APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel IBU YANG KAU BUANG

IBU YANG KAU BUANG

Memasuki usia senja, tubuh ini tak lagi berdaya untuk terus membanting tulang. Alih-alih mendapatkan kasih sayang, aku justru ditelantarkan oleh anak-anak kandungku sendiri tepat setelah aku berhenti bekerja. Di tengah perlakuan buruk dari darah dagingku, mampukah aku menemukan secercah kebahagiaan untuk menghabiskan sisa umurku? Sebuah kisah pilu tentang perjuangan seorang ibu yang dikhianati oleh anak-anak yang telah ia besarkan dengan penuh pengorbanan.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Jaga suaramu, Fen! Aku mertuamu, tidak seharusnya kamu berani kepadaku? Memangnya kenapa jika aku berhenti bekerja? Kamu sudah cukup menikmati hasil keringatku. Jangan menuntutku lebih lagi!" Hatiku meradang diperlakukan tidak sopan oleh wanita yang baru satu tahun menjadi menantuku itu.

Feni tampak terkejut mendengar nada suaraku yang terdengar sedikit meninggi. Biasanya aku tidak pernah meninggikan suaraku padanya ataupun pada anak-anakku lainnya.

"Ibu ... ibu berani membentakku?" cicit Feni. Dia memandangku dengan sorot mata tidak suka.

Aku memalingkan wajahku dan tidak menjawab Feni. Rupanya aku terlalu memanjakannya, hingga dia tidak menaruh hormat padaku. Padahal aku selalu menganggapnya putriku sendiri. Aku tidak membeda-bedakan dia dengan Damar ataupun Dina. Aku memperlakukan mereka sama. Setiap dia menginginkan apapun aku juga berusaha untuk memenuhinya.

"Baiklah. Aku akan mengadukan Ibu pada Mas Damar. Biar Ibu rasakan telah berani membentakku!" ancamnya.

Feni melangkah pergi, terdengar suara hentakan kakinya yang keras. Sepertinya dia terlihat sangat marah. Tapi aku tidak peduli. Dia memang harus diajari sopan santun.

Aku kembali merebahkan tubuh tuaku di atas pembaringan. Netraku menatap langit-langit kamar. Pikiranku mengembara. Memikirkan keinginanku untuk pergi ke Tanah Suci. Keinginan yang terpendam sedari dulu, dan harus kutahan karena aku harus membahagiakan anak-anakku.

Aku selalu menahan keinginanku untuk memenuhi apa yang mereka inginkan. Kini aku ingin melaksanakan keinginanku itu. Mumpung aku masih punya rejeki. Aku mendapat uang pesangon dari pabrik. Rejeki dari Allah, untukku bertandang ke Baitullah.

Aku sangat berharap bisa mewujudkan keinginanku dalam waktu dekat. Aku tidak tahu sampai berapa lama sisa umurku. Masihkah aku diberi kesempatan untuk menjadi tamu Allah di sana.

***

"Kok kamu membuat mie instan, Mar? Memangnya Feni tidak masak?" tanyaku begitu sampai di dapur. Kulihat tubuh jangkung putraku sedang berdiri di depan kompor sembari mengaduk mie yang ada di dalam panci.

Jam makan malam sudah tiba. Biasanya Feni akan memanggilku jika makanan sudah siap. Tapi kali ini dia tidak memanggilku sama sekali. Jadi aku pergi sendiri ke dapur karena perutku sudah mulai lapar. Aku hanya makan di pagi hari tadi sebelum ke pabrik.

Damar menoleh padaku sebentar, lalu melengos, kembali melanjutkan aktifitasnya memasak mie instant. Bibirnya mengerucut, tampak sekali jika dia sedang kesal.

Aku pun mendekat ke arahnya, lalu kusentuh pundak anak lelakiku itu dengan lembut. "Kamu nggak jawab pertanyaan ibu, Nak?" tanyaku lembut.

Damar mematikan kompor, lalu dia kembali menoleh ke arahku. Tatapan matanya tajam menyorot wajah tuaku. Aku tersentak. Selama ini dia tidak pernah melihatku dengan sorot tajam itu. Dia selalu bermanja padaku.

"Ini semua karena Ibu! Ibu yang sudah membuat Feni marah hingga tidak mau memasak untuk makan malam."

Aku tersentak mendengar kalimat yang keluar dari bibir putraku itu. Tanganku yang menyentuh pundak Damar perlahan terlepas.

Damar menuang mie instant yang telah selesai dimasaknya ke dalam mangkok. Kemudian dia membawa mangkok itu ke atas meja makan. Setelahnya dia duduk di kursi, lalu mulai menyantapnya dalam diam.

Hatiku terenyuh melihat putraku makan makanan tidak sehat itu. Aku menghela napas pelan, lalu melangkah menghampirinya.

"Ibu masak untukmu ya, Mar?" tanyaku padanya setelah sampai di sampingnya.

