APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Falling for him

Falling for him

Theo percaya bahwa hati manusia selalu berubah layaknya angin, sebuah keyakinan pahit dari masa lalunya yang kelam. Namun, pandangannya terusik saat bertemu Jaane Kim, gadis berpendirian teguh yang menutup rapat pintu hatinya untuk cinta. Bagi Theo, keteguhan Jaane adalah tantangan yang belum pernah ia temui sebelumnya. Mampukah sang 'Pied Piper' menaklukkan hati Jaane dengan pesonanya? Ikuti kisah romansa musim semi yang penuh debar dan keajaiban ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sebagai gadis yang jarang bicara dan juga enggan bersosialisasi. Jaane mengerti betapa menumpang duduk di kursi mobil milik orang sangat tidak nyaman baginya. Bukan karena Namu yang mengajaknya bicara terus-menerus sedangkan Jaane merupakan gadis yang irit bicara, namun karena pandangan lelaki yang duduk di kursi supir itu beberapa kali ketahuan curi-curi pandang padanya.

Sejak saat kereta beroda empat ini mulai memasuki gerbang sekolah, Jaane sudah memegang gagang pintu. Dan saat rem di injak, saat bahkan sang supir belum mematikan mesin kendaraan Jaane sudah turun dari sana. Yang dipikirkannya saat ini hanya melepas diri dari kecanggungan.

Belum pernah selama delapan belas tahun hidupnya Jaane merasa canggung sedemikian parah, Jaane bahkan hampir tak bisa bicara dan hanya menjawab pertanyaan dengan anggukan atau gelengan saja.

"Terima kasih, sir." Jaane hendak berlalu membawa dirinya pergi menenangkan diri, tapi instruksi dari pria tinggi yang menggunakan kemerja itu menghentikannya.

"Jane, kau kelas 11-3 kan?"

Jaane memejam mata sekilas, merutuki diri. Sebelum kemudian berbalik. "Benar, sir." Jaane mengerjap dua kali lalu tersenyum.

"Bisa tolong bawa dia juga?" pinta Namu. Menunjuk si supir berseragam itu dengan dagunya.

Jaane mendesah dalam hati, mata gadis itu melirik ke arah laki-laki berambut hitam yang tengah bersandar di bagian depan mobil. Entah kenapa terlihat sangat menyebalkan, maksudnya laki-laki itu. Entahlah, melihat laki-laki itu melipat tangan di dada dengan sok seperti itu membuat Jaane sebal.

"Maaf, sir. Tapi saya akan mampir ke tempat lain dan mungkin akan masuk kelas terlambat," tolak Jaane halus, alasannya kali ini bukan sekedar alibi. Jaane benar hendak ke ruang tari sebelum mengikuti pelajaran pertama. Jaane melihatnya dengan jelas, laki-laki itu berdecih lalu berdiri tegak seraya menyimpan satu tangannya di saku celana.

"Aku bisa sendiri." Suara beratnya untuk pertama kali terdengar. Kaki panjang itu hendak melangkah namun tertahan saat Namu menarik kerah seragamnya dari belakang.

"Jangan macam-macam!"

Namu melepas tangan dari kerah laki-laki itu saat dirasa kalau ia benar-benar berhasil mengusirnya pergi.

"Apanya yang macam-macam? Aku mau masuk kelas," decakan dari mulut lelaki berkulit tan itu terdengar keras. "Lagipula aku tidak bawa mobil, kabur juga tidak akan bisa."

"Kau pikir aku bodoh. Masih ada Jimmy disini, dia juga sama sepertimu."

Jaane hanya berdiri di sana dengan wajah super datar, tidak ingin ikut campur sama sekali.

"Tolong ya, Jaane. Sebentar saja, pastikan dia benar-benar masuk kelas." Jaane yang sejak tadi diam masih diam juga. Jaane masih ingin menolak, tapi juga khawatir Namu akan menganggapnya buruk kalau ia menolak. Dan tentu saja ia tak ingin itu terjadi.

Tepat sebelum Jaane membuka mulut ingin menyangkal, bel sekolah berbunyi. Membuat gadis itu menelan kembali kata-katanya. Mau bagaimana lagi.

"Baik, sir." Kalian tau seberapa enggan Jaane mengucapkannya.

