APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hypersex Of CEO (Penjerat Cinta & Gairah)

Hypersex Of CEO (Penjerat Cinta & Gairah)

Permainan Truth Or Dare yang awalnya iseng justru menjerat Thea dalam gairah membara bersama Alvaro. Berawal dari satu kecupan panas, sang CEO justru membelenggu Thea dalam dunia BDSM yang penuh kenikmatan. Status Thea pun berubah menjadi istri pura-pura untuk menutupi obsesi Alvaro. Namun, di balik hubungan fisik yang intens dan penuh dominasi tersebut, benih cinta yang nyata mulai tumbuh. Mampukah mereka menghadapi perasaan yang kian besar di balik ikatan palsu ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Sore itu semua teman sekampus Thea dihebohkan dengan kedatangan Alvaro Smith yang namanya dikenal sebagai salah satu CEO muda ter-hot di negera itu. Mereka semua berbisik sambil memberikan tatapan kagum dan memuja ke arah Alvaro.

Thea yang saat itu baru saja keluar dari kantin dengan segelas ice cokelat langsung membulatkan matanya dan membuang minumannya yang baru habis setengah ke dalam tempat sampah. Thea berlari menghampiri Al yang terlihat seperti seorang pangeran yang datang untuk menjemput Tuan Puterinya.

"Kok Lo ke sini sih?!" Thea menghampiri Al dan bertanya dengan raut wajah kesal. Segera setelah itu, Thea langsung menarik tangan Al untuk menjauh dari keramaian.

"Bikin malu aja!" Kesal Thea saat mereka sudah sampai di depan mobil Alphard milik Al.

Al hanya diam dan memandangi Thea dengan ekspresi datar nan dinginnya.

"Lo yang bikin malu." Kalimat balasan dari Al sangat amat membuat Thea kesal.

"Al! Lo kok jadi ngeselin gini sih?!" tanya Thea yang semakin merasa ada yang aneh dengan Al.

Di saat itu Al semakin mendekatkan wajahnya kepada Thea. Sedangkan Thea semakin memundurkan tubuhnya, sampai tak ada lagi tempat untuk menghindari Al. Tubuh Thea sudah stuck di pintu mobil milik pria itu.

Al menyentuh pelipis Thea, dan menikmati setiap ekspresi yang Thea ciptakan di wajah itu. Lalu pria itu membuka suaranya, "kenapa Lo gak tunggu gue? Bukannya gue udah bilang ke Lo? Lo berangkat ke kampus bareng gue."

Thea bergidik ngeri mendengar pertanyaan Al itu. Tadi pagi Thea memang sengaja pergi lebih awal. Pasalnya Thea tak mau menjadi pusat perhatian satu kampus dengan datang diantar seorang pria matang yang tampan, seksi, dan kaya. Lagipula, Thea sepertinya ingin membatalkan saja kesepakatan hubungan FWB dengan Alvaro.

Thea bukannya sudah tak terarik dengan uang Al yang dijanjikan kepadanya, akan tetapi di saat kemarin Al memberikan beberapa persyaratan yang menurut Thea sangat amat tak adil di dalam hubungan Friend Wirh Benefit yang tadinya mau mereka jalani.

"Al! Jangan deket-deket! Jauhan dikit!" seru Thea dengan mendorong dada Al degan kedua tangannya.

Thea mengambil nafasnya panjang, dan kemudian langsung berkata kepada Al, "Al! Kayaknya kita gak usah jadi partner FWB deh, gue gak mau. Kita batalin aja ya?"

Al menaikan alisnya, dahinya ikut berkerut. Sepertinya apa yang Thea katakan tak membuat Al senang.

"Why?" tanya Al dengan sangat singkat. Terlihat jelas sekali, jika Al sepertinya sangat tak menyukai apa yang Thea ucapkan beberapa saat yang lalu.

Thea memalingkan wajahnya supaya tak bertatapan langsung dengan Al. Dia gerogi, dan menjadi sedikit takut sekarang.

"Ya, gue gak mau. Lagipula kita kan udah selesai. Gue udah menang dari teman-temen gue. Dare itu-"

Lagi dan lagi, belum sempat Thea melanjutkan ucapannya, Alvaro lebih cepat memotongnya sesuka hati.

"Dare itu? Gimana kalo gue gak menganggap semuanya sebatas Dare?" tanya Al dengan serius.

"Ap-a?" Thea bertanya dengan terbata-bata.

Sebelum menjawab pertanyaan Thea lebih panjang, Alvaro memilih untuk memasukkan tubuh Thea ke dalam mobilnya. Thea sempat menolak dengan mencoba kabur lalu lari dari Alvaro, tapi Alvaro sudah lebih dulu mengantisipasi semuanya.

