APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Pura-Pura Buta Demi Menyembunyikan Kebohongan Besar

Suamiku Pura-Pura Buta Demi Menyembunyikan Kebohongan Besar

Selena Atmadja diceraikan Davin Hartanto tepat setelah akad karena skandal kehamilan wanita lain. Demi menjaga martabat, Madame Ratih memaksa Selena menikahi putra keduanya, Leonard Hartanto, pria dingin yang penuh misteri. Meski awalnya menolak, Selena akhirnya terjebak dalam pernikahan hampa bersama pria yang terasa asing. Keadaan berbalik saat Selena mengungkap rahasia besar bahwa Leonard hanya berpura-pura buta. Apa motif di balik sandiwara ini dan mampukah Selena bertahan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu Selena hampir tak bisa tidur. Bayangan suaminya berdiri di depan cermin dengan mata terbuka lebar terus menghantui pikirannya. Ia berkali-kali memejamkan mata, berharap semua itu hanya mimpi atau ilusi yang ditimbulkan rasa lelah.

Namun, setiap kali matanya terpejam, ia kembali melihat Leonard menutup mata dengan terburu-buru, berpura-pura meraba jalan seperti orang buta.

Selena menarik napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya gemetar. "Kenapa dia harus berbohong?" bisiknya pada diri sendiri.

Bahkan setelah semua ini-pernikahan tanpa cinta, sikap dingin Leonard, jarak yang membekukan-ternyata masih ada satu rahasia besar yang ia sembunyikan.

Keesokan paginya, Selena sengaja menunggu di ruang makan lebih awal. Ia ingin memperhatikan Leonard dengan seksama.

Tak lama, langkah kaki terdengar. Leonard muncul dengan kemeja abu-abu dan celana hitam. Wajahnya tetap tenang, ekspresinya datar. Ia berjalan menuju kursi, tangan kirinya meraba punggung kursi seolah memastikan letaknya.

Namun Selena melihat jelas-pandangan mata Leonard sekilas melirik ke arah kursi sebelum tangannya menyentuhnya.

"Pagi," ucap Selena hati-hati.

Leonard hanya mengangguk singkat. Ia duduk, lalu mulai menyendok bubur ayam yang sudah disiapkan pembantu rumah tangga.

Selena memperhatikannya. Gerakannya terlalu rapi untuk seseorang yang buta. Ia tidak pernah salah mengambil sendok, tidak pernah menjatuhkan gelas, tidak pernah salah menuang air. Semuanya dilakukan dengan presisi, kecuali saat ada orang lain memperhatikannya.

"Bagaimana tidurmu?" tanya Selena, mencoba memulai percakapan.

"Biasa saja." Jawabannya singkat, dingin, sama seperti biasanya.

Selena menggigit bibir. Ia menunduk, jantungnya berdetak kencang. Haruskah ia bertanya langsung? Atau berpura-pura tidak tahu?

Hari-hari berikutnya, Selena sengaja menguji Leonard.

Suatu sore, ia menaruh vas bunga di tengah lorong yang biasanya dilalui Leonard menuju ruang kerja. Jika benar suaminya buta, seharusnya ia akan menabraknya. Namun apa yang terjadi? Leonard melangkah dengan mulus, memiringkan badan sedikit, lalu berjalan melewati vas tanpa menyentuhnya sama sekali.

Selena menahan napas di balik pintu kamar, menyaksikan semuanya. "Aku tidak salah lihat... dia benar-benar berpura-pura," gumamnya.

Keesokan harinya, Selena meletakkan sebuah buku terbuka di atas meja makan. Ketika Leonard datang, ia pura-pura menanyakan sesuatu.

"Leonard, bisa tolong bacakan ini untukku? Aku sedang bingung dengan kalimatnya."

Sekilas, mata Leonard melirik ke arah buku itu. Tapi ia segera mengernyit dan menepis halus. "Aku tidak bisa membacanya. Kau lupa siapa aku?"

Selena merasakan darahnya mendidih. "Aku tidak lupa," ujarnya pelan, nyaris menggertakkan gigi. "Aku hanya... mencoba memastikan sesuatu."

Tatapan Leonard menajam, tapi ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya bangkit dari kursinya, lalu berjalan pergi begitu saja.

Meninggalkan Selena dengan dada yang sesak dan kepala penuh pertanyaan.

Malam itu, Selena berdiri di balkon kamar, menatap langit penuh bintang. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyusup hingga ke tulangnya.

