APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Drive Back To December

Drive Back To December

Gayatri Rumi Rahardjo tak menyangka akan dipersunting kembali oleh mantan suaminya, William Alansyah, setelah tiga tahun berpisah. Demi rasa sayangnya pada mantan ibu mertua, ia sepakat membina rumah tangga untuk kedua kalinya. Namun, pernikahan ini dihantam tekanan perihal keturunan. Di tengah kemelut tersebut, Gayatri mencurigai rahasia besar yang disembunyikan William. Akankah kenyataan pahit ini memicu perceraian kedua yang ingin ia hindari?
Bab
Bagikan

Bab 1

(PoV Rumi)

"Dengan ini saya nyatakan gugatan saudara William Alansyah terhadap saudari Gayatri Rumi Rahardjo dikabulkan, mulai hari ini saudara William Alansyah dan saudari Gayatri Rumi Rahardjo resmi bercerai dan bukan lagi suami istri. Sidang ditutup," ucap Pak Hakim.

Palu sudah diketuk tiga kali. Aku menghela nafas panjang.

"Baiklah, semua sudah berakhir. Semoga setelah perceraian ini, semua masalah akan selesai. Aku harus bahagia, hidupku akan berlanjut dengan kebahagiaan," ucapku dalam hati. Memandang wajah mantan suamiku sekali lagi lalu memandang mantan ibu mertua dan mantan adik iparku sebelum beranjak pergi dari ruang persidangan.

***

Tiga tahun berlalu. Sejak peristiwa itu aku memutuskan untuk kembali ke Jogja. Mengemban label janda cantik sudah menjadi rutinitasku. Aku sudah mulai terbiasa, aku tak peduli orang mau bicara apa tentang aku, yang jelas aku tidak minta biaya hidup dari mereka. Aku bekerja sebagai agen di salah satu asuransi jiwa. Levelku sudah lumayan tinggi, jadi yah sudah bisa sombong sedikit.

Sebenarnya perceraian itu tak membuatku trauma untuk berumah tangga lagi tapi aku jadi lebih selektif saja. Ada beberapa pria yang mendekatiku, mayoritas mereka pengusaha dan selalu tertawa jika aku menceritakan perceraianku karena aku dituduh workaholic, tapi aku merasa belum ada yang cocok dengan hatiku.

Siang itu seperti biasa aku mencari nasabah disalah satu mall di Jogja. Aku memilih berada di salah satu Cafe dalam mall itu bersama dengan salah satu sahabatku, sesama agen.

"Rum, gimana target trip udah nutup?" tanya Nina padaku.

"Ya udah dong, sama uang saku juga udah aku tutup."

"Sombong amat lu! Ya kamu enak, Rum. Pria-pria kaya itu mau beli asuransi atau sekedar investasi di kamu. Lah aku, susah bener."

"Makanya jadi janda dong," selorohku.

"Ihh! Amit-amit deh, anakku udah 3. Kamu enak, cerai nggak ada anak," Nina beberapa kali mengetuk meja dan menjitak kepalanya. Aku hanya tersenyum getir melihatnya. Sungguh menjadi janda bukanlah sebuah pilihan hidup.

"Aku pesen kopi lagi deh, puyeng dari tadi nggak ada target. Kamu mau apa lagi, Nin?"

"Alah, target apalagi sih? Nggak usah deh, pusing kebanyakan kopi."

"Target lain. Mungkin aja ada yang mau jadi suami, hahaha. Ya udah aku pesen kopi dulu."

Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju tempat pemesanan. Segelas soy coffee late sudah ditangan. Aku memang sengaja menunggu dan melihat baristanya meracik minumanku. Saat aku membalikkan tubuhku, aku melihat ada seorang lelaki yang tidak asing namun sudah lama tak pernah jumpa.

"Sudah kuduga itu pasti kamu, Rumi," sapa pria itu padaku.

"Henry? Henry Prasetya?" tanyaku memastikan.

"Hai, Rumi. Nggak nyangka ya ketemu kamu disini."

"Apa kabar? Ya ampun, udah lama baget. Lagi ngapain di Jogja?"

"Aku baik. Kebetulan lagi ada kerjaan di sini."

"Ohh, oke."

"Boleh gabung nggak? Kamu duduk dimana?"

"Di sana tuh, aku tunggu ya." Aku menunjuk sebuah meja.

"Oke, Rum. Aku pesan dulu trus ke sana ya." Aku menggangguk kemudian kembali ke mejaku. Tak lama Nina memutuskan pergi karena ada keperluan mendadak, sebelum Henry datang.

