APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis buta Milik CEO

Gadis buta Milik CEO

Dunia Laras mendadak gelap setelah insiden tragis merenggut penglihatannya. Mantan mahasiswi ceria ini kini hidup menderita akibat perundungan penggemar fanatik Damar, CEO yang dulu ia cintai. Damar sempat menjauh demi kebaikan Laras, namun keputusannya justru berujung kehancuran bagi sang gadis. Kini, Damar kembali dengan penyesalan mendalam. Ia bertekad menebus kesalahan masa lalu dan berharap Laras mampu melihat ketulusan hatinya di balik kegelapan abadi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suara hujan yang jatuh deras di luar jendela mengisi kesunyian di dalam kamar Laras. Setiap tetes yang menampar kaca seakan mengingatkan pada kenyataan yang tak bisa ia hindari. Hujan, yang dulunya menjadi teman di sore-sore sepi, kini hanya menyisakan kenangan. Seperti suara langkah kaki Damar yang pernah mengisi ruang ini, kini tak lebih dari gema yang hilang dalam sepi.

Laras duduk di kursi goyangnya, tangan memeluk lututnya. Matanya yang kosong menatap ke ruang kosong di depannya, mencoba menyusun kembali potongan-potongan masa lalu yang terpecah. Suara Damar di telinganya masih terdengar, bergema seolah tak ingin meninggalkannya. "Aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."

Kata-kata itu, meski lembut dan penuh penyesalan, mengiris hati Laras. Dia ingin percaya, ingin merasakan harapan di dalam dirinya, tetapi kenangan buruk itu masih hidup dalam dirinya. Setiap kali ia mencoba membayangkan hidupnya kembali bersama Damar, bayangan tentang kegelapan yang datang bersama kesedihan dan rasa sakit selalu menghampiri. Damar mungkin telah datang untuk meminta maaf, tapi apakah permintaan maaf itu cukup untuk menghapus luka yang dalam?

Ketukan di pintu membuatnya terkejut. Suara itu mengusik kebisuan yang telah ia pelihara, membuatnya menegakkan kepala, berusaha mengarahkan telinganya. "Laras, ini aku, ayah," suara ayahnya terdengar lembut, penuh perhatian. Ayahnya, sosok yang selalu ada untuknya, yang sekarang menjadi satu-satunya pelipur lara.

"Masuk, ayah," Laras menjawab, suaranya lebih lembut daripada yang ia rasakan. Ayahnya masuk, membawa secangkir teh hangat dan duduk di sampingnya, seolah ingin berbagi kehangatan.

"Apa yang kau pikirkan, sayang?" tanya ayahnya, mengusap rambutnya dengan lembut. Laras memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan perasaan yang membuncah. Namun, tak ada yang bisa ia sembunyikan dari ayahnya, pria yang sejak dulu selalu bisa membaca apa yang tak diucapkan.

"Ayah, apa yang harus kulakukan?" suara Laras hampir berbisik, penuh keputusasaan. "Damar... dia kembali. Dia bilang dia mencintaiku. Tapi aku... aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya."

Ayahnya menarik napas panjang, seolah mencerna setiap kata yang diucapkan. "Damar bukan hanya bagian dari masa lalu, Laras. Dia adalah bagian dari dirimu. Kau punya hak untuk merasa marah, untuk merasa takut. Tapi ingat, memaafkan bukan hanya tentang dia. Itu tentangmu. Tentang bagaimana kau bisa melanjutkan hidup, menemukan kebahagiaan yang kau layak dapatkan."

Laras menunduk, merenung. Ayahnya benar, memaafkan bukan hanya tentang memberi kesempatan kepada orang lain. Itu tentang melepaskan beban, tentang memberi diri sendiri kebebasan untuk melangkah ke depan. Tetapi, bisa kah dia benar-benar melepaskan semua rasa sakit itu?

