APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Liar sang Mafia

Gairah Liar sang Mafia

Arnius Nagendra dihantui masa lalu kelam akibat ulah Janied Marques, sepupunya yang mengepalai sindikat perdagangan manusia. Demi membalas kematian istrinya, Arnius menyamar jadi guru dan melibatkan seorang guru TK cantik dalam misi berbahaya ini. Identitas aslinya pun tersembunyi di balik dunia abu-abu. Akankah kerja sama ini memicu benih cinta di tengah dendam yang membara, atau justru menyeret sang wanita ke dalam lingkaran hitam yang mematikan?
Bab
Bagikan

Bab 3

BRAK!!

"Berani-beraninya Janied memperlakukan Anna seperti ini!" Arnius geram dan melempar ponsel milik anak buahnya ketika ia ditunjukkan video berisi hubungan terlarang antara sang istri dan sepupunya, Janied serta kebiadaban yang dilakukan sang sepupu.

"JANIED!!" teriak Arnius mengepalkan kencang tangannya dengan rahang mengeras dan gigi gemeretak. Tanpa pikir panjang, Arnius menghubungi sepupunya dengan wajah penuh emosi dan nafas sengal.

"Janied! Bedebah, kau! Bajingan! Di mana Anna? Di mana kau sembunyikan istriku!?"

[Oh, sepupuku ... apa kabarmu? Apa kau sudah menerima hadiah kecil dariku? Bagaimana menurutmu? Apa kau menyukainya?]

"Manusia keparat kau! Aku akan membunuhmu, Janied! Jangan salahkan jika aku akan turun tangan 'mengurusmu'!"

[Haha, apa kau yakin saudaraku? Kau akan membunuhku? Menghabisiku? Hahaha, jangan buat aku tertawa! Sebelum kau menghabisiku, aku yang akan menghabisi nyawamu dan istrimu yang cantik itu akan menjadi janda yang menyedihkan.]

"JANIED!! Katakan saja di mana kau sembunyikan Anna! KATAKAN CEPAT!"

[Kau mau tahu di mana istri tercintamu? Cari dan temukan sendiri, sepupuku yang pintar!]

Beep ...

"Halo ... halo ... JANIED! JANIED! JANIEDDD ..." teriak Arnius ingin melempar ponselnya namun ia tahan.

'Bedebah kau Janied! Akan kukejar hingga ujung dunia dan neraka!'

"Kumpulkan semua anak buah yang kita punya! Perintahkan mereka untuk mencari Nyonya Anna! Sebar ke seluruh kota dan tempat-tempat yang memungkinkan si bangsat Janied mengurung istriku! Cari dan temukan sampai dapat! Jangan kembali sebelum kalian mendapatkan kepala sepupuku! Paham!"

"Paham, Tuan."

Salah seorang kaki tangan Arnius segera memunggungi sang kepala keluarga dan mulai menjalankan apa yang diperintahkan oleh Arnius. Mata biru langit itu tampak penuh dengan emosi. Kepalan penuh tangan Arnius memukul meja dengan kencang hingga membuat semua benda yang ada di atasnya bergetar dan memecahkan gelas yang diletakkan di pinggir bibir meja kerja warna coklat mengkilap miliknya.

"Anna, aku akan menyelamatkanmu! Aku akan mencabik-cabik tubuh Janied dan memberikannya pada anjing liar di tengah jalan! Janied, tunggulah kehancuranmu!"

Tak lama, Arnius menyusul anak buahnya pergi ke teras depan rumahnya yang luas di mana ratusan anak buahnya telah berkumpul. Dengan balutan jas hitam lengkap dengan topi fedora hitam, Arnius berdiri di depan anak buahnya yang membawa senjata api laras pendek dan beberapa senjata pendukung lainnya. Di depan anak buahnya, Arnius dengan berapi-api berkata, "Aku ingin kalian menemukan istriku, Anna Marbela yang saat ini tengah berada di tangan Janied Marques Cannavaro!"

Sontak, suasana gaduh dan tegang pun sangat terasa di antara anak buah Arnius. Bahkan, mereka tampak berbisik seolah sedang membicarakan langkah sang kepala keluarga Morpheus selanjutnya.

"Aku ingin kalian menemukan istriku dan membawa mayat Janied ke hadapanku! Kepala atau badan, tak masalah, selama itu adalah milik si keparat Janied Marques! Jangan gegabah dan jangan coba-coba menegakkan kepala kalian sebelum menemukan istriku! PAHAM!!" tegas suara pria bertato salib di belakang lehernya itu.

