APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Heavy Heart

Heavy Heart

Tiga belas tahun lamanya sebuah tragedi kelam di bawah guyuran hujan terus menghantui malam-malamku. Bayangan Sakala tak pernah benar-benar hilang, bagaikan bunga Smeraldo yang terasa nyata namun semu. Di tengah kerinduan mendalam, seseorang muncul membawa kabar mengejutkan bahwa dia mungkin masih hidup. Namun, kenyataan jauh lebih rumit saat sosok manis itu hadir. Siapa sebenarnya dirimu? Apakah kamu adalah Sakala yang aku kenang atau orang lain?
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku menangis kala itu. Saat alam bawah sadarku baru menguasai diriku setelah koma beberapa bulan yang lalu, aku menangis dengan sangat hebatnya. Aku kehilangan dia, aksara dalam kisahku. Aku kehilangan dia, diksi dalam puisi milikku. Bagaimana aku bisa menemukannya? Bahkan ketika semuanya terjadi tepat bersama denganku.

Saat itu, aku berlari dengan langkah kecilku yang baru sembuh dari rumah sakit yang selama ini menjadi tempatku untuk tertidur dan beristirahat. Namun, seseorang menahanku dan memelukku dengan erat.

"Nala, kamu jangan nangis. Udah, biarin dia tenang di sana yah nak?"

Dia Ayahku. Tapi, aku tetap tak bisa menengkan diriku. Seolah separuh duniaku telah menghilang ikut pergi bersama dirinya, Sakala. Laki-laki yang selalu bersamaku. Aku tak mau kehilangan dia, andai saat itu aku tak mengejar kupu-kupu indah sampai membuat kejadian menyeramkan ini terjadi.

Saat itu aku dan Sakala sedang bermain di taman. Seperti biasanya kami selalu bahagia setiap kali bertemu. Saat sedang asik bermain kami menendang bola nya terlalu jauh sehingga Sakala berlari untuk membawanya.

"Nala, kamu tungguin dulu ya? aku mau bawa bolana dulu," ucapnya sebelum pergi meninggalkanku yang hanya menganguk.

Benar namaku dan namanya hampir sama. Dia Sakala dan aku Shanala. Entah mengapa bisa sama, aku pun bahkan tak tahu alasannya. Namun, kedua orang tua kita memang sangat dekat karena itu juga kita berdua sering bermain dan tertawa.

Ada satu hal yang sangat istimewa, dia selalu memanggilku Sea. Katanya aku terlihat seperti lautan, aku seluas dan seindah lautan. Entah mengapa juga aku menyukai nama itu, Sea nama yang indah dari seseorang yang berada pada masa lalu yang indah juga.

Sakala belum juga kembali mengambil bola yang sedari tadi menjauh karena tendanganku. Awalnya aku yang akan mengambil bola itu, tapi Sakala melarangku. Katanya dia tak mau aku terluka sedikitpun, sehingga dia yang berlari dan mengambil bola yang pergi jauh tersebut.

Karena sangat lama, rasa bosan mulai menguasai diriku. Pada saat itu juga ada seekor kupu-kupu yang sangat cantik terbang dengan bebasnya. Awalnya aku hanya diam dan memperhatikan,  namun semuanya berubah ketika aku ikut mengikuti arah terbang kupu-kupu cantik itu. Mataku hanya menatap sayap indah yang menempel, tanpa memperhatikan sekeliling dan tempat yang aku pijak.

Sampai saat itu, aku tak mengingat apapun. Selain teriakan Sakal yang memanggil namaku dan juga darah yang ada di sekitar tubuh kita berdua. Seolah cahaya datang entah dari mananya. Semuanya menjadi putih dan aku terbangun hari ini.

Saat mendengar bahwa Sakala telah pergi jauh dariku, aku takut. Aku tak pernah membayangkan sosok itu pergi jauh dari hidupku, sejak saat itu aku tak pernah terbuka kepada siapapun. Meski aku masih sangat kecil, namun rasanya seperti aku memang telah jatuh cinta kepadanya. Aku tak bisa melupakan sedikitpun kenangan masa kecil bersamanya.

***

Hari ini hujan sangat lebat. Aku melamun sambil menatap air hujan yang turun dan membuat embun di sekitar kaca yang berada tepat di sebelahku.

"Nala!" teriak Audrey membuatku terkejut kaget.

