APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Jantan Mafia Kampus

Gairah Jantan Mafia Kampus

Kisah ini dirancang khusus bagi para pembaca yang pernah menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis. Namun, mereka yang memiliki ketertarikan sesama jenis pun tetap dipersilakan untuk menyelami alur ceritanya. Siapa yang tahu jika setelah membaca narasi ini, akan muncul sebuah perspektif baru atau perubahan minat terhadap lawan jenis. Nikmati jalinan romansa modern yang penuh gairah di tengah dunia mafia kampus yang menantang dan sangat memikat.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Ra, kemaren kemana aja si?!” Suara pria yang ku dengar berasal dari arah kananku.

Aku sejenak menghentikan aktifitas makanku dan menggerakan wajah ke kanan untuk melihat ke sumber suara. Seorang pria dengan tinggi sekitar 180cm sedang berdiri di sebelah kananku.

“Kemaren tuh aku ketiduran Ndre.” Suara seorang wanita dari sisi kiriku.

Tanpa memalingkan wajah. Aku hanya menggerakan bola mataku sedikit ke kiri. Melihat ke arah seorang wanita yang sejak dari tadi sedang bermain hp bersebrangan denganku.

“Gak usah bohong, lu. Nata udah ngomong ke gua!” bentak pria itu lagi.

Pria itu berjalan ke depan melewatiku, mendekati sang wanita, wajah sang wanita seketika terlihat panik.

“Ih apaan sih, Ndre. Aku gak bo’ong, kok,” ucap sang wanita masih mencoba memberikan penjelasan.

Sang pria tampak tak mempedulikan ucapan wanita itu, dengan cepat dia menggerakan tangan dan meraih lengan sang wanita.

“Ah boong mulu lu, Anjing! Udah sini lu buru!” hardik pria itu dengan nada membentak.

Pria itu dengan kasar menarik lengan sang wanita ke atas, hingga dia terpaksa berdiri akibat tarikan di lengannya.

“Ndre pliss Ndre.. aku gak…”

“Ah bacot, lu!”

Tanpa memberikan kesempatan pada sang wanita untuk dapat menyelesaikan ucapannya, sang pria kembali membentak sambil menarik lengan sang wanita, hingga wanita itu terpaksa mulai bergerak keluar dari area meja makan.

“Ndree pliss!!” hiba sang wanita saat pasrah mengikuti tarikan pria itu.

Namun pria itu tak peduli dan terus menarik lengan sang wanita, memaksanya berjalan. Mereka berdua jalan ke arahku.

Ketika mereka hendak melewatiku, dengan cepat aku berdiri lalu mengambil selangkah ke kanan, hingga pria itu kini berada tepat di hadapanku, sementara sang wanita berada di sisi belakangnya.

Aku harus sedikit menaikan pandanganku ke atas untuk melihat wajah pria itu, karena postur tubuhnya beberapa centi lebih tinggi dariku. Mata kami saling bertatapan, aku dapat melihat ekpresi kaget saat ia melihatku yang tiba – tiba berdiri menghalanginya.

“Sorry Bro, jangan kasar-kasar lah sama cewek,” ucapku tenang sambil terus menatapnya.

Matanya sedikit membesar saat mendengar ucapanku, aku baru saja menarik pelatuk emosi di dalam dirinya.

“Buset dah, lu siapa, Jing!?” bentaknya persis di hadapanku, sambil mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Bahkan aku dapat mencium bau napasnya yang lekat dengan aroma asap rokok.

Merasa risih karena wajah kami yang sangat berdekatan. Aku menggerakan wajahku ke kiri, memandang ke area pedagang kantin yang rupanya sedang menyaksikan ketegangan yang terjadi antara kami berdua.

“Di luar aja kalau mau!” ucapku tenang.

“BACOT, LU!” balasnya dengan berteriak.

Mendengar teriakannya, aku reflek melihat ke kanan. Rupanya dia telah melepas genggaman tangannya pada lengan sang wanita. Tangannya lalu bergerak melayang ke arahku, namun beberapa saat kemudian gerakan tangannya nampak tertahan.

“Ndree.. jangan gituu..” jerit sang wanita sambil menahan tangan kanan sang pria dengan cara memeluk lengannya.

