APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Geger di Bhumi Manggala

Geger di Bhumi Manggala

Suara tangis Tadah Asih memecah kesunyian di bawah langit Kilen yang semerah darah. Seorang petapa waskita menangkap pertanda buruk tentang masa kelam yang akan melanda Bhumi Manggala. Di sisi lain, sebuah kerajaan berduka atas gugurnya sosok bangsawan mulia hingga memicu aksi bela pati para prajuritnya. Di tengah kekacauan itu, seorang pemuda berdiri tegak dengan amarah membara. Ia melangkah pergi membawa dendam membara saat dunia di sekitarnya mulai runtuh.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Bocah tengik, beraninya kau mengabaikanku. Kau tidak tahu siapa aku, HAH!?” Laki-laki yang terlihat lebih tua dari kedua kawannya terdengar berteriak kepada Batara yang nampak bersikap seolah tidak ada siapa-siapa di hadapannya.

Sementara itu, para pengunjung sudah mulai merasa cemas. Mereka yang penakut bahkan ada yang mempercepat makan mereka. Kemudian membayar dengan tergesa-gesa dan meninggalkan penginapan secepatnya.

Bondan sendiri, nampak berdiri dengan kedua lutut hampir gemetaran. Dalam hati ia bergeremang dan mengutuk Ki Sabrang yang memang suka berbuat seenaknya. Seolah-olah, Kademangan Mandura ini dia yang punya dan berkuasa.

Sedangkan Batara yang tengah berhadapan langsung dengan ketiganya nampak menyipitkan mata, ia betul-betul tidak ingin meladeni ketiga pengunjung yang tidak tahu diri itu.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

“Lima kepeng.”

“Apa maksudmu?”

“Jika kisanak ingin berbicara dengan saya. Itu artinya kisanak bersedia membayar waktu saya yang seharusnya saya gunakan untuk bekerja.”

“Setan!!” Seketika laki-laki itu kemarahannya langsung meledak.

Brakkk!!

Satu buah meja yang tidak bersalah telah hancur dengan sekali hantaman tangannya yang kekar. Menandakan kalau laki-laki itu memiliki tenaga cadangan yang luar biasa. Tetapi bukannya gentar, Batara malah kembali berkata dengan nada penuh penekanan.

“Meja ini terbuat dari kayu mahoni terbaik. Kisanak, kau harus menggantinya seharga empat kepeng perak.”

“Gila!! Ringkus dia!!” Teriak laki-laki itu pada kedua kawannya.

“Hhh ... anak-anak muda. Kalian memang memiliki semangat yang menggebu-gebu. Tapi tidakkah kalian menyadari bahwa kehadiran kalian mengurangi selera kami yang tengah mengisi perut kami yang minta jatah ini.” Laki-laki tua yang baru saja memesan sebuah kamar tampak mengusap-usap perutnya.

“Diamlah kau kakek tua. Jangan sampai kami memperpendek umurmu yang tinggal sepenginang itu!!”

Laki-laki tua itu terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Setelah meneguk minuman teh hangatnya iapun berdiri. “Anak-anak muda. Kalian telah melanggar satu pelajaran hidup yang harus selalu kalian ingat sepanjang hayat kalian. ‘Selalu bersikap santun kepada orang tua dan jangan sesekali berani menengadahkan kepalamu dengan deksura’. Nah, jangan salahkan aku, bila aku harus menghukum kalian.”

“Gha ha ha ha. He, orang tua. Dengan tubuh ringkihmu itu kau bilang ingin menghukum kami. Gha ha ha ha.”

Wusshhh!!

Disaat ketiga orang itu masih tertawa bergelak. Maka, tamparan angin yang sangat kuat tiba-tiba saja telah menerpa ketiganya dan melemparkan mereka dengan keras. Dua dari mereka menimpa meja dan dinglik kayu hingga roboh. Seorang lagi membentur tiang penginapan dan langsung terjatuh lunglai, mengernyit merasakan nyeri di punggungnya.