Dengan kekuatannya, dia mendorong masuk tubuh Thea. Setelah itu Alvaro buru-buru masuk ke pintu sampingnya dan menguncinya rapat.

"Al! Kok jadi gini, sih? Lo mau culik gue? Al! Udah turunin gue aja, please!" Thea bahkan sampai memohon. Tapi sayang sekali, Alvaro tak bergeming.

Mobil itu pun langsung melesat pergi dari area kampus. Thea kira Al akan mengantarkannya pulang, tetapi yang terjadi selanjutnya adalah sebalinya. Al membawa Thea ke sebuah mall serba ada.

"Ayo turun," ajak Alvaro yang kini membukakan pintu mobil untuk Thea.

Thea masih binggung dan diam di dalam sana, dan hal itu tak membuat Alvaro senang."Lo mau turun sendiri, atau perlu gue gendong lo keluar?" tanya Al. Entah Thea ini sedang tuli sesaat atau bagaimana, tetapi gadis itu masih diam di tempatnya. Tak ada jalan lain, Alvaro langsung menggendong tubuh Thea dengan sangat mudah keluar dari mobilnya.

"Al!" Thea yang keget langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Alvaro.

Alvaro melangkahkan kakinya masuk ke dalam mall itu, dengan Thea yang ada di dalam gendongannya. Beberapa kali Thea sudah minta diturunkan, tetapi Alvaro enggan menuruti keinginan Thea tersebut.

Sampailah mereka di dalam mall itu. Thea bertambah semakin binggung saat melihat keadaan di dalam sana sangatlah sepi. Tak ada orang lain, ataupun pengunjung selain Al dan Thea.

"Al, kok sepi? Ini kan bukan tanggal tua apalagi tanggal merah, kan? Eh ... ini kenapa si?" tanya Thea yang berbisik di telinga Al. Sedangkan Alvaro hanya tersenyum miring.

Al sudah menurunkan Thea, dan langsung menautkan jarinya dengan jari Thea. "Ayo," ajak Al yang langsung membawa Thea untuk melihat sekaligus membeli apapun yang Thea mau di sini.

Sebenarnya Thea masih ingin bertanya, tetapi matanya dan keinginan hatinya terlalu sulit untuk di tahan Apalagi saat Al dengan sengaja memamerkan kartu kredit no limit miliknya dan meminta Thea untuk mengambil apapun yang gadis itu mau.

"Astaga! Lo gak bohong, Al? Lo gak bakal nagih semua belanjaan gue, kan?" Thea kalap. Sudah ada sekitar sepuluh paperbag dari brand-brand ternama menjadi miliknya.

Al hanya mengangguk, dia juga sedang membawakan barang-barang Thea. "Apa lo masih mau belanja? Kalau lo mau, gue bisa minta ke pelayan gue buat bawa semua belanjaan lo."

Thea buru-buru menggeleng. Ini saja sudah sangat banyak, dan harganya? Jangan ditanya, karean Thea tak mau tahu.

"Cukup! Ini cukup banget buat gue, Al!"

Mendengar itu membuat Al menjadi senang. Dia mengelus pelan rambut Thea. "Ayo kembali ke mobil dan kita makan bersama."

Thea saat itu tak memiliki opsi apapun, kecuali menyetujui setiap apapun yang Al katakan. Karena ya, Al sudah membelikan tas, sepatu, baju, bahkan setelan dalaman dengan bahan kulaitas premium yang harganya sangat amat mahal. Belum lagi dengan beberapa jam tangan, cincin dengan kristal bening di tengahnya, dan banyak lagi pernak-pernik aksesoris wanita yang lainnya,

Di dalam mobil Thea kembali bertanya, "Al. Kok mall-nya sepi sih? Terus kenapa mereka semua, pekerja yang ada di sana hormat banget sama lo? Mereka sampai panggil lo dengan sebutan Tuan?" Al melirik Thea dan dengan santai menjawab, "ya karena mall itu punya gue."

"Apa?!" teriak Thea tak bisa menggondisikan suaranya.

"Pu-nya lo?" tanya Thea memastikan dan langsung di balas anggukan oleh Al.

Mereka kini akhirnya sampai di sebuah restoran mewah. "Jangan bilang kalo restoran ini juga milik lo."

Al terkekeh, "bukan, tapi kalo lo mau dan suka sama semua makanan yang ada di sini, gue bisa beli restoran ini buat lo."

Thea speechless. Apa Al tak takut jika uangnya habis? Bagaimana jika tiba-tiba kebakaran di gudang uang Al, dan semua uangnya hangus? Atau bagaimana jika ada perampok? Apa Al masih bisa menyombongkan semua uanagnya?

Kembali Al membukakan pintu mobil untuk Thea. "Ayo turun," ujarnya. Thea mengangguk dan semakin kikuk. Al jelas bukan orang kaya biasa.