Di luar rumah, hujan semakin deras, seolah mendukung kebingungan Laras. Damar berdiri di luar rumah Laras, di balik hujan yang mengaburkan pandangan. Ia mengangkat kepalanya, merasakan butiran-butiran hujan yang membasahi wajahnya, seolah ingin membersihkan rasa bersalah yang telah lama tertanam di dalam dirinya. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia berdiri di sini, di depan rumah yang sama, di depan pintu yang sama, tetapi kali ini semuanya berbeda. Kali ini, hatinya berat, penuh dengan penyesalan yang mendalam.

Damar memandangi jendela di ruang tamu, tempat Laras sering duduk saat ia datang berkunjung dulu. Waktu itu, Laras selalu menyambutnya dengan senyum, senyum yang mampu menghilangkan segala beban di pundaknya. Sekarang, jendela itu gelap, tanpa kehidupan, hanya sepi yang menggantung.

Ia mengambil napas dalam-dalam dan mengetuk pintu, suara ketukan yang terdengar seperti memecah keheningan. Laras, yang mendengar suara ketukan itu, jantungnya berdetak lebih cepat. Tanpa pikir panjang, ia berdiri dan mendekati pintu, tangan gemetar ketika ia membuka pintu dan melihat Damar berdiri di hadapannya, basah kuyup oleh hujan.

"Kau... masih di sini?" suara Laras keluar dengan kesan terkejut dan penuh kebingungan. Dia tidak tahu harus merasakan apa. Kecemasan, marah, atau bahkan ingin melarikan diri.

"Aku tidak bisa pergi, Laras," kata Damar, matanya menatap Laras dengan penuh harap. "Aku tidak bisa membiarkan diriku pergi tanpa mengatakan semuanya."

Laras terdiam, menatapnya dengan mata kosong. Ia ingin menghapus jejak-jejak masa lalu, tetapi kenangan tentang cintanya kepada Damar terlalu dalam. Ia teringat saat-saat mereka tertawa bersama, saat Damar melamarnya di bawah langit malam yang berbintang. Tetapi ingatan itu hanya membuatnya semakin sakit.

"Damar, kau tidak tahu betapa sulitnya hidupku. Kau tidak tahu bagaimana rasanya bangun setiap pagi dalam kegelapan, tidak tahu apa yang aku hadapi setiap hari."

Damar mengangguk, wajahnya berkerut, mata itu menunjukkan penyesalan yang tulus. "Aku tahu, Laras. Aku tahu aku tidak bisa membayangkan rasa sakit itu, tapi aku ingin mencoba. Aku ingin kamu tahu bahwa aku di sini, untukmu. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu lagi, jika kau mengizinkannya."

Laras memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang sudah berada di ujung kelopak mata. "Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu lagi, Damar. Kau meninggalkanku. Kau membuatku merasa seperti aku tidak berarti."

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk Damar, menusuk hatinya dengan rasa sakit yang tak terbayangkan. Ia tahu ia tidak bisa menghapus masa lalu, tetapi ia ingin Laras tahu bahwa ia siap untuk membuktikan bahwa dia bisa menjadi pria yang pantas untuknya.

"Aku tahu aku telah membuatmu menderita, Laras. Aku tahu aku tidak layak meminta maaf, tetapi aku memintamu untuk memberiku kesempatan untuk membuktikannya. Aku mencintaimu, dan aku akan mencintaimu selamanya, bahkan jika itu hanya dari jauh."

Hujan yang terus turun di luar seakan menyaksikan percakapan mereka, memberi Laras saat-saat yang membuatnya ragu. Ada sesuatu dalam suara Damar yang membuatnya ingin percaya, tetapi hatinya masih terikat oleh rasa sakit dan kekecewaan yang begitu dalam.

"Jika kau ingin tahu apakah aku bisa memaafkanmu, kau harus tahu bahwa itu bukan keputusan yang mudah. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menyembuhkan luka-luka ini," kata Laras, suaranya lembut tetapi penuh tekad.

Damar mengangguk, tidak berusaha memaksakan sesuatu. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk mengembalikan kepercayaan Laras adalah dengan membiarkannya berjalan pada jalannya sendiri. Tetapi kali ini, Damar tidak akan pergi. Ia akan tetap berada di sini, di samping Laras, seberapa lama pun waktu yang dibutuhkan.

