APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel GAIRAH ISTRI SATU MILIAR

GAIRAH ISTRI SATU MILIAR

Hidup Sinta Maheswari hancur setelah ayahnya menjual dirinya demi melunasi utang dan biaya medis sang ibu. Ia dipaksa menikah dengan putra keluarga konglomerat berkuasa yang memperlakukannya bak budak tanpa nurani. Di tengah penderitaan tanpa cinta, Sinta justru hamil, membawa kegembiraan bagi keluarga besar namun tidak bagi suaminya yang kejam. Kini, Sinta harus berjuang keras mencari cara agar pria berhati iblis itu bisa benar-benar mencintainya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Bunyi telepon rumah yang ada di ruang tamu mengganggu pendengaran gadis bernama Sinta Maheswari yang sedang asyik chating dengan kekasihnya. Bergegas dia bangkit dari duduknya yang sudah nyaman, dengan bibir yang terus menggerutu menghiasi langkahnya menuju ruang tamu yang ada di lantai satu.

Dia mempercepat langkahnya menuju sumber suara yang sedari tadi berdering keras, kemudian tangan kanannya dengan sigap menggapai telepon itu.

"Hallo, selamat siang," ucapnya setelah menaruh gagang telepon di telinganya.

Seorang pria dengan suara terburu-buru dari seberang telepon lalu berkata dengan lirih. “Apakah benar ini kediaman Ibu Alya?”

"Benar, saya anaknya, ada apa Pak?" Sinta bertanya balik dengan penuh rasa penasaran.

"Ibu anda sedang di ruang IGD,” sahut Pria itu.

“Ya Tuhan. Mama!” sambar Sinta. Tubuhnya langsung mendadak lemas mendengar berita buruk ini. Rasanya ia terjatuh saat ia merasakan kakinya tak berdaya saat mendengar hal itu.

“Maaf, bisakah anda dengan keluarga datang untuk pengurusan administrasi dan beberapa hal yang harus ditanda tangan," lanjut pria yang merupakan petugas Rumah Sakit tersebut.

"Aku akan segera ke sana Pak, terima kasih," jawabnya singkat lalu bergegas.

Dengan hati yang sedikit terpukul, serta pikiran yang melayang entah kemana. Sinta kemudian segera menutup teleponnya, dia berlari ke lantai dua menuju kamarnya untuk mengambil segala perlengkapan dan kebutuhan selama di rumah sakit.

Tanpa memperdulikan apapun, dia segera berangkat dengan penampilan yang sederhana. Setelah sampai di depan rumah, dia bergegas naik taxi dan pergi menuju rumah sakit.

“Ponsel aku mana ya?” Sinta mencari ponselnya di dalam tas. Namun, benda itu tak ketemu.

Dia tersadar bahwa ponselnya tertinggal di kamar. Dia berpikir untuk kembali ke rumah, tapi perjalanannya sudah sangat jauh untuk kembali.

Sehingga dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya tanpa memperdulikan ponselnya lagi. Dua puluh menit waktu berlalu untuk sampai ke Rumah Sakit, ia segera mencari tempat parkir. Kemudian ia menuju ruang IGD dengan langkah yang sangat buru-buru.

Terlihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, berkulit putih, berhidung mancung dan warna rambut sedikit pirang itu sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri.

"Bagaimana keadaan Mama saya Dok?" tanya Sinta dengan nada sendu. Matanya masih berkaca-kaca, seolah air mata itu siap tumpah membasahi pipinya.

"Keadaannya sangat kritis, anda harus menanda tangani ini untuk melakukan operasi pada Ibu anda," jawab Dokter laki-laki yang sedang menangani Alya.

Sebelum menanda tanganinya. Sinta membaca isi surat itu. Hatinya ingin menangis saat ia melihat nominal yang tertera di surat itu.

“Ya Tuhan, lima puluh juta, dimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Apa aku harus bicara sama Papa dulu,” pikirnya. Ia pun menolak menanda tangani surat itu.

“Ada apa Bu?” tanya si Dokter.

"Maaf Dok, aku bisa minta waktu sebentar, aku harus menghubungi papaku dulu," pinta Sinta. Ia mengembalikan surat itu, lalu ia keluar dari ruangan itu dan meminjam telepon rumah sakit untuk menghubungi papanya. Kebetulan ia sangat menghafal nomor papanya.

Tak menunggu lama, teleponnya diterima oleh papanya, pria bernama lengkap Reza Mahesa itu menyapa lebih dulu.