Pria tinggi itu tersenyum manis memperlihatkan pahatan indah dipipi. "Terima kasih," katanya sebelum menoleh ke samping, menatap adiknya. "Dan kau, ikuti Jaane."

"Aku bisa membaca dan mengerti tulisan 'kelas 11-3'," gerutu lelaki berkulit tan itu.

"Kau tidak dengar bel sudah berbunyi? Sudah sana cepat."

Jaane sudah berlari jika dari tadi laki-laki berambut hitam itu tidak menyahut. Membuang-buang waktu dan membuatnya hampir mati karna terlalu lama salah tingkah.

Namu menjauh setelah sebelumnya menganggukan kepala pada Jaane dan mengucapkan sepenggal kalimat terima kasih sekali lagi.

Mengabaikan hati yang sejak lima belas menit yang lalu tak nyaman, Jaane berbalik. "Ikuti aku." Lalu gadis itu berjalan tanpa repot-repot menoleh ke belakang.

--

Menjadi pusat perhatian sudah biasa, disorot laser kekaguman setiap langkahnya juga hal biasa.

Yang tidak biasa dari pandangan orang terhadap primadona sekolah mereka adalah suara langkah kaki di belakangnya, yang menjadi hal baru dari opini berpasang-pasang mata yang melihat. Sudah pasti rumor dan gosip akan menyebar luas, jelas saja. Ini kali pertama seorang Jaane berjalan dengan laki-laki didekatnya.

"Kau menyukainya?" Theo mengambil langkah sejajar dengan Jaane. Membuat si gadis menjauh sepontan.

Dengan enggan menjawab, "apa?"

"Kau menyukai kakak ku?" tanyanya lagi, langkah kaki Jaane berhenti di belokan koridor. Sedikit tidak percaya.

"Kakakmu?" ulangnya tak percaya. "Orang tadi?" lanjutnya lagi, Namu? Ini adiknya? Kening Jaane mengerut dalam. Kenapa sangat berbeda. Jaane tidak tau harus memikirkan mana lebih dulu, otak pintarnya bahkan tidak mendukung disaat seperti ini.

Maksudnya adik kandung? Tapi mereka terlihat sangat berbeda. Fisik dan juga auranya.

Dan apa yang ditanyakan lelaki ini tadi? Jaane suka pada Namu?

"Tidak," jawab Jaane singkat, gadis cantik itu kemudian mengambil langkah lebih cepat dari sebelumnya. Dan tentu tidak akan sulit bagi kaki panjang laki-laki berambut hitam itu menyusul.

"Berbohong malah membuatmu lebih ketara."

Jaane memejamkan matanya sejenak. Dasar sok tau!

"Aku tidak berbohong," sahut Jaane, menambah lagi satu tingkat kecepatan langkahnya.

"Lalu kenapa gugup?" Dan seperti sebelumnya, Theo menyamai langkah kecil gadis itu yang nyatanya merupakan hal mudah. Sekarang Jaane berhenti. Lagi.

Jaane menoleh, menaikan satu alis, wajahnya datar sekali.

"Bukan urusanmu," tandas Jaane. Yang mana diartikan sebagai pengakuan oleh Theo.

Biarlah. Lagipula Jaane tidak tau bagaimana harus menyikapi situasi seperti ini.

Kelas sudah terlihat, hanya tinggal melewati tiga ruangan dan mereka akan sampai. Tapi Jaane sudah enggan, lupakan apa yang diamanatkan Namu kepadanya, bahwa ia harus memastikan laki-laki ini masuk kedalam kelas.

"Disana, itu kelasmu." Jaane menunjuk pintu kelasnya, lalu menatap laki-laki itu. "Kau lihat?"

Setelah Theo mengangguk, Jaane berbalik arah hendak menuju ruang tari, tetapi tarikan dari tali ranselnya membuat langkah Jaane tertahan.

"Itu juga kelasmu. Kenapa tidak masuk?"

Jaane menebas tangan Theo dari tali tasnya. "Berhenti bertanya dan urusi saja urusanmu sendiri."

Dan nyatanya semua cuma basa basi semata. Theo hanya mengangkat bahu acuh, "Kau mau mengingkari perintah guru tersayangmu?" Laki-laki itu kembali memasukan tangannya ke saku celana.