Di luar, hujan mulai mereda, seolah memberikan mereka secercah harapan di tengah badai yang telah lama melanda hati mereka.

Ini adalah pengembangan bab 2 yang lebih emosional, menggali lebih dalam konflik batin karakter dan perasaan mereka. Apakah ini sudah sesuai dengan yang Anda harapkan?**Bab 2: Dalam Bayang-bayang Kesalahan**

Suara hujan yang jatuh deras di luar jendela mengisi kesunyian di dalam kamar Laras. Setiap tetes yang menampar kaca seakan mengingatkan pada kenyataan yang tak bisa ia hindari. Hujan, yang dulunya menjadi teman di sore-sore sepi, kini hanya menyisakan kenangan. Seperti suara langkah kaki Damar yang pernah mengisi ruang ini, kini tak lebih dari gema yang hilang dalam sepi.

Laras duduk di kursi goyangnya, tangan memeluk lututnya. Matanya yang kosong menatap ke ruang kosong di depannya, mencoba menyusun kembali potongan-potongan masa lalu yang terpecah. Suara Damar di telinganya masih terdengar, bergema seolah tak ingin meninggalkannya. "Aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."

Kata-kata itu, meski lembut dan penuh penyesalan, mengiris hati Laras. Dia ingin percaya, ingin merasakan harapan di dalam dirinya, tetapi kenangan buruk itu masih hidup dalam dirinya. Setiap kali ia mencoba membayangkan hidupnya kembali bersama Damar, bayangan tentang kegelapan yang datang bersama kesedihan dan rasa sakit selalu menghampiri. Damar mungkin telah datang untuk meminta maaf, tapi apakah permintaan maaf itu cukup untuk menghapus luka yang dalam?

Ketukan di pintu membuatnya terkejut. Suara itu mengusik kebisuan yang telah ia pelihara, membuatnya menegakkan kepala, berusaha mengarahkan telinganya. "Laras, ini aku, ayah," suara ayahnya terdengar lembut, penuh perhatian. Ayahnya, sosok yang selalu ada untuknya, yang sekarang menjadi satu-satunya pelipur lara.

"Masuk, ayah," Laras menjawab, suaranya lebih lembut daripada yang ia rasakan. Ayahnya masuk, membawa secangkir teh hangat dan duduk di sampingnya, seolah ingin berbagi kehangatan.

"Apa yang kau pikirkan, sayang?" tanya ayahnya, mengusap rambutnya dengan lembut. Laras memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan perasaan yang membuncah. Namun, tak ada yang bisa ia sembunyikan dari ayahnya, pria yang sejak dulu selalu bisa membaca apa yang tak diucapkan.

"Ayah, apa yang harus kulakukan?" suara Laras hampir berbisik, penuh keputusasaan. "Damar... dia kembali. Dia bilang dia mencintaiku. Tapi aku... aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya."

Ayahnya menarik napas panjang, seolah mencerna setiap kata yang diucapkan. "Damar bukan hanya bagian dari masa lalu, Laras. Dia adalah bagian dari dirimu. Kau punya hak untuk merasa marah, untuk merasa takut. Tapi ingat, memaafkan bukan hanya tentang dia. Itu tentangmu. Tentang bagaimana kau bisa melanjutkan hidup, menemukan kebahagiaan yang kau layak dapatkan."

Laras menunduk, merenung. Ayahnya benar, memaafkan bukan hanya tentang memberi kesempatan kepada orang lain. Itu tentang melepaskan beban, tentang memberi diri sendiri kebebasan untuk melangkah ke depan. Tetapi, bisa kah dia benar-benar melepaskan semua rasa sakit itu?