“Pliss Ndre, ini aku mau ikutin kamu kok,” lanjut sang wanita mencoba membujuk.

Pria itu sejenak terdiam.

Tiba-tiba aku merasakan dorongan kuat pada pundak kananku sehingga aku harus mengambil satu langkah ke kiri, menyebabkan kursi yang aku duduki saat aku makan tadi terseret ke samping.

“Minggir lu, Bangsat” hardiknya.

Rupanya tangan kirinya lah yang mendorong pundakku sehingga kini aku tak lagi menghalangi jalannya. Mata kami masih saling bertatapan, namun beberapa saat kemudian ia mulai berjalan ke depan.

“Hati-hari lu kalau ketemu gua lagi!” ancamnya sambil terus berjalan melewatiku.

Beberapa saat kami masih saling bertatapan, hingga akhirnya aku melepaskan pandanganku. Namun pandanganku kembali terkunci saat bertemu dengan tatapan sang wanita yang rupanya juga terus melihat ke arahku.

Sejenak aku tenggelam dalam tatapannya.

Sesaat kemudian, bibir tipisnya bergerak melengkung ke atas menunjukan senyuman yang terpampang indah pada wajah orientalnya. Belum sempat aku membalas senyumannya, ia dengan cepat memalingkan wajahn melihat ke depan sembari berjalan meninggalkan area kantin.

Setelah selesai melahap makananku, aku bergegas pergi meninggalkan area kantin sambil menyalakan sebatang rokok di dalam mulutku. Baru saja aku keluar dari area kantin, tiba – tiba langkahku terhenti karena merasakan sebuah tepukan di pundaku..

“Woii…. gilaa lu Za, gak ada takut-takutnya lu jadi manusia,” ucap seorang pria yang kini berada di sampingku. Haris, pria dengan wajah pas-pasan yang merupakan teman seangkatanku.

“Anjing lu, Ris. Gua kirain siapa?” balasku sambil mengambil satu langkah ke depan sehingga tangan Haris terlepas dari pundakku.

“Lu kagak tahu emang tadi lu hampir ribut sama siapa?” tanyanya.

“Emang siapa dia?” Aku balik bertanya.

Aku mulai berjalan meninggalkan Haris namun pandanganku masih melihat ke belakang menunggu jawaban.

“Itu abang-abangannya 3Panur, bego!” jawabnya sambil sedikit berlari, mengimbangi langkahku.

“Oh ya?” jawabku singkat.

“Buset, lu kaga takut emang?” tanya Haris, kini dia sudah berada percis di sampingku.

“Ya mau gimana lagi, Njir, mana gua tahu dia siapa,” jawabku sambil terus berjalan.

Haris memanjangkan tangan kirinya merangkul leherku, dengan pelan namun kuat, ia menarik leherku mendekatinya.

“Mangkanya lu nongkrong lah ja, biar kalau ada apa – apa, lu dibantuin sama senior,” Bisiknya mencoba memberikan saran.

Setelah mendengar ucapannya. Aku dengan cepat menggerakan lenganku, mendorong tubuh Haris menjauh.

“Elah ris, kalau masih manusia mah mau gimana juga gua lawan,” ucapku sambil sedikit tersenyum sinis ke arah Haris.

Haris sebentar menatapku, entah tatapan kaget, takut, ataupun kesal. Ia melemparkan rokoknya ke bawah lalu menginjaknya.

“Serah lu dah ja, saran gua mending ati – ati dah lu,” balas Haris.

Haris kemudian membelokan langkahnya ke kanan. Rupanya kami kini berada tepat di depan gedung UKM, tempat dimana biasanya anak-anak 5HC berkumpul.

Haris terus melangkah meninggalkanku hingga akhirnya dia masuk ke dalam gedung UKM. Sementara aku melanjutkan perjalanku menuju gedung kuliahku.

^*^

Aku baru saja tiba di depan ruangan kelasku, rupanya dosen sudah berada di dalam ruangan, dengan cepat aku segera masuk ke dalam.

Di dalam kelas, aku melihat semua kursi sudah di tempati. Hanya tersisa satu kursi kosong, aku segera melangkah menuju kursi tersebut. Namun sialnya, rupanya sudah terdapat sebuah tas di kursi tersebut, menandakan bahwa kursi tersebut sudah ada yang menempati.