"Mengerti, Tuan!" jawab serempak anak buah Arnius.

'Anna, tunggulah sebentar sayang, aku pasti akan menyelamatkanmu.

***

Sementara itu, Anna yang tersadar setelah "dikoyak" oleh Janied, membuka matanya perlahan dan menemukan dirinya berada di suatu kamar bergaya victoria dengan nuansa warna merah terang serta ranjang empuk dengan selimut pastel menutupi tubuhnya.

"Di mana aku?" Anna langsung mengangkat dirinya terkejut, melihat sekeliling kamar megah itu seraya memegangi kepalanya yang masih pusing.

"Anda sudah sadar, Nona?" Seorang wanita muda dengan rambut digelung dan memakai seragam pelayan berdiri di sebelah Anna sambil membungkukkan setengah badannya.

"Siapa kau?" tanya Anna melihat wanita muda itu.

"Saya adalah pelayan Anda, Nona." Ucapnya tetap membungkukkan badan.

"P-pelayan? Maksudmu?" Anna mengerutkan keningnya hingga tiga tingkat dan melihat pelayan muda itu bingung.

"Tuan Janied telah memerintahkan saya untuk menjaga dan melayani keperluan Anda selama berada di vila ini, Nona."

"Apa! Vila!?" Anna seketika bangun dari ranjangnya dan menuju balkon kamarnya yang terletak di lantai dua sebuah vila gaya baroque dengan halaman yang luas dan sebuah air mancur besar di tengahnya.

'I-ini ...." Anna terus menatap tak percaya dia kini berada di vila milik keluarga Cannavaro yang dulu menjadi tempat 'terkutuk' baginya. Tempat yang mengingatkan dia akan peristiwa kelam dua sepupu ini.

Anna mengepalkan tangannya kencang. Masih terasa ngilu dan perih organ intim miliknya setelah Janied melepaskan birahi liarnya. Gigi-giginya mengeluarkan suara gemeretak seolah seluruh giginya sedang menggigit benda yang sangat keras.

"Nona, apa Anda baik-baik saja?" pelayan muda itu menghampiri Anna yang masih berdiri di balkon kamarnya. "Nona, Anda ...."

"Aku baik-baik saja! Di mana Janied? Tuanmu?" Anna mengeluarkan suara rendahnya.

"Beliau sedang keluar, Nona."

"Kau boleh keluar!" perintah Anna. "Aku ingin sendiri," tambahnya.

Namun pelayan itu bergeming. Dia terus berada di belakang Anna menundukkan kepalanya.

"Kenapa masih di sini? Aku minta kau keluar! Apa kau tak dengar, hah!?" Anna meninggikan suaranya.

"Maaf, Nona. Tapi, Tuan Janied berpesan pada saya sebelum Nona mau menuruti keinginan beliau, Anda tak diperbolehkan meninggalkan kamar ini." Jelasnya sambil menunduk.

"Keinginan? Keinginan apa? Apa yang harus kuturuti dari kata-katanya!?" Anna membalikkan badannya menatap sang pelayan tajam.

"Sebentar Nona. Akan saya ambilkan 'sesuatu' dari Tuan Janied." Pelayan itu mengambil sebuah kotak persegi panjang yang ada di atas meja rias kamar yang ditempati Anna.

Anna tak memperdulikan ucapan pelayan muda itu dan dia membalikkan kembali tubuhnya menghadap ke arah taman vila milik keluarga Cannavaro. Tarikan nafas berat yang keluar dari hidung dan mulut Anna, seolah mengisyaratkan bagaimana wanita cantik bersuami itu tertekan dan menderita karena ulah sepupu gila suaminya.

"Nona, Tuan Janied meminta saya untuk memberikan ini pada Anda." Ucap pelayan muda itu menyerahkan kotak dengan pita warna merah di atasnya.

"Apa ini?" tanya Anna penasaran.

"Maaf, saya juga tidak tahu Nona, tapi, Tuan Janied meminta saya agar Nona mau menerimanya."

"Dan jika aku tak mau?!" tanya Anna seolah menantang.

"Anda harus mau menerimanya, Nona!" tegas pelayan itu menatap Anna.

"Haha, sepertinya tuanmu adalah seseorang dengan tipikal memaksa, ya? Tapi, aku, Anna Marbela, wanita yang telah bersuami-kan Arnius Nagendra, tak akan sudi menerima hadiah apa pun juga dari pria yang bukan suamiku!" tegas Anna membalas tajam tatapannya.