"Ishh... Drey. Gue di deket lo, kenapa teriak?" ucapku kesal. Audrey sering kali menganggu sesi melamunku.

"Temenin ngantin yuk, gue bosen. Lo nggak bosen natap hujan mulu?" gerutunya. Mungkin dia kesal, karena setiap hujan turun aku akan berdiam diri dan menatap air hujan.

Sebenarnya, bukan tanpa alasan jika aku sering menatap air hujan. Hanya saja, dia dan kenangannya tersimpan juga dalam rintikan hujan. Setiap melihat hujan, aku merasa melihat dia juga datang ke dalam hidupku yang telah lama merindukannya.

"Nala!! Ihh gue sebel sama lo yah, di ajak ngobrol malah melamun lagi." Audrey menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya yang membuat aku tak tahan untuk melihat kegemasan.

"Iyah Drey, ayo."

Audrey menarik tanganku, mengapitnya dengan tangan milik dia. Kita berjalan menelurusi koridor yang sepi, mungkin karena hujan semuanya tidak pergi untuk keluar? Ah, aku juga tak tahu. Hanya menebaknya saja.

Kita telah sampai di kantin. Aku dan Audrey selalu duduk di bangku dekat mba Yati. Supaya lebih mudah ketika akan memesan, apalagi perut Audrey tak pernah cukup untuk satu porsi makanan saja.

"Nal, Nala..." panggil Audrey membuatku menoleh menatap wajahnya.

"Temenin gue beli makanan yah ke supermarket nanti pulang sekolah?" pintanya sambil memegang tanganku erat.

"Gue mau ke toko buku Drey, apa lo lupa?"

Audrey cengengesan. Senyumnya yang aneh membuatku mengerutkan keningku aneh. Sekarang apa lagi yang akan di lakukan Audrey.

"Nala pliss... temenin gue yah yah? nanti gue temenin ke toko buku deh," bujuknya sambil menatapku dengan wajah imutnya.

"Iyah, terserah."

Audrey berteriak kegirangan. Membuatku malu seketika, sekarang semua orang telah berkumpul di kantin dan karena ulah Audrey semua pasang mata menatap kita aneh. Ya tuhan... mengapa Shanala harus berteman dengan Audrey.

Kantin yang berisik tambah berisik ketika kedatangan seseorang. Aku tak tahu dia siapa, namun sepertinya semua orang menyukai laki-laki itu. Aku hanya mengangkat bahuku acuh, jujur saja aku tak pernah peduli pada lingkungan sekitar apalagi terhadap hal seperti ini.

"Nala nala! Itu kak Kevan ganteng banget ya tuhan," teriak Audrey histeris.

Aku mengacuhkan Audrey yang berteriak dan melanjutkan sesi makanku yang terganggu oleh kebisingan kantin yang membuatku ingin mengumpat. Siapa sih Kevan itu, mengapa semua orang menyukainya? Shanala rasa Kevan biasa-biasa saja. Tapi, kenapa semua orang berteriak setiap kali bertemu dengannya?

"Drey," panggilku.

Audrey menoleh. "Hah? Kenapa lo?"

"Dia siapa? Kenapa pas dateng semua orang teriak? Berisik," ucapku menekankan kata berisik pada kalimat yang baru saja keluar dari bibirku.

"Hah? Lo nggak becanda kan Nala. Lo beneran nggak tahu kak Kevan? Astaga, lo kenapa nggak tahu gini sih? Lo kemana aja Nala."

"Apa sih Drey, gue beneran nggak tahu. Lagian dia nggak penting," ucapku cuek.

Audrey terdengar menghela nafasnya beberapa kali. "Kak Kevan itu cowok paling ganteng di sini, asal lo tahu dia kesayangan guru meski kadang yah sering ribut sana-sini."

"Gue baru tahu."

Audrey yang mendengar ucapanku mungkin terkejut saat mendengar apa yang aku katakan. Ku lihat dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Namun, aku tetap tak peduli dengan apa yang terjadi.

***

Setelah makan dari kantin. Sekarang aku berada di perpustakaan. Tempat paling nyaman yang pernah aku temui. Tapi, berbeda dari biasanya Audrey ikut bersamaku. Entah apa yang dia inginkan sekarang, tapi mereka berdua sedang tenang dan membaca beberapa buku yang ada di perpustakaan. Rasanya sangat tenang, apalagi perpustakaan adalah tempat paling sepi dan nyaman untuk menghibur diri atau mengisi jam istirahat yang masih tersisa.