“Pa, Papa di mana?” tanya Sinta dengan lirih. Ia pun tak mampu mengontrol ucapannya, suaranya terdengar tak jelas karena air matanya yang terus mengalir.

“Papa baru sampai rumah, Sinta. Kenapa Sinta?” tanya Reza. Terdengar Reza menghela napas berat dari seberang teleponnya lalu bertanya, “Kenapa kamu menangis, Sinta?”

“Papa ke rumah sakit sekarang, Mama ada di IGD. Mereka menunggu Papa menanda tangani surat dari rumah sakit. Cepat ya Pa! Kasian Mama,” pinta Sinta bersamaan dengan isakannya.

“Iya Sinta, kamu tenang ya, Papa ke sana sekarang.” Reza pun bergegas ketika sambungan telepon itu ditutup.

Ia tak bisa menahan diri untuk berteriak kesal dan menyesal dengan semua bencana yang terjadi di hidupnya pada waktu yang bersamaan. Tetapi ia tidak peduli dengan rasa lelah dan kesedihan yang dia rasakan saat ini.

Ia juga belum ingin menyampaikan semua masalahnya pada Sinta. Ia mencoba membuat hidup keluarganya tentram. Ia pun naik taxi ke rumah sakit.

Sinta duduk di ruang tunggu dengan perasaan yang begitu kacau, pikiran yang tidak karuan. Air matanya sejak tadi membanjiri pipinya, berjatuhan deras seperti hujan yang sedang membasahi kota Jakarta saat ini.

"Tuhan, bantu aku, bantu Mama sembuh ya, aku mohon!" ucap Sinta dalam doanya kepada Tuhan. Kemudian kedua tangannya menutup wajahnya yang sedang berderai air mata.

Hujan di luar semakin deras berjatuhan membasahi jalanan, suhunya menjadi sangat dingin. Sinta terus saja menangis, sesekali ia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya, namun tetap saja kesedihan itu menghuni relung hati yang tak bisa didamaikan.

Tak lama kemudian, Reza tiba di rumah sakit. Ia melihat Sinta sedang duduk di depan ruang tunggu, ia langsung menghampirinya.

“Sinta, gimana keadaan mama kamu?” tanya Reza bernada lembut dengan raut wajah yang melelahkan.

“Papa!” Sinta langsung memeluk papanya. “Mama harus dioperasi, biayanya lima puluh juta Pa. Papa punya tabungan kan?” tanya Sinta memastikan bahwa mamanya bisa dioperasi segera.

Reza tak ingin berkata tidak, ia pun menyanggupinya. “Ada. Iya udah, Papa temui bagian administrasinya dulu, kamu tenang ya Sinta. Semua akan baik-baik aja.” Reza mencoba menenangkan hati Sinta, ia tak ingin melihat putrinya menangis seperti itu.

Ia melangkah ke bagian administrasi, dengan hati yang bimbang dan pikirannya yang kacau bercampur menjadi satu. “Dimana aku mendapatkan uang sebanyak itu, sementara aku sudah dipecat dari pekerjaan dan harus membayar uang perusahaan, aku harus gimana sekarang,” gumamnya sepanjang langkahnya ke bagian adminstrasi.

Sesampainya di sana. Reza tak menunggu lama, ia langsung menanda tangani surat itu untuk mempercepat operasi istrinya. Meskipun, ia belum menemukan tempat meminjam uang sebanyak itu. Dalam kondisinya seperti ini, ia merasa sangat rapuh. Dan belum bisa berpikir jernih.

Reza mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. “Kita bisa bertemu di tempat biasa, sekarang?” tanya Reza kepada pria yang ada di balik telepon itu. Setelah mendapat kesepakatan, Reza pun bergegas dan meninggalkan Sinta yang sedang menunggu operasi mamanya.

Reza bukan tak peduli dengan Sinta dan Alya, justru hal ini lebih penting untuk bisa mengurus biaya rumah sakit sang istri.

Sementara di depan ruang operasi, Sinta masih duduk sendiri tanpa seorang pun menemaninya. Kevin, kekasihnya pun tidak menemaninya, karena dia belum sempat menghubungi sejak keberangkatannya ke rumah sakit.

Ponselnya yang ketinggalan membuatnya tidak ada kesempatan untuk menghubungi sang kekasih. Ia juga tak menghafal nomornya.

“Papa kok belum balik ya?” tanya Sinta ke dirinya. Ia berusaha berpikir positif, ia hanya ingin keselamatan sang Ibu saat ini.

