APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Escaping The Madhouse

Escaping The Madhouse

Bab
Bagikan

Bab 2

Aku benar-benar tidak sabar menunggu hari penting tiga hari lagi, Gerald akan melamarku tepat di hari kelulusanku. Momen yang sudah aku tunggu-tunggu. Ya, aku menunggu dengan sabar sampai aku mengubah statusku menjadi miliknya selamanya. Untungnya Dad sama sekali tidak menentang hubunganku dengannya berkat ibu tiriku. Dia yang meyakinkan Dad bahwa dua orang yang saling mencintai tidak boleh dipisahkan, Dia mengatakan pada Dad bagaimana jika aku menentang hubungan mereka berdua. Aku bersyukur mempunyai ibu tiri yang sangat baik.

“Alana, apa kamu sudah membeli dress baru untuk kelulusanmu nanti? Mau kita beli sama-sama?” tanya Nadine sambil menyelonong masuk kedalam kamarku.

“Apa aku harus membeli baru? Aku masih punya dress tahun lalu yang belum kupakai sama sekali,” ujarku sambil memerbaiki posisi dudukku yang kurang sopan. Nadine juga datang lalu duduk di kasurku.

“Bukankah Gerald juga akan melamarmu saat malam kelulusanmu nanti? Dia pasti akan memberikan kejutan untukmu, aku ingin kamu terlihat memesona di depan Gerald. Aku yakin ini akan menjadi momen yang indah untuk kalian berdua,” dia tersenyum padaku.

“Benarkah? Kalau begitu kamu mau menemaniku membeli pakaian baru?” Nadine mengangguk.

“Aku sudah siap untuk itu. ganti pakaianmu dulu aku tunggu di bawah.”

Aku segera berganti pakaian rumahanku dengan pakaian yang sedikit feminine dengan floral blouse dengan skinny jeans berwarna biru. Tidak lupa dengan sling bag warna putih dan cone heels warna krem.

Nadine ternyata mengajakku ke sebuah toko branded untuk mencari dress dan sepatu yang sesuai untuk acara lamaran nanti. Dia sangat sibuk memilihkan dress dan sepatu untukku, sementara aku melihat-lihat pakaian di rak lain.

“Apa aku boleh memilih pakaian lain juga selain dress? Sepertinya keluaran terbaru sudah ada dan aku sangat ingin membelinya,” sahutku sambil sibuk memilih pakaian baru.

“Beli saja apa yang kamu inginkan, Juan sudah memberikan uang untukmu membeli pakaian. Sepertinya tidak ada dress yang cocok untuk disini, kita pergi ke tempat lain saja, bagaimana?” wajahnya terlihat tidak puas.

“Aku akan membayar dulu ini dulu sebelum pergi ke toko lain, memangnya kenapa dengan dress itu?” aku ingin tahu dress seperti apa yang dilihat Nadine sampai dia merasa tidak puas. “Ini cukup bagus, aku menyukainya,” Nadine menggelengkan kepalanya.

“Ini terlalu polos, mungkin jika anak remaja yang memakainya tidak masalah. Kamu sudah dewasa sekarang, terlebih ini adalah acara lamaranmu. Aku ingin membuat momen yang tidak bisa kalian lupakan,” ujarnya sambil menatapku.

“Baiklah, aku serahkan masalah dress padamu,” aku mengambil belanjaanku yang sudah dibayarkan.

“Aku tidak akan membuatmu kecewa dengan dress pilihanku. Lihat saja aku akan membuat pandangan Gerald hanya terpaku padaku bukan pada yang lainnya,” aku tertawa dengan malu-malu.

“Aish Nadine, jangan seperti itu. Kamu membuatku merasa malu membayangkannya,” Nadine hanya tersenyum sambil menatapku dengan lekat.

“Aku akan membuat itu benar-benar tidak akan terlupakan untukmu,” gumamnya pelan.

