APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel HOLD ME

HOLD ME

Alice, siswi berprestasi berusia delapan belas tahun, bermimpi menjadi desainer ternama. Namun, dunianya runtuh saat orang tuanya tiada dan Martin, kakaknya sendiri, menjualnya kepada Devan Adipati Gumilang. Devan adalah pemuda kaya raya yang dominan dan dikenal sangat brengsek di Jakarta. Kini, Alice terjebak sebagai pemuas nafsu bagi Devan yang memperlakukannya bak mainan. Mampukah ia meloloskan diri dari cengkeraman pria tampan yang berhati iblis tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 3

Jam istirahat pun tiba.

Chelsea mengajak Alice jajan di kantin, dan hari ini Chelsea ingin mengtraktirnya. Awalnya Alice menolak karena dia juga membawa uang jajan dari Martin tadi. Ya, meski nilainya hanya cukup untuk beli bakso dan es teh manis saja.

Chelsea tak suka Alice menolak, dia kukuh ingin menggunakan uangnya.

"Alice, lo tinggal sama siapa di sini?" tanya Chelsea usai menyesap lemon tea di depannya.

"Gue tinggal sama Kak Martin. Kakak gue yang tinggal di Jakarta."

"Kak Martin? Martin Richard Prahadie?!"

"Iya. Jadi elo kenal sama Kak Martin?"

"Kenal laah! Kak Martin temannya Kakak gue."

"Ooo ..." Alice manggut-manggut

"Kakak lo siapa namanya? lanjut Alice agak was-was. Dia curiga jika Kakaknya Chelsea adalah Rio, lelaki brengsek yang semalam kurang ajar padanya. Wajahnya sangat antusias menunggu jawaban Chelsea.

"Kakak gue namanya Devan. Devan Adipati Gumilang. Ganteng lho! Nanti gue kenalin sama lo, ya!" jawaban Chelsea membuat Alice lega. Syukurlah, ternyata nama yang di sebutkan Chelsea barusan nggak termasuk nama-nama lelaki yang semalam pesta miras di rumah Martin. Mungkin kakaknya Chelsea itu lelaki baik-baik.

"Kenapa bengong?" suara Chelsea membuat Alice tersentak.

"Enggak. Hm, kita masuk aja, yuk!" ajak Alice.

Chelsea mengangguk dan langsung beranjak dari bangkunya kemudian dia segera merangkul bahu Alice. Mereka mulai berjalan menuju kelas sambil mengobrol seru.

***

Waktu menunjukan pukul dua sore saat Alice sedang berdiri di tepi gerbang sekolahnya. Benar, dia sedang menunggu Martin yang katanya akan menjemputnya. Tapi sepertinya itu bohong karena sudah hampir dua puluh menit lelaki itu belum juga kelihatan batang hidungnya.

"Alice!" Terdengar suara Chelsea memanggilnya.

Alice menoleh dan melihat gadis itu di dalam mobil sport warna orange yang menepi di seberang jalan.

Chelsea segera melajukan mobilnya dan menepi di depan Alice.

"Lo belum pulang? Gimana kalo gue yang antar lo pulang?" ajak Chelsea dengan senyuman penuh harap.

Alice masih terdiam, dia bingung. Sebenarnya dia memang tak punya uang lagi untuk menaiki angkutan umum, dan Martin juga belum tentu menjemputnya.

"Ayolah, jangan sungkan."

Chelsea masih setia menunggunya.

Tak ada pilihan, kalau jalan kaki tidak mungkin karena cukup jauh juga. Alice mengangguk sambil tersenyum kemudian segera memasuki mobil Chelsea. Mereka segera berlalu meninggalkan SMA Gumilang High School. Selama perjalanan mereka mengobrol banyak dan merasa sama-sama cocok.

"Makasih, ya. Udah antar gue pulang," ucap Alice saat berdiri di samping mobil Chelsea yang sudah menepi di depan gerbang rumah Martin.

"Santai aja, sekarang 'kan kita temenan." Chelsea tersenyum pada Alice dan langsung melajukan mobilnya.

Alice membalasnya dengan senyuman dan segera memasuki halaman rumah Martin. Dia melihat ada mobil Jeep warna putih terparkir di samping mobil Martin. Jantungnya mulai berdebar kencang. Dia takut Martin mengundang teman-temannya lagi untuk pesta miras.

Alice menutup pintu dari dalam, langkahnya sangat cepat. Dia ingin segera masuk kamarnya. Namun tiba-tiba dia menambrak tubuh yang cukup tinggi sampai-sampai dia terhempas ke lantai.

Aduuh!

Alice memegang pinggangnya dan menanggah pada pemuda yang sedang berdiri di hadapannya kini. Sepertinya lelaki itu yang ditabraknya tadi.