Pelayan itu tanpa membuang waktu mengambil ponselnya dari dalam seragam pelayan yang dikenakannya dan menghubungi Janied.

"Tuan, Nona Anna tak mau menerima pemberian Anda."

Anna menyilangkan kedua tangannya, memandang penuh kesinisan dan kebencian.

[Berikan ponselmu padanya!]

"Nona, Tuan Janied ingin bicara pada Anda." Pelayan itu memberikan ponselnya.

"Aku tak sudi bicara pada binatang macam dia!" ketus Anna.

"Tuan ...."

[Berikan 'barang' itu padanya! Aku akan kembali 10 menit lagi!]

"Baik, saya mengerti."

Tak lama setelah Janied memutus teleponnya, baik Anna maupun pelayan muda itu hanya terdiam kaku dan masing-masing saling memandang tajam.

"Mau berapa lama kau ada di sini, Nona Kecil? Apakah saat ini pekerjaan pelayan hanya mengawasi dan memperhatikan tawanan?" sindir Anna menyeringai.

"Maafkan saya, Nona. Tapi, perintah tetaplah perintah dan saya harus mematuhinya!" tegas pelayan itu.

"Apa kau seorang robot atau kau memang dengan tulus mendengar semua perintah manusia keparat itu!"

"Nona!"

Kriettt

"Dari luar gaduh sekali aku mendengar suara melodi nan indah keluar dari wanita yang kupuja."

Janied tiba-tiba masuk ke kamar Anna dan menyandarkan tubuh tinggi tegapnya ke kusen pintu warna merah bercampur coklat sambil menyilangkan salah satu kakinya dan menyembunyikan kedua tangannya di saku celananya.

"Tuan Janied." Pelayan itu menghampiri Janied membungkukkan badan.

"Keluar! Ada yang harus kubicarakan dengan wanita cantik ini." Seringai Janied melirik Anna.

Tak lama, setelah pelayannya keluar, Janied bergerak perlahan melangkah mendekati Anna yang masih berdiri di balkon kamar yang ditempatinya.

Tatapan sinis dan ekspresi ketus dari pemilik wajah oval dan mata hazel ini tak menyurutkan kaki Janied untuk menatap wanita idamannya.

"Kenapa belum dibuka?" tanya Janied melirik kotak yang diberikannya untuk Anna.

"Tak sudi aku terima barang pemberian bajingan seperti dirimu!" ketus Anna.

"Haha, aku suka ketika kau marah, Anna. Tambah seksi dan menggairahkan!" seringai Janied. "Tapi, sayangnya, kali ini kau harus menuruti kemauanku, jika tidak ...."

"Jika tidak apa!? Apa lagi ancamanmu!"

"Suami tercintamu sedang mencari dirimu dan sepertinya dia sangat terpukul dengan adegan kita, Sayang."

Anna membelalakkan matanya. "A-apa maksudmu? Adegan? Adegan apa?"

"Secepat itukah kau melupakan kenikmatan ketika kita bercinta sambil dilihat oleh banyak pasang mata?"

Anna terdiam. Dia mulai merasakan lagi organ intimnya nyeri dan ngilu. "Bajingan kau, Janied! Kau! Kau ....!"

Janied segera meraih kotak berpita merah itu dan membukanya. Tampak sebuah lingerie hitam berbentuk dalaman yang kemudian diangkat oleh Janied dan diberikan pada Anna secara paksa.

"Apa ini?" Anna mengangkat atasan dan bawahan dalaman hitam itu.

"Pengganti lingerimu!"

"Apa! Kau gila, Janied! Otakmu kau taruh di mana, hah! Bisa-bisanya kau memberikan aku barang setan seperti ini! Ambil kembali dan pakaikan pada pelacurmu!" Anna melempar dalaman warna hitam tersebut tepat di wajah Janied.

Murka! Itulah yang dirasakan oleh Janied saat ini! Dengan cepat dan jemari besar serta panjangnya ia meraih pinggang ramping Anna dan mendekatkan wajahnya. "Jangan pancing emosiku, Anna. Jangan sampai kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali, Anna. Kau tahu apa maksudku bukan?" seringai Janied.

"Persetan denganmu, Janied! Aku benar-benar membencimu!" Anna dengan lantang menantang Janied.

