APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel HATE BEING A RICHMAN

HATE BEING A RICHMAN

Tsabit adalah yatim piatu sukses di Woodela yang tetap rendah hati meski kaya raya. Namun, dunianya hancur saat rahasia kelam orang tuanya terungkap. Ia terjebak cinta terlarang dengan Shakeela yang ternyata adalah saudara sedarahnya sendiri. Kenyataan pahit ini membuat Tsabit membenci kekayaannya dan menyesali pertemuan mereka. Meski dosa masa lalu memisahkan keduanya, ikatan tulus yang telah terjalin lama membuat mereka sangat sulit untuk saling melepaskan.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Heyy,, lihat itu dia lewat, lulusan terbaik SMA kita si penghuni panti asuhan "Rumah Bunda"". Terdengar suara ejekan Gllen diikuti tertawaan menghina oleh rekan-rekannya.

"Beri jalan, aku hanya mau lewat" Tsabit tak mempedulikan sedikitpun ocehan ejekan Gllen yg ditujukan padanya tadi. Tsabit tetap tenang dan terus melangkah, Tsabit bahkan masih berusaha sopan dengan meminta ijin rekan-rekan sekelasnya itu untuk membukakan jalan yg sengaja dihadang oleh mobil mereka.

"Waahh, besar sekali nyalimu tetap memaksa lewat" Gllen yg semakin tersulut emosi karena ejekannya tak dipedulikan Tsabit itu kini keluar dari mobilnya dan mendekati Tsabit.

"Gllen, aku tidak ada urusan denganmu, jadi biarkan saja aku lewat. Setelah itu kau bebas mau melakukan apapun disini." Tsabit mempertahankan ketenangannya dan terus mendinginkan suasana.

"Jika aku tidak mengijinkanmu, mau apa?" Dengan congkaknya Gllen tetap tak berniat membiarkan Tsabit lewat disana.

"Baiklah, aku bisa memutar dan mencari jalan yg lain." Tsabit kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan Gllen yg semakin emosi.

"Brrrrmmmm"

Suara mobil menderu seketika terdengar di belakang Tsabit. Dengan kecepatan penuh mobil itu terus melaju mendekati Tsabit yg sedang berjalan. Beberapa pasang mata yg menyaksikkan nampak syock dan terbelalak membayangkan kecepatan penuh mobil Gllen yg bisa seketika melibas tubuh Tsabit didepannya.

Wajah Gllen menyeringaikan senyum yg mengerikan , terbayang olehnya jika sesaat lagi riwayat pemuda culun itu akan tamat ditangannya. Jelas saja, bagi Tuan Muda seperti Gllen, menghabisi nyawa rivalnya dapat dengan mudah dilakukan. Mengingat koneksi ayahnya yg luar biasa akan dengan mudah menutup kasus ini ketika berada di meja hijau. Gllen sudah sangat menunggu hal ini sejak dulu, pria ini begitu kesal karena selalu mendengar pujian pujian terlontar dari bibir Dinda kekasihnya yg memuji kecerdasan si cupu Tsabit itu.

Tsabit mendengar dengan sangat jelas jika mobil ini tidak akan berhenti dan sengaja akan menabraknya. Tsabit telah bersiap menunggu waktunya tiba.

"Gepp"

Seketika kedua tangan Tsabit menahan laju mobil yg hendak melibasnya dari belakang itu.

"Brrrrmmmmmm,,,,,"

Raungan mobil terus menderu, namun tak sedikitpun jarak yg diraihnya. Gllen yg berada dibalik kemudi masih memijak pedalnya dengan keras, namun mobil justru terhenti dan terangkat keatas.

Seketika wajah pemuda ini pucat pasi, ketika sebuah bayangan dari jendela rumah di pinggir jalan dilihatnya. Tsabit dengan mudahnya mengangkat lamborghini kuningnya itu ke atas.

Tidak perlu waktu untuk Tsabit bisa menghempaskan mobil itu dari hadapannya.

"Brruaak"

Lamborgini kuning itu kini terhempas ke jalan dengan mudahnya.

Tsabit menatap tajam Gllen yg ketakutan setengah mati melihatnya. Tak ada sedikitpun suara yg terdengar, namun tatapan tajam Tsabit cukup untuk mengintimidasi dan membuat Gllen menelan kasar salivanya.

Tsabit meneruskan perjalanan pulangnya dan melangkah kembali. Meninggalkan Gllen yg masih syock dalam mobilnya. Beberapa rekan mereka kemudian menghampiri Gllen dan berniat membantunya keluar dari mobil. Namun Gllen yg sudah kehilangan harga dirinya itu memilih melajukan mobilnya membelah jalanan yg ramai menuju rumahnya.