Rasanya kepalaku mendadak pusing. Bayangan ketika hari kelam terjadi kembali datang dan itu membuatku sangat ketakutan. Aku takut, Sakala pergi meninggalkanku karena diriku. Aku meremas rok dengan kepala yang mulai memberat.

Sejak itu, aku tak tahu apa yang aku rasakan. Selain kegelapan yang meliputiku dan juga teriakan namaku, aku yakin dia adalah Audrey.

"Sea, kamu mau jadi pacar aku nggak" tanya dia sambil tersenyum dengan manisnya.

Kau tahu? Senyumnya sangat manis dan umur kita berbeda 2 tahun. Saat itu umurku 5 tahun, aku tak mengerti memang apa yang dia ucapkan saat itu. Pacar? Apakah itu sebuah makanan? Atau permainan yang mengasikan?

"Pacar itu apa, Kala?" tanyaku sambil menatap dia yang sedang memegang bunga.

"Aku juga nggak tahu Sea, tapi katanya pacar itu teman yang baik!" ungkapnya sambil memberikan bunga yang dia pegang.

Tanganku dengan langsung menerimanya tanpa berpikir panjang.

"Jangan pernah pergi yah, Sea."

Jantungku berdetak lebih cepat. Rasanya andrenalin ku berpacu sangat cepat. Mimpi itu lagi, mengapa aku terus memimpikan Sakala. Aku merindukannya, aku sangat-sangat merindukannya. Aku tak tahu bagaimana caranya aku bertemu dengan Sakala, selain berkunjung menuju pemakaman dirinya.

Mataku belum sepenuhnya tersadar. Samar-samar cahaya masuk ke dalam mataku, aku mengerjap beberapa kali dan melihat Audrey yang langsung berjalan dengan wajah khawatirnya.

"Lo nggak papa? Kenapa lo nggak bilang lo sakit Shanala Arkasea," ucap Audrey sambil memanggil nama panjangku.

Aku menggeleng melihat tingkahnya. Aku tahu dia mencemaskan diriku tapi, aku tidak apa-apa. Hanya saja tadi entah mengapa perutku dan kepalaku mendadak sakit. Meskipun sekarang perutku masih sedikit sakit, tapi tak separah saat tadi.

"Ya ampun Nala! Gue nanya bukannya di jawab malah bengong lagi."

"Gue nggak papa Drey, tadi kepala gue mendadak pusing. Maaf yah bikin lo khawatir, gantinya gue temenin lo pulang sekolah seharian."

Aku tahu itu hal sederhana. Tapi, Audrey selalu suka saat aku menawarkan diri untuk berjalan seharian dengannya. Mungkin dia sangat menyukai bagaimana dia mengganggu ku dan membuatku kesal.

"Hah? Beneran Nala? Fix nanti gue mau keliling mall! Ya ampun sayang Nala banget." Dia memelukku dengan sangat erat. Aku hanya terkekeh geli melihat reaksi nya yang berlebihan.

Sudah aku bilang, Audrey akan membuatku berjalan dan pastinya mengubah cara berpakaianku. Dia akan dengan senang hati mengajakku pergi menuju salon bersamanya.

"Jam berapa sekarang?" tanyaku tiba-tiba. Aku merasa harus menuju kelas hari ini.

"Masih jam 11 Nal," jawabnya.

Aku berusaha berdiri. Namun, Audrey menghalangiku. Kedua keningku berkerut.

"Jangan ke kelas plis, gue males pelajaran bapak itu. Dia kejam ih nggak nggak!"

Aku hanya menghela nafas dan kembali menidurkan badanku di atas ranjang UKS. Baiklah aku akan terdiam dulu dan yah menatap Audrey yang sedang memegang ponsel sambil tersenyum sesekali. Pasti Audrey sedang melayani para buaya yang menggodanya.

Aku merasa lapar sekarang. Untung saja di dekatku ada semangkuk bubur, tanganku mengambil mangkuk bubur itu dan memakannya perlahan. Melihatku yang sedang makan Audrey berdiri dari duduk nya dan berjalan menuju arahku.