Aku kembali melihat ke sekitar ruangan, mencari sekiranya masih ada kursi yang kosong, namun tiba–tiba.

“Eh maaf… duduk aja, ini tasku kok.” Suara wanita dan aku refleks segera melihat ke sumber suara.

Seorang mahasiswi sedang tersenyum ke arahku sambil menarik tasnya yang dia letakan di atas kursi yang berada di hadapanku. Aku meletakan tasku di meja lalu menurunkan tubuhku terduduk di kursi, tepat di samping wanita itu.

Aku kembali melihat ke arahnya, lalu sedikit tersenyum.

“Makasih ya,” ucapku.

“Iya,” balasnya sambil memeluk tasnya dan tetap tersenyum.

Aku menatapnya sesaat, lalu memalingkan wajahku untuk melihat ke arah dosen. Namun tiba-tiba pandanganku tertahan saat dia kembali mengucapkan sesuatu.

“Intan,” ucapnya.

“Reza,” balasku reflek setelah mendengar bahwa dia baru saja menyebutkan namanya. Aku kembali melihat ke arahnya dan mata kami saling bertemu.

Setelah beberapa saat, ia memalingkan pandangannya melihat ke arah dosen. Sejenak aku melihat wajahnya dari samping, aku bahkan sempat menikmati pemandangan kulit putih lehernya diatas kemeja yang sedang ia kenakan.

“Penanggung jawab kelasnya siapa?” Sebuah suara di kiriku.

Kaget, aku segera melihat ke sumber suara. Ternyata dosen sudah berdiri di depan ruangan.

“Saya Pak!” Jawab seorang mahasiswi, hingga akhirnya kegiatan perkuliahan pun dimulai.

^*^

“Oke.. sampai jumpa di pertemuan selanjutnya,” pungkas dosen menandakan bahwa kelas sudah berakhir.

Sontak, suasana menjadi bising di penuhi aktifitas para mahasiswa merapihkan perlengkapan kuliahnya, begitu juga denganku. Setelah selesai, aku segera berdiri sambil mengaitkan tas pada lenganku, dan saat hendak ingin berjalan, aku melihat Intan yang masih saja sibuk dengan hapenya.

“Masih nyatet?” tanyaku berbasa-basi sambil melangkah hingga kini posisiku sudah berada di depan meja.

“Eh engga kok, cuman bales chat,” jawab Intan sambil menaikan pandangannya melihatku sambil tersenyum, dia memasukan hapenya ke dalam kantong kemejanya.

“Oh..kirain,” balasku juga ikut tersenyum.

Intan berdiri lalu mengangkat tasnya dari atas meja.

“Yu,” ajak Intan sambil melangkah ke sampingku.

“Eh….iya,” balasku yang sedikit kikuk karena merasa aneh mendengar ucapannya, entah mengajak apa.

Aku berjalan bersama Intan keluar dari kelas, hingga kini kami sudah berada di area lorong gedung.

“Kamu mau langsung pulang, Za?” tanya Intan membuka omongan.

“Iya,” jawabku singkat

“Ke rumah?” tanya Intan lagi.

“Engga, ke konstan,” jawabku lagi.

“Oh,” balas Intan singkat.

Beberapa saat kami kembali terdiam sambil terus melangkah menuju ke arah pintu gedung. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya..

“Hmm…lu?” tanyaku singkat, bingung harus menggunakan kata ‘lu’ atau ‘kamu’.

“Engga, mau ke gedung UKM dulu,” balas Intan.

Aku kaget mendengar jawabannya. Reflek aku melihat ke arahnya, Intan yang sadar dengan gerakanku juga ikut melihat ke arahku.

“5HC?” tanyaku.

Aku dapat melihat raut keraguan pada wajah Intan, setelah beberapa saat, akhirnya dia menjawab “Ehmm.. iya,” jawabnya pelan.

“Ngapain?” tanyaku kebingungan.

Aku merasa heran, mengapa mahasiswi baru secantik Intan mau berurusan dengan kelompok mahasiswa yang di kenal secara negatif itu.

“Kakak kelas smaku pada main di sana semua…,” jawab Intan.

