APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel GAIRAH PEREMPUAN NAGA

GAIRAH PEREMPUAN NAGA

Koh Ho Ming yakin bahwa Diandra, putri dari asisten rumah tangganya, adalah reinkarnasi legendaris Perempuan Naga. Sejak belia, gadis yatim piatu ini menunjukkan tanda-tanda sebagai titisan Dewi Kesayangan Langit dengan kekuatan spiritual besar. Diandra harus berjuang melewati berbagai tragedi dan ujian hidup demi meraih kesuksesan. Kisahnya penuh rintangan rumit, berpadu dengan romansa mendalam serta sisi erotis yang mewarnai perjalanan takdirnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

BOCAH BENGAL vs AYAH PENGANGGURAN

"Anakmu itu bukan bocah biasa. Percayalah! Aku benar-benar dapat melihatnya! Jaga dia baik-baik! Kelak kamu akan tau apa maksudku!" ujar Koh Ho Ming tanpa mengalihkan pandangan mata dari beberapa anak yang tengah asyik bermain-main di halaman rumahnya yang cukup luas dengan dinaungi beberapa pohon jambu air dan mangga yang membuat halaman rumahnya terasa teduh.

Suasana teduh itulah yang membuat anak-anak seringkali bermain-main disana. Tapi tatapan mata Koh Ho Ming tak pernah lepas dari sosok gadis kecil berwajah manis dengan rambut panjangnya yang dikepang dua, dengan hiasan pita berwarna kuning cerah, yang tengah berlarian dan sesekali dengan lincah menghindari sergapan teman mainnya.

Beberapa kali kekehan tawa rendah lolos dari bibir keriputnya yang dinaungi kumis lebat yang telah memutih itu. Sementara Sardi, ayah Diandra gadis kecil yang sedari tadi menjadi pusat perhatian Koh Ho Ming majikan istrinya itu cuma mengangguk mengiyakan. Padahal dia sendiri tak tahu arti perkataan China tua yang tengah duduk di depannya itu.

Dalam hati, ia cukup mengiyakan dan manggut-manggut supaya majikan istrinya itu merasa senang, yang tentu saja akan memudahkan segala urusan yang berhubungan dengan Koh Ho Ming. Sesekali tangannya menjumput bakpia dalam toples yang tadi disuguhkan Cik Melly, istri Koh Ho Ming sebelum berangkat ke toko kelontong dimana istrinya Halimah bekerja sebagai pramuniaga di sana.

Pandangan mata Koh Ho Ming kembali terpusat pada papan catur di depannya dan mulai melanjutkan permainannya. Sementara Sardi memperhatikan arah langkah anak catur yang di gerakkan Koh Ho Ming dengan serius sambil berpikir akan langkah selanjutnya. Untungnya ia cukup bisa mengimbangi permainan catur majikan istrinya itu, yang tentu saja akan menambahkan nilai baginya untuk lebih mendekatkan diri pada orang yang terbilang cukup kaya di daerah tempat tinggalnya itu.

Bukan tanpa alasan jika ia berusaha mendekati Koh Ho Ming, sudah hampir empat bulan ia nganggur tanpa pekerjaan. Ia berharap jika nantinya ia bisa mendapatkan pekerjaan sebagai sopir pada perusahaan jasa angkutan yang dikelola Andreas, putra sulung Koh Ho Ming. Atau bekerja sebagai sopir pribadi Benny putra kedua Koh Ho Ming yang memiliki usaha penginapan di kota Malang.

Koh Ho Ming sudah berjanji akan membujuk salah satu anaknya untuk menerima Sardi bekerja. Ia hanya menunggu jika sewaktu-waktu salah satu dari mereka pulang menjenguk orang tuanya yang kini hanya tinggal berdua di rumah besar bergaya kolonial itu ditemani seorang ART saja. Sebenarnya Sardi merasa kurang puas dengan jawaban Koh Ho Ming itu, tapi ya mau gimana lagi posisinya bukan berada pada yang dibutuhkan. Tapi justru yang sedang membutuhkan.

