APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Godaan Desah Majikan

Godaan Desah Majikan

Kisah romansa modern ini menyajikan narasi provokatif yang secara spesifik ditujukan bagi pembaca dengan pengalaman masa lalu dalam pengkhianatan cinta. Melalui alur yang emosional, cerita ini menggali sisi gelap hubungan antara majikan dan bawahan, di mana godaan terlarang menjadi pusat konflik utama. Sebuah bacaan dewasa yang mengeksplorasi konsekuensi perselingkuhan serta dinamika hasrat yang sulit dikendalikan di tengah komitmen yang seharusnya dijaga.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Rin… dengerin aku dulu,” suaranya tegas, mencoba menahan langkahku.

Aku menatap Faldo yang tiba-tiba muncul di pangkalan ojek dengan motor maticnya. Wajahnya setengah serius, setengah memelas. Dia langusung mndatangi dan menggengam erat tanganku,

“Lepasin! Aku gak mau dengerin apapun darimu, Faldo! Dasar cowok sok kegantengan!” hardikku sambil menepiskan kasar tangannya.

Belum sempat dia bicara lagi, Merlin yang kebetulan sedang menunggu di sebelahku langsung berdiri. Wajahnya merah padam.

“Eh, lu mau apa sih, Faldo? Ngapain ganggu Erina?!” suaranya menembus keramaian.

Faldo berusaha tenang. “Aku cuma mau jelasin—”

“Jelasin?! Dasar pengecut! Jangan deketin dia lagi!” Merlin maju, matanya menyala. Aku tahu sahabatku ini tidak akan main-main kalau marah.

Suasana makin panas. Beberapa tukang ojek buru-buru menengahi, menahan Merlin agar tidak benar-benar melayangkan tinju. Faldo mundur beberapa langkah, wajahnya merah menahan malu.

“Oke… aku pergi dulu. Tapi nanti kita ngobrol baik-baik,” katanya singkat sebelum akhirnya pergi.

Aku masih gemetar. Merlin menghela napas kasar, lalu menatapku tajam.

“Erina! Gue udah bilang berkali-kali! Jangan pernah deket-deket sama cowok brengsek itu lagi!”

Aku terdiam. Kata-katanya pedih, tapi aku tahu ia benar.

“Lu cantik, pintar, punya masa depan. Ngapain lu pertahankan cowok kayak dia?” lanjutnya, suaranya meninggi tapi juga bergetar karena marah sekaligus sayang.

Aku hanya bisa menunduk. Hati kecilku masih sulit menerima semuanya.

Dua hari kemudian, di kampus, suasana tampak biasa saja. Namun dari halaman, aku melihat Faldo berdiri dengan almamater kampusnya, tampak ragu tapi jelas ingin menemuiku.

Seketika Merlin muncul di sampingku. “Rin, jangan konyol. Jangan termakan rayuan buaya kayak dia.”

Aku hendak menjawab, tapi Faldo sudah lebih dulu bicara.

“Rin, boleh kita ngobrol sebentar? Aku cuma mau minta maaf. Serius.”

Aku diam. Sebenarnya aku ingin bilang sudah memaafkannya, tapi Merlin melangkah maju, tubuhnya jadi penghalang.

“Udah, Faldo. Jangan harap bisa deket lagi sama Erina. Janji lu nggak ada artinya.”

Faldo menunduk sebentar, lalu mencoba lagi. “Aku ngerti, Lin… tapi kali ini aku sungguh-sungguh. Aku janji nggak bakal nyakitin dia lagi.”

Merlin mendengus. “Janji nggak cukup. Gue nggak akan biarin Erina disakitin lagi.”

Aku hanya menunduk, hatiku campur aduk. Antara lega, marah, tapi juga masih menyisakan cinta yang susah kuakui. Faldo akhirnya menyerah, mundur dengan langkah berat.

Sore harinya, sepulang kuliah, aku dan Merlin berjalan menuju pangkalan ojek. Tiba-tiba, dari arah gang kecil, Faldo muncul lagi. Senyumnya canggung.

“Rin… aku cuma mau minta maaf. Bisa nggak kita ngobrol sebentar?”

Merlin langsung melotot. “Ngapain lu muncul lagi? Gue udah bilang jangan deket-deket dia!”

Aku menarik napas dalam-dalam. Kali ini aku merasa harus bicara langsung.

“Lin, biar aku yang ngobrol sebentar. Kamu tunggu aja di situ.”

Akhirnya aku dan Faldo duduk di bangku pinggir jalan, sementara Merlin mengawasi dari jarak beberapa meter.

“Fal,” ucapku pelan, “aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. Tapi itu nggak berarti aku mau mengulang lagi. Kita harus sudahi, baik-baik.”

Faldo terdiam, wajahnya menegang. “Tapi aku masih sayang sama kamu, Rin. Aku bisa berubah…”

Aku menggeleng, menahan air mata. “Bukan soal itu. Aku nggak mau terus saling menyakiti. Keputusan ini bulat. Aku ingin kita selesai tanpa dendam.”