Entah mengapa aku merasa kesal mendengar jawabannya. “Ya elah, kayak gak ada….”

“Udah ya ja, aku duluan,” potong Intan atas omonganku.

Intan segera mempercepat langkahnya meninggalkanku. Aku justru berhenti dan sejenak melihat kepergiaannya yang melangkah menuju ke arah gedung UKM, meninggalkanku.

“Apa-apaan sih?” tnayaku mengeluh sambil menggelengkan kepala menyadari besarnya daya tarik 5HC bagi mahasiswa baru.

Dengan berat hati, aku mulai melangkah mejauhi gedung perkuliahan menuju area parkiran, menaiki motorku lalu pergi meninggalkan area kampus.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA SANG MAFIA : Kembali Mencinta
9.5
Dikhianati tiga tahun lalu mengubah William Ferdinand menjadi bos mafia yang dingin dan tidak percaya cinta. Namun, kembalinya Shirley Smith, istri sah yang hanya ia nikahi di atas kertas, mulai mencairkan hatinya. William kini menjadi sangat protektif dan posesif terhadap Shirley, melarangnya berdekatan dengan pria lain. Di tengah sikap dominan William, Shirley yang tidak menyadari status pernikahan mereka justru merasa bingung dengan perubahan sikap suaminya tersebut.
Sampul Novel FATED (Tuan Mafia dan Nona Badut)
9.5
Raline merasa hidupnya penuh kesialan setelah dua kali gagal menikah. Mantan kekasihnya, Aksa dan Heru, justru menikahi wanita lain meski sudah lama menjalin hubungan dengannya. Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya dengan Axel Delacroix Adams. Kakak dari rivalnya yang merupakan seorang mafia itu melamar Raline hanya dalam empat menit. Akankah ini menjadi akhir penderitaannya atau awal masalah baru? Sebuah kisah tentang rahasia jodoh yang datang tepat waktu.
Sampul Novel JERAT CINTA TUAN MAFIA
8.8
Akibat hancur oleh pengkhianatan sang kekasih, Louisa terjebak dalam masalah besar hingga nyawanya terancam. Beruntung, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya. Namun, dalam kondisi emosional, Louisa justru menawarkan sebuah 'hadiah' berani sebagai tanda terima kasih atas pertolongan tersebut. Tanpa ia sadari, keputusan impulsif itu menjeratnya ke dalam kehidupan sang penyelamat yang berbahaya, mengubah takdirnya selamanya.
Sampul Novel JOSEPH HUNTER (Fight for Trust)
8.7
Malam pertama Joseph Hunter berubah tragis saat istrinya, Camila, jatuh ke laut demi menghindari restu maut sang ayah. Setelah nyaris tewas, Joseph terjebak kontrak gelap untuk memburu kartel The Demon. Di tengah misi, ia bertemu Vanessa, kekasih musuh bebuyutannya yang berwajah identik dengan mendiang istrinya. Rahasia masa lalu yang terkuak kemudian menyeret Joseph ke dalam pusaran dendam mendalam, memaksanya berjuang demi sebuah kepercayaan di dunia mafia.
Sampul Novel Malam Panas Bersama Mafia Dingin
9.6
Amora Nouline selalu hidup di bawah bayang-bayang kakaknya, Alana, karena pilih kasih sang ibu. Saat ayahnya sakit parah dan butuh biaya besar, ibu dan kakaknya justru tega mendesak Amora menjual diri. Demi kesembuhan sang ayah, Amora terpaksa setuju meski hatinya hancur. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang mafia dingin yang sangat berkuasa. Meski pria itu berwajah tampan, aura kejamnya membuat Amora dilingkupi rasa takut yang luar biasa malam itu.
Sampul Novel Negeri Ini Dikuasai Mafia
8.6
Basudo tumbuh dalam kemiskinan yang memicu dendam mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya. Sejak remaja hingga dewasa, ia menempuh jalur berbahaya demi menghabisi mereka yang membuatnya menderita. Demi kekuasaan dan ambisi ekonomi, sang raja mafia ini tega membinasakan banyak nyawa tanpa ragu. Namun, kekejamannya memicu perlawanan sengit. Defian dan Telma muncul sebagai sosok pemberani yang siap mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Basudo dan kelompoknya.