***

Di luar rumah, hujan semakin deras, seolah mendukung kebingungan Laras. Damar berdiri di luar rumah Laras, di balik hujan yang mengaburkan pandangan. Ia mengangkat kepalanya, merasakan butiran-butiran hujan yang membasahi wajahnya, seolah ingin membersihkan rasa bersalah yang telah lama tertanam di dalam dirinya. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia berdiri di sini, di depan rumah yang sama, di depan pintu yang sama, tetapi kali ini semuanya berbeda. Kali ini, hatinya berat, penuh dengan penyesalan yang mendalam.

Damar memandangi jendela di ruang tamu, tempat Laras sering duduk saat ia datang berkunjung dulu. Waktu itu, Laras selalu menyambutnya dengan senyum, senyum yang mampu menghilangkan segala beban di pundaknya. Sekarang, jendela itu gelap, tanpa kehidupan, hanya sepi yang menggantung.

Ia mengambil napas dalam-dalam dan mengetuk pintu, suara ketukan yang terdengar seperti memecah keheningan. Laras, yang mendengar suara ketukan itu, jantungnya berdetak lebih cepat. Tanpa pikir panjang, ia berdiri dan mendekati pintu, tangan gemetar ketika ia membuka pintu dan melihat Damar berdiri di hadapannya, basah kuyup oleh hujan.

"Kau... masih di sini?" suara Laras keluar dengan kesan terkejut dan penuh kebingungan. Dia tidak tahu harus merasakan apa. Kecemasan, marah, atau bahkan ingin melarikan diri.

"Aku tidak bisa pergi, Laras," kata Damar, matanya menatap Laras dengan penuh harap. "Aku tidak bisa membiarkan diriku pergi tanpa mengatakan semuanya."

Laras terdiam, menatapnya dengan mata kosong. Ia ingin menghapus jejak-jejak masa lalu, tetapi kenangan tentang cintanya kepada Damar terlalu dalam. Ia teringat saat-saat mereka tertawa bersama, saat Damar melamarnya di bawah langit malam yang berbintang. Tetapi ingatan itu hanya membuatnya semakin sakit.

"Damar, kau tidak tahu betapa sulitnya hidupku. Kau tidak tahu bagaimana rasanya bangun setiap pagi dalam kegelapan, tidak tahu apa yang aku hadapi setiap hari."

Damar mengangguk, wajahnya berkerut, mata itu menunjukkan penyesalan yang tulus. "Aku tahu, Laras. Aku tahu aku tidak bisa membayangkan rasa sakit itu, tapi aku ingin mencoba. Aku ingin kamu tahu bahwa aku di sini, untukmu. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu lagi, jika kau mengizinkannya."

Laras memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang sudah berada di ujung kelopak mata. "Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu lagi, Damar. Kau meninggalkanku. Kau membuatku merasa seperti aku tidak berarti."

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk Damar, menusuk hatinya dengan rasa sakit yang tak terbayangkan. Ia tahu ia tidak bisa menghapus masa lalu, tetapi ia ingin Laras tahu bahwa ia siap untuk membuktikan bahwa dia bisa menjadi pria yang pantas untuknya.

"Aku tahu aku telah membuatmu menderita, Laras. Aku tahu aku tidak layak meminta maaf, tetapi aku memintamu untuk memberiku kesempatan untuk membuktikannya. Aku mencintaimu, dan aku akan mencintaimu selamanya, bahkan jika itu hanya dari jauh."

Hujan yang terus turun di luar seakan menyaksikan percakapan mereka, memberi Laras saat-saat yang membuatnya ragu. Ada sesuatu dalam suara Damar yang membuatnya ingin percaya, tetapi hatinya masih terikat oleh rasa sakit dan kekecewaan yang begitu dalam.

"Jika kau ingin tahu apakah aku bisa memaafkanmu, kau harus tahu bahwa itu bukan keputusan yang mudah. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menyembuhkan luka-luka ini," kata Laras, suaranya lembut tetapi penuh tekad.

Damar mengangguk, tidak berusaha memaksakan sesuatu. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk mengembalikan kepercayaan Laras adalah dengan membiarkannya berjalan pada jalannya sendiri. Tetapi kali ini, Damar tidak akan pergi. Ia akan tetap berada di sini, di samping Laras, seberapa lama pun waktu yang dibutuhkan.