Jaane malas berdebat, mood yang hancur sejak pagi tadi dibuat lebur oleh laki-laki ini. Gadis itu hanya melengos dan kembali berjalan kearah tujuan. Niatnya hendak pergi ke ruang tari memang untuk memperbaiki suasana hatinya yang berantakan. Ingin sekali berteriak, berdecak sebal dan menendang laki-laki itu.

Mengabaikan semuanya, Jaane terus berjalan dengan langkah cepat.

Theo yang melihat punggung kecil itu menjauh hanya memiringkan kepala sedikit. Mendapat mainan baru di sekolah baru.

Menarik.

——

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayarlah Kesalahan Ayahmu Dengan Hidupmu
8.0
Alona terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Ferdinand Craig, seorang konglomerat yang dipenuhi amarah. Ferdinand menikahinya demi membalas dendam atas kematian ayahnya. Tragedi itu bermula saat ayah Alona, seorang dokter, melakukan kesalahan fatal dalam operasi kanker darah ayah Ferdinand. Kini, Alona harus menanggung dosa orang tuanya di bawah bayang-bayang kebencian sang suami. Akankah Alona mampu bertahan menghadapi kekejaman Ferdinand dalam rumah tangga mereka?
Sampul Novel Bukan Mauku Menjomlo
9.4
Menjadi wanita lajang di atas usia tiga puluh tahun membuat Hasmi Azzahra kenyang akan cibiran tetangga. Sebagai perawat di desa, ia sering dicap tidak laku, namun Hasmi memilih tetap santai menghadapi tekanan sosial tersebut. Baginya, pernikahan adalah komitmen panjang yang butuh pertimbangan matang, bukan sekadar asal pilih demi status. Meski rindu akan belahan jiwa, Hasmi tetap teguh menanti jodoh yang tepat sambil bertahan di tengah nyinyiran orang sekitarnya.
Sampul Novel Bukan Menantu Idaman
7.9
Kisah asmara dewasa ini mengikuti pemuda blasteran Rusia-Bali penganut Hindu dan gadis Nasrani putri pejabat Indonesia. Keduanya bertemu saat menempuh studi di Rusia. Meski terpisah perbedaan keyakinan dan latar belakang keluarga yang kontras, takdir justru menyatukan mereka dalam ikatan cinta yang tak terelakkan. Di tengah konflik identitas dan tekanan sosial, mereka harus menghadapi konsekuensi dari perasaan yang tumbuh di antara mereka berdua.
Sampul Novel Kecanduan Ciumanmu
8.6
Midori, gadis blasteran berusia 18 tahun bermata biru, tak sengaja berciuman dengan Kenzo Watanabe saat berlibur di pemandian air panas Jepang. Insiden itu memicu obsesi mendalam di hati Kenzo, meski ia telah dijodohkan dengan bangsawan bernama Ayumi Tokugawa. Hubungan mereka pun terbentur tembok tradisi serta jarak antara Tokyo dan Perth yang memisahkan. Akankah takdir menyatukan Midori dan Kenzo di tengah segala rintangan? Sebuah sekuel emosional dari kisah cinta miliarder.
Sampul Novel Merebut Istri Yang Kau Sakiti
8.2
Naila, gadis salihah berusia 21 tahun, terjebak dalam pernikahan pahit dengan Daffa, anggota geng motor berperilaku buruk. Meski menderita akibat sikap kasar suaminya, Naila memilih bertahan dan menganggapnya ujian Tuhan. Ketabahan ini menarik simpati Raihan, teman kuliahnya yang bertekad menyelamatkan Naila dari hubungan beracun tersebut. Namun, apakah bantuan Raihan akan membebaskan Naila atau justru memicu masalah baru yang lebih berbahaya bagi mereka?
Sampul Novel Sandiwara Sonya
8.5
Pasca bebas dari kasus narkoba, karier Sonya Ayudia terancam hancur jika ada skandal baru. Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi saat ia salah masuk ke mobil aktor Erlangga Abimanyu dalam kondisi mabuk. Momen tersebut terendus paparazzi hingga wartawan mengepung apartemen Erlangga. Terdesak oleh situasi, Sonya justru keluar bersama kakak Erlangga, Nevan Gentala Mahesa. Demi menyelamatkan reputasinya, ia nekat mengumumkan hubungan asmara palsu dengan Nevan.