Ditengah permainan, tiba-tiba terdengar jerit kesakitan seorang anak yang tadi tengah asik berlarian bermain-main di halaman.

Tergopoh- gopoh Sardi berdiri dan beranjak ke tempat dimana terlihat seorang anak lelaki telah jatuh telentang ditanah dengan tubuh Diandra berada diatas perut anak lelaki itu dengan pandangan murka. Sebelah tangannya merenggut keras rambut jambul lawannya sementara sebelahnya lagi telah mengepal siap untuk dihantamkan diwajah anak lelaki yang tengah didudukinya itu. Sementara anak-anak yang lain segera minggir dengah wajah ketakutan.

"Dian! HENTIKAN!!" Sardi buru-buru mengangkat tubuh mungil putrinya dari atas tubuh lawannya. "Apa yang kamu lakukan!" gemas dibawanya Diandra menjauh.

"Dia yang mulai Yah, dia jegal kakiku ... Lihat lututku berdarah karena jatuh gara-gara dia!" geram Diandra menunjuk lawannya yang tengah beringsut berdiri lalu lari terbirit-birit ketakutan.

"Ayah sudah bilang, kamu itu perempuan! Jangan bertingkah kasar! Memangnya siapa yang ngajarin kamu bertingkah seperti tadi, Hah!" jengkel dijewernya telinga Diandra yang justru melotot marah padanya. "Ayo kita pulang!" ujar Sardi seraya menyeret tubuh kecil Diandra menuju rumah petak yang terletak tak jauh dari rumah Koh Ho Ming.

"Saya pulang dulu Koh! Maaf nanti kita lanjutkan permainan kita." pamitnya yang dijawab dengan anggukan kepala.

"Jangan lupa dengan apa yang ku katakan tadi, Sar!" serunya ditengah-tengah kekehan tawa.

Gadis kecil yang istimewa. Batinnya sambil membereskan papan catur yang baru berjalan setengah mainan itu.

***

Jelang jam tiga sore, Koh Ho Ming menggantikan tugas istrinya di toko kelontong miliknya yang berada di pinggir jalan raya depan gang rumahnya. Sepintas dilihatnya, Halimah sedang menata beberapa barang dagangan di dalam stockist sekaligus menulis pembukuannya. Halimah termasuk salah satu dari tuga orang pegawainya yang terpercaya.

Dibalik penampilannya yang sederhana, dia adalah orang yang cepat tanggap, rajin dan mudah untuk diajari. Ia juga memiliki sifat jujur dan setia. Hal itu yang membuat Koh Ho Ming mempercayakan beberapa tugas penting di toko yang menyangkut masalah keuangan, serta keluar masuknya barang dagangan.

Koh Ho Ming dan istrinya juga acapkali mempercayakan meja dan laci kasir padanya jika sewaktu-waktu ada keperluan mendadak yang harus mereka kerjakan. Dan setelah hampir empat tahun bekerja, tak sekalipun Halimah mengecewakan mereka.

Tapi, terhadap Sardi, suami Halimah, Koh Ho Ming agak kurang mempercayainya. Instingnya mengatakan ada suatu ganjalan baginya untuk mempercayai ketulusan Sardi pada keluarganya. Ia tau, ada suatu tujuan tertentu kenapa Sardi begitu bersemangat untuk mendekatinya.

"Masih banyak yang musti kau kerjakan, Limah?" tanyanya setelah menduduki kursi dibalik meja kasir tak jauh dari tempat Halimah melakukan tugasnya.

"Tinggal satu dus susu formula, Koh! Tadi pagi baru dikirim suplayer sementara yang di stockist sudah hampir habis. Harus segera dikeluarkan, daripada banyak pelanggan yang batal belanja. Produk ini banyak peminatnya." jawab Halimah tanpa menoleh karena sibuk menata serta mencatat jumlah barang yang dikeluarkannya dari gudang.

"Baiklah, lanjutkan saja. Kalau sudah selesai pulanglah dulu untuk menjemput Diandra!"

"Kenapa, Koh?"

"Sore ini sebaiknya Diandra kau bawa ke sini."

