APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gundik Suamiku

Gundik Suamiku

Penampilan luar yang santun tak menjamin kebaikan hati seseorang. Hal ini terbukti saat seorang wanita nekat menghancurkan pernikahan demi menjadi simpanan suamiku. Meski telah berkeluarga, ia justru meninggalkan pasangannya karena terobsesi pada masa lalu. Apa yang memicunya bertindak sejauh itu? Berbekal temuan cincin berlian yang mencurigakan, naluri istriku mulai bergerak untuk membongkar rahasia kelam serta alasan di balik penyatuan kembali hubungan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Wanita itu mengenakan kebaya berwarna pink salmon dan jilbab yang menutupi bagian dadanya.

Hatiku mendadak nyeri melihat pemandangan ini. Apakah dia wanita selingkuh suamiku? Parasnya yang cantik dan terlihat kalem mana mungkin mau merebut suami orang. Ah, jaman sekarang. Apa saja bisa dilakukan, tak perduli penampilannya seperti apa.

Aku menghela napas panjang. Sebah di dada tak kunjung mereda. Lutut pun terasa melemas dan tak mampu menopang tubuhku. Kucengkram baju gamis yang tergantung di depanku. Tahan Vina, jangan menangis. Air matamu terlalu mahal untuk menangisi lelaki tak punya malu seperti Ari.

Mas Ari dan Mama kompak menoleh ke arah wanita itu.

"Nah itu, Marisa udah dateng." ucap Mama mertua sumringah. Oh, jadi itu yang namanya Marisa. Kukira Marisa teman arisanku. Ternyata tidak. Dugaanku salah, dia Marisa ... wanita yang penampilannya tertutup dan bahkan lebih baik dariku. kelihatannya sih begitu, namun entah bagaimana kelakuannya.

"Gimana kebayanya? Pas kan?" kali ini Mas Ari yang berucap. Wanita bernama Marisa itu berdiri di tengah-tengah Mama dan Mas Ari.

"Iya, Mas." jawab Marisa tersenyum malu. Aku yang sedari tadi memantau dari sini merasa muak dan ingin mencabik-cabik ketiganya. Apa salahku? Sehingga aku perlakukan begini. Empat tahun berumah tangga, haruskah terhenti karena wanita itu. Apa sepesialnya dia? Hingga Mas Ari mampu mencabangkan hatinya dan mengkhianati aku. Tak habis pikir aku dengan kelakuan Mas Ari dan mamanya. Bukankah harusnya sebagai orang tua melarang anaknya untuk tidak selingkuh. Namun tidak dengan Mama mertuaku, ia malah sepenuhnya mendukung Mas Ari. Tidakkah mereka memikirkan bagaimana hancurnya perasaanku.

"Cocok banget ya, kebayanya. Pas banget di badan kamu, pasti nanti pas ijab kabul makin cantik deh kamu," Mama memuji Marisa sambil membenarkan lipatan yang terselip di baju kebaya Marisa.

Percayalah, di sini aku hampir meledak mendengar perbincangan mereka. Mas Ari akan menikah dengan Marisa. Tanpa memberitahuku lebih dulu. Aku tidak terima, Mas! kamu perlakukan begini. Tunggu saja di hari bahagiamu. Akan aku hancurkan semuanya.

"Marisa, kamu pengen mukena yang mana? Buat seserahan." tanya Mas Ari sambil mengedarkan pandangan ke penjuru toko. Ia melihat-lihat mukena yang terpasang di patung manekin.

"Yang mana aja, Mas. Yang penting sederhana." balas Marisa.

"Bagaimana jika yang itu ...." telunjuk Mas Ari menunjuk ke arah mukena berwarna putih dengan renda cantik di setiap ujung kainnya.

"Iya, Mas. Ya udah, aku ganti baju dulu ya," pamit Marisa lalu melenggang ke ruang ganti.

Mas Ari dan Mama membalas dengan anggukan.

"Eh, Ari. Gimana soal si Vina? Kamu jadi 'kan ceraiin dia?" seloroh Mama bagai sembilu menusuk hati hingga tembus ke punggung.

Mas Ari mau menceraikan aku? Apa aku salah dengar?

Enggak! Ini nggak mungkin!

"Mbak mau ambil bajunya yang mana?" aku tersentak mendengar suara asing yang masuk ke gendang telingaku. Dan itu membuat Mama dan Mas Ari menoleh ke arah sini.

Gawat jika aku sampai ketahuan.

"Yang ini, Mbak." jawabku cepat seraya mengambil satu potong baju lengan panjang berwarna pink muda. Dan menyerahkannya pada pegawai toko yang barusan menanyaiku.