Henry Prasetya, dia teman kuliahku di UNY dulu. Orangnya baik, kharismatik, lucu dan juga tampan. Teman-temanku dulu bahkan menyebut Henry sebagai keturunan ningrat karena rupanya yang jawa banget.

Wajahnya yang teduh dan bersahaja selaras dengan tuturnya yang lembut pasti membuat para wanita meleleh jika dekat dengannya. Henry menjadi idola kampus pada zaman itu. Aku cukup beruntung bisa mengenalnya dan berteman baik dengannya hingga lulus. Namun setelah itu Henry kembali ke kota asalnya yaitu Malang. Kami putus komunikasi, tak pernah lagi bertemu. Dan hari ini kami berkesempatan untuk berjumpa lagi. Akhirnya dari perjumpaan singkat hari ini kami saling bertukar nomor WhatsApp.

Obrolanku dan Henry berpindah ke WhatsApp. Menyenangkan sekali bertukar kabar dengan Henry, membicarakan masa sekarang dan masa lalu. Kini dia bekerja sebagai Manager di salah satu perusahaan ekspor-impor di Surabaya. Selama Henry mengurus pekerjaannya di Jogja, kami jadi sering bertemu untuk sekedar minum kopi ataupun makan. Dan dari pertemuan-pertemuan itu, pertemuan di hari terakhir Henry di Jogja menjadi hal yang tak terlupakan dalam hidupku.

"Rumi, besok pagi aku sudah harus kembali ke Surabaya," ucap Henry lembut. Terlihat guratan kesedihan di wajah tampannya.

"Iya, aku tahu. Kan udah ngomong kemarin."

"Aku bersyukur bisa dipertemukan lagi dengan kamu," lanjut Henry disertai senyumnya yang selalu manis.

"Hmm, masak? Aku lebih ke seneng sih ketemu kamu lagi."

"Rumi, sesungguhnya ada hal yang aku sembunyikan darimu sejak dulu."

"Jangan bilang kamu suka sama aku?" goda ku.

"Memang kenapa? Ada yang salah?"

"Emang bener? Hahaha."

"Bener, Rum."

"Ha? Apa sih, Hen? Nggak lucu 'lah."

"Ya emang nggak lucu. Aku 'kan nggak ngelawak. Aku serius."

Aku terdiam. Menatap Henry, mencoba mencari kebohongan melalui manik matanya, namun aku tak menemukannya. Aku cukup terkejut mendengar pernyataannya. Sungguh aku tak pernah menyangka dengan semua ini.

"Tapi aku janda, Henry," ucapku kemudian.

"So, what? Aku sudah pertimbangkan. Kamu bilang kamu nggak trauma 'kan dengan rumah tangga. Aku ingin menikahi kamu Rumi. Aku sudah menahan perasaan ini sejak kita kuliah. Aku rasa Tuhan merestuinya karena sudah mempertemukan aku dengan kamu lagi. Aku janji akan menjagamu. Sampai akhir nafasku."

"Aku memang nggak trauma untuk membuka hati lagi, berumah tangga lagi. Tapi aku nggak bisa grasak grusuk. Beri aku waktu ya."

"Of course, kapanpun kamu siap. Jadi kita pacaran nih sekarang?"

"Ha? Gimana?"

"Kita pacaran, Sayang."

"Cie, Sayang."

"Cie udah lama nggak ada yang manggil Sayang ya?"

"Ngajak berantem ya, hari pertama jadian loh ini."

"Hahaha."

Aku belum mengerti apakah keputusanku untuk menerima cinta Henry adalah keputusan yang tepat. Tapi aku tak ingin menjadi wanita munafik. Aku ingin memberi kesempatan pada Henry untuk membuktikan ucapannya. Siapa tahu Tuhan memang mengirimkan jodohku berupa Henry yang tampan dan baik itu. Ahh! Seandainya benar, aku pasti menjadi wanita yang sangat beruntung.

***

Kehadiran Nina membuyarkan lamunanku. Hanya membaca chat dari Henry saja bisa membuatku senyum-senyum sendiri dan membayangkan kebersamaanku dengan Henry. Seperti mengulang masa remaja yang sedang di mabuk asmara.

"Kasmaran ya?" tebak Nina yang sialnya sangat tepat.

"Emm." Aku hanya mengangkat bahu, tak memberi jawaban pasti pada Nina.

"Siapa orangnya? Client kamu ya?" Aku menggeleng. Lagi-lagi tak memberi jawaban pada Nina yang super kepo ini, membuat Nina mengerucutkan bibirnya karena kesal.

"Jatuh cinta bikin bisu ya?" sindirnya padaku.