Wajahnya sangat lelah, hatinya terus saja berdoa untuk keberhasilan operasi mamanya. Di sisi lain, pikirannya melayang. Dia ingin ada seseorang yang menemaninya di saat kondisi seperti ini.

Sinta membutuhkan sosok yang selama ini memberinya semangat. Baginya, selain kedua orang tuanya, Kevin adalah sosok yang begitu berarti baginya. Mereka pun telah merencanakan pernikahan tiga bulan lagi. Rintik hujan seolah membawa lamunannya melayang, mengimpikan kebahagiaan di masa depannya nanti.

Suara pintu yang terbuka, memutuskan lamunannya. Seorang Dokter laki-laki menghampirinya. Sinta pun dengan sigap langsung berdiri dan langsung menanyakan hasil operasinya.

"Bagaimana keadaan mamaku Dok?" tanya Sinta.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Kembar Milik Hot CEO
8.8
Kehidupan Amber sebagai putri konglomerat runtuh seketika hingga ia terpuruk. Di tengah keputusasaan, sebuah kesalahan fatal terjadi saat ia mabuk dan tak sengaja masuk ke kamar hotel Julian Kingston, pria berkuasa yang dikenal sangat kejam. Empat tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Amber kini memiliki anak kembar yang merupakan darah daging Julian. Terjebak dalam situasi rumit, mampukah Amber menghadapi tuntutan sang CEO dingin tersebut?
Sampul Novel Antara Cinta Dan Obsesi
7.8
Melanjutkan kisah Ikhlasku dengan takdirku, Laras harus menjalani hidup sebagai anak angkat di keluarga kaya setelah kehilangan orang tuanya. Sosok yang merawatnya sebenarnya adalah penyebab kematian sang ibu yang ingin bertanggung jawab. Namun, kemewahan itu tidak membawa kebahagiaan. Laras justru terjebak dalam obsesi gelap kakak angkatnya sendiri. Di tengah berbagai rintangan pelik, mampukah obsesi tersebut berubah menjadi cinta yang tulus?
Sampul Novel Ayo Bercerai!!
8.4
Adeline telah mencapai batas kesabarannya setelah terus-menerus dianggap remeh oleh Devon. Baginya, pria itu kini lebih buruk dari sampah yang tak bernilai. Ketegangan memuncak di ruang makan saat Devon mendengar hinaan Adeline secara langsung. Dengan amarah yang meluap, sang tuan muda mencengkeram dagu Adeline dan memberikan peringatan keras agar ia tidak mencoba bermain api. Namun, Adeline tidak lagi takut untuk melawan dominasi dingin suaminya tersebut.
Sampul Novel CEO Mesum
9.1
Alice Handerson adalah sekretaris tegas yang harus menghadapi perilaku provokatif bosnya setiap hari. Meski profesional, ia sering terjebak dalam situasi penuh godaan dan makna ganda di kantor. Saat sang atasan mengajukan tawaran skandal, Alice terjepit antara logika dan keinginan hati yang membingungkan. Hubungan benci tapi rindu ini memaksa mereka menjelajahi batas kekuasaan dan cinta dalam narasi romansa kontemporer yang berani dan penuh gejolak.
Sampul Novel Cinta, Kebohongan, dan Anjing yang Mematikan
9.7
Dunia wanita ini runtuh saat ibunya sekarat akibat serangan anjing milik Helena. Bukannya peduli, Bara sang tunangan justru membela hewan itu dan pergi demi urusan bisnis. Namun, saat ibunya wafat, terungkap bahwa Bara berbohong. Alih-alih ke Singapura, ia justru berpesta mewah di Maladewa bersama Helena. Di depan pusara sang ibu, ia menyadari bahwa cinta dan janji miliarder itu hanyalah kepalsuan belaka. Pengkhianatan kejam ini mengakhiri segalanya.
Sampul Novel Membakar Habis Rumah Empat Kekasih Gadunganku
8.4
Alina Barata, pewaris tunggal kerajaan bisnis, dikhianati Damian Adiputra dan tiga pria pelindungnya. Damian justru mencintai Luna dan merencanakan kecelakaan demi menguasai harta Alina. Saat nyaris tewas, Alina sadar bahwa mereka semua bersekutu melawannya. Di sebuah pesta yang dirancang untuk mempermalukannya melalui video pribadi, Alina tidak lagi tunduk. Ia siap membalas dengan rekaman rahasia yang akan menghancurkan reputasi kotor mereka selamanya.