APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Kejadian tak terduga muncul saat aku menyadari reaksi fisik ayah mertuaku di balik sarungnya. Meski merasa gugup, aku justru diam saat ia menarik tanganku untuk menyentuh bagian pribadinya. Tak ada penolakan dariku meski tindakannya sangat berani. Aku terkejut merasakan ukurannya yang jauh lebih besar dibanding milik suamiku. Situasi kian memanas ketika ia memintaku masuk ke dalam sarungnya, membiarkanku menyentuh langsung fantasi yang selama ini terpendam.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya.

Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah.

Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran kontol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. Kontol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang kontol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule.

Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung kontol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Nafasku menjadi berat. Tanganku hanya diam saja menggenggam kontol ayah. Entah kenapa aku jadi bingung dan takut. Ini sama sekali di luar dugaanku. Sebenarnya aku ingin mengocok kontolnya tapi aku tidak berani. Ini adalah hal yang salah. Aku takut semakin meminta lebih. Maka segera aku menarik tanganku keluar dari sarung ayah. Aku belum berani untuk melangkah lebih jauh.

Kami berdua langsung canggung. Ayah menundukkan kepalanya dan langsung minta maaf. Dia langsung keluar dari kamarku. Aku terdiam sambil membayangkan apa yang baru saja terjadi.

Aku menceritakan kejadian itu pada sahabatku, Vita. Vita tidak menyangka bahwa kejadian seperti itu bisa terjadi.

"Beneran?"

"Iya, Say. Aku beneran ga nyangka."

"Fix sudah kalo gitu." katanya.

"Apanya yang fix?"

"Ayah mertuamu itu, juga punya hasrat seks yang sama."

"Maksudmu dia juga bernafsu ke aku?"

"Iyalah, say," kata Vita. "Kalo ngga, ga mungkin dia ngaceng lihat belahan dadamu."

Aku mulai kepikiran dengan ucapan Vita. Apa benar ayah mertuaku punya hasrat seksual kepadaku? Seperti aku pada dia? Kalau iya, apakah mungkin akan berlanjut pada tahap yang lebih? Ah, aku tidak ingin memikirkannya. Kejadian itu sudah cukup membuatku bingung dan takut.

Saat aku sudah membaik dari sakitku, saat aku sedang memasak, ayahku tiba-tiba menghampiriku.

"Rin," sapa Ayah.

"Iya, Yah?" jawabku.

Semenjak kejadian kemarin, kami memang menjadi canggung. Kami tidak saling bertegur sapa. Bahkan aku sering menghindari momen di mana ada ayah di situ.

"Soal kejadian kemarin, ayah minta maaf. Ayah bener-bener khilaf. Ga seharunya ayah bersikap kaya gitu."

"Udahlah, yah. Ga usah dibahas lagi."

"Iya, tapi ayah merasa sungkan dan malu sama kamu, Rin."

"Udah terjadi kok, Yah. Jangan dipikiran terus. Ririn paham kok ayah sebagai pria yang masih punya hasrat."

"Tapi kamu maafin ayah, kan?"

"Iya, Yah," jawabku. "Lagian kan cuma pegang doang."

Deg!

Astaga. Cuma? Kenapa aku bilang seperti itu? Kenapa aku seolah mengatakan itu adalah hal yang biasa? Aku tidak bisa mengontrol omonganku. Mendengar itu ayah seperti sedikit berpikir. Entah apa yang dia pikirkan, aku tidak tahu.

"Makasih, Rin." Jawab ayah. Dia langsung meninggalkanku sendiri di dapur.

*****

Tidak ada rasa canggung lagi antara aku dan ayah mertua semenjak ayah meminta maaf dan aku juga sedikit ‘memaklumi’. Namun, meskipun begitu tidak ada sikap kurang ajar dari ayah yang mengarah pada kejadian serupa. Kami tetap berhubungan seperti biasanya. Hanya saja, ayah sekarang sering terasa lebih terlihat bahagia. Entah karena apa, aku tidak tahu. Walaupun sebenarnya, jika mau diakui, sekarang aku juga sedikit merasa senang selama ada di rumah. Apalagi bila ada ayah. Mungkinkah kejadian kemarin yang menyebabkan aku demikian? Dan jujur saja, sebenarnya aku memang tidak masalah dengan kejadian itu. Meskipun aku takut, tapi semacam ada tantangan dalam diri untuk mengulanginya lagi.

