APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gendutnya Istriku

Gendutnya Istriku

Pasca menikah dengan Arman, Izzah merasa tertekan karena komentar miring mengenai berat badannya. Meski ia bertekad diet, Arman justru menghalangi demi menjaga kehamilan Izzah yang baru terdeteksi. Sebagai mantan nakes dengan dua anak, Izzah merasa tak perlu hamil lagi, namun bagi Arman yang sempat dituduh mandul, janin ini adalah bukti kejantanannya. Konflik ego pun memuncak antara keinginan Izzah untuk kurus dan ambisi Arman memiliki keturunan.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Kahlil!” Aku berseru pada sesosok kepala yang menyembul di jendela ruang tengah.

Dia tertawa terbahak-bahak. “Aku bertamu tapi tak kunjung dibukakan pintu. Jadi, ya, aku mau lewat belakang. Eh, ternyata kalian di sini lagi peluk-pelukan.”

“Ya, sudah, ayo ke depan!”

Kahlil beringsut dari jendela. Aku menemuinya di teras, menyilakannya masuk, lalu kami berbincang-bincang di ruang tamu. Sebenarnya, aku dan istriku sudah bertemu Kahlil tadi pagi.

Seperti biasanya, aku libur bekerja di Hari Ahad. Izzah, istriku, kuajak bersepeda bersama sejak pagi buta. Dia menyetujuinya. Kami kemudian menyusuri jalan-jalan protokol Kota Semarang yang masih lengang. Kami santai saja mengayuh sepeda bersisian. Beberapa kali pesepeda lain menyalip kami berdua.

“Hai, Arman!” Salah satu pesepeda melambaikan tangan padaku. Aku mengenalinya sebagai salah satu teman sekolahku di SMP-SMA dulu.

“Hai, Kahlil!” Aku membalas lambaian tangannya.

Dia melambatkan laju sepedanya dan menyamai kecepatanku. “Itu Izzah? Istri barumu?”

“Iya.”

“Tambah gendut, ya.”

“Sehat, tahu! Daripada penyakitan.” Aku meninju bahunya pelan.

Dia tertawa sambil menyeimbangkan sepedanya yang sempat oleng. “Ya, sudah. Aku duluan, ya!”

“Ya!”

Kahlil kembali memacu kecepatan untuk menyusul teman-teman anggota klubnya yang berada jauh di depan. Sekejap kemudian, Kahlil dan teman-temannya sudah tak terlihat.

“Dasar teman tak ada akhlaq! Baru ketemu langsung body shamming.” Izzah menggerutu. “Untunglah aku lagi baik hati. Kalau tidak, sudah kutuntut ke pengadilan dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan!”

Aku tertawa. Bagiku, kata-kata dan mukanya yang ditekuk-tekuk itu sangat lucu. Izzah malah menatap tajam padaku.

“Kok tertawa sih, Mas? Nanti kita mampir toko alkes kalau pulang, ya. Aku mau beli timbangan.”

Aku langsung menghentikan tawaku. Ternyata candaan temanku tadi dianggapnya serius. Oleh karena itu, sepulangnya kami bersepeda, kami benar-benar mampir ke toko alat kesehatan (alkes) untuk membeli timbangan.

Ada berbagai macam timbangan di toko alkes itu. Aku memilihkan timbangan digital untuknya. Timbangan ini memiliki tingkat ketelitian 0,1 bahkan bisa menghitung persentase lemak. Namun, Izzah menjatuhkan pilihan pada timbangan jarum yang biasa-biasa saja.

“Ini saja, Mas. Harganya lebih murah,” katanya.

Aku mengiyakan saja keputusannya. Toh semua itu dibayar dengan kartu debit yang sudah kuserahkan padanya. Ya, dia memegang kartu debit yang berisi semua uangku. Sebulan sekali kartu itu kuminta kembali untuk mencetak semua transaksinya di buku tabungan dan mengambil jatah bulananku sebesar dua juta rupiah. Selebihnya, kuserahkan semua pada Izzah.

Kami kemudian pulang setelah membeli timbangan. Benda itu diletakkan Izzah di ruang tengah. Kami kemudian memasak berdua karena anak-anak sedang di rumah kakeknya. Setelah makan siang, aku bermaksud tidur siang. Tiba-tiba saja istriku berteriak kencang dan membuatku terbangun seketika.

