APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hanin & Wahyu

Hanin & Wahyu

Hanin dan Wahyu adalah saudara kembar yang selalu seiring sejalan hingga mereka dewasa. Namun, perbedaan mencolok muncul saat mereka memilih pasangan hidup. Suratman sukses menjadi konsultan bank dengan istri sekretaris hotel yang ambisius. Sebaliknya, Suratmin hanya bekerja sebagai petugas kebersihan dengan istri ibu rumah tangga biasa. Perbedaan status dan pola asuh anak yang kontras ini akhirnya memicu konflik besar yang mengorbankan masa depan anak-anak mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Ayuk Sus, kalau mau bareng ke warung kebetulan kita juga

mau ke sana, rencananya kita mau rujakan, kamu ikut saja,” ajak Bu Retno dengan

senang hati mengajak Susi.

Siska yang mendengar kalau ada makanan gratis pun dengan

sigap mendatangi mereka yang asyik ngerumpi.

“Loh, Bu saya kok nggak diajak ikutan gabung?” tanya Siska

dengan panik karena takut ketinggalan makan rujak.

“Siska kalau mau ikut sumbang dong, katanya orang kaya apa

kata dunia kalau kamu tidak ikut, apalagi suamimu kan setiap Jumat sedekah tuh

bagi-bagi sembako, sekalian buat pencitraan kalau istri dari Bapak Suratman Jayadiningrat

Satroatmojo itu suka membaur di kalangan warga kampung, tidak pelit dan juga

tidak sombong,” jelas Bu Retno yang selalu membanggakan Siska hingga dia pun

tersenyum malu-malu.

“Usul Ibu boleh juga, baiklah saya izin suami dulu, sebentar!”

ucap Siska dengan tersenyum lebar memperlihatkan gigi gingsulnya.

Susi dan Ibu-ibu lainnya tersenyum puas karena bisa

mengerjai Siska habis-habisan, hanya sekali disanjung atau dipuji dia akan

berubah sebagai peri yang baik hati.

“Bu, Susi juga ke dalam sebentar taruh cucian pakaian  dulu!”

“Iya, cepat kita tunggu, hari ini kita bisa makan enak nih,”

celetuk Bu Lastri tersenyum licik.

“Mas, aku izin bentar ke warung,” ucap Susi kepada suaminya

Suratmin.

“Iya, hati-hati, bawa sini saja biar Mas lipatkan pakaiannya!”

perintah Suratmin.

“Iya, Mas, terima kasih ya sudah dibantu in,” balas Susi dengan

memberikan senyuman termanisnya.

“Ibu-ibu titip istriku!” pesan Suratmin kepada ibu-ibu

tetangga.

“Iya Mas ganteng, jangan khawatir duduk manis saja di rumah,

nanti kita antarkan lagi kalau pulang,” sahut Bu Retno tersenyum.

“Loh, Bu Retno, kok sampean bilang Suratmin ganteng dari mananya?”

Suratman sewot tidak terima kalau saudara kembarnya dikatakan ganteng oleh

ibu-ibu lain, sedangkan dia tidak pernah disanjung oleh siapa pun apalagi

dengan istrinya sendiri.

“Kulit hitam nggak putih kayak aku, rambutnya botak kalau

aku lihat klimis kan, dia punya kumis lah saya lihat bersih terawat dari ujung

sampai kaki,” sahut Suratman yang sangat percaya diri.

“Aduh sampean nggak tahu kalau hitam itu eksotis tahu,

lagian kulitnya menjadi hitam itu karena kerjaannya di luar kena panas matahari.”

“Apalagi senyumannya manis banget kayak gula merah, tuh

lihat suami idaman nggak malu lipat pakaian di depan rumah, kurang apa coba,

mau dong kalau kita digodain?”  goda Bu

Nila menimpali.

“Hust ... jangan begitu ibu-ibu, itu suaminya orang,

bagaimana yang di rumah?” tandas Bu Retno kesal.

“Kalau yang di rumah itu tetaplah nomor satu dong, hahaha

... tawa ibu-ibu menggelegar membuat Suratmin ikut tertawa melihat tingkah laku

mereka yang bisa dianggap seperti ibu mereka.