Hingga pada akhirnya, kesempatan untuk melakukan hal yang sama kembali terulang.

Suatu pagi, aku baru selesai mandi. Suami sedang mengantar kerupuk, ayah pergi ke sawah dan anakku, seperti biasa, sudah pergi bermain dengan teman-temannya. Karena tak ada orang, maka aku memberanikan diri hanya mengenakan handuk sehabis mandi menuju ke kamar. Pada saat baru masuk ke dalam rumah, tanpa sengaja aku terjatuh karena lantai yang licin. Akhirnya aku pun terjatuh di lantai.

“Awww...” pekikku.

Tiba-tiba ada suara orang berlari dari arah ruang tamu menuju ke belakang.

“Kenapa?” katanya. Ternyata yang datang adalah ayah mertua.

“Lho, ayah kok di rumah?” tanyaku dalam hati. “Bukannya ayah di sawah?”

Pada saat melihatku sedang terduduk di lantai, ayah sempat tertegun menatapku. Awalnya aku heran karena tatapan ayah mencurigakan. Tapi akhirnya aku sadar ternyata aku hanya mengenakan handuk dan parahnya handuk itu kini terlepas.

“Astaga,” ucapku dalam hati. “Bodohnya aku.”

Aku berusaha bangun dan membetulkan posisi handuk, namun tidak kuat karena sakit di kakiku.

Mungkin karena menyadari kondisiku, ayah langsung menghampiriku. Tanpa ragu, ia yang membetulkan posisi handuk. Tentu saja ia menyentuh bagian payudaraku. Malahan ia langsung membopong diriku.

Aku benar-benar tidak menyangka dengan perlakuan ayah mertua kali ini. Anehnya, malah tidak ada penolakan apa pun dariku. Aku malah hanya diam saja seolah semuanya ini hal yang biasa. Aku seolah tidak sadar bahwa yang menggendongku adalah mertuaku sendiri. Apalagi dia menggendong diriku dengan kondisiku ‘terbuka’.

“Tapi, ayah mertuaku ini cukup kuat ya,” kataku dalam hati.

Ayah membawaku ke dalam kamar. Dan langsung menidurkanku di kasur. Aku berusaha menutupi bagian selangkanganku karena posisinya sangat minim.

Begitu meletakkanku, kami langsung terdiam. Seolah udara di sekitar kami membeku. Hanya deru nafas kita yang terdengar. Nafas yang kurasakan semakin memberat. Untuk menghilangkan rasa kebekuan ini, aku memberanikan diri memulai bicara.

“Makasih, pak.”

“Iya,” jawab ayah pelan.

Tapi tak berlangsung lama. Setelahnya, rasa canggung kembali hadir di antara kami. Entah bagaimana aku harus kembali memecahkannya.

Tiba-tiba saja kurasakan ada tangan yang langsung meraba pahaku. Seperti ada aliran listrik yang menyengat di sekujur tubuhku. Perlahan aku mulai menyadari bahwa tangan itu adalah milik ayah mertua. Tangan yang kasar khas seorang pekerja sawah. Tangan yang setiap hari memegang cangkul. Tangan itu kini bergerak perlahan menuju ke arah selangkangan.

Nafasku semakin berat menyadari bahwa ayah mulai melalukan hal yang berani dan merangsang. Anehnya aku menikmati setiap inchi dari pahaku yang dilalui oleh tangannya. Tapi begitu akan sampai di pangkal paha, aku menghentikan perbuatan ayah.

“Pak,” kataku sambil menggelengkan tangan. “Aku takut.”

Ayah mertua langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia tidak memaksa. Tangannya perlahan diangkat dari pahaku. Aku bisa bernafas lega.

Tetapi, ternyata aku salah menduga.

Meskipun tangan ayah sudah tidak ada di pahaku, tetapi tangan itu sudah bergerak untuk melepaskan kaitan handuk di dadaku. Lagi-lagi aku hanya diam saja. Ada apa dengan diriku? Apakah karena bagiku ini serba terlalu cepat? Atau juga aku sebenarnya menginginkan momen ini? Ah, entahlah.