Sekarang, Kahlil malah datang. Aku benar-benar tak bisa lagi tidur siang. Izzah kemudian membawa dua cangkir kopi di atas nampan. Setelah memberikan kopi ke kami, Izzah masuk ke dalam rumah lagi.

Baru saja Izzah sampai di pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah, Kahlil berkata, "Kamu tahu, Man? Kalian tadi seperti angka sepuluh saat saling memeluk. Kamu tinggi tegap seperti angka satu sedangkan istrimu pendek dan bulat seperti angka nol.”

“Angka sepuluh? Hahahahaha!” Aku tertawa mendengar leluconnya. Temanku ini memang suka bercanda.

Debum!

Tiba-tiba terdengar pintu kamar dibanting keras-keras. Kahlil sampai terlonjak dari sofa yang didudukinya. Aku dan Kahlil berpandang-pandangan. Sepertinya Izzah marah karena lelucon angka sepuluh terdengar olehnya.

Kahlil kemudian mengambil undangan dari tas kecil yang dibawanya. Dia memberikannya padaku. Aku meraihnya dan mulai membaca. Rupanya Kahlil hendak mengundangku ke acara perayaan pernikahan peraknya.

“Datang, ya. Kalau tidak, akan kuteror.” Kahlil tersenyum lalu menyeruput kopinya.

Kahlil hanya bertamu sebentar. Setelah dia pulang, aku bermaksud kembali tidur siang. Sesampainya di pintu kamar, sayup-sayup suara Izzah terdengar.

“Mark, bagaimana perasaanmu kalau jadi aku? Dia sama sekali tidak membelaku dan membiarkan temannya itu menghinaku, Mark!” Izzah menangis tersedu-sedu. “Berani-beraninya dia menyebut kami angka sepuluh! Suamiku seperti angka satu yang tinggi tegap sedangkan aku seperti angka nol yang pendek dan bulat! Kurang ajar, kan, Mark?”

Sebentar.

Apakah aku tak salah dengar?

Izzah curhat ke lelaki lain?

“Mark, aku kangen kamu! Huwwaa...!” Tangis Izzah terdengar lebay dan manja.

Aku mendadak terpancing emosi. Hasratku untuk melabrak Si Mark tak terkendali. Aku mendorong pintu kamar tapi dikunci.

“Buka pintunya, Zah!” Aku menggedor keras-keras.

“Mau apa?” Dia malah balik bertanya.

Kurang ajar perempuan ini. Sudah tahu aku tidak suka dibantah tapi sengaja melawan perintah yang kuberikan. Dia harus diberi pelajaran. Aku pun mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintunya.

“Satu … dua … tiga!” Aku mengerahkan segenap tenaga.

Mendadak pintunya terbuka.

“Argh!” Aku melesat masuk ke dalam kamar, menabrak pinggiran ranjang, dan terjungkal.

Aku menghantam tembok dengan keras. Lengan kiriku terasa perih dan panas. Izzah mendekat dengan wajah pias.

“Ka-kamu tak apa-apa, Mas?”

“Menurutmu?” Aku geram sekali.

“Emmm, menurutku apa-apa, sih.” Izzah garuk-garuk kepala. “Sebentar, aku ambilkan obat anti memar.”

Aku memegang erat lengan kiri sambil menahan nyerinya. Namun, ini belum seberapa dibanding nyeri di dalam jiwa. Harga diriku sebagai lelaki dan sebagai suami terinjak-injak manakala istriku curhat pada Si Mark.

Izzah datang membawa krim trombo-trombo di tangan. Dia mengoleskannya di lengan kiriku hingga merata. Aku masih merasa geram padanya.

“Istirahat dulu, Mas, biar krim obatnya bekerja.” Izzah tersenyum manis setelah mengoles krimnya.

Pandai sekali dia bersandiwara, benar-benar seperti artis. Aku membalasnya dengan seyum meringis. Sebenarnya nyeri-nyeri ini hampir membuatku menangis. Namun, aku tahan-tahan demi menjaga harga diri sebagai seorang lelaki dan suami.

“Zah!” Aku memanggil ketika dia akan pergi. “Sini HP-mu!”

Dia melongo. “Buat apa, Mas?”

“Sini! Cepat!”

Izzah menarik napas panjang. “Baterai HP-ku hampir habis, Mas.”

Aku merasa geram dengan tingkah lakunya. Makin lama dia makin kurang ajar dan suka membantah. “Kamu tidak berani ngasih HP-mu karena baru saja menelepon lelaki lain bernama Mark, iya kan? Kamu curhat apa saja dengannya? Kalian sudah selingkuh berapa lama?”