Thea bernafas lega. Restoran ini tak sesepi Mall tadi. Masih ada pengunjung lain. Namun, tetap saja, seperti semua orang yang ada di sana, dan para pelayan begitu menghormati Al.

Saat Al dan Thea ingin beranjak dan duduk di tempat mereka, sebuah suara memanggil nama Al.

"Al!" Al langsung menoleh. Dan wajahnya terlihat kesal saat itu.

"Kemarilah!" panggil pria tua dengan jas mahalnya.

"Huh!" Dengan berat hati Al menghampiri pria tua yang memanggilnya, dengan menarik tangan Thea untuk ikut bersamanya.

"Papah tak mengira jika kau akan datang kemari juga."

'Oh ... dia bapakya Al.' Batin Thea yang masih berdiri di sisi Al.

"Hmn." Al menjawab dengan deheman. Lalu saat ia ingin beranjak dari sana, bapak Al yang bernama Reon menghentikannya lagi.

"Mari bergabung saja dengan kami." Reon yang saat itu duduk dengan beberapa koleganya yang juga tua, tersenyum ramah.

"Dan kau juga harus berkenalan dengan anak kenalan Papa." Reon tersenyum ke arah seoraang gadis di antara para orang tua itu.

Gadis yang cantik dengan menggunakan dress sopan yang pastinya mahal, dia juga terlihat anggun, dan wajahnya seperti oraang berpendidikan yang sangat pintar. Sudah jauh berbeda kelas dengan Thea yang hanya mengenakan baju crop top santai dipadukan dengan celana kulot dan sebuah cardigan kebesaran.

Gadis itu teersnyum dan berdiri di hadapan Al, dia menjulurkan tangannya, tetapi Al msih tetap mengabaikannya. Dia lalu tersenyum kikuk, dan tetap memperkenalkan namanya. "Salam kenal, Al. Aku Micaila Anderson. Senang bisa bertemu denganmu."

Al hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi, dia kemudian melirik ke arah ayahnya. "Sudah kan? Saya akan pergi jika begitu," ucap Al sambil menarik tangan Thea.

"Al! Kau snagat tak sopan ... Mica. maafkan Al, ya? Dia memang terkadang seperti itu."

"Iya, tak apa kok Om. Aku paham." Micaila duduk kembali dan menyesap teh nya dengan anggun.

"Al dia adalah Micaila. Gadis yang akan papah tunangkan dan nikahkan denganmu."

Al nampak tak suka. Tanpa sengaja dia bahkan menekan kuat pergelangan tangan Thea.

"Awww! Al kok-"

"Sebelumnya maaf. Saya akan langsung menolaknya, papah."

Reon syok. Dia malu. Ada banyak kolega dan calon besannya di sini, dan Al menolak secara langsung.

"Tapi kenapa? Al usiamu sudah matang. Waktunya untuk serius dan tak selalu bermain dengan wanita murahan seperi yang ada di sampingmu!"

Thea merasa jika dia mulai menjadi pusat perhatian. "Om saya-"

"Dia adalah kekasih saya. Dan saya akan menikah dengannya, buka dengan Micaila."

"Heh?! Apa?! Al-"

Belum sempat Thea menyuarakan pendapatnya, Al sudah menarik tangan Thea keluar dari restoran ini.

***

Di dalam mobil, Thea sedang menagih penjelasan Al.

"Kok Lo seenaknya aja sih?! Lo itu seharusnya gak boleh ngomong gitu! Mereka salah paham nanti, Al!" Thea menguyah permen karetnya dengan kesal. Sedangkan Al hanya diam fokus mengemudi.

"Al! Jangan jadi batu deh! Kita ini cuman FWB, lagipula gue juga udah bilang, gue mau batalin aja-"

"Gak ada yang dibatalin, Thea. Anggap aja ini salah satu dari hubungan FWB kita." Jantung Thea berdebar saat Al menghentikan mobilnya, dan fokus melihat wajah Thea.

Dia mencengkram bahu Thea lumayan kuat.

"Mulai sekarang anggap aja kalo gue itu sugar Daddy Lo, dan Lo harus pura-pura jadi kekasih gue."

"Al! Tap-"

"Please, The! Gue gak mau dinikahin sama cewe yang gak gue suka. Dan Lo harus bantu gue!"

"Ya tapi kok gue?! Ada banyak cewek di luar sana, Al!"

Mereka berdua berdebat. Tak ingin mengalah satu sama lain. Hingga Al terpaksa mencium rakus bubur Thea, hingga membuat si empunya kehabisan nafas.

"Gue gak suka dibantah, Thea. Dan Lo tenang aja, uang bulanan Lo bakal aman sama gue. Lo gak perlu kerja atau one night stand sama siapapun lagi setelah ini. Lo cukup jadi kekasih pura-pura gue."