"Kenapa dia melakukan ini?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Apa tujuannya berpura-pura buta? Apa yang ingin dia sembunyikan?"

Ia tahu, jawabannya hanya bisa didapat dengan keberanian. Jika Leonard tidak mau jujur, maka ia harus mencari tahu sendiri.

Keesokan harinya, Selena memberanikan diri mendekati Ratih.

"Tante..." suaranya pelan ketika mereka duduk berdua di ruang tamu. "Aku ingin bertanya tentang Leonard."

Ratih menatapnya dengan penuh kasih. "Apa, Nak? Kau bisa bertanya apa saja."

Selena menggenggam tangannya gugup. "Sejak kapan... Leonard kehilangan penglihatannya?"

Pertanyaan itu membuat Ratih terdiam sesaat. Senyumnya perlahan meredup, berganti dengan tatapan kosong penuh kenangan.

"Sudah lama," jawabnya akhirnya. "Sejak kecelakaan lima tahun lalu. Sejak itu, Leonard menutup diri. Ia jarang keluar rumah, lebih suka berdiam di ruangannya."

Selena menelan ludah. Jadi keluarga percaya Leonard benar-benar buta? Atau Ratih juga tahu kebenarannya?

"Tapi... apakah tidak pernah diperiksa lagi ke dokter?" Selena mendesak pelan.

Ratih menghela napas. "Sudah. Tapi Leonard tidak suka bicara tentang itu. Ia menolak pengobatan lebih lanjut. Sejak itu, aku tidak pernah membicarakannya lagi. Mungkin ia trauma."

Selena semakin bingung. Kalau begitu... berarti hanya ia yang tahu rahasia ini.

Malamnya, Selena kembali melihat Leonard berdiri di balkon kamarnya sendiri. Mata pria itu menatap lurus ke arah taman, jelas-jelas melihat.

Selena mendekat perlahan. "Kenapa kau melakukan ini?" suaranya bergetar.

Leonard menoleh. Untuk sesaat, Selena melihat mata itu terbuka, tajam, seperti mata elang. Namun secepat itu pula, Leonard memejamkan mata dan meraba-raba pagar balkon.

"Apa maksudmu?" tanyanya datar.

"Jangan berpura-pura lagi!" suara Selena meninggi, untuk pertama kalinya ia berani melawan. "Aku tahu kau bisa melihat. Aku melihatmu berkali-kali! Kau hanya... berbohong!"

Leonard terdiam. Rahangnya mengeras, wajahnya menegang. Hening panjang menyelimuti mereka, hanya suara angin malam yang terdengar.

Lalu akhirnya ia berkata pelan, "Berhentilah mencampuri urusanku, Selena."

Setelah itu ia melangkah pergi, meninggalkan Selena berdiri kaku dengan air mata yang mulai jatuh.

Malam itu Selena sadar, hidupnya baru saja memasuki babak baru. Pernikahan yang awalnya dingin kini berubah menjadi teka-teki penuh rahasia.

Suaminya bukan hanya pria dingin yang tak berperasaan. Ia juga pria penuh kebohongan.

Dan Selena bersumpah, ia akan mengungkap semuanya-apapun risikonya.

Hari-hari setelah pernikahan Selena dan Leonard terasa seperti hidup di dalam rumah kaca. Dari luar terlihat begitu tenang, rapih, bahkan sempurna. Tapi di dalamnya, hawa dingin kerap menusuk, seolah setiap sudut menyimpan rahasia yang tak tersentuh cahaya.

Selena duduk di ruang makan yang luas, meja kayu jati panjang dengan kursi berlapis kain beludru biru tua tampak begitu kontras dengan dirinya yang sendirian. Di hadapannya ada secangkir teh hangat yang mulai mendingin, uapnya perlahan menghilang.

Leonard belum turun sejak pagi. Pria itu selalu punya cara membuatnya menunggu. Entah dengan alasan pekerjaan, entah hanya untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali.

"Dia seperti bayangan," gumam Selena pelan sambil memainkan sendok kecil di cangkirnya. "Ada, tapi tak pernah bisa benar-benar kuraih."

Belum sempat ia larut lebih jauh dalam pikirannya, suara langkah sepatu terdengar menuruni tangga. Selena menegakkan tubuhnya, menatap ke arah Leonard yang baru muncul.