"Kamu nggak apa-apa?" suara yang sangat lembut dengan bibir kemerahan dan sorot mata yang begitu bening. Pemuda itu sangat tampan.

Alice sampai terpukau melihatnya.

"Hei, kok malah bengong begitu?" tanya pemuda itu lagi tampak heran.

Alice segera bangkit dengan matanya yang tak ingin berpaling dari pemuda itu. Pipinya bersemu merah.

"Maaf Kak. Permisi." Alice segera berlalu dengan jantungnya yang berdebar-debar. 'Siapa pemuda tampan itu? Apakah sahabat Kak Martin?' Alice bertanya-tanya dalam hati.

Lelaki itu hanya tersenyum menunjukkan dua lesung pipitnya yang semakin menegaskan letak ketampanan wajahnya.

Lelaki tampan dan kaya raya itu, namanya Devan Adipati Gumilang. Dia adalah kakaknya Celsea dan juga putra pengusaha kaya raya yang sangat disegani di Jakarta.

Devan memang bukan pemuda baik-baik, sangat berbeda dengan wajahnya yang terkesan kalem. Devan sering menyalah-gunakan kekuasaan sang ayah untuk memperdaya seseorang, termasuk Martin yang sudah sering berhutang padanya.

"Heh, Bro! Gue lihat ada cewek cakep di dalam tadi. Siapa sih?" Devan bertanya pada Martin yang sedang duduk sambil menikmati batang rokoknya di teras belakang rumah.

"Adek gue," jawab Martin singkat tanpa menoleh pada lelaki itu.

"Masa? Kok gue baru lihat?" Devan masih ingin membahas tentang gadis yang dilihatnya tadi.

"Do'i tinggal di Bandung dan baru kemarin gue ajak ke sini," jawab Martin masih enggan menoleh pada Devan yang sedang duduk di sampingnya.

Devan tersenyum miring mendengar itu. Entah apa yang ada di otaknya sekarang.

***

Pagi menjelang siang. Hujan kecil tak juga berhenti mengguyur kota Jakarta dari semalam. Alice merasa haus setelah seharian di dalam kamar guna mengerjakan tugas sekolahnya.

Dia berjalan menuju dapur dan mengambil air putih dari dalam kulkas. Rumah kelihatan sepi karena Martin tidak pulang dari semalam. Benar, ini hari minggu, mungkin Martin masih berada di tempat nongkrongnya.

Perut Alice mulai minta diisi, langkahnya terayun menuju dapur. Bibirnya mengulas senyum melihat kompor yang kelihatan sangat bersih padahal sebelumnya tidak ada sentuhan tangan wanita di sini.

Ya, Martin memang cinta kebersihan. Itu yang Alice mulai tahu tentang kakaknya.

Karena hanya ada telur dan mie instan di lemari es, Alice mencoba memasaknya meski dia sebelumnya tak pernah masuk dapur apa lagi memasak mie sendiri.

Benar, dulu hidupnya memang enak. Dia seperti seorang putri raja yang serba dilayani. Tapi sekarang dia harus mandiri karena semuanya sudah berubah. Tidak, dia tak boleh cengeng. Beruntung dia masih memiliki kakak meski Martin tak pernah mengharapkannya.

Alice mulai menyalakan kompor berlahan hingga api kebiruan itu terlihat. Dia kaget sampai loncat karenanya. Astaga, mau membuat mie saja butuh perjuangan. Alice mulai membuka kemasan mie instan-nya. Tapi tiba-tiba ada suara dari luar dan langkah kaki yang menuju dapur. Siapa itu? Apakah Rio? Alice mulai ketakutan dan segera bersembunyi di balik pintu dapur.

Suara langkah kaki itu semakin mendekat. Alice mendekap sendok yang sedang dipegangnya di dada. Matanya terpejam sembari berdoa dalam hati. Astaga, jantungnya hampir copot ketakutan.

"Martin ..."

Suara seorang wanita? Alice kaget dan langsung keluar dari balik pintu. Benar, dia melihat seorang wanita sekitar umur 23 tahun sedang berdiri sambil menatapnya heran.

"Hei, kamu siapa?" tanya wanita itu sambil menatap pada Alice.

"Aku Alice, Kak. Adiknya Kak Martin," jawaban Alice membuat wanita itu tersenyum manis padanya

"Wah, kamu Alice Adiknya Martin yang dari Bandung itu, ya?" ucapnya mendekat sambil meraih lengannya. Alice mengangguk sambil tersenyum

"Kamu cantik banget, sih?"

"Makasih, Kak."

"Kenalin, aku Pingkan. Temannya Martin," ucapan wanita itu tampak tersipu.

Alice bisa menebak kalaulah wanita cantik itu adalah pacar Kakaknya.