"Saya sebenarnya segan untuk membawa Diandra disini, Koh. Tingkahnya banyak sekali, saya takut dia bikin masalah. Nanti malah merepotkan."

"Aku akan mengawasinya selama kamu sibuk," kata Koh Ho Ming setengah memaksa.

"Sebaiknya biarkan Diandra di rumah dengan ayahnya. Biar saya lebih tenang bekerja." jawab Halimah sambil bangkit membereskan kardus kosong yang isinya sudah ia pindahkan ke stockist.

"Aku justru tak percaya suamimu bisa menjaga Diandra dengan benar!" sungut Koh Ho Ming sambil memeriksa pembukuan yang diserahkan Halimah.

"Memangnya kenapa Koh?"

"Sudahlah, pulanglah sebentar siapkan Diandra lalu ajak ke sini. Jangan lupa bawa tas sekolahnya, dia harus tetap mengerjakan tugas sekolahnya nanti!" perintah Koh Ho Ming dengan mandangan tajam tak ingin dibantah.

Akhirnya Halimahpun mengalah, segera ia meninggalkan toko tempatnya bekerja setelah berpamitan pada majikan serta rekan kerjanya.

Setiba di rumah kecilnya yang berjarak beberapa rumah dari rumah majikannya ia segera masuk untuk mencari keberadaan Diandra. Gadis kecil itu dilihatnya tengah duduk menyendiri di belakang rumah, wajah sedihnya bersimbah air mata yang mulai mengering. Sementara tangannya mengusap-usap pelan pahanya yang berbalut celana pendek warna biru.

"Ngapain disitu, Din?" sapanya dari pintu dapur yang terbuka.

"Bu? Ibu sudah pulang?" Gagapnya tak menyangka ibunya tiba-tiba sudah berada disampingnya.

"Kenapa kamu? Mana ayah?" Halimah buru-buru jongkok di sebelah anaknya setelah sekilas dilihatnya ada beberapa lebam keunguan di paha Diandra.

"Ayah, tidur dikamar." jawab Diandra masih sambil mengusap bekas cubitan ayahnya yang masih tergambar jelas di paha kurusnya itu.

"Mandilah, bersihkan dirimu lalu kamu ikut ibu ke toko. Jangan lupa bawa tas sekolahmu." perintah Halimah sebelum berlalu menuju kamar mendatangi suaminya yang tengah tidur.

Diandra mengangguk dan segera bangkit menuju kamar mandi. Sorot matanya terlihat mulai cerah.

"Mas..bangun!" diguncangnya pelan tubuh Suaminya yang hanya menjawab dengan geliat.

"Uuuhh ... Ngapain sih! Ganggu tidur orang aja?" Sungut Sardi sebal. "Jam berapa ini? Kamu kok sudah pulang?"

"Baru jam setengah empat. Aku jemput Diandra, mau aku bawa ke toko dia. Kenapa kau hajar dia mas?"

"Bandel banget anakmu itu! Bikin aku malu saja!"

"Kenapa lagi dia? Tadi bukannya Diandra kamu ajak main ke rumah Koh Ho Ming?"

"Iya ... lagi enak-enak main dia berantem, main pukul anak orang udah kaya preman pasar aja kelakuan anakmu itu. Kamu tuh gak becus ngawasin anak. Bisa-bisanya anak perempuan berantem main tonjok begitu.. Huh!!" omelnya.

Halimah hanya terdiam, sebenarnya jengkel juga dia mendengar tuduhan Sardi. Ia sadar, akhir-akhir ini Sardi jadi temperamental, gampang tersinggung jika ia membantah omongannya. Mungkin beban pikiran karena sudah cukup lama jadi pengangguran. Itulah sebabnya Halimah memilih diam saat suaminya ngomel-ngomel menyalahkannya.

"Ya sudah, biar Diandra ikut aku aja. Aku takut dia bikin kamu marah lagi. Kasihan dia kena hajar terus."

"Kamu yakin dia gak bikin repot dan nambahin kerjaanmu di toko? Dia itu kan anaknya gak bisa anteng. Aku juga heran, emangnya siapa yang dia tiru. Kita berdua tuh gak banyak tingkah, kok dia bisa gak keruan gitu tingkahnya." Sardi kembali memejamkan matanya.