Seperti biasa, pria itu tampil sempurna: kemeja putih, celana hitam, jas tergantung di lengannya. Wajahnya tenang, dingin, tak terbaca. Namun ada satu hal yang membuat Selena terus-menerus merasa ragu-tatapan Leonard.

Pria itu seolah tak pernah menatap lurus ke arahnya. Selalu ada jarak, seakan matanya menerobos jauh tapi tak benar-benar melihat. Dan Selena masih teringat jelas satu malam ketika ia tak sengaja melihat Leonard berjalan tanpa bantuan, padahal ia selama ini mengaku buta.

"Selamat pagi," ucap Selena hati-hati.

Leonard berhenti di ujung meja. Senyum tipis tersungging di bibirnya, tapi dingin. "Pagi. Kau sudah sarapan?"

"Aku menunggu," jawab Selena.

Alis Leonard sedikit terangkat. "Tak perlu menunggu hanya untukku."

Selena menunduk. "Aku tahu. Tapi bukankah begitu seharusnya seorang istri?"

Ada jeda. Hening. Sampai akhirnya Leonard duduk di kursi berhadapan dengannya. Gerakannya elegan, terkendali, seperti seseorang yang terbiasa mengatur panggung. Selena tak bisa menahan rasa ingin tahu.

"Leonard," ia mencoba membuka percakapan, "aku masih ingin tahu... mengapa kau tak pernah benar-benar menatapku?"

Leonard tidak langsung menjawab. Ia menuang kopi dari teko ke cangkir, lalu meniupnya pelan. "Aku tidak terbiasa menatap," katanya akhirnya. "Aku sudah lama kehilangan kebiasaan itu."

Selena menggigit bibir. "Karena... matamu?"

Leonard menoleh sedikit, tetapi masih dengan sorot mata samar. "Ya. Karena itu."

Jawaban singkat, padat, tanpa ruang untuk ditanya lebih jauh. Tapi justru karena itulah Selena semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Siang itu, Selena berjalan di taman belakang rumah besar keluarga Leonard. Bunga mawar dan anggrek ditata dengan apik, air mancur kecil berdiri di tengah, menambah kesan elegan. Tapi bagi Selena, semua keindahan itu terasa hampa.

Ia duduk di bangku taman, memeluk tubuhnya sendiri. "Kenapa aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri?"

Suara langkah pelan terdengar dari arah pintu kaca. Selena mendongak dan melihat Leonard berdiri di sana, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

"Kau tak seharusnya duduk di luar terlalu lama. Udara dingin bisa membuatmu sakit," kata Leonard.

Selena menatapnya, berusaha mencari celah pada ekspresi yang selalu tenang itu. "Kenapa kau peduli? Bukankah selama ini kau bahkan jarang benar-benar memperhatikanku?"

Kali ini, Leonard maju mendekat. Ia berdiri di hadapan Selena, tubuh tinggi tegapnya memantulkan bayangan panjang. "Kau salah menilai, Selena."

"Salah menilai?" Selena mendesah getir. "Atau memang kau pandai menyembunyikan sesuatu? Kau tahu... aku mulai lelah dengan semua misteri yang kau buat."

Leonard menunduk sedikit, lalu berjongkok di depannya. Untuk pertama kalinya, jarak mereka begitu dekat. Dan mata itu-mata yang katanya buta-menatap lurus padanya.

Jantung Selena berdegup kencang. "Kau... melihatku," ucapnya nyaris berbisik.

Senyum tipis muncul di bibir Leonard, kali ini bukan dingin, melainkan samar-samar hangat tapi penuh teka-teki. "Kau terlalu pintar, Selena."

Selena terdiam. Tubuhnya gemetar. "Jadi benar. Kau tidak buta."

Leonard berdiri kembali, tatapannya kembali mengeras. "Tidak semua hal yang terlihat adalah kebenaran. Dan tidak semua kebenaran pantas diungkap."

Selena bangkit berdiri, menatapnya dengan mata berair. "Kenapa kau harus berbohong? Apa salahku sampai kau harus memainkan peran ini di hadapanku?"

Leonard tak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, lalu berkata pelan, "Karena ada hal-hal yang harus kulindungi, Selena. Dan kau... belum siap mengetahuinya."

Malamnya, Selena terbaring di kamar. Matanya tak bisa terpejam, pikirannya dipenuhi pertanyaan. Suaminya sendiri pura-pura buta. Untuk apa? Apa tujuannya?