Sekilas kulirik ke arah Mas Ari dan Mama. Kedua orang itu sudah tak melihat ke arahku lagi. Untung aja aku pake masker dan jaket. Jadi mereka tidak mengenali aku.

Kuikuti langkah pegawai toko menuju meja kasir dan segera membayarnya. Kuhela napas gusar. Berbagai pertanyaan mengelilingi kepalaku. Apa alasan Mas Ari mau menceraikan aku? Tidakkah selama ini aku selalu memberikan yang terbaik untuknya. Bahkan soal anak ... dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia selalu bilang, bahwa belum memiliki anak tidak masalah. Karena Tuhan belum mempercayainya kepada kami. Tapi nyatanya, semua itu bulshit! Entah dia menikah dengan wanita berjilbab itu karena napsu atau karena ada hal lain. Dan Mama juga mendukungnya. Ah, benar-benar baik sekali permainan mereka.

Inginnya aku langsung menghampiri mereka dan membuat perhitungan. Namun, kupikir lagi lebih rinci. Terlalu biasa jika mempermalukan mereka di tempat ini. Kenapa tidak aku permalukan mereka di hari pernikahan Mas Ari dengan Marisa nanti. Mungkin akan lebih seru dan elegant. Tidak perlu membuang-buang tenaga dengan kekerasan. Lebih baik pakai cara cantik saja.

Pakaian yang kubeli selesai dibungkus. Kuayunkan langkah hendak ke luar dari toko. Lagi, pemandangan tak mengenakan mata kembali hadir. Marisa sudah berkumpul lagi bersama Mama dan Mas Ari. Terlihat Mas Ari yang amat antusias membayar beberapa potong gamis panjang dan mukena, tak lupa satu set kebaya yang tadi dicoba oleh Marisa.

Mungkin Mas Ari akan segera pulang. Jadi aku harus buru-buru pergi dari tempat ini. Ah iya, aku juga baru ingat soal Pak Slamet. Kira-kira dia sudah sadar belum ya? Atau masih tertidur pulas berkat obat yang kububuhkan dalam kopinya.

"Mas, apakah kau sudah membicarakan semua ini dengan Vina?" langkahku yang baru terayun di udara lantas berhenti mendengar ucapan Marisa. Kulipirkan tubuh dan bersembunyi di balik patung manekin agak jauh dari mereka bertiga.

"Belum, aku masih belum mendapatkan alasan yang pas untuk mengatakan hal ini pada Vina. Kamu sabar dulu ya, yang penting kita nikah dulu setelah itu aku akan menceraikan Vina." kata Mas Ari menatap wanita itu yakin. Dasar buaya! Cuma mau enaknya saja. Masa iya, punya istri dua. Jangan harap aku mau kau madu Mas, jangan harap hal itu terjadi pada hubungan kita. Prinsipku adalah, lebih baik melepaskan daripada harus menyakitkan.

"Sudahlah, Ari. Tinggal kasih surat itu pada Vina selesailah semua masalah kamu, dan jangan lupa satu hal. Ambil semua harta yang seharusnya jadi milik kamu, si Vina gampang, tinggal kasih dia uang buat pulang ke rumah orang tuannya. Mudahkan semua," celetuk Mama panjang lebar. Terpampang sekali wajahnya tersenyum miring. Bagiku ini adalah sebuah ejekan. Ternyata Mama juga ingin aku pergi dari rumah yang selama ini aku dan Mas Ari bangun berdua. Apa mereka lupa? Bahwa semua harta Mas Ari itu berawal dari modal yang orang tuaku berikan. Dengan enteng mereka mencemoohku sesuka hati. Ingat, aku tak akan tinggal diam dengan apa yang kalian lakukan padaku. Cepat atau lambat, apa yang kalian tanam, secepatnya akan kalian tuai.

"Ma, aku nggak mungkin kasih tahu surat itu sama Vina, gimana perasaan dia Ma? Kalau tahu kenyataan pahit itu." wajah Mas Ari berubah cemas. Surat apa yang mereka maksud? Apa itu menyangkut tentangku? Menjengkelkan sekali! Aku hampir mati penasaran di sini. Menguping pembicaraan mereka yang banyak ambigunya.

Kuatur napas berulang kali. Aku harus sabar menghadapi tikus-tikus itu.

"Memangnya surat apa, Mas?" Marisa menyahut. Mimik wajahnya menyiratkan keingintahuan yang kentara.

"Surat bahwa Vina, Man--"

"Stop, Ma!" sergah Mas Ari lantang. Ia menghentikan kalimat yang diucapkan Mama.

Air muka Mama mendadak keruh. Wajahnya yang kian mengekeriput karena usia pun terlihat masam. Sedangkan Marisa juga menunduk diam. Ketiga orang itu mendadak senyap. Tak ada lagi obrolan manis seperti tadi.