“Nak Suratmin jangan marah ya, kita Cuma bercanda saja, lagian

kami ini tetap setia kok sama suami masing-masing,” ucap Bu Retno menjelaskan.

“Iya Bu, nggak apa-apa!”

“Man, contoh itu adekmu, sopan santunnya oke punya, lah kamu

minta di sanjung dulu, jangan takabur loh, Man.”

“Roda itu selalu berputar, begitu juga dengan kehidupan

manusia hari ini memang kaya tetapi kita nggak tahu besoknya.”

“Kita harus menerima kehidupan yang kita jalani, jangan

berkeluh kesah kalau tidak dibarengi oleh usaha dan do’a, setidaknya kita masih

bisa bernapas itu sudah rezeki dari Allah, kita harus mensyukuri apa yang kita

punya, intinya jangan banyak mengeluh karena sama saja kamu tidak menyukai

hidupmu!” nasihat Bu Retno panjang lebar.

“Tuh dengar Min, mensyukuri seperti saya ini, buktinya dari

tahun ke tahun hartaku tidak habis tujuh turunan sedangkan kamu dari zaman kita

susah bareng-bareng ya tetap saja kamu miskin dan melarat seperti ini!”

“Lah saya bertemu Siska karena kita memang berjodoh dia kaya

dan berkelas cocok memang denganku,” jelasnya panjang lebar tetapi Suratmin

hanya mangut-mangut mendengarkannya.

“Mas, Susi jalan dulu, Assalamu’alaikum!” ucap Susi tidak

lupa mencium tangan suaminya.

“Wa’alaikum salam, hati-hati di jalan ya!” sahut Suratmin

yang sedikit khawatir dengan kehamilan istrinya itu.

“Iya, Mas!” jawab Susi tersenyum.

Sedangkan Siska berpamitan dengan suaminya dengan mencium

pipi kanan dan kiri Suratman.

“Sus, lebay banget sih cium tangan segala, terlalu over

akting tahu nggak!” gerutu Siska yang tidak suka mencium tangan suaminya.

“Contoh dong kayak aku cipika-cipiki orang kaya begitu lah,

dasar udik,” ujarnya dengan percaya tinggi tingkat dewa.

“Nggak apa-apalah udik yang penting membawa berkah,” sindir

Susi dengan tersenyum manis.

Akhirnya mereka pun berjalan beriringan ke warung milik Mak Leha

yang menyediakan berbagai macam kebutuhan sembako dan ada juga warung sayur.

“Sus, pelan-pelan ini, sandalku bisa rusak kalau jalannya

seperti ini, kamu tahu kan harga sandalku ini hampir setara dengan gaji suamimu

itu!” hardiknya kepada Susi yang berpegangan tangan dengannya saat melewati

tanah yang sedikit lempung akibat kemarin hujan deras.

“Ini suami istri sama saja, duh mau benci sama mereka kan

nggak boleh kata orang kalau lagi hamil dan membenci sama orang itu, bisa-bisa

wajah anakku mirip dengan mereka perpaduan antara mbak Siska dan Mas Ratman!”

“Duh, amit-amit cabang bayi, jangan dulu benci tunggu sampai

lahiran deh, Ya Allah kuatkan imanku agar tidak membenci mereka!” Do’a

Susi yang sangat takut membayangkan kalau wajah bayinya nanti mirip mereka.

Sampai di warung Mak Leha, dan di sambut hangat oleh yang

punya warung.

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumsalam, eh Susi, sama kakawalan, handak manukari

 apakah, ikam?”

“Ulun, handak beli wadai, gula sama teh, sekalian yang

lain, ulun cari dulu lah, setumat, Mak ai!” ujar Susi yang sedikit bisa

berbahasa Banjar.

“Iih, cari aja, yang mana ikam handak, unda barpandir

dulu sama yang lain, tuh ada Nia, di dalam,” sahut Mak Leha kepada Susi dan

segera menemui ibu-ibu yang karena ingin membeli buah-buahan yang kebetulan

masih ada di warung itu.

 Susi lalu

membeli beberapa kebutuhannya yang dianggap penting setelah berhasil menjarah

kakak iparnya.