Izzah terperangah. “Astagfirullah. Kamu menuduhku selingkuh, Mas?”

Izzah mengelus dadanya. Sok suci sekali dia. Aku semakin muak.

“Selingkuh itu zina, Mas. Tuduhan zina kepada istri oleh suaminya meski tanpa saksi dan bukti itu disebut talak li’an. Hati-hati lho Mas kalau bicara. Aku tak pernah curhat ke laki-laki. Apalagi selingkuh seperti tuduhanmu tadi. Yang kutelepon itu perempuan yang menjadi sahabatku sejak kecil. Nih, aku telepon dia lagi, nanti kamu bicaralah sendiri.”

Izzah menyodorkan HP-nya padaku. Layarnya menunjukkan panggilan video ke Markonah. Ternyata licik sekali dia, menulis nama laki-laki dengan nama perempuan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Pengantin Buta
9.4
Pramudya dan Mentari resmi menjadi suami istri setelah saksi mengucap kata sah. Dalam kegelapan karena kebutaannya, Mentari meraba sekitar untuk mencari tangan suaminya. Pramudya yang peka segera menyambut jemari Mentari dan membimbingnya. Dengan penuh takzim, Mentari mencium punggung tangan Pramudya. Sang suami pun mengecup kening istrinya sembari merapalkan doa tulus. Akankah pernikahan sebagai pengantin pengganti ini membawa kebahagiaan bagi mereka?
Sampul Novel Cinta yang dinantikan
9.2
Hidup Anggun Nirmala hancur saat sang ayah menjadikannya jaminan untuk melunasi hutang. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya dari nasib buruk. Merasa berhutang budi, Anggun bersumpah akan melakukan apa pun demi membalas kebaikan penyelamat yang tak ia kenal itu. Namun, komitmen tersebut langsung diuji saat sang pria mengajukan satu permintaan tak terduga yang membuat Anggun terdiam seribu bahasa. Akankah ia sanggup memenuhinya?
Sampul Novel December to January
7.9
Mengapa sebuah perpisahan menyakitkan yang terjadi pada bulan Desember mampu meninggalkan jejak yang begitu mendalam? Saat kalender berganti menuju Januari, bayang-bayang masa lalu itu tetap bertahan dan memberikan dampak besar yang mengubah seluruh tatanan hidup. Kisah ini menelusuri bagaimana duka dan kenangan dari akhir tahun terus menghantui setiap langkah di awal yang baru, menciptakan dilema emosional yang sulit untuk dilepaskan begitu saja.
Sampul Novel Nabrak Jodoh
9.8
Dunia Radit hancur saat memergoki pengkhianatan istrinya tepat di hari jadi pernikahan mereka. Dalam kalutnya amarah, ia tak sengaja menabrak wanita hamil hingga harus membawanya ke rumah sakit. Namun, kejutan besar menanti saat pihak medis menghubunginya untuk menjemput bayi yang diklaim sebagai anaknya. Radit yang baru resmi bercerai dan tak memiliki keturunan pun bingung. Siapakah sebenarnya wanita serta bayi misterius yang kini dikaitkan dengan identitasnya?
Sampul Novel Obsesi stalker gilaku
8.8
Dulu dihina dan ditolak mentah-mentah, kini seorang pria misterius kembali untuk mengklaim Arabella Carol. Bertahun-tahun Arabella diawasi secara rahasia hingga akhirnya ia terjebak dalam obsesi dan dendam kelam dari masa lalu. Di tengah dunia gelap yang penuh rahasia, mampukah ia bertahan hidup? Ataukah Arabella justru akan menyerahkan hatinya pada sosok yang seharusnya ia benci? Sebuah kisah penuh ketegangan antara benci dan cinta yang berbahaya.
Sampul Novel PERFECT PARTNER
8.4
Amanda Altakendra adalah arsitek cantik yang keras kepala dan sangat egois. Trauma cinta masa lalu membuatnya membangun benteng emosional yang sulit ditembus. Namun, sebuah pertemuan di klub malam mengubah segalanya saat ia bertemu Darko Dio Archelaus, triliuner dingin pemilik Archelaus Corp. Darko yang terobsesi mulai melakukan segala cara demi menjadikan Amanda pasangan hidupnya. Mampukah Darko meluluhkan hati kaku Amanda dan membantunya lepas dari bayang-bayang masa lalu?