Batara menghela nafas pelan. Ia sama sekali tidak tergetar melihat apa yang dilakukan laki-laki tua itu. Dengan sekali lambaian tangannya, ketiga laki-lagi garang itu telah terlempar seperti tidak berbobot dan kemudian bergelimpangan di lantai penginapan. Sedangkan para pengunjung justru menjadi takjub dengan ilmu kanuragan laki-laki tua itu yang menurut mereka terlihat ringkih dan kasihan. Tetapi ternyata memiliki ilmu jaya kasantikan.

Laki-laki tua itu tersenyum puas, namun sepertinya ia tidak berniat untuk memperpanjang masalah. Karena niatnya, cuma ingin memberi pelajaran dan membuat ketiga orang itu beranjak pergi dari penginapan.

Namun, ketiga orang berwajah garang itu ternyata belum menjadi jera. Ketika mereka dapat kembali berdiri dengan tatag, maka serempak menyerang laki-laki tua itu.

“Mati kau setan tua!!” Laki-laki yang paling tua menjulurkan tangannya yang terkepal kearah kepala laki-laki tua. Namun …

Set!

Laki-laki tua yang kembali duduk di dingklik kayu hanya menarik wajahnya kebelakang dan menangkap pergelangan tangan itu. Lalu dengan entengnya, maka tubuh tinggi besar itu telah melayang kemudian menimpa meja yang kosong. Dan kembali meja yang tidak bersalah itu ambruk. Membuat Batara mengusap wajahnya dengan pasrah, karena kerugian di dalam penginapan itu telah bertambah.

Sementara para pengunjung dan Bondan tampak menepi ke dekat dinding. Meskipun sebetulnya merasa takut, mereka juga menjadi penasaran dengan sepak terjang kakek tua tapi memiliki kesaktian itu.

Melihat gegedug mereka sudah tak berdaya, kedua laki-laki garang yang tersisa tidak lantas menyerah. Dengan teriakan nyaring dan mulut agak terbuka, mereka menyerbu laki-laki tua itu bersamaan. Kali ini laki-laki tua itu tidak menunggu keduanya mendekat, ia melemparkan tulang ayam tepat ke dahi keduanya.

Set! Set!

Pletak! Pletak!

“Aduhh ....!!”

“Alaaaahhh !!”

Meskipun keduanya terlempar keras ke belakang, untunglah tidak ada meja di sana. Sehingga keduanya telah terjungkal dan bergulingan beberapa kali di lantai penginapan.

“Ampun kek, ampun .... Ka-kami menyerah!!” ucap ketiga orang itu sembari bersujud-sujud dihadapan laki-laki tua yang kini telah berdiri dengan tatapan setajam elang mengawasi mangsanya.

“Kenapa masih juga belum pergi?”

“Ba-baik, kek. Kami pergi ....”

Ketiganya berdiri saling memapah dan segera meninggalkan penginapan.

“Hei ... tunggu ...!!” seru Batara yang hendak menahan ketiganya. Namun langkahnya terhenti oleh seruan laki-laki tua yang telah membuat keramaian di dalam penginapan.

“Biarkan saja anakmas. Mereka pasti sudah kapok.”

“Mereka belum membayar semua kerusakan yang mereka timbulkan.” Batara memperlihatkan empat buah meja dan dua buah dingklik yang telah pecah berantakkan, “semuanya bernilai 22 kepeng perak.” ucapnya lagi sembari memungut potongan salah satu kaki meja.

“Nilai 22 kepeng perak tidak sebanding dengan keselamatan bahkan nyawa orang-orang disini.”

“Baik. Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang membayar semua kerugian ini.”

Seketika wajah laki-laki tua itu menjadi merah, ia berbicara dengan nada hampir tidak percaya. “Yang benar saja. Aku telah mengusir orang-orang tidak tahu diri itu. Aku telah menyelamatkan kalian dari keadaan yang buruk.”

Brasshhh!!

Potongan kayu di tangan Batara seketika lebur menjadi abu. “Memangnya siapa yang perlu di selamatkan. Kalau saja kisanak tidak pamer ilmu kanuragan, maka orang-orang itu sudah aku remukkan seperti kayu ini.”