"Kalian mau langsung pulang apa makan dulu?" tanya Mas Ari pada kedua wanita di sisinya. Meski wajahnya masih nampak meredam emosi tapi ia tetap berkata datar.

"Mau makan dulu aja deh, Ar. Mama lapar dari tadi muter-muter mall." tanpa sepotong kata. Mas Ari meraih paper bag berisi belanjaannya tadi dan membawa barang-barang itu menjauh dari toko.

Tak ingin membuang waktu. Langkah kupercepat untuk segera pulang ke rumah. Aku jadi kepikiran soal surat yang dimaksud mereka. Sebegitu pentingnyakah surat itu? Hingga bisa membuatku hancur.

*

Langit sudah berubah gelap. Gugusan bintang bertaburan indah di atas sana. Setengah jam lebih aku berkendara. Kini mobil yang kutumpangi sudah sampai di pekarangan rumah.

Jariku memencet remote control agar pagar rumah segera terbuka. Mataku reflek melebar saat menatap ke arah teras. Pak Slamet sudah tidak ada di sana. Di tempat ia tadi tertidur. Ke mana dia?

Bersambung

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu
8.8
Pasca diceraikan suami pelit yang merendahkannya karena hanya lulusan SD, seorang wanita miskin dipaksa orang tuanya menikahi duda kaya raya. Pernikahan kedua tanpa cinta ini menjadi awal babak baru yang penuh tanda tanya. Sanggupkah ia menyembuhkan luka batin akibat hinaan mantan mertua dan membangun kebahagiaan bersama pria asing? Simak perjuangannya keluar dari derita demi menemukan cinta sejati dalam rumah tangga yang diawali keterpaksaan.
Sampul Novel Anak Rahasia Sang Presdir
8.2
Hidup Ariana hancur setelah dikhianati ibu tirinya hingga ia terpaksa menjadi ibu pengganti bagi seorang miliarder dingin. Setelah persalinan, pria itu secara kejam merampas bayinya demi menghindari ikatan pernikahan. Namun, takdir berkata lain saat waktu mulai mengikis kebekuan hati sang presdir. Di balik luka dan pemisahan paksa, benih cinta yang tak terduga justru tumbuh perlahan di antara mereka, mengubah dendam menjadi perasaan yang hangat.
Sampul Novel CEO TAMPAN ITU SUAMIKU
9.5
Demi menghindari perjodohan dengan Rama, duda pilihan ayahnya, Keyra nekat menikahi CEO bernama Farid. Namun, saat cinta mulai tumbuh di hati Farid, Kenzo yang merupakan masa lalu Keyra hadir kembali sebagai klien perusahaan. Kini Keyra terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia tetap setia kepada Farid, suaminya yang terkadang bersikap kasar, ataukah ia akan kembali ke pelukan Kenzo, pria dari masa lalu yang pernah sangat ia cintai?
Sampul Novel Dosenku Mantan Suamiku
9.0
Ardan menceraikan Luna karena tuduhan perselingkuhan dan keraguan atas status anak mereka. Lima tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang berbeda. Ardan yang dulu pengusaha sukses, kini menjadi dosen di kampus tempat Luna menuntut ilmu. Meski Ardan masih menyimpan dendam dan melontarkan kalimat pedas tentang pengkhianatan masa lalu, Luna justru menanggapi sikap dingin mantan suaminya itu dengan keberanian dan kecurigaan yang jenaka.
Sampul Novel Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
9.3
Sembilan tahun pernikahan indah arsitek brilian dengan Adrian Wijaya hancur seketika saat kecelakaan menghapus ingatan sang taipan. Adrian berubah menjadi monster kejam di bawah kendali Helena yang licik. Ia membunuh adikku, melumpuhkan kakiku, hingga merampas pita suaraku untuk diberikan pada Helena. Pengkhianatan ini mengubah cinta menjadi dendam membara. Aku memalsukan kematian dan siap menghancurkan kerajaannya. Saatnya sang monster membayar segalanya.
Sampul Novel Perjanjian Takdir: Suami Miliarderku
8.1
Pasca dikhianati kekasihnya, Katherine nekat menikahi Esteban, pria yang ia anggap miskin dan hampir bangkrut. Meski tampan, Esteban tampak biasa saja hingga Katherine menyadari semua masalah hidupnya mendadak tuntas dengan mudah. Esteban berdalih ini hanya faktor keberuntungan. Katherine yang menjadi tulang punggung keluarga pun percaya, sampai rahasia besar terungkap bahwa suaminya adalah miliarder kaya raya. Kini, Katherine harus menghadapi realitas baru di balik pelukan hangat suaminya.