Uang seratus ribu itu dia belikan semua bahan makanan, dan

menyisakan uang seribu rupiah dengan sengaja untuk dikembalikan ke Suratman

yang pasti akan menagih sisa uang kembaliannya.

Sementara itu Bu Retno dengan lainnya menyibukkan Siska

untuk membelikan buah-buahan untuk bahan rujakan.

“Wah ada bubuhan Susi!”

“ Retno, siapa ini, unda kada pinandu, urang hanyar kah?”

tanya Mak Leha sedikit berbahasa Banjar nampak tetlihat bingung.

“Loh, Mak Leha piye toh, ini loh kakak iparnya Susi, namanya

Siska yang punya rumah gedung di sebelahnya Pak Umar itu,” jelas Bu Retno

tersenyum.

“Oh iya kah, kada parnah lihat ikam sorang, maaflah,” sahut

Mak Leha tersenyum.

“Aduh, Mak, orang dermawan begini nggak kenal sama saya, ituloh

yang sering bagi-bagi sembako tiap hari Jum’at,”  jelasnya sedikit sewot karena ada juga yang tidak

mengenal dirinya.

“Kada ingatlah, maklum sudah tuha, muha ikam kada parnah malihat,

tapi kalau uang tetaplah ...hahaha ,” tawa Mak Leha diikuti tawa ibu-ibu

yang lain.

“Mbak Sus, tumben dia mau ke sini, biasanya ogah deh?” tanya

Nia anak dari Mak Leha.

“Biasalah namanya juga saudara, ya main-main ke rumah,”

celetuknya dengan santai.

“Main ke rumah kok tiap hari, apa Mbak Sus nggak gerah gitu

di datangi terus, padahal sudah punya pembantu lengkap, tetapi doyan banget ke

rumah Mbak Sus, memang Mbak pernah ke rumahnya gitu?” tanya Nia penasaran.

“Selama nikah dengan Mas Ratmin baru dua kali ke sana,

itupun kita di suruh cepat-cepat pulang alasannya ada tamu penting katanya,”

jelas Susi sambil mengambil bahan makan dan lainnya yang dianggap penting.

“Oh walah, kok bisa Mbak Sus? Aneh tapi nyata loh,” ucapnya

sambil tertawa kecil dan sedikit berbisik.

Ini saja Mbak Nia, tolong totalkan semuanya ya Mbak,” ucap

Susi sambil menyerahkan semua barang yang sudah diambilnya.

“Mbak semuanya jadi Rp. 99.000, “ ucap Nia setelah menghitung

semua belanjaanya.

“Oke!”

“Nggak digenapin seratus ribu, Mbak?” tanya Nia penasaran.

“Nggak usah biar kelihatan ada kembaliannya,” jawab Susi

tersenyum licik.

Sementara itu di luar para Ibu-ibu sedang memilah-milah

buah-buahan yang masih bagus.

“Pakai mentimun nggak sih?”

“Pakai saja Bu, terserah saja yang penting kelihatan banyak,”

sahut Bu Wulan menimpali.

Dengan segala pujian yang dilontarkan oleh Ibu-ibu itu

uangnya pun akhirnya keluar yang berwarna merah dan membayarkannya dengan

ihklas.

Tak lupa ibu-ibu yang lain memanfaatkan untuk membeli

camilan yangblain ubtuk dibawa ke rumah kontrakan Susi.

Di saat Suratman mengeluarkan uang sebesar seratus ribu

rupiah kini Siska dengan penuh percaya diri mengeluarkan uangnya juga sebesar

dua ratus ribu rupiah.

“Eh, Bu enakkan rujakan di mana ya?” tanya Bu Wulan

bersemangat.

“Bagaimana kalau di rumah Susi saja, kan enak tuh anginnya

kebanyakan ke rumah Susi, bagaimana?” usul Bu Retno.

“Aku sih yes!”  sahut

Bu Wulan dan Bu Nila secara bersamaan.

“Iyalah kita ngikut sajalah!” jawab ibu-ibu yang lain.

Setelah membayar dan membeli buah-buahan di sana mereka pun segera

ke rumah Susi.

Sampai di rumah kontrakan Susi, dia lalu menaruh

belanjaannya di dalam lemari, dan menguncinya, dan benar saja Suratman  menanyakan sisa uang yang dipakai oleh Susi.