Laki-laki tua itu melebarkan matanya. “Kau ternyata pandai ilmu kanuragan?”

Batara mengulurkan tangannya seperti meminta. “22 kepeng perak. Berikan.”

“Anakmas. Kau ini betul-betul tidak memiliki hati nurani.” ucap laki-laki tua itu sembari mengeluarkan kampil di balik pakaiannya dan mengambil beberapa keping uang di dalamnya.

Batara nampak tidak peduli, tatapannya masih menuntut ganti rugi pada laki-laki tua itu. Namun ia langsung terkejut ketika menerima uang yang jumlahnya tidak sesuai dengan apa yang dia minta.

Laki-laki tua itu terkekeh dan langsung berlari menuju halaman penginapan. Seperti seekor burung sikatan, tubuhnya lalu melayang deras menuju ke arah hutan di pinggir Kademangan.

“Aku tidak jadi menginap disini!!” Teriaknya di kejauhan.

“Setan Tua. Kau jangan lari!!” Teriak Batara pula. Ia langsung mengejar laki-laki tua itu.

“Eh Batara!!” seru Bondan. Tetapi ia terlambat mengejar Batara yang tubuhnya juga melayang seperti laki-laki tua yang di kejarnya. Matanya melebar mulutnya terbuka. Tidak menduga bahwa pemuda itu ternyata seorang yang juga memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.

Tepat saat itu, seorang gadis belasan tahun berlari-lari kearah Bondan. Nafasnya menderu dadanya turun naik. “Bondan, baru saja aku melihat Batara mengejar seorang laki-laki tua. Mereka seperti ... terbang ...?”

Melihat gadis muda itu, wajah Bondan seketika menjadi merah, jantungnya berdegupan kencang. Bertemu muka dengan gadis idaman sejak ia masih kanak-kanak, membuatnya tidak karuan rasanya. Tetapi sayangnya, jarak diantara dirinya dan gadis idamannya itu seperti langit dan bumi. Dirinya hanya sebatas pemuda biasa yang hanya mampu mencukupi kebutuhan hidupnya dengan serba keterbatasan. Sedangkan gadis idamannya adalah seorang putri tunggal Demang Mandura yang hidupnya serba bergelimang harta.

“Bondan ... Kau ini dengar atau tidak?”

“I-iya, Gandini. Maaf, tadi itu memang Batara.”

“Sejak kapan Batara memiliki ilmu kanuragan?”

“Sejak ... aku tidak tahu. Mungkin saja Batara memang memiliki ilmu kanuragan selama ini. Tapi, dia tidak pernah memamerkannya.”

Gandini, nama gadis anak tunggal Demang Mandura itu tersenyum kecil. “Memang semakin membuat penasaran saja pemuda tampan itu.”

Sementara itu, Batara masih mengejar laki-laki tua itu yang berlari secepat angin, bergerak secepat kilat. Bahkan, kadangkala ia melayang seperti burung kalangkyang. Demikian pula dengan Batara yang terus meneriakinya "Setan Tua". Pemuda belasan tahun itu ternyata mampu menyamai kecepatan gerak laki-laki tua yang tengah di kejarnya.

“He he he. Tidak kusangka, pemuda belasan tahun itu memiliki Aji Napak Mega yang sudah memasuki tingkatan yang tinggi.” kekeh laki-laki tua itu. “Nah, aku akan mempergunakan Aji Sepi Angin. Sekarang, apakah kau masih mampu mengejarku, Setan Kecil.”

Batara terkejut ketika melihat tubuh laki-laki tua itu melesat bagai bayangan dan tiba-tiba saja telah meninggalkannya jauh di belakang.

“Setan Tua. Tunggu!!” teriak Batara dengan geramnya.

“Kalau kau mampu mengejarku. Bukan saja 22 kepeng perak. Lebih dari itupun akan aku berikan. Nah, kejarlah ...!!!” seru laki-laki tua itu di kejauhan.

“Dasar Setan Tua Gila!!”