Perjalanan Tsabit selama beberapa menit membawanya pulang ke rumah terbaik yg dimilikinya. Sebagai anak yatim piatu, Panti Asuhan "Rumah Bunda" adalah satu-satunya tempat pulang untuk Tsabit selama ini. Pria muda yg tampan dan bertubuh atletis ini tak menghiraukan pandangan sebelah mata yg selalu ditujukan untuknya dari rekan-rekan sekolahnya itu. Sejak kecil Tsabit sudah terbiasa dirundung dan juga diejek. Bagi anak panti, hal seperti ini adalah perjuangan yg nyaris dihadapi setiap harinya. Itulah kenapa banyak dari anak panti yg memilih berhenti sekolah dan malah berdagang membantu pengasuh panti.

Tsabit seringkali mengajak rekan-rekannya untuk tetap bersekolah, Tsabit juga memberikan motivasi pada adik-adiknya di panti untuk tetap melanjutkan studinya, namun bekal materi yg serba kekurangan untuk anak panti speerti mereka jelas akan semakin menambah perjuangan bathin mereka mengingat perundungan perundungan yg kerap kali mereka rasakan di bangku sekolah. Tsabit tak pernah menyerah, pria muda ini tetap memotivasi semua anak panti untuk mementingkan studinya, beberapa kemudian tergerak namun Tsabit juga tak memaksakkan jika memang beberapa lainnya memilih menolaknya. Bagi Tsabit, seluruh penghuni panti adalah saudaranya yg akans elalu dijaga dan dilindunginya, sedangkan pengasuh panti adalah orang tua yg akans elalu Tsabit utamakan disepanjang hidupnya.

"Sudah pulang nak," Suara Ibu Lilis pengasuh panti membuyarkan fikiran Tsabit yg sejak tadi memikirkan apalagi yg akan terjadi padanya setelah insiden tadi dengan Gllen.

"Ehh, iyaa Bu." Tsabit segera duduk dan membuka sepatunya.

"Selamat yaa nak, Ibu bangga sekali bisa punya anak seperti kamu. Alhamdulillah, kamu bisa mempertahankan nilai akdemik kamu sampai selesai dengan nilai sesempurna ini." Ibu Lilis mkemudian mengelus lembut rambut Tsabit dengan penuh kasih sayang. Perlahan derai airmata bergulir membasahi pipi wanita paruh baya itu.

"Ibu, kenapa nangis. Harusnya ibu seneng tuh tersenyum, begini nich." Tsabit yg melihat wajah ibunya menangis kemudian menjembel pipi wanita itu supaya terlihat tersenyum.

"Kamu selalu saja pandai menghibur ibu" Lilis kemudian tergelak dan mengelap sudut matanya yg masih mengalirkan butiran beningnya.

"Ibu enggak apa-apa kan, Tsabit sekarang harus bersiap ke sekolah lagi Buu." Tsabit kemudian menyimpan sepatunya ke rak.

"Untuk apa ke sekolahan lagi nak," Lilis kembali bertanya.

"Sebenarnya ada janji Buu, kenalan seorang pengajar memintaku bekerja disana untuk menjadi tenaga pengajar di rumahnya. Alhamdulillah jika beliau berkenan berarti mulai besok Tsabit bisa kerja dan membantu Ibu. Siang ini Pak Rendra membuat janji pertemuan untuk kami di sekolah" Tsabit kemudian berpamitan.

Meninggalkan Lilis yg memandanginya terus hingga Tsabit menghilang di pintu kamar. Jauh dalam hatinya Lilis merasa sangat iba dengan Tsabit. Tak seharusnya Tsabit mengalami semua ini, mengingat sebenarnya pria muda itu adalah anak seorang hartawan di kota ini. Lilis kembali menyeka sudut matanya yg mulai dialiri butiran airmata, tak kuasa mengingat identitas Tsabit yg terpaksa disembunyikan olehnya untuk kebaikan Tsabit dan juga atas permintaan kedua orangtuanya.

Tsabit masih berada dikamarnya, selesai berganti pakaian Tsabit melihat sebuah amplop cokelat sudah tergeletak disana. Seperti biasa, diakhir bulan seperti ini Tsabit mendapatkan uang bulanannya dari seorang donatur tetap yg selalu dirahasiakan namanya oleh Ibu Lilis pengasuhnya itu. Tsabit mengambil amplop itu yg terasa lebih besar dan berat dibandingkan biasanya. Namun Tsabit tak berniat menghitungnya sama sekali,

"Ibu, ini gunakanlah untuk keperluan panti." Tsabit yg keluar dari kamar kemudian menyerahkan amplop itu pada Ibu Lilis yg berada di meja makan dengan Dinda.

"Tidak, uang itu katanya bahkan dilebihkan untuk keperluanmu melanjutkan ke bangku kuliah nak." Lilis menjelaskan.

"Tidak Ibu, katakan saja pada donaturnya jika aku akan segera bekerja dan beliau bisa mengalihkan biaya donasinya pada anak panti yg lain." Sambil memakan makan siangnya Tsabit berbicara pada Lilis dengan tenang.