Dia merebut mangkuk bubur dan sendok yang sedang ku pegang. Lalu menyuapinya padaku. Astaga, aku kira aku salah memakan bubur! Aku bahkan mengira ini bubur miliknya.

"Audrey?"

"Makan aja, gue suapin. Biar makin sembuh sayang nya gue," ujar Audrey sambil terus menyuapiku dengan sesendok bubur.

Aku sedang memutuskan sesuatu. Hal yang tak pernah aku lakukan pada siapapun, bahkan ini kali pertamanya dia melakukan ini. Entah apa yang sedang ada di dalam pikiran Shanala. Dia hanya ingin menceritakan sebagian kisah masa lalunya kepada temannya Audrey.

"Drey, gue mau ngajak lo ke ke tempat dimana dia ada. Lo mau ikut?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME. Part.2
8.2
Kehamilan pertama Adiba yang menginjak usia lima bulan justru dihantui teror mencekam di rumah baru mereka. Meski tetangga memperingatkan tentang kutukan kematian saat pembangunan kolam renang, Syden tetap mengabaikannya. Di tengah tekanan mistis yang makin gencar, mental Adiba kian terguncang oleh rumor perselingkuhan suaminya. Syden dikabarkan memiliki simpanan yang juga tengah mengandung lima bulan, memicu konflik batin hebat bagi sang istri sah.
Sampul Novel Gunung Pengantin Ngunduh Mantu
8.8
Bima lahir dalam keluarga sederhana yang terbelenggu kutukan iblis. Di desanya, Gunung Pengantin berdiri angker dengan legenda hantu pengantin yang kerap meneror pendaki. Suatu hari, Bima dan sahabatnya, Alif, melanggar pantangan gunung hingga Alif hilang menjadi abdi gaib. Saat dewasa, Bima harus memutus kutukan leluhur dibantu khodam warisan. Meski berhasil, ia harus kehilangan orang tuanya yang tewas dalam ritual gaib, menyisakan duka dan kesendirian mendalam.
Sampul Novel ID-PD76
9.0
Selama tiga tahun, Evelyn merawat Aidan yang amnesia dan menjadi kekasih rahasianya. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Aidan hanya berpura-pura lupa ingatan. Lebih tragis lagi, Aidan dan cinta masa lalunya ternyata terlibat dalam kematian ayah Evelyn. Tak tinggal diam, Evelyn mengumpulkan bukti dan menjebloskan mereka ke penjara tepat di hari pernikahan. Saat Aidan menyadari cinta sejatinya, Evelyn sudah menutup hati dan memilih pergi selamanya.
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Amber Lim, sosialita cantik dengan reputasi buruk sebagai perusak hubungan, memutuskan untuk bertobat. Demi berguru pada desainer legendaris Adam Smith, ia nekat menembus musim dingin utara yang mematikan. Namun, Amber dirampok dan terdampar di hutan beku. Satu-satunya harapan hidupnya adalah pria misterius bernama Tuan Dingin. Duda yang membenci wanita ini dicap kanibal oleh warga sekitar. Akankah Amber mampu meluluhkan hatinya atau justru menjadi korban kebencian sang pria?
Sampul Novel MENOLAK NAFKAH BATIN
9.4
Pasca persalinan anak pertama, Vania menghadapi penolakan nafkah batin dari suaminya, Prabu. Alasan yang tak jelas memicu kecurigaan hingga terungkapnya komunikasi rahasia Prabu dengan mahasiswinya, Marsya. Meski tertangkap basah sedang bersama, Prabu berdalih itu hanya kebetulan. Vania yang hancur menolak untuk diam dan mulai menyusun rencana balas dendam. Ia bertekad memberi sanksi sosial bagi sang dosen dan membuat suaminya menyesali pengkhianatan tersebut.
Sampul Novel My [Secret]ary
8.6
Keputusan Raya menolak jabatan pimpinan di anak perusahaan Chinar Group justru mempertemukannya dengan Jevano, kakak tingkat masa kuliah yang kini menjadi sekretarisnya. Meski Jevano bersikap dingin dan acuh tak acuh, Raya tetap menaruh hati padanya. Namun, di balik topeng profesionalitasnya, Jevano menyimpan misteri besar yang tersembunyi rapat. Dia bukanlah sekadar staf biasa, melainkan sosok penuh rahasia yang jauh lebih dari apa yang terlihat.