Di luar, hujan mulai mereda, seolah memberikan mereka secercah harapan di tengah badai yang telah lama melanda hati mereka.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Sampah
8.1
Trauma kekerasan seksual mengubah Berlian menjadi sosok tomboi yang nakal. Merasa dirinya kotor dan tak berharga, ia menutup hati serta menghindari hubungan dengan pria mana pun. Berlian yakin tidak akan ada lelaki yang tulus menerimanya. Namun, takdir membawanya bertemu seorang pria kaya raya yang mengubah segalanya. Akankah kehadiran sosok miliarder ini menyembuhkan luka masa lalunya yang kelam, atau justru memberikan penderitaan baru yang lebih menyakitkan?
Sampul Novel Bukan Sugar Baby
8.8
Tachi Gumama, seorang mucikari, merasa terhina saat Padrone Ricco menolak tawaran pelacur andalannya. Padahal, Padrone dikenal sebagai miliarder Manhattan yang sangat setia kepada istrinya, mendiang Nyonya Deceduto Ricco. Penolakan ini memicu kecurigaan Tachi bahwa pria kaya tersebut sebenarnya menyembunyikan seorang gadis simpanan. Benarkah sosok suami sempurna ini memiliki rahasia gelap di balik kesetiaannya, ataukah tuduhan Tachi hanyalah sebuah kekeliruan?
Sampul Novel ISTRI ORANG
8.2
Ayana terjebak dalam kesepian akibat sikap dingin Devaro, suaminya. Di tengah kehampaan itu, kehadiran Javier sang bos memberikan warna baru hingga Ayana jatuh hati. Tanpa disadari, hubungan terlarang mereka adalah bagian dari rencana balas dendam Javier terhadap Devaro. Namun, niat jahat itu perlahan terkikis oleh cinta tulus yang tumbuh tak terduga. Akankah Devaro sanggup menghadapi kenyataan bahwa istrinya telah berpaling pada pria yang sangat membencinya?
Sampul Novel LOVE
8.1
LOVE
Sejak tatapan pertama, hatiku langsung terpikat oleh pesonanya. Pertemuan kedua dengan pemilik mata indah itu semakin meyakinkanku bahwa aku telah jatuh cinta sedalam-dalamnya. Namun, meski aku berasal dari keluarga kaya dan terpandang, ada keraguan besar yang menghimpit dada. Kondisi fisikku yang lumpuh membuatku tak berani menyatakan perasaan pada gadis tersenyum manis itu. Mampukah pria cacat sepertiku memenangkan ketulusan cintanya yang berharga?
Sampul Novel Obat Posesif Untuk Ratu Es
8.4
Dikenal sebagai Ratu Es, aku menyembunyikan rahasia kelainan PGAD yang menyiksa. Saat gathering di Puncak, aku terjebak di kamar sempit bersama bosku yang kaku, Dhimas Pakpahan, tanpa obat penekan hormon. Saat gairahku tak terkendali, Dhimas turun tangan memberikan sentuhan intim. Ia bahkan menghajar rekan mesum yang mencoba melecehkanku. Kini, ketakutan baruku muncul saat Dhimas mengklaim secara posesif bahwa hanya dia satu-satunya obat bagi tubuhku.
Sampul Novel Saya Mengungkapkan Rahasia Mengerikan
8.4
Pasca misi rahasia negara, agen elit ini mendapati putrinya, Michelle, diculik di kampus. Padahal, Michelle baru saja diterima magang di PBB setelah berjuang setahun. Pelakunya adalah Lacey Palmer, yang mengklaim posisi itu miliknya karena kekuasaan ayahnya sebagai orang terkaya. Ironisnya, suami sang agen disebut sebagai ayah Lacey. Kebenaran pun mulai terkuak saat sang ibu menuntut penjelasan suaminya atas pengkhianatan dan identitas ganda yang selama ini tersembunyi.