Yang jelas kini handuk yang kukenakan sudah lepas. Tampaklah tubuhku tanpa sehelai benang yang menempel terpampang di depan ayah mertua. Tubuh dari istri anaknya sendiri sudah ia lihat dengan jelas di depan matanya.

Aku melihat ayah. Ia tampak terpesona melihat tubuhku yang sudah telanjang. Sempat kulihat juga ia seperti menelan ludah. Apakah begini kondisi duda yang sudah lama ditinggal istrinya? Ia sudah sangat menginginkannya?

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkitnya Ahli Waris Tersembunyi
7.9
Adit, mahasiswa yang kerap dirundung, memilih mengakhiri hidupnya. Namun, jiwa Hito Aswatama justru merasuk ke raga Adit setelah sebuah kecelakaan maut menimpanya. Menggunakan identitas baru, Hito menyelidiki dalang pembunuhannya sambil memperebutkan takhta ahli waris Aswatama melawan paman dan sepupunya. Konflik ini perlahan mengungkap rahasia gelap keluarga besar terkait kematian orang tua Hito. Mampukah ia bertahan di tengah intrik perebutan kekuasaan tersebut?
Sampul Novel HILDA PERAWAN TUA
7.9
Hilda mencapai puncak karier berkat kecerdasannya, namun kehidupan asmaranya justru hancur akibat campur tangan sang ibu. Sifat materialistis ibunya yang terlalu pemilih membuat Hilda dijuluki perawan tua. Tak hanya soal jodoh, Hilda harus menghadapi sikap pilih kasih ibunya yang selalu mengutamakan sang adik dengan alasan penyakit jantung bawaan. Di tengah perlakuan tidak adil dan badai konflik keluarga yang nyaris menghancurkan hidupnya, mampukah Hilda menemukan kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Ketika Cinta Tak Memilihku
8.8
Dua bersaudara yang bertetangga ini harus menghadapi kenyataan pahit saat pasangan mereka pulang dari perantauan di ibu kota. Meski awalnya menganggap kedekatan antara suami dan kakak iparnya sebagai hal lumrah, sang adik mulai merasakan ada kejanggalan. Kecurigaan pun tumbuh bersama sang kakak ketika melihat gelagat pasangan mereka yang semakin intim. Kini, mereka terjebak dalam teka-teki pengkhianatan yang mengancam keutuhan rumah tangga masing-masing.
Sampul Novel Love By Accident
7.9
Akibat satu kesalahan fatal di masa lalu, Liz mengandung anak dari Caden, pria asing yang nyaris tak ia kenali. Tanpa mengetahui kebenarannya, Caden justru menaruh kebencian mendalam dan menuduh Liz telah sengaja menjebak dirinya demi kepentingan pribadi. Setelah bertahun-tahun berlalu tanpa kabar, takdir secara mengejutkan membawa mereka kembali pada pertemuan yang tak terduga. Kini, rahasia besar dan luka lama pun mulai membayangi hubungan mereka kembali.
Sampul Novel Mafia and Me
8.9
Aretha Anjanie terjebak dalam nasib tragis saat selingkuhan kekasihnya menjual dirinya kepada seorang mafia demi melunasi utang judi dan dendam. Ia pun terkurung di The Black Rose Kingdom milik pria misterius bernama Evans Colliettie. Di sana, Evans memberikan pilihan kejam: menghabiskan hidup sebagai budak atau menjadi pemuas nafsunya di ranjang. Terhimpit situasi mengerikan, Aretha harus menghadapi kenyataan pahit dalam cengkeraman kekuasaan sang mafia.
Sampul Novel Malam Pertama dengan CEO
9.7
Kehidupan Kara hancur saat suaminya menjualnya kepada Angkasa, seorang CEO kaya, di malam pernikahan mereka. Wajib melayani Angkasa selama sebulan, Kara justru hamil. Namun, Angkasa menolak mengakui janin itu karena salah paham dan mengusirnya. Di tengah tekanan mantan suami dan mertua, Kara berjuang sendiri hingga sukses jadi desainer. Saat Angkasa kembali untuk memohon maaf, akankah Kara bersedia membuka pintu hatinya yang telah terluka?