Ia menunduk lama, lalu menghela napas berat. “Kalau itu pilihanmu… aku terima. Tapi aku tahu kamu masih cinta sama aku.”

Aku tersenyum tipis. “Mungkin iya. Tapi cinta bukan alasan untuk bertahan di hubungan yang bikin sakit. Aku harus belajar jaga diriku sendiri.”

Faldo akhirnya berdiri, menatapku sebentar, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Aku sudah capek. Dia terlalu baik pada semua orang, sementara aku terlalu gampang cemburu. Lima kali kami bertengkar, lima kali aku terluka. Hubungan ini lebih banyak melelahkan daripada membahagiakan.

Akhirnya aku sadar: memaafkan bisa, tapi nggak harus kembali. Kadang cinta harus diakhiri demi diri sendiri. Kalau jodoh, pasti dipertemukan lagi. Kalau pun bukan, aku siap belajar melepaskannya.

Sekarang hidupku lebih tenang. Masih sering keingat, iya. Tapi setiap kali bayangannya datang, aku mengingatkan diriku sendiri: cinta bukan alasan bertahan dalam hubungan yang menyakitkan. Merlin malah sudah mulai sibuk menjodohkan aku dengan Fajar.

“Aku tuh penasaran, Rin,” Fajar nyender ke kursi kantin, gelas es teh masih berembun di tangannya. “Kamu kan rumahnya jauh, ya? Asli mana sih sebenarnya?”

Aku senyum tipis. “Asli sini hanya di kampungnya, Jar. Dua puluh kiloan lah dari sini. Tiap hari bolak-balik naik angkot. Kadang pulang sambung ojek pangkalan, kadang ojek online.”

“Wih, pejuang transportasi banget,” Fajar ketawa. “Terus kampungmu lengkap nggak tuh? Ada mall gitu?”

Aku geleng cepat sambil nutup mulut geli. “Halah, nggak ada. Kalau mau ke mall harus ke kota. Tapi lumayan lengkap lah. Nggak ndeso-ndeso banget juga.”

“Hmm, pantes kamu jarang nongol kalau anak-anak ngajak jalan ke mall.” Dia pura-pura menatapku curiga.

Aku nyengir. “Emang iya, aku bukan tipe yang doyan mall. Malu ngemol rumah ku aja biasa aja, sederhana. Tapi nyaman karena kami sekeluarga kompak rawat. Jadi kelihatan asri.”

Fajar ngangguk, ekspresinya kayak lagi nyimak podcast. Dia lanjut, “Aku juga sering liat kamu sibuk di acara seni. Padahal jurusan kita kan bisnis. Kok bisa nyasar ke situ?”

Aku ketawa lagi. “Ya emang suka dari dulu. Dunia seni tuh seru, bikin hidup nggak kering. Jadi ya udah, sekalian ikut aja.”

“Ah, pantesan,” Fajar senyum. “Aku pikir kamu cari spotlight.”

Aku melotot kecil. “Dasar! Aku bukan Merlin yang suka narsis.”

Dia ketawa makin keras. “Kalau di rumah, kamu ngapain aja si, Rin?”

“Ya… mostly jadi emak buat adik-adikku. Erwan kelas satu SMA, Enda kelas enam SD. Kalau ayah di sawah, ibu di pasar, ya aku jadi emak mereka.”

“Berat tuh jadi anak sulung.”

“Udah biasa, Jar. Kadang juga bantu ngantar makanan buat ayah di sawah, ikut panen juga. Tapi kalau ikut ibu jualan kue ke pasar, aku males.”

“Kenapa?”

“Risi, banyak cowok iseng. Nggak banget.”

Fajar senyum tipis, kayak ngerti.

Aku balik nanya, “Kalau kamu sendiri? Dari keluarga apa sih?”

“Biasa aja. Nothing special. Aku lebih ke musik sih. Penampilan aja agak religius, tapi santai, nggak fanatik.”

Aku ngakak. “Makanya kalau nongkrong suka nyanyi-nyanyi random ya.”

“Ya itu hiburan,” dia nyengir.

Dan di kepalaku langsung terlintas. Kalau Merlin denger obrolan ini, pasti langsung nyeletuk: ‘Udah deal, kalian cocok!’

Melihat keadaanku dengan Fajar tak menggembirakan, suatu siang Merlin kembali berulah. Tiba-tiba saja dia menyeretku ke kantin belakang kampus.

“Rin, kenalin. Ini Fahmi. Santri, pinter, calon sarjana sebentar lagi,” katanya dengan senyum penuh arti.

Fahmi menyalami dengan sopan. “Assalamualaikum, Erina. Aku sering dengar cerita tentang kamu dari Merlin.”

Aku hanya tersenyum kaku. “Waalaikumsalam… semoga yang diceritain nggak macam-macam.”

Kami pun duduk bertiga. Obrolan mengalir cukup hangat. Fahmi bercerita tentang kesibukannya jadi asisten dosen, tentang kegiatannya di pesantren dulu, bahkan sempat menyinggung rencananya melanjutkan kuliah S2.

Aku mendengarkan, sesekali menimpali. Dia memang pintar berbicara, sopan, tidak ada nada meremehkan.