Ketika ia hampir terlelap, pintu kamar terbuka. Leonard masuk, wajahnya bayangan samar di bawah lampu remang. Selena berpura-pura tidur, berharap mendengar sesuatu.

Leonard berhenti di sisi ranjang. Tangannya terulur, hampir menyentuh wajah Selena, tapi berhenti di udara. Ia hanya berdiri diam, seolah menahan sesuatu dalam dirinya.

"Seandainya kau tahu... mungkin kau akan membenciku selamanya," bisik Leonard nyaris tak terdengar.

Air mata Selena mengalir pelan. Ia tahu suaminya menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kebohongan tentang kebutaan.

Dan ia bersumpah dalam hati, ia akan menemukan jawabannya. Apa pun itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dan Dendam Andara
9.8
Andara meninggalkan kehidupan desa untuk merantau ke kota besar. Misi utamanya adalah menemukan sosok yang bertanggung jawab atas penderitaan sang ibu di masa lalu. Saat bekerja sebagai staf pembersih, ia justru menarik perhatian seorang CEO tampan yang menjadi pimpinannya. Benih cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua di tengah perbedaan status sosial. Namun, ketika hubungan semakin dalam, berbagai rintangan besar muncul menguji kesetiaan mereka.
Sampul Novel Cute Pumpkin & The Badboy ( Indonesia )
8.9
Aryan Mada Kusumo, pewaris tampan Kusumo Grup yang gemar hidup bebas, mendadak terdesak saat orang tuanya menuntut pernikahan melalui perjodohan paksa. Di sisi lain, Nur Callia Maharani adalah chef profesional yang hanya ingin fokus pada kariernya. Tak disangka, sosok yang akan dijodohkan dengannya ternyata musuh bebuyutan masa kecil yang sangat ia benci. Akankah penyatuan antara wanita serius dan pria playboy ini berhasil di tengah konflik masa lalu mereka?
Sampul Novel Dia Mendanai Wanita Lain Menggunakan Uangku
8.9
Demi menguji kesetiaan Ethan Wilson, Julissa Palmer menyamar sebagai karyawan biasa. Namun, Ethan malah mengira Noreen adalah pewaris Grup Palmer yang asli. Sambil terus menghina Julissa, Ethan diam-diam merayu Noreen demi harta. Puncaknya, di pesta mewah perusahaan, Ethan berlutut melamar Noreen di depan media. Ia yakin Noreen adalah sang putri kaya yang sedang menyamar. Ethan tidak menyadari bahwa pemilik Grup Palmer yang sesungguhnya adalah Julissa.
Sampul Novel Gairah Membara: Cinta Tak Pernah Mati
8.4
Kusuma Hadi sempat menghina Dewi Nayaka tanpa menyadari identitas aslinya. Ia bahkan memerintahkan agar Dewi diusir dan dibuang ke laut. Namun, suasana berubah drastis saat sekretarisnya mengungkap bahwa wanita itu adalah istrinya sendiri. Kusuma pun menyesal dan berbalik memanjakan Dewi dengan penuh kasih sayang. Meski hubungan mereka terlihat sangat harmonis, publik dikejutkan oleh kabar perceraian yang tak terduga di antara pasangan tersebut.
Sampul Novel HASRAT, CINTA, DAN PENGORBANAN
9.1
Inara, gadis office girl di perusahaan migas milik keluarga Dhananjaya, terpaksa menjadi asisten pribadi Raka yang arogan setelah melakukan kesalahan. Saat persahabatannya hancur karena cinta segitiga dengan Bara dan Alexa, Raka hadir mengisi kekosongan hati Inara. Namun, hubungan mereka terancam oleh kembalinya mantan istri Raka dan paksaan ibu tiri. Daniel, kakak Raka yang cacat, juga mulai memanfaatkan Inara demi kepentingan pribadinya sendiri.
Sampul Novel Kesempatan Kedua: Cinta Fatal dan Balas Dendam
9.4
Danielle menyesali kebodohan masa lalunya yang menghancurkan keluarga akibat memercayai orang yang salah. Setelah terlahir kembali, ia bertekad memanfaatkan kecerdasan dan pesonanya untuk membalas dendam. Tak disangka, ia tumbuh menjadi sosok berpengaruh dengan berbagai identitas rahasia hingga dilindungi kelompok pembunuh dan empat keluarga besar. Di tengah kejayaannya, sang suami tampan yang dulu ia abaikan kini mengklaimnya dengan penuh cinta di hadapan dunia.