"Kamu lagi ngapain, sih?" tanya Pingkan sambil menoleh pada kompor yang masih menyala.

"Sebenarnya aku mau bikin mie, tapi aku nggak ngerti gimana caranya." Alice tampak malu-malu sambil menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal.

Pingkan tertawa kecil melihat gelagat gadis itu, "Astaga, sini biar Kakak aja yang bikinin. Dasar." Pingkan langsung mulai persiapan dan mengajari Alice cara memasak mie.

"Udah jadi. Kamu makan dulu sana, nanti kena magh lho!" ucapan Pingkan setelah selesai memasak mie membuat Alice merasa menemukan sosok ibu lagi.

Dia tampak terharu sampai memeluk wanita berkulit putih itu dengan erat. Pingkan hanya tersenyum, dia paham betul perasaan Alice, karena dia sudah mendengar cerita Martin selama ini. Alice tidak bersalah tapi kenapa Martin sangat membencinya.

"Lho kok malah nangis?" Pingkan mengusap kedua pipi Alice yang baru saja melepaskan pelukannya.

Gadis itu tersenyum manis padanya.

"Nggak Kak, aku cuma lagi ingat sama Bunda," jawab Alice sambil berusaha menahan tangisnya.

Pingkan tersenyum tipis mendengar ucapan polos gadis itu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Cinta Yang Kandas
8.7
Tiga tahun Aveline mengabdi dalam pernikahan tanpa cinta demi Damian, bahkan rela menyerahkan bakat arsitekturnya agar suaminya bersinar. Namun, pengkhianatan Damian di depan publik menyadarkannya. Aveline memilih bercerai dan bangkit membangun firma de la Fontaine miliknya sendiri. Kini, ia kembali sebagai arsitek kelas dunia yang sukses mengalahkan dominasi perusahaan Blackwood. Di tengah puncak kejayaan, akankah ia membiarkan cinta masuk kembali ke hatinya?
Sampul Novel Cinta dan Dendam Andara
9.8
Andara meninggalkan kehidupan desa untuk merantau ke kota besar. Misi utamanya adalah menemukan sosok yang bertanggung jawab atas penderitaan sang ibu di masa lalu. Saat bekerja sebagai staf pembersih, ia justru menarik perhatian seorang CEO tampan yang menjadi pimpinannya. Benih cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua di tengah perbedaan status sosial. Namun, ketika hubungan semakin dalam, berbagai rintangan besar muncul menguji kesetiaan mereka.
Sampul Novel Hot Desire Mr. Thompson
9.4
James tidak menyangka jatuh hati pada pandangan pertama saat menikahi Elvira melalui perjodohan. Kecantikan Elvira dan momen malam pertama mereka di dalam limosin membuat James terobsesi. Namun, Elvira bahkan tidak menyadari kekayaan suaminya yang luar biasa. Bahtera rumah tangga mereka segera diuji oleh berbagai rintangan besar, terutama saat mantan kekasih James muncul kembali. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi gangguan orang ketiga?
Sampul Novel JandA
9.4
Aline Anderson memimpin penerbitan terbesar di kotanya, namun ketidakhadirannya membuat kestabilan perusahaan goyah. Saat ia kembali memegang kendali, ancaman muncul dari penulis emasnya yang ingin menarik karya secara mendadak. Keputusan ini membawa bisnis Aline ke jurang kebangkrutan. Kini, Aline harus menghadapi kerugian besar sekaligus fakta mengejutkan mengenai identitas asli sang penulis di tengah badai konflik yang mulai bermunculan satu per satu.
Sampul Novel Mantan Istri Saya Seorang Konglomerat?
8.3
Tiga tahun Loraine setia mengabdi, namun Marco justru memperlakukannya dengan hina. Muak dengan pengkhianatan suaminya, Loraine memilih cerai demi mengejar warisan triliunan rupiah. Publik awalnya mengira ia gila, hingga identitasnya sebagai miliarder termuda terungkap. Saat Marco melihat mantan istrinya dikelilingi pria tampan, ia menyesal dan memohon untuk rujuk demi aliansi bisnis. Namun, Loraine hanya menatapnya penuh rasa jijik dan sudah tak lagi mencintainya.
Sampul Novel Nirmala Cinta
9.2
Setelah dua tahun menikah tanpa buah hati, Aulia memilih bercerai saat suaminya memutuskan berpoligami. Meski ditentang sang ibu yang gila harta, ia berhasil hidup mandiri. Namun, ketenangan Aulia terusik saat Candra datang menawarkan pekerjaan bergaji besar. Pesona Candra mulai menggoyahkan hati Aulia yang lama tertutup. Kini ia terjepit di antara tawaran pernikahan pria kharismatik itu atau gangguan sang mantan suami yang ingin rujuk kembali.