"Nak, beliau tetap akan berdonasi untukmu sepanjang hidupnya." Lilis kembali menjelaskan dengan hati-hati. Tak tahan rasanya terus membohongi Tsabit selama ini bahwa semua uang yg diterimanya itu adalah uang dari ayahnya kandungnya sendiri.

"Yaa sudah kalo beliau berniat baik seperti itu, tapi ibu ambil saja uangnya untuk menambah nambah uang panti ya." Tsabit kembali dengan niatnya, sambil mengakhiri makannya.

"Baiklah nak," Lilis mengiyakan seraya mengambil amplop cokelat dihadapannya itu.

"Jika Ibu dan Dinda senggang, jangan lupa belanjakan untuk beli penanak nasi yg lebih besar supaya Ibu tak kerepotan setiap masak nantinya ya." Tsabit berkata sambil bergegas pergi kembali ke sekolah.

"Hmmh,,," Dinda bergumam sendiri sambil menatap erat tubuh Tsabit yg makin menjauh dari matanya.

"Ganteng dan baik ya kan," Ibu Lilis yg memperhatikan sikap Dinda wanita muda itu.

"apaan sich buu," Dinda nampak malu dengan wajah yg bersemu merah.

*************************

Lanjut baca ya,

simpan ke rak untuk dapet pembaruan bab setiap harinya yaa

Bintang dan hadiahnya juga ditunggu yaa,

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah Dari Anakku
8.0
Dikhianati oleh orang terdekatnya, Anastasia Tillman kehilangan segalanya dalam satu malam kelam sebelum akhirnya diusir. Lima tahun berlalu, ia bangkit menjadi desainer perhiasan sukses yang mandiri bersama putra kecilnya. Namun, ketenangan hidupnya terusik saat seorang pria kaya hadir menawarkan pernikahan demi membesarkan anaknya. Meski Anastasia merasa tak butuh bantuan pria itu, kemiripan wajah sang putra dengan pria tersebut tak bisa diabaikan. Akankah ia luluh?
Sampul Novel Cinta Si Kembar (TWINS LOVE)
9.0
Demi membiayai pengobatan sang ibu yang kritis, Maya terpaksa menyetujui tawaran pernikahan kontrak dari Reno. Di sisi lain, Reno sengaja memanfaatkan situasi sulit Maya untuk menjeratnya dalam ikatan legal yang menguntungkan. Bagi Reno, pernikahan ini hanyalah strategi licik untuk mengamankan harta warisan keluarga sekaligus memperkuat dominasinya di perusahaan. Mereka terjebak dalam kesepakatan gelap yang didasari oleh ambisi dan kebutuhan mendesak.
Sampul Novel Dijodohkan dengan CEO tanpa Hati
8.5
Satu bulan membina rumah tangga, Ana Puspita Ningsih belum pernah disentuh oleh Louis Kusnadi. Pernikahan paksa ini mempertemukan dua kepribadian yang bertolak belakang. Ana dikenal sebagai wanita penyantun yang tulus membantu kaum papa, sementara Louis adalah CEO arogan yang gemar menindas orang lain. Di balik kekayaannya, Louis sangat pelit dan kerap menyakiti hati istrinya. Ana kini harus bertahan menghadapi sikap suaminya yang sedingin es dan penuh amarah.
Sampul Novel Istri Kampungan Kesayangan Presdir
9.1
Santi hanyalah seorang gadis desa yang nekat merantau ke kota besar demi menyambung hidup adik-adiknya. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Bima, seorang CEO tampan sekaligus Casanova yang kerap bergonta-ganti pasangan. Meski terbiasa dengan kehidupan glamor, Bima justru mulai merasa luluh setelah mengenal ketulusan dan kepolosan yang dimiliki Santi. Perbedaan dunia mereka menjadi awal dari kisah romansa yang tak terduga di tengah hiruk pikuk kota.
Sampul Novel Istri Mudaku Meresahkan!
8.6
Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari kebangkrutan, Yasmin yang baru berusia 20 tahun terjebak dalam pernikahan kontrak dengan duda kaya bernama Galih. Namun, konflik memuncak saat Galih memberikan pilihan sulit antara Vira, anak sambungnya, atau Anggara. Meski Yasmin sangat mencintai Vira, keraguan hatinya memicu amarah Galih. Pria itu akhirnya menjatuhkan talak dan melarang Yasmin menemui Vira selamanya, menghancurkan sisa harapan dalam rumah tangga mereka.
Sampul Novel Kekasih itu Bosku
9.1
Hubungan asmara antara Rina dan Arman terus berkembang di tengah berbagai rintangan yang menguji kesetiaan mereka. Keduanya berjuang keras menjaga harmoni antara tuntutan profesional dengan perasaan pribadi. Bagi Rina, bekerja di PT Jaya Abadi kini terasa jauh lebih istimewa. Di sana, ia tidak hanya berhasil meraih ambisi kariernya, namun juga menemukan cinta sejati yang tak pernah ia duga sebelumnya dalam sosok bosnya yang penuh karisma.