-baik!”

“Aku bilang berhenti!” sekali lagi Zina berteriak dengan keras di sertai dengan air mata.

“Cukup … aku mohon,” pintanya dengan berlinang air mata.

Rama menatap Zina, lalu perlahan menghapus air mata Zina dengan tangannya. Zina terkejut.

“Jangan menangis. Aku nggak suka liat orang nangis,” ucapnya setelah selesai menghapus air mata di wajah Zina. 

“Kamu cantik, jadi jangan biarkan air mata membuat kecantikan kamu ternoda,” ujar Rama. 

Entah mengapa, tapi setiap kalimat yang Rama ucapkan membuat Zina merasa sedikit tenang. 

“Jangan bicara omong kosong!”

Beberapa detik kemudian Zina kembali sadar. Pemuda asing itu membuatnya sempat kehilangan kesadarannya sesaat. 

“Aku nggak bicara omong kosong,” elaknya dengan tawa kecil. “Kamu memang cantik,” sambungnya dengan senyuman manis yang membuat Zina merasa sedikit berdebar.

Melihat tingkah Rama membuat Zina tertawa kecil. 

“Heh? Kamu tertawa? Lihatkan, kamu cantik kalau kamu bahagia,” ucap Rama terus saja mengatakan hal-hal manis pada Zina, membuatnya hampir terbang. 

“Selalu tersenyum, jangan sampai kehilangan senyumanmu. Kamu cantik saat tersenyum.” Lagi dan lagi Rama terus memberikan kata-kata manis pada Zina. 

“Kamu sepertinya ahli dalam bicara manis,” kata Zina. 

“Nggak kok. Ini pertama kalinya aku bilang cantik ke cewek. Sebenarnya aku gugup,” ungkapnya. 

“Bohong.” Zina tak percaya dengan apa yang dikatakan Rama.

“Aku nggak bohong. Kalau kamu nggak percaya, nih cek aja sendiri ….” Rama menggapai tangan Zina, meletakkan tepat di jantungnya membiarkan Zina merasakan betapa gugupnya ia saat ini. 

Zina terdiam, merasakan detak jantung Rama yang tak stabil. Kemudian dengan cepat Zina melepaskan tangannya. 

“K-kamu ada riwayat penyakit jantung?” tanya Zina dengan gugup.

Rama tertawa. 

“Nggak ada,” jawabnya. 

“E-hmm, aku rasa kamu harus periksa sekali-kali.”

“Oke. Nanti aku periksa.”

Di detik berikutnya hanya tawa kecil yang ada di antara mereka. 

Rama, dia pemuda yang baik dan sangat manis. 

“Ngomong-ngomong kenapa dari tadi kamu bicara dengan santai denganku? Aku ini lebih tua dari pada kamu. Aku tiga tahu lebih dulu makan nasi sebelum kamu,” ujarnya seketika langsung di sambut tawa kecil oleh Zina. 

Tiga tahun lebih dulu makan nasi? Itu benar-benar ungkapan yang konyol. Itulah yang di pikir Zina. 

“Kenapa ketawa? Aku bukan komedian.” 

“Iya. Maaf …,” ucap Zina dengan suara pelan. 

Kemudian suasana di antara mereka pun kini sunyi kembali. 

Walaupun tertawa beberapa saat yang lalu, tapi Zina tak bisa melupakan apa yang baru saja ia dengar tentang Ibunya. Bukan hanya satu kali, tapi dua kali ia mendengar cerita buruk tentang Ibunya dan dirinya.

Apakah ini kebenaran dari semuanya? Jika memang benar, akan lebih baik jika dirinya hidup dalam tanda tanya selamanya. Zina benar-benar terpuruk. Lagi dan lagi air matanya tak berhenti jatuh, bahkan kini Rama hanya membiarkannya menangis. 

“Nangis aja, jangan di tahan. Kalau kamu tahan itu hanya akan buat kamu makin sesak.”

Akhirnya Zina pun menangis sejadi-jadinya. Ia menangis dengan keras, ia berteriak beberapa kali. Hatinya terasa sangat sakit ketika tahu akan kebenaran hidupnya, ini benar-benar menyakitkan. 

“Arghhh!” teriknya keras. “Ibu ….” 