“Hm? Kamu mengatakan sesuatu padaku Nadine?” tanya Alana sambil berbalik.

“Tidak, ayo kita masuk ke toko di sebelah sana,” ajaknya padaku dengan senyum lebar di wajahnya.

***

“Jadi kamu benar-benar tidak bisa menemaniku Dad? Gerald akan melamarku tapi kamu malah pergi, apa pekerjaanmu itu lebih penting dari pada aku anakmu sendiri?” suasana makan malam menjadi kacau karena Dad merusak moodku.

“Setidaknya aku bisa melihatmu saat kelulusan nanti. Ini sangat mendadak dan juga mendesak, aku harus segera menyelesaikan masalahnya sebelum memengaruhi bisnisku yang lain. Lagipula ada Nadine yang mewakiliku dan menemanimu,” kulihat Dad juga merasa sedih karena tidak bisa menyaksikan Gerald melamarku, tapi dia tidak punya pilihan lain. Terjadi masalah dengan bisnis yang sedang digelutinya.

“Tidak bisakah kamu pergi besoknya setelah lamaran itu? rasanya tidak sempurna jika kamu tidak ada Dad,” aku berusaha membujuk Dad.

“Aku juga sangat ingin mendampingimu Lana, percayalah. Tapi jika aku tidak menyelesaikan masalah bisnisku disana, semua yang sudah aku bangun bertahun-tahun dengan ibumu dulu akan jatuh. Aku hanya mencoba mempertahankan semuanya yang kita miliki,” sahut dad, wajahnya terlihat sangat bingung.

“Nadine, bisakah kamu bujuk Dad agar dia tidak pergi…” rengekku pada ibu tiriku.

“Lana, kumohon jangan mempersulit Dad. Dia bukan tidak ingin datang, Juan pasti sangat ingin menemani dan menyaksikan lamaranmu tapi pekerjaannya juga sangat mendesak. Apa yang dia lakukan sekarang adalah untuk masa depanmu juga, jadi kuharap kamu bisa mengerti dia,” Nadine mengusap tanganku dengan lembut.

“Aku berjanji akan mengurus semuanya dari awal sampai akhir pada saat pernikahanmu, Dad akan berada di sisimu sampai semuanya selesai. Dad benar-benar menyesal Lana,” wajah Dad terlihat begitu kusut. Aku sepertinya terlalu banyak membebani pikirannya.

“Baiklah, tapi aku ingin kamu memberiku tas dan sepatu baru dari brand yang aku sukai. Dad juga harus menepati janji untuk mengurus pernikahanku dengan Gerald, pokoknya semua yang Dad janjikan padaku harus Dad penuhi,” pintaku dengan sedikit menekan Dad.

“Tentu sayangku, Dad akan menebusnya dengan memberikan apa yang kamu inginkan,” ujarnya dengan tersenyum lembut.

“Aku akan membenci Dad jika Dad melanggar janji dengan alasan pekerjaan lagi seperti sekarang. Aku tidak akan berbicara dan menatap wajah Dad lagi,” ancamku.

“Apa kamu serius Alana? Kamu tidak akan berbicara dengannya lagi?” Nadine tampak terkejut mendengar ancamanku pada Dad.

“Dia tidak akan benar-benar serius honey, memangnya dia bisa melakukan apa tanpa aku. Dia anak perempuan manja yang sangat bergantung padaku,” ucap Dad sambil tertawa pelan.

“Lihat saja nanti Dad, setelah lulus aku akan mencari pekerjaan dan tidak akan bergantung lagi padamu atau suamiku nanti. Aku akan membuktikan kalau aku bukan sekedar anak manja yang hanya bisa meminta uang pada ayahnya atau suaminya,” ungkapku dengan berapi-api.