Namun di sela-sela semua keramahan itu, aku sadar: tidak ada debar. Tidak ada getaran yang sama seperti saat bersama Faldo dulu, atau tawa lepas seperti ketika ngobrol dengan Fajar. Obrolan hangat itu hanya mengalir… tanpa meninggalkan bekas.

Merlin sempat menyikut lenganku pelan, memberi kode. Aku hanya bisa menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. Dalam hati aku tahu, sebaik apa pun Fahmi, hatiku belum bisa digerakkan hanya karena logika.

Setelah itu, Fahmi beberapa kali datang menemuiku. Pembawaannya selalu ramah, obrolannya santun, bahkan terkadang membawakan buku atau camilan kecil. Tapi hatiku tetap saja gersang.

Merlin jelas berang, merasa usahanya sia-sia. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kesungguhannya menjodohkan aku dengan orang lain, sementara hubungan dia sendiri dengan Hendrik tak pernah baik-baik saja.

Yang lebih membuatku bingung, justru bayang-bayang Haji Farid makin sering hadir. Ia kerap datang membawa kebaikan, jajanan, amplop, obrolan ringan. Tapi tak sekalipun ia menyinggung perjodohan atau urusan hati. Justru sikap itu yang semakin menjerat pikiranku.

Kedua orang tuaku pun belum menunjukkan tanda-tanda tahu atau curiga. Semua berjalan seolah biasa, padahal di dalam hatiku mulai tumbuh rasa was-was yang sulit kujelaskan.

Dan waktu pun berlalu tanpa jawaban pasti.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BOS! JATUH CINTA LAGI
7.8
Nayana Previtha dan Regan Maxwell dipertemukan oleh pengkhianatan menyakitkan dari pasangan masing-masing. Terikat nasib serupa, Regan mengajak Nayana menjalin kerja sama demi membalas dendam kepada para mantan kekasih. Namun, rencana tersebut justru memicu benih asmara yang tak terduga di antara mereka. Seiring berjalannya waktu, keduanya terjebak dalam rasa cinta dan ketergantungan. Akankah hubungan mereka berakhir bahagia atau justru luka baru?
Sampul Novel Bu Claire
9.2
Claire merasa jenuh dengan kehidupan pernikahannya bersama Budi yang terasa hambar di sebuah desa kecil. Kehadiran Ridho yang menggoda memicu perselingkuhan rumit yang penuh gairah sekaligus rasa bersalah. Saat kecurigaan Budi memuncak, rahasia besar ini akhirnya terbongkar dan mengancam keutuhan rumah tangga mereka. Namun, keduanya memilih untuk berjuang memperbaiki kepercayaan melalui kejujuran. Sebuah kisah mendalam tentang komitmen, rekonsiliasi, dan arti cinta sejati.
Sampul Novel CRAZY RICH MENIKAHI GADIS POLOS
8.8
Havva, gadis 17 tahun asal desa kecil di Ankara, terpaksa menikahi Irlan demi membiayai pengobatan ibunya dan meringankan beban ayahnya. Irlan yang kaya raya jatuh hati pada kecantikan alami Havva saat berlibur di penginapan tempat ayah Havva bekerja. Namun, pernikahan ini menjadi mimpi buruk karena Irlan sudah beristri. Bilqis, sang istri pertama yang modis dan sinis, terus mengintimidasi Havva. Mampukah gadis polos ini bertahan di tengah tekanan istri tua?
Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
8.1
Marco menjanjikan piknik romantis di tebing, namun ia justru mendorong Clara ke jurang demi selingkuhannya, Chika. Meski tubuhnya hancur, Clara bertahan hidup dan mendengar rencana keji Marco untuk memalsukan kematiannya sebagai kecelakaan. Di tengah keputusasaan, api balas dendam mulai membara. Harapan muncul saat Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya, datang menyelamatkannya. Kini, Clara siap menghancurkan pria yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel Hadiah Madu Untuk Suamiku
9.6
Indana Zulfa Hewatun menganggap poligami sebagai solusi agar ia bisa mengejar impian kuliah di luar negeri. Ia bahkan rela menjodohkan Jidan, suaminya, dengan seorang santriwati dari pesantren ayahnya. Namun, rencana itu terancam gagal saat Jidan mencurigai hubungan Inda dengan sang mantan kekasih. Akankah kepercayaan yang hancur membatalkan perjodohan ini? Sebuah kisah tentang perjuangan meraih cita-cita tanpa harus mengorbankan pernikahan.
Sampul Novel Hancur Karena Cinta yang Berkhianat
9.5
Tiga tahun menikah, Aluna siap membangun keluarga saat kariernya di puncak. Namun, kejutan kehamilan yang ia bawa justru berujung pilu. Di kantor, ia mendapati Raka bersama wanita lain dan seorang anak kecil. Tanpa rasa bersalah, Raka justru meminta cerai dengan dingin. Aluna hancur melihat suaminya lebih memilih anak orang lain. Akankah Raka menyesal saat menyadari bahwa ia telah membuang darah dagingnya sendiri demi mereka yang tak sedarah?