"Oh, Anna. Kau tahu apa yang paling kusuka ketika aku bersamamu?" tanya Janied menatap liar wanita yang kini tengah ada di genggamannya. "Aku bisa berfantasi sangat liar meskipun hatiku penuh dengan dendam pada suamimu. Tapi keinginanku untuk bercinta denganmu melebihi apa pun di dunia ini." Bisik Janied seraya menjilat cuping telinga kanan Anna.

"Hentikan sikap binatangmu, Janied! Arnius akan segera menghabisimu! Dia akan mengoyak tubuhmu hingga bagian yang terkecil!" Anna mendengus kesal.

"Kita lihat saja, Sayang. Kau atau suamimu yang tolol itu yang akan bertahan sebagai raja rimba di tengah hutan savana." Janied melepaskan jemarinya dan lagi-lagi berbisik, "Sebaiknya kau menggunakan hadiah yang telah kuberikan padamu karena malam ini akan ada pesta yang tak akan pernah kau lupa, Anna Marbela!"

'Pesta?' gumam Anna Marbela melihat Janied yang memandangi dirinya terus tersenyum.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Anna sayang. Karena itulah aku memintamu untuk memakai hadiah yang kuberikan padamu. Buat aku bergairah Anna di atas dendam kesumat yang telah membuncah di kepalaku ini!"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Benua terkutuk kini menjadi neraka akibat perdagangan manusia dan penindasan kejam bagi yang lemah. Demi mengakhiri penderitaan ini, para dewa mengutus Dewi Kematian untuk membasmi kejahatan di sana. Namun, sebuah insiden fatal saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Sang dewi justru terlahir kembali sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Mampukah ia menjalankan misi sucinya dan menyelamatkan mereka yang tertindas tanpa kekuatan dewa?
Sampul Novel Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
7.9
Alana nyaris tewas setelah diserang tiga pemuda di Gunung Lawu hingga terperosok ke jurang. Beruntung, ia diselamatkan oleh Arga, mantan anggota Kopassus yang kini menjadi buronan dan bersembunyi di hutan. Di tengah pemulihan luka fisik dan traumanya, Alana terjebak dalam dilema antara keinginan balas dendam atau bangkit kembali. Hubungannya dengan Arga yang keras namun protektif pun kian intens, memicu emosi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sampul Novel Collateral Fate
9.5
Letnan Arya Pradipta dari pasukan khusus mengemban misi berisiko tinggi demi menyelamatkan Alana Weston, relawan yang diculik teroris internasional. Namun, operasi rahasia ini berubah menjadi perjuangan hidup mati saat mereka terjebak di zona musuh yang berbahaya. Arya segera menyadari bahwa penculikan Alana bukan sekadar aksi kriminal biasa, melainkan bagian dari konspirasi politik besar yang mengancam keselamatan mereka di tengah pelarian.
Sampul Novel I Choose The Villain Crown Prince
8.6
Pembunuh bayaran bereinkarnasi sebagai Athea Dominic, putri bangsawan yang dibenci karena darah Klan Api. Di kehidupan lalu, ia tewas tragis akibat cinta buta pada Pangeran Alexander. Kini, ia bangkit menjadi prajurit elite demi membalas dendam saat keluarganya dibantai. Athea kemudian bersekutu dengan Azrael, pria misterius yang ternyata Putra Mahkota Klan Api. Bersama-sama, mereka berjuang menggulingkan takhta sang pangeran jahat dan menuntut keadilan bagi klan mereka.
Sampul Novel Jatuh Cinta Pada Luka
7.9
Damian Verano, bos mafia tangguh, nyaris tewas setelah dikhianati dalam perebutan wilayah. Terhanyut di sungai selama tiga hari, ia ditemukan oleh Alira, gadis desa berusia delapan belas tahun yang sangat sederhana. Meski Damian masih terbayang sosok Sierra, pesona polos Alira justru memicu getaran cinta yang tak terduga di hatinya. Akankah sang penguasa dunia bawah tanah yang kejam mampu bersatu dengan gadis dusun yang buta akan masa lalunya yang kelam?
Sampul Novel KEBANGKITAN HADES BAKER
9.1
Hades, seorang pemuda rupawan, mendapatkan kesempatan langka untuk bangkit kembali demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya. Ia terlempar melintasi waktu menuju tahun 2001. Di masa lalu tersebut, Hades tidak menyia-nyiakan peluang emas yang ada. Ia menyusun strategi cerdik guna mengumpulkan kekayaan melimpah dan memperkuat dirinya. Perjalanan lintas zaman ini menjadi awal bagi Hades untuk mengubah nasib serta membalas semua ketidakadilan.