“Itu bagus jika kamu menemukan pekerjaan yang kamu sukai, tapi jangan lupa suamimu juga harus bekerja untuk membiayai hidupmu, memenuhi kebutuhanmu bukan malah sebaliknya. Aku akan membawamu kembali ke rumah ini jika dia tidak bersikap layaknya seorang suami,” Dad memberiku penegasan bahwa dia tidak bermain-main dengan ucapannya.

“Dad, apa kamu lupa dia bekerja di perusahaan eletronik terbesar? Gajinya juga juga pasti bisa untuk memenuhi kebutuhan hidupku bahkan bisa lebih dari itu. Tenang saja, Gerald tidak akan membiarkanku kekurangan sedikit pun karena dia sangat mencintaiku,” balasku dengan penuh percaya diri.

“Benar sekali, itulah kenapa merestui kalian berdua karena aku tahu Gerald akan mengurus dan memerhatikanmu dengan baik. Aku yakin kalian berdua memang diciptakan satu sama lain,” aku tersenyum senang pada Nadine, dia selalu membelaku jika berhubungan dengan Gerald.

“Jangan selalu membela dia honey, dia akan menjadi gadis yang keras kepala jika kamu terus melakukan itu. Aku khawatir dia akan berada dalam kesulitan suatu saat nanti karena kekeras kepalaannya itu,” Dad menatap cemas padaku.

“Kamu selalu memperlakukan aku seperti anak kecil Dad, aku ini sudah dua puluh tiga tahun dan akan segera menikah. Jadi kuharap kamu memperlakukanku seperti orang dewasa.”

Setelah makan malam bersama dengan Dad dan Nadine, aku meninggalkan kedua orang itu agar mereka memiliki waktu berdua saja. Aku naik ke kamarku yang berada di lantai dua lalu mengambil ponselku, mengecek apakah ada pesan atau telepon yang masuk ketika aku sedang berada di bawah. Gerald sama sekali tidak menghubungiku, mungkin dia sibuk. Aku akan mencoba untuk meneleponnya duluan daripada harus menunggu.

Dia sama sekali tidak mengangkat telepon dariku, apa dia benar-benar sibuk sampai lupa tidak mengabariku hari ini. Aku akan menelepon sekali lagi, jika dia tidak mengangkat teleponku kali ini aku akan menyerah dan tidak akan mengganggunya. Biasanya sesibuk apa pun dia, dia selalu menyempatkan diri untuk menerima teleponku walau hanya lima menit saja.

“Hallo?” suara seorang wanita menjawab telepon Gerald.

“Siapa kamu?! Kenapa kamu memegang telepon Gerald?! Dimana dia?!” aku benar-benar sangat marah karena yang mengangkat teleponku adalah seorang wanita yang tidak kukenal.

“Dia sedang sibuk, kuharap kamu tidak mengganggunya dulu,” dia mematikan teleponku secara sepihak.

Apa-apaan dia, siapa wanita itu? aku kembali menelepon Gerald, aku akan terus meneleponnya sampai dia mengangkat telepon dariku. Dering kelima, telepon itu akhirnya diangkat.

“Siapa wanita tadi Gerald? Kenapa dia yang mengangkat teleponmu?” cecarku begitu mendengar suara Gerald yang mengangkat teleponku.

“Lana, dia rekan kerjaku. Kami sedang lembur, aku sedang keluarr mengambil barang jadi tidak tahu kamu meneleponku. Ada apa? aku tidak bisa berlama-lama karena harus segera selesai,” ujarnya dengan terburu-buru.

“Kamu belum menghubungiku sama sekali hari ini, kupikir kamu melupakanku,” ucapku dengan sedikit manja.

“Ahh, maaf Lana…aku harus menutup teleponnya dulu.” Gerald mematikan teleponnya tanpa ragu. Apa dia begitu sibuk sampai menghela napas yang menurutku terdengar sedikit aneh? Tidak biasanya dia bersikap seperti ini padaku.

“Lana, aku boleh masuk?” suara Nadine memanggilku.