"Nanti di toko biar kusuruh dia ngerjain PRnya jadi dia bakal sibuk, biar gak bertingkah!" jawab Halimah sambil siap-siap kembali ke toko tempatnya bekerja ketika dilihatnya Diandra sudah rapi berjalan keluar dari kamarnya sambil mencangklong tas sekolah.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku, Musuhku dan Para Pemburu
9.0
Dunia Jamie berubah drastis saat ia menginjak usia lima belas tahun. Gadis penakut ini tiba-tiba memiliki kekuatan supranatural untuk melihat makhluk gaib yang mengerikan. Di tengah kepanikannya, muncul Josh, seorang penyihir yang selalu mengganggu dan mencurigainya. Ke mana pun Jamie pergi, Josh selalu ada di sana. Namun, bahaya lebih besar mengintai mereka. Sosok misterius mulai memburu Josh dan mengawasi Jamie. Takdir apa yang sebenarnya mengikat mereka?
Sampul Novel Alice and The Blue Sea
8.6
Alice nyaris tewas terseret ombak sebelum diselamatkan oleh Archer, sosok pria misterius yang ternyata adalah seekor duyung jantan. Meskipun sempat tidak percaya, Alice akhirnya yakin setelah menyentuh langsung ekor Archer yang berotot. Pertemuan ajaib ini berujung pada sebuah permohonan bantuan dari Archer kepada Alice. Akankah kehidupan normal Alice berubah total setelah terlibat dalam takdir sang penghuni laut? Simak kisah fantasi romansa modern yang penuh keajaiban ini.
Sampul Novel Bertahan Hidup di Sebuah Pertunjukan
9.0
Jack Harper, pakar survival ternama, terjebak dalam mimpi buruk saat acara realitasnya berakhir tragis akibat ledakan misterius. Teruntai di pulau terpencil penuh reruntuhan kuno dan suku berbahaya, Jack harus memimpin sekelompok selebritas untuk bertahan hidup. Namun, ancaman terbesar muncul dari Mei Ling, kontestan yang ternyata pembunuh bayaran dengan dendam pribadi padanya. Di tengah konspirasi pulau dan pengkhianatan, Jack harus bertarung demi nyawa dan kebenaran.
Sampul Novel Danny Hatta
9.2
Saat memburu target di Swiss, Danny Hatta menemukan petunjuk krusial mengenai kematian ayahnya, seorang hakim tinggi. Penyelidikan itu justru menjebaknya dalam fitnah pembunuhan aparat dan mantan sekretaris sang ayah. Kini berstatus buronan, Danny harus melarikan diri bersama Sarah Hartono, jurnalis yang mengikuti jejaknya. Di tengah ketegangan yang mendebarkan, keduanya terlibat dalam petualangan berbahaya demi mengungkap kebenaran di balik konspirasi ini.
Sampul Novel Dewa Perang Terbaik
8.9
Daniel adalah sang Dewa Perang yang disegani. Dahulu, saat masa remaja yang sulit dan penuh kelaparan, seorang gadis kecil memberikan sekeping biskuit yang sangat berarti baginya. Kini, demi membalas budi atas kebaikan tersebut, Daniel memutuskan kembali ke kota asalnya. Ia bertekad melindungi sosok yang pernah menolongnya itu, yang sekarang telah tumbuh dewasa menjadi seorang wanita muda dengan paras yang sangat cantik jelita.
Sampul Novel KUNYIT DARI SARANJANA
8.2
Lawen, pemuda dari Suku Dayak Bakumpai, terjebak dalam masalah besar saat menjadi buronan di kota gaib Saranjana. Tanpa tahu kesalahan pastinya, ia diburu oleh Panglima tertinggi yang sangat berambisi menangkapnya. Situasi kian genting karena Raja Saranjana menggelar sayembara dengan imbalan fantastis: separuh wilayah kerajaan serta kesempatan menikahi sang putri bagi siapa saja yang berhasil meringkus Lawen. Kini, nyawa Lawen berada dalam ancaman besar.