“Sus, ada kembaliannya nggak, soalnya aku mau  membeli bensin!” teriaknya dari luar.

·       

Kakawalan, bubuhan = teman

·       

Ulun = aku, saya

·       

Unda = saya

·       

Manukari= beli

·       

Handak = ingin, mau

·       

Hanyar =baru

·       

Iih = iya

·       

Kada =tidak

·       

Pinandu = kenal

·       

Malihat =melihat

·       

Tuha. = tua

·       

Urang =orang

·       

Muha. = muka atau wajah

·       

Barpandir = mengobrol

·       

Setumat  =

sebentar

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antagonist Girl
8.2
Arlan memenuhi setiap sudut apartemennya dengan foto seorang wanita demi menjaga ingatan agar tidak pudar barang sejenak pun. Tindakan ini bukan sekadar obsesi, melainkan bentuk ketakutan mendalam akan kehilangan memori tentang sosok tersebut. Sementara itu, Vellice hadir sebagai manusia dari dimensi berbeda yang justru sangat menikmati perannya sebagai antagonis. Kisah ini mengikuti ikatan unik mereka di tengah benturan dunia modern dan fantasi.
Sampul Novel Dosen Suamiku
9.8
Adara Adila Calista, mahasiswi berusia 22 tahun, terkejut saat mengetahui wasiat mendiang kakeknya. Ia harus menikah dengan cucu sahabat sang kakek, yang ternyata adalah Rafka Shaquile Zhafran, dosen yang selama ini sering membuatnya kesal. Rafka, seorang CEO muda berusia 24 tahun, menerima perjodohan ini demi kebahagiaan keluarga, meski ada ancaman kehilangan warisan. Bagaimana nasib pernikahan Adara dengan dosen yang ia benci dalam ikatan wasiat ini?
Sampul Novel GAIRAH LIAR PLAYBOY TAJIR
8.0
Leon Indrajaya, pewaris tunggal kerajaan properti yang kaya raya, dikenal sebagai playboy penakluk wanita. Di balik pesonanya, trauma masa kecil membuatnya menjadi sosok temperamental dan dingin. Saat dipaksa ayahnya menjalani terapi, ia bertemu psikiater cantik, Evita Caroline. Meski Eve telah bertunangan dengan CEO Young Entertainment, Belvin Alexander, Leon justru terobsesi padanya. Akankah Leon nekat merebut Eve dan memicu konflik besar antar konglomerat?
Sampul Novel Gairah Membara: Cinta Tak Pernah Mati
8.4
Kusuma Hadi sempat menghina Dewi Nayaka tanpa menyadari identitas aslinya. Ia bahkan memerintahkan agar Dewi diusir dan dibuang ke laut. Namun, suasana berubah drastis saat sekretarisnya mengungkap bahwa wanita itu adalah istrinya sendiri. Kusuma pun menyesal dan berbalik memanjakan Dewi dengan penuh kasih sayang. Meski hubungan mereka terlihat sangat harmonis, publik dikejutkan oleh kabar perceraian yang tak terduga di antara pasangan tersebut.
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Seorang pemuda desa terpaksa merantau ke kota besar demi menyambung hidup. Dengan tekad sederhana, ia bercita-cita menjadi seorang pengawal profesional. Namun, takdir justru menyeretnya ke dalam gelapnya dunia kriminal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tanpa disadari, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang menuntunnya menjadi sosok gangster. Kini ia terjebak dalam pusaran konflik bawah tanah yang menguji prinsip serta keberaniannya.
Sampul Novel Istri Dadakan CEO Tampan!
8.9
Aska Pradipta adalah CEO tampan yang menjadi incaran banyak wanita. Kehidupannya berubah drastis saat ia menemukan bayi hasil hubungan masa lalunya ditinggalkan di depan rumah. Di tengah kepanikan, ia meminta Naura, sekretarisnya, untuk membantu merawat sang anak. Namun, kesalahpahaman muncul saat ibu Aska memergoki mereka. Terpaksa demi menutupi situasi, Aska menawarkan pernikahan kontrak kepada Naura dengan imbalan fantastis. Akankah kesepakatan ini berakhir cinta?