Damar berhenti menyuap mendengar pertanyaanku. Lalu dia menoleh ke arahku. "Tidak perlu," jawabnya singkat.

"Nanti kamu masih lapar jika hanya makan mie itu, Mar." Aku terus membujuknya tidak tega rasanya membuat putraku itu tidak makan dengan benar.

Hati ibu mana yang tega jika melihat putranya kelaparan. Tolong jangan bilang jika aku adalah ibu yang lemah. Aku hanya sangat menyayangi anak-anakku. Mereka adalah permata hatiku.

"Biar saja, Buk."

Kembali Damar hanya menjawabku dengan singkat. Kebiasaannya jika hatinya sedang diliputi amarah. Aku menghela napas pelan. Susah sekali membujuk bungsuku itu, dia keras kepala seperti mendiang ayahnya.

Damar kembali mengalihkan pandangannya dariku. Dia kembali menyuapkan mie yang tinggal separuh di mangkoknya. Aku pun memutuskan untuk duduk di samping Damar. Menunggunya selesai makan, untuk mengutarakan keinginanku padanya. Tapi, apa waktunya pas untuk berbicara sekarang? Sedang dia dalam keadaan yang diliputi amarah.

Damar pun menyelesaikan makannya, di mangkoknya hanya tersisa kuah mie saja. Anakku itu pasti sangat lapar hingga makannya cepat sekali. Lalu aku menyodorkan segelas air putih untuknya.

Damar menerima air tersebut, kemudian meneguknya hingga tandas. Setelahnya dia meletakkan gelas bekas minumnya ke atas meja.

Damar menoleh ke arahku, senyumku seketika terbit ketika melihat amarah Damar sudah terlihat mereda. Aku pikir bisa mengajaknya berbicara kali ini.

"Buk. Ada yang ingin Damar tanya," ucapnya.

"Apa, Nak?" tanyaku mulai berbesar hati karena Damar sudah mau berbicara padaku.

"Ibu dapat uang pesangon 'kan?" tanyanya langsung.

Aku mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Damar. Perasaanku mulai tidak enak setelah mendengar pertanyaannya itu. Ada rasa khawatir mendengar Damar menanyakan uang pesangonku.

"Memang ada apa, Mar?"

"Ah ... Ibu. Jawab saja pertanyaan Damar, Buk. Ibu dapat uang pesangon 'kan?" Damar mulai tampak tidak sabar karena aku tidak langsung menjawab pertanyaannya.

"I-ya, Mar. Ibu dapat uang pesangon dari pabrik. Tapi—."

"Nah ... mana uangnya, Buk? Biar Damar aja yang pakai, lumayan bisa buat Damar modal usaha. Sekalian untuk belikan Feni emas, biar dia nggak ngambek lagi," papar Damar memotong ucapanku. Padahal aku belum menyelesaikan ucapanku. Tapi Damar sudah lebih dulu memotongnya tanpa memperdulikanku.

Aku membulatkan mata mendengar penuturan putraku itu. Kenapa bisa dengan entengnya dia menyampaikan keinginannya padaku? Padahal aku juga mempunyai keinginan sendiri untuk menggunakan uang pesangonku.

"Tidak bisa, Mar. Ibu mau pakai uang itu untuk menunaikan ibadah haji, Mar. Ibu sudah lama sekali ingin pergi ke Tanah Suci. Kali ini ibu akan memakai uang itu untuk mewujudkan keinginan ibu," tegasku, menolak permintaan Damar.

Sejak dulu aku selalu mengutamakan kehagiaan anak-anakku, lalu kenapa aku tidak bisa mewujudkan keinginanku satu-satunya? Padahal keinginanku cuma itu, dan itupun aku tidak merepotkan anak-anakku untuk mewujudkannya.

Sekali saja. Sekali saja, aku ingin bertandang ke Tanah Suci. Hanya itu impianku di masa tuaku ini.

Damar mendengkus kasar mendengar penolakanku, lalu dia langsung berdiri dari kursinya dengan kasar, hingga kursi yang didudukinya terlempar ke belakang. Kemudian dia berlalu pergi dengan langkah panjang. Sementara aku berjenggit kaget ketika mendengar suara keras kursi yang terlempar.

Aku memandang sendu kepergian Damar. Rasa laparku seketika menghilang, hanya rasa perih di hatiku yang terasa sekarang ini, karena melihat putraku terlihat marah padaku. Aku tidak menyangka jika Damar akan menentang keinginanku untuk pergi ke Tanah Suci.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cacat Sebagai Penebus Jasa
8.5
Bagi sang anak, dilahirkan ke dunia dianggap sebagai beban utang yang harus dibayar kepada ibunya. Demi menebus segala jasa tersebut, ia rela mengorbankan raga hingga mengalami kecacatan fisik yang permanen. Pengorbanan tragis ini dilakukan hanya demi satu tujuan, yaitu menyentuh nurani sang ibu agar mau memberikan pengampunan tulus. Sebuah kisah pengabdