APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali

Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali

Nindi nyaris tewas akibat syok anafilaksis saat suaminya, Bram, justru mengabaikan nyawanya demi Clara. Tragedi memuncak ketika putra mereka, Leo, tewas tertabrak saat mencari bantuan. Namun, takdir berputar balik. Nindi terbangun di masa lalu sebelum petaka itu terjadi. Dengan ingatan tentang pengkhianatan Bram dan kematian Leo, ia bertekad melindungi sang putra. Kesempatan kedua ini menjadi ajang pembalasan bagi mereka yang menghancurkan hidupnya di masa depan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Anindita Lestari terengah-engah, dadanya sesak seperti dihimpit benda berat.

Putranya yang berusia enam tahun, Leo, menatap dengan wajah pucat pasi karena ketakutan.

Syok anafilaksis.

Kondisinya memburuk dengan cepat.

Dengan susah payah, dia menyebut nama suaminya, Bramantyo, memohon agar pria itu menelepon 112.

"Bunda nggak bisa napas!" tangis Leo di telepon.

Tapi Bram, yang sedang sibuk "membangun jaringan" dengan selingkuhannya, Clara, menganggapnya enteng sebagai "serangan panik" biasa.

Beberapa menit kemudian, Bram menelepon kembali: ambulans yang seharusnya untuk Nindi dialihkan ke Clara, yang hanya "tersandung" dan pergelangan kakinya terkilir.

Dunia Nindi hancur berkeping-keping.

Leo, pahlawan kecil di hatinya, berlari keluar mencari bantuan, tapi malah tertabrak mobil.

Terdengar bunyi gedebuk yang mengerikan.

Dia hanya bisa menonton, seperti arwah dalam tragedinya sendiri, saat paramedis menutupi tubuh kecilnya yang hancur.

Putranya telah tiada, karena Bram lebih memilih Clara.

Kehancuran.

Kengerian.

Rasa bersalah.

Bayangan Leo menghantuinya, membekas begitu dalam.

Bagaimana bisa seorang ayah, seorang suami, menjadi begitu egois dan mengerikan?

Penyesalan yang pahit dan tak berkesudahan menggerogoti jiwanya.

Clara. Selalu Clara.

Lalu, mata Nindi terbuka lebar.

Dia terbaring di lantai ruang tamunya.

Leo, hidup dan sehat, berlari masuk.

Ini adalah kesempatan kedua yang mustahil dan menakutkan.

Masa depan yang mengerikan itu tidak akan terjadi.

Dia akan merebut kembali hidupnya, melindungi putranya, dan membuat mereka membayar semuanya.

Bab 1

Anindita Lestari megap-megap mencari udara. Dadanya menegang, seperti ada besi yang meremukkan paru-parunya.

Leo, putranya yang berusia enam tahun, menatapnya, wajah mungilnya pucat pasi karena ketakutan. "Bunda?"

Nindi meraba-raba mencari EpiPen-nya, pandangannya mulai kabur. Syok anafilaksis. Cepat sekali.

"Telepon... Bram," ucapnya terbata-bata. "Sembilan... satu... satu."

Leo, dengan hati pemberaninya, meraih ponsel ibunya. Jari-jari mungilnya kesulitan membuka layar.

Dia menekan tombol panggil untuk Bram.

"Ayah! Bunda nggak bisa napas! Kelihatannya parah banget!" tangis Leo di telepon.

Suara Bram terdengar dari seberang, jauh dan terganggu. "Mungkin Bunda cuma kena serangan panik, Leo. Kasih dia EpiPen. Ayah lagi ada acara networking sama Tante Clara. Nanti Ayah pulang."

"Bukan, Ayah! Ini serius! Bunda bilang telepon 112!"

"Oke, oke, Ayah panggilkan ambulans untuknya," kata Bram, tapi nadanya meremehkan.

Beberapa menit kemudian, saat Nindi melayang dalam kabut rasa sakit, Bram menelepon kembali. Leo menempelkan ponsel ke telinga ibunya.

"Nindi? Dengar, Clara tersandung. Pergelangan kakinya terkilir parah. Ambulans yang kupanggil untukmu, aku alihkan ke dia. Dia lebih dekat, dan dia kesakitan sekali. Kamu pakai saja EpiPen-mu, kamu akan baik-baik saja."

Dunia Nindi hancur. Clara. Selalu Clara.

Leo, mendengar ini, berteriak. "Nggak! Bunda butuh bantuan!" Dia menjatuhkan ponsel dan berlari ke pintu, mungkin mencoba memanggil Bu Ratih tetangga sebelah.

Klakson mobil meraung. Terdengar bunyi gedebuk yang mengerikan.

Nindi, di tengah kabut kesadarannya, mendengar jeritan yang berbeda, bukan jeritan Leo.

Lalu, hening.

Napasnya sendiri tercekat, sebuah helaan terakhir yang kasar. Rohnya terasa seperti tercabik, melayang ke atas.

Dia melihat Leo. Terbaring di jalan. Diam.

Tiba-tiba paramedis ada di sana, menanganinya, lalu bergegas ke arah Leo. Terlambat.

Gambaran itu membakar jiwanya: Leo, kecil dan hancur, karena Bram lebih memilih Clara.

Kehancuran. Kata yang terlalu kecil. Kengerian. Duka. Rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkannya.

Hatinya, atau apa pun yang tersisa darinya, hancur menjadi sejuta keping.

Dia menonton, seperti arwah dalam tragedinya sendiri, saat mereka menutupi tubuh Leo dengan selembar kain.

Bram. Ini salahnya. Kelalaiannya. Keegoisannya yang mengerikan.

Clara. Wanita itu.

Jika dia punya kesempatan lagi. Jika dia bisa kembali.

Dia tidak akan pernah membiarkan Bramantyo Wicaksono masuk ke dalam hidupnya. Dia akan melindungi Leo.

Dia akan membuat mereka membayar.

Rasa sakit itu mutlak. Penyesalan yang pahit dan tak berkesudahan.

"Bram," bisik arwahnya, sebuah sumpah yang dingin dan penuh amarah, "jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak akan pernah mau mengenalmu."

Tiba-tiba, mata Nindi terbuka lebar.

Dia terbaring di lantai ruang tamunya. Dadanya sakit, tapi dia bisa bernapas.

Tangannya gemetar. Dia menyentuh lehernya. Tidak ada bengkak.

Leo.

Dia bergegas bangkit, jantungnya berdebar kencang. "Leo!"

Leo berlari masuk dari kamarnya, matanya terbelalak. "Bunda? Bunda nggak apa-apa? Tadi Bunda mengeluarkan suara aneh."

Nindi meraihnya, memeluknya begitu erat hingga Leo memekik. Hidup. Dia hidup.

Matanya, dia tahu, mungkin merah. Tangannya masih gemetar.

Ingatan tentang jalanan, bunyi gedebuk, kain penutup... itu terlalu nyata.

Dia melihat kalender di dinding. Tanggal hari ini. Hari yang sama.

Itu belum terjadi.

Sebuah keajaiban. Kesempatan kedua yang menakutkan.

Disorientasi berperang dengan tekad yang kuat dan protektif.

Dia tidak akan membiarkan masa depan itu terjadi.

Ponselnya di meja kopi bergetar. Sebuah notifikasi. Instagram.

Clara Wijaya.

Darah Nindi terasa dingin. Dia mengambilnya, jarinya melayang di atas aplikasi.

Dia harus tahu.

Story Clara: makan malam mewah. Bram, tersenyum di sampingnya.

Dan di tangan Clara, sebuah cincin baru yang berkilauan. Sebuah "cincin janji."

Keterangannya: "Membangun masa depan dengan seseorang yang benar-benar melihat potensiku. Sangat bersyukur atas dukungannya dalam meluncurkan merek kesehatanku! #AwalBaru #SupportSystem."

Stempel tanggal di postingan itu: tadi malam.

Rasa sakit yang baru. Kemarahan. Jijik.

Bram sudah "membangun masa depan" dengan Clara saat masih menikah dengannya, saat Leo masih hidup dan sehat.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa seorang pria begitu tidak memiliki kesopanan dasar?

Kunci berputar di lubang. Bram masuk, bersiul.

Dia berhenti saat melihat wajah Nindi.

"Hei, ada apa? Kamu kelihatan seperti habis lihat hantu."

Dia berbau samar parfum Clara yang memuakkan. Noda lipstik, bukan warnanya, ada di kerahnya. Dia selalu begitu ceroboh.

"Kamu berlebihan," itu kalimat favoritnya. Kalimat itu menggores sarafnya, menimbulkan penolakan fisik.

"Bram," Nindi memulai, suaranya tegang. "Kita perlu bicara."

"Kalau aku bilang aku hampir mati hari ini, Bram, dan Leo juga hampir mati, karena kamu bersama Clara, apa yang akan kamu katakan?" tanya Nindi, suaranya tenang yang berbahaya.

Bram mengerutkan kening. "Apa yang kamu bicarakan? Itu gila. Kamu baik-baik saja?"

Nindi melihat kekosongan di matanya. Sama sekali tidak ada pemahaman.

Dia tidak akan mengerti. Dia tidak akan pernah mengerti.

Kelelahan itu seperti jubah yang berat. Kepahitan, rasa yang akrab.

Dia telah menyia-nyiakan bertahun-tahun.

"Aku mau cerai, Bram," katanya, kata-kata itu terasa seperti kebebasan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BILIK LAIN DI RUMAH SUAMIKU
8.6
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Mas Yusuf, kecurigaan mulai menghantui benakku. Suamiku itu menyimpan rahasia besar di balik sebuah pintu kamar yang selalu terkunci rapat. Keganjilan semakin terasa saat aku memergokinya mengendap-endap setiap malam, membawa baki makanan serta minuman ke dalam ruangan misterius tersebut. Apa sebenarnya yang sedang disembunyikan Yusuf dariku? Misteri di balik bilik terlarang itu kini mengancam ketenanganku.
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Upaya Laras melarikan diri dari rumah berubah menjadi mimpi buruk saat ia dan ketiga buah hatinya diculik oleh seorang sopir travel. Di dalam penyekapan yang penuh siksaan, Laras harus menelan pil pahit kehilangan salah satu anaknya. Tragedi ini memicu dendam membara dalam dirinya. Ia bertekad mengungkap dalang serta motif keji di balik penderitaan mereka. Mampukah Laras menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa dan lolos dari jeratan maut yang mengancam nyawa?
Sampul Novel Hilang Di Bunian
9.2
Lima sahabat terjebak dalam situasi mengerikan saat terdampar di pulau tak berpenghuni. Niat awal untuk berpetualang seketika berubah menjadi mimpi buruk penuh misteri. Berbagai ancaman mematikan mulai mengintai dari kegelapan, memaksa mereka menghadapi serangkaian teror yang datang silih berganti tanpa henti. Di tengah keputusasaan, mampukah mereka bertahan hidup dan menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk ini sebelum bahaya benar-benar melenyapkan mereka?
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris, saat dunia persilatan dan hal mistis masih mendominasi, Wisaka bertekad membongkar misteri kematian tragis para pengantin baru. Para pria tewas usai malam pertama, sementara mempelai wanita diperkosa hingga membisu. Demi mengungkap kebenaran, Wisaka mempelajari ilmu kanuragan. Namun, perjalanannya penuh rintangan dari bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar jadi manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel PEMBALASAN DENDAM SANG PUTRI SINDEN
7.8
Tujuh belas tahun usai kematian tragis Jernih Suminar, sang putri yang bernama Lintang Prameswari mencari dalang ruwat sakti demi menuntut balas. Namun, ia terkejut saat mengetahui bahwa Ki Narendra yang awet muda adalah ayah kandungnya sendiri. Narendra telah menumbalkan jiwanya demi kekuasaan hingga menelantarkan Lintang. Kini, Lintang harus menghadapi pembunuh ibunya yang keji sembari dibantu sosok misterius bernama Wage di tengah intrik klenik dan mitos.
Sampul Novel PESUGIHAN BERUJUNG PETAKA
8.6
Farah adalah seorang ibu rumah tangga muda yang kini terjepit dalam situasi finansial yang mengerikan. Akibat jeratan utang rentenir yang semakin menumpuk dan mengancam nyawanya, ia menemui jalan buntu yang sangat kelam. Dalam keputusasaan yang luar biasa, Farah akhirnya memilih jalur pesugihan yang sangat terkutuk. Ia terpaksa menumbalkan putri kandungnya sendiri demi melunasi semua beban hutang tersebut, namun keputusan itu justru memicu petaka besar.