Jika begini Thea yang sangat menyukai uang bisa apa? Setelah pertimbangan yang cukup banyak, Thea mengangguk dan menyetujuinya.

"Oh iya, satu lagi. Mulai sekarang jangan pakai Lo-Gue ketika kita sedang bicara satu sama lain. Kau paham, Thea?"

"Tapi lo-"

"Kamu-aku, Thea." Suara Al menuntut. Dan bodohnya Thea langsung kicep.

"Iya, maksud aku, kamu Al ..."

"Good girl!" Al mengusap rambut Thea. Da mengantarkan kekasih pura-puranya pulang.

***

"Kau tinggal bersama denganku saja."

"Hah?! Apa? Gak mau lah! Gue gak mau Al"

"Gue- Emmphtt!!"

"Jangan pakai bahasa gaul mulai sekarang, Thea. Kekasih Al itu tak boleh berbicara kasar."

Wajah Thea merona.

"Kita kekasih pura-pura Al!" teriak Thea.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Husband billionare
8.3
Arkhana Jason, bos besar Grup Jason, hilang ingatan usai upaya pembunuhan oleh pamannya, Wira. Ia diselamatkan Nina di desa dan mereka pun menikah. Saat ingatannya pulih, Arkha menyamar demi membongkar kejahatan Wira, termasuk nasib orang tuanya. Setelah membalas dendam dan bersatu kembali dengan keluarganya, Arkha mendapati rumah Nina hancur akibat ulah istri Wira. Ia segera menyelamatkan Nina, mengungkap identitas aslinya sebagai miliarder, lalu memboyong mereka ke kota.
Sampul Novel KUKIRA MISKIN, RUPANYA CEO
8.4
Lamaran Aditya ditolak mentah-mentah oleh Yuni karena hanya sanggup memberi hantaran lima puluh juta. Tak hanya dihina, Belinda sang kekasih pun ikut merendahkannya. Dalam kemarahan, Aditya justru melamar Dahlia, asisten rumah tangga Belinda, dengan cincin berlian mewah. Tak ada yang tahu bahwa staf administrasi biasa ini sebenarnya adalah putra mahkota pemilik perusahaan. Saat identitas aslinya sebagai CEO terungkap, mampukah Aditya dan Dahlia merajut cinta tulus dari awal yang penuh emosi ini?
Sampul Novel Luka Cinta Dari Suami Obsesif
8.6
Demi nyawa kakek, aku terpaksa menikahi Simon Adijaya yang telah mengurungku selama sedekade. Namun, aku justru disiksa oleh Virginia hingga wajahku hancur. Bukannya menolong, Simon malah menyebutku sampah dan membuangku ke sungai es. Di ambang maut, aku tahu kakek telah tiada. Simon merampas segalanya dariku: orang tua, kebebasan, dan harapan. Kini, dendam membara dalam sukmaku. Aku bersumpah akan menghancurkan hidupnya hingga dia memohon kematian yang takkan pernah kuberikan.
Sampul Novel My Bule Husband
8.1
Naina, gadis sederhana, terpaksa menikahi pria kaya asal Jerman karena rasa balas budi. Ia mengira hidupnya akan tenang, namun kenyataannya ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Suami bulenya yang dingin menganggap Naina hanya sebagai pengasuh bagi putranya yang berusia tujuh tahun. Tak hanya sang suami, putra sambungnya, Steven, juga bersikap acuh dan tidak menerimanya sebagai ibu. Kini Naina harus bertahan menghadapi sikap kasar dua sosok kaku tersebut.
Sampul Novel Pengantin Yang Terjebak Dalam Dendam
9.4
Sephia terjerat dalam pernikahan paksa dengan pewaris kejam, Elandro Varela. Semua berawal saat Sephia harus bertanggung jawab merawat ibu Elandro pasca kecelakaan tragis. Namun, Elandro justru memanfaatkan ikatan ini untuk melampiaskan dendam pribadinya. Bagi Sephia, janji suci tersebut hanyalah hukuman dan penjara emas yang penuh kebencian. Di tengah tekanan perang dingin ini, mampukah Sephia bertahan, atau ia akan hancur oleh amarah Elandro yang tak berujung?
Sampul Novel PERNIKAHAN SYDEN ADIBA DI LAHORE PAKISTAN
9.3
Adiba terpaksa meninggalkan Rusia demi memenuhi panggilan orang tuanya di Pakistan yang mencurigai adanya rahasia terpendam. Perpisahan ini berat karena ia harus menjauh dari Syden, mantan idola kampus di Filipina yang kini menjadi pengusaha sukses di Rusia. Meski Syden telah menyembuhkan luka hati Adiba dengan cinta tulusnya, perbedaan latar belakang membuat restu orang tua sulit didapat. Syden kini harus berjuang keras meluluhkan hati keluarga Adiba di Lahore.