Hanya terdengar suara tawa terkekeh di kejauhan sana. Sehingga membuat Batara semakin geram di buatnya. Namun pemuda belasan tahun itu terus saja bergerak maju tanpa henti. Dan tanpa di sadarinya, ia telah mendekati pinggiran hutan yang sangat lebat. Ketika ia semakin masuk kedalam hutan itu, tiba-tiba saja tubuhnya seperti di telan rimbunnya dedaunan. Di siang buta saat matahari hampir tepat diatas kepala. Tubuh Batara, telah menghilang begitu saja dari pandangan mata.

•••••

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dosa Terindah Bersama Kakak Ipar (Cinta Yang Semu)
8.2
Queenza Mikayla Anya terjebak dalam pernikahan balas budi yang menghancurkan keceriaannya. Setiap hari ia harus menanggung luka fisik dan mental akibat kekerasan yang ia alami. Di tengah penderitaan tersebut, sebuah insiden tak terduga membawanya bermalam dengan sang kakak ipar. Benih cinta mulai tumbuh di antara mereka, memicu dilema besar bagi Queenza. Akankah ia tetap bertahan di pernikahan beracun ini atau memilih berpaling pada kakak iparnya yang selalu ada?
Sampul Novel Husband billionare
8.3
Arkhana Jason, bos besar Grup Jason, hilang ingatan usai upaya pembunuhan oleh pamannya, Wira. Ia diselamatkan Nina di desa dan mereka pun menikah. Saat ingatannya pulih, Arkha menyamar demi membongkar kejahatan Wira, termasuk nasib orang tuanya. Setelah membalas dendam dan bersatu kembali dengan keluarganya, Arkha mendapati rumah Nina hancur akibat ulah istri Wira. Ia segera menyelamatkan Nina, mengungkap identitas aslinya sebagai miliarder, lalu memboyong mereka ke kota.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 2
8.1
Permana Brata, putra Prabasari dan Baron Smith, memulai misi baru mencari sang ayah. Berbekal pusaka Pedang Kebenaran Sejati serta teknik Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dari Ki Sasmaya, ia menghadapi kerasnya dunia persilatan. Meski lahir dari hubungan gelap, tekadnya tak tergoyahkan. Segala rintangan dan musuh yang menghadang diterjang demi menuntaskan pencariannya. Sebuah petualangan penuh aksi dalam membuktikan keteguhan hati di tengah pahitnya konflik.
Sampul Novel Pendewaan
8.8
Zen Luo, seorang bangsawan yang jatuh kasta, kini terhina sebagai budak sekaligus sasaran latihan fisik sepupunya. Namun, sebuah kecelakaan mengubah tubuhnya menjadi senjata mistis yang tak terpatahkan. Di tengah kekacauan dunia akibat persaingan antar klan, Zen bangkit membawa misi balas dendam dan ambisi besar. Dengan fisik sekuat pusaka, ia menantang para pendekar kuat demi meraih keabadian. Mampukah ia menaklukkan takdir dan menjadi legenda?
Sampul Novel Pengorbanan Cinta Sang Letnan
9.6
Rey dan Alex adalah dua prajurit elit Kopassus dengan latar belakang intelijen yang telah bersahabat sejak kecil. Ikatan persaudaraan mereka diuji saat keduanya menyadari bahwa mereka mencintai gadis yang sama. Di tengah dedikasi tinggi dan pengorbanan besar demi negara, konflik batin pun muncul. Takdir memaksa mereka memilih antara kesetiaan pada tugas atau perasaan pribadi. Siapakah yang akan bertahan demi cinta, ataukah persahabatan mereka yang jadi taruhannya?
Sampul Novel SALAH DIDIKAN: TERJERAT LEMBAH KELAM
9.7
Jihan Diajeng terjerumus ke dunia gelap akibat kehancuran rumah tangga orang tuanya. Tumbuh dalam kekerasan, ia bertransformasi menjadi sosok penipu dan pencuri yang sangat licik. Jihan memanfaatkan paras cantiknya untuk memikat banyak pria, lalu menguras seluruh harta mereka tanpa ampun. Di tengah kemelut dosa tersebut, akankah Jihan menemukan jalan untuk berubah, atau justru ia harus menghadapi karma pahit atas segala kejahatan yang telah ia lakukan?