Hanya bisa menangis dan berteriak untuk mengeluarkan segala macam ganjalan yang ada di hatinya. Entah kenapa tapi rasanya sangat sakit dan menyesakkan.

Seumur-umur belum pernah Zina menangis sebanyak ini. Ini adalah kali pertamanya ia merasa sangat sakit hati. Dia tak bisa menerima kebenaran tentang Ibunya. Semua itu melukainya.

Andai saja waktu bisa ia putar, mungkin Zina akan lebih memilih hidup dalam ruang tanya agar hatinya tak merasakan sakit seperti ini. Setidaknya jika masih tetap berada di ruang tanya, mungkin ia akan hidup dengan baik-baik saja. 

Zina benar-benar menyesal.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Tersayat Dendam
9.5
Arta adalah wanita tangguh yang fokus pada karier meski sering diremehkan karena penampilannya yang bersahaja. Pernah dicampakkan akibat perbedaan kasta, ia bertekad membuktikan nilainya tanpa banyak bicara. Kehidupannya berubah saat bertemu Evan, seorang pengusaha duda sukses. Kini, mereka harus bersatu menyelidiki dalang di balik kekacauan perusahaan masing-masing, sembari berjuang mempertahankan cinta yang terus diterjang badai dan dendam masa lalu.
Sampul Novel DUA HATI YANG TERPISAH
9.7
Kehidupan Maya terasa sunyi dan tanpa makna sejak kepergian Rama yang dicintainya. Namun, sebuah peristiwa tak terduga mendadak mengubah segalanya. Secara mengejutkan, Maya dipertemukan dengan sosok pria yang sangat mirip dengan mendiang kekasihnya. Tidak hanya rupa yang serupa, pria tersebut juga memiliki sifat dan kepribadian yang hampir identik dengan Rama. Kehadiran sosok ini membawa gejolak baru dalam hati Maya yang selama ini dirundung kesedihan.
Sampul Novel Forced Marriage
9.2
Joan Arkan Rivenno, CEO sukses yang jatuh hati pada pandangan pertama, dijodohkan dengan aktris jelita Liza Nathalia Hope. Sayangnya, Liza menolak karena menganggap Joan hanya kakak dan ia sudah memiliki kekasih. Meski Liza terang-terangan menentang, obsesi Joan justru makin menguat. Suatu malam, Joan melakukan tindakan nekat yang merenggut kesucian Liza hingga ia hamil. Pernikahan paksa pun terjadi, meski hati Liza penuh dengan penolakan dan rasa benci.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Shila merintih kesakitan saat Sam mulai merasuki dirinya dengan penuh gairah. Dalam suasana yang mencekam dan penuh risiko, Sam berbisik lirih agar Shila mengecilkan suaranya. Ia memperingatkan gadis itu bahwa orang tuanya bisa mendengar aktivitas rahasia mereka di dalam rumah tersebut. Ketegangan memuncak saat mereka berusaha menyembunyikan hubungan terlarang ini dari pendengaran ayah dan ibu Shila yang berada sangat dekat dengan mereka.
Sampul Novel Gairah Sang Majikan
8.2
Kisah romansa dewasa ini menyoroti dinamika terlarang antara seorang majikan dan asisten rumah tangganya. Sang majikan tak kuasa menahan pesona kecantikan pembantunya yang begitu memikat, hingga percikan gairah di antara mereka meledak dalam hubungan intim yang penuh intensitas. Pembaca diharapkan bijak karena narasi ini dipenuhi adegan panas yang eksplisit, menggambarkan bagaimana keduanya terhanyut dalam godaan yang tak terbendung di dalam rumah.
Sampul Novel Ghost Writer
8.3
Kisah ini menyoroti dinamika cinta kaum urban dan fenomena penulis bayangan. Cassandra adalah penulis berbakat yang kemampuannya dieksploitasi oleh Ayu, klien setianya yang tidak memiliki talenta menulis. Di sisi lain, seorang editor sekaligus sahabat Cassandra menyadari potensi besar tersebut. Ia berjuang keras mendorong Cassandra agar berani meraih kesuksesan dengan karyanya sendiri tanpa harus terus bersembunyi di balik nama kliennya.