“Masuk saja, aku tidak mengunci pintunya,” jawabku.

“Aku ingin menunjukan gaun lamaran yang sudah aku pilih untukmu,” ujarnya sambil tersenyum lalu memamerkan gaun itu padaku.

“Kenapa harus gaun seperti ini?!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Jauhkan kain putih itu Dariku
9.2
Alana terbangun dengan napas memburu dan tubuh gemetar akibat teror mimpi buruk. Tatapannya terpaku penuh ketakutan pada kain putih di sudut kamar saat keringat dingin membasahi wajahnya. Bagi Alana, objek itu bukan sekadar benda biasa, melainkan pemicu berbagai kejadian mistis di luar nalar. Ia bertekad menjauhkan kain itu dari hidupnya karena kehadirannya selalu membawa petaka, meski orang lain menganggap warna putih sebagai simbol kebaikan yang murni.
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Menjadi sekuel dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, kisah ini mengeksplorasi dilema horor yang tak biasa. Mana yang lebih menakutkan: teror makhluk halus atau desakan menikah setiap hari? Bagi sang protagonis yang baru saja menyandang status sarjana, tekanan sang ibu yang sangat ambisius mencari menantu jauh lebih mencekam daripada gangguan gaib. Ikuti perjuangannya menghadapi tuntutan keluarga di tengah situasi yang penuh komedi dan nuansa misteri.
Sampul Novel Kutukan Selingkuhan
9.5
Rhino mengakhiri perselingkuhannya dengan Risa demi kembali ke pelukan sang istri. Namun, Risa yang murka melontarkan kutukan agar Rhino tewas dalam penderitaan. Tak lama, Rhino terserang berbagai penyakit misterius, mulai dari gangguan lambung hingga impotensi yang mengerikan. Di tengah keputusasaan, Rena sang istri mencoba menyelidiki latar belakang Risa. Ia justru menemukan fakta mengejutkan tentang sosok Risa yang sebenarnya jauh di luar nalar.
Sampul Novel Misteri Mata Air Kembar Yang Tak Pernah Kering
9.2
Kampung Serigi memiliki mata air kembar ajaib yang terus mengalir meski kemarau melanda. Aliran air dari bambu sederhana ini menjadi tumpuan warga, namun menyimpan rahasia kelam. Ada banyak pantangan ketat yang wajib dipatuhi siapa pun. Jika dilanggar, sosok gaib penghuni tempat keramat itu akan mendatangi rumah pelaku. Rentetan kejadian mistis terus menghantui penduduk dan pendatang, menciptakan teror nyata di balik ketenangan sumber air yang tak pernah kering tersebut.
Sampul Novel Pemburu Darah Perawan
9.7
Demi mengubah nasib, Japri nekat melakukan ritual pesugihan di Karang Nini. Kekayaan melimpah berhasil diraihnya, namun ada harga mahal yang harus dibayar berupa tumbal darah perawan setiap malam Selasa Legi. Sesuai perjanjian gaib tersebut, Indra sebagai putra tunggal wajib meneruskan tradisi kelam ini. Kini, Indra terjebak dalam lingkaran setan yang mengerikan, bahkan ia nyaris melanggar pantangan keramat yang mengancam nyawa serta seluruh kekayaannya.
Sampul Novel Saya Pembunuh
7.9
Sinta Amelia dan Lembayung Rindu bersaing memperebutkan cinta Aditya Bagaskara, putra direktur rumah sakit kaya raya. Namun, hati Aditya justru tertambat pada sosok Dewi Utari yang sederhana. Persahabatan Sinta dan Lembayung hancur menjadi dendam membara yang tak terkendali. Di tengah amarah Sinta yang meluap, hanya dokter Hanum Permatasari yang sanggup meredamnya. Mengapa Sinta begitu patuh padanya? Misteri besar menyelimuti hubungan rumit di antara mereka.