"Masih pagi udah marah-marah aja nih, Bu Nina."

"Ya kamu ditanya jawabnya cuma angkat bahu 'lah, nggeleng 'lah. Sebel jadinya."

Aku membuka ponselku, mencari swafotoku bersama Henry, lalu menunjukkannya pada Nina. Mata Nina langsung melotot melihat foto itu.

"Ya Allah, Gusti. Kok ngguanteng tenan to, Rum. Wong ngendi iki?" (Ya Allah, Gusti. Kok ganteng bener, Rum? Orang mana ini?)

Aku tertawa melihat Nina. "Malang, tapi kerja di Surabaya."

"Edan! LDR dong? Tapi nggak papa, Rum. Tak dukung kalo sama yang ganteng kayak gini. Dari pada Pak Galih yang udah duda itu. Mending ini kemana-mana, Rum."

Aku hanya tersenyum mendengar kejujuran Nina. Pak Galih adalah client yang telah beberapa kali secara terang-terangan menyatakan jika menyukai ku. Tapi sayangnya aku tak memiliki ketertarikan yang sama dengannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO itu Tunanganku
8.8
Dua dekade berlalu, Melisa masih menanti cinta masa kecilnya hingga hatinya mati rasa. Saat mencoba membuka hati, ia justru terjebak pria oportunis. Di sisi lain, Rommy kembali dari perantauan sebagai sosok perkasa namun membawa luka lama. Meski Rommy datang melamar, Melisa justru menolak tanpa tahu mereka telah dijodohkan sejak kecil. Di tengah cobaan yang bertubi-tubi, mampukah rahasia perjodohan itu menyatukan kembali takdir cinta mereka yang sempat terputus?
Sampul Novel Cinta Terlarang: "Ayah Angkatku" yang Mencuri Hatiku
8.5
Di pesta ulang tahun Cathleen Kirby, sebuah momen manis terjadi saat ia menggenggam tangan Jerald Dobson, sahabat ayahnya. Namun, tragedi kebakaran hebat seketika memusnahkan keluarga Kirby, menyisakan Cathleen dan kakaknya, Gabriel. Saat kerabat serakah mengincar harta warisan mereka, Jerald muncul sebagai pelindung. Ia mengirim Gabriel ke luar negeri dan membesarkan Cathleen sendirian. Kini, Jerald menjadi satu-satunya pusat dunia bagi Cathleen.
Sampul Novel Dendam Dalam Ikatan Suami Istri
9.5
Zara Liana Anastasya terpaksa menikahi Rafiq Arkan Devantara akibat manipulasi ayahnya demi kepentingan bisnis. Rafiq, yang menyimpan ambisi kelam, awalnya memperlakukan Zara dengan penuh kebencian dan kekejaman sebagai bagian dari rencana tersembunyinya. Namun, sikap Rafiq secara mengejutkan berubah menjadi sangat lembut dan perhatian. Di tengah misteri motif pernikahan ini, akankah hubungan mereka bertahan atau hancur saat rahasia dan dendam mulai terungkap?
Sampul Novel Head Over Heels
8.7
Miko hadir dalam kehidupan sebagai sosok rival yang paling dibenci, namun kehadirannya justru memicu badai emosi yang tak terduga. Hubungan benci tapi rindu ini perlahan mengobrak-abrik seluruh perasaan dan logika yang ada. Di balik persaingan sengit mereka, tersimpan getaran yang mengguncang hati secara mendalam. Kisah ini mengikuti perjalanan emosional yang rumit saat musuh bebuyutan berubah menjadi seseorang yang paling memengaruhi jiwa.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Demi melindungi nyawa buah hati yang tidak berdosa, Neva Zetrix terjebak dalam situasi yang sangat memilukan. Ia terpaksa menekan harga dirinya dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson setiap hari. Perjuangan hidup Neva ini didorong oleh kasih sayang seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi sang anak. Di tengah tekanan dari sosok Brian yang dominan, Neva harus bertahan dalam dinamika hubungan yang penuh dengan pengorbanan batin.
Sampul Novel Istri Cacat CEO
9.6
Christian Oliver adalah CEO sukses yang tampak memiliki segalanya, namun hidupnya terkekang oleh aturan sang ayah. Di usia 29 tahun, ia dilarang menjalin kasih karena statusnya yang sudah terikat pernikahan sejak remaja dengan Olivia, putri sahabat ayahnya. Meski telah bertahun-tahun mencari, Christian tak kunjung menemukan keberadaan istrinya itu. Ironisnya, tanpa ia sadari sedikit pun, sosok Olivia sebenarnya selalu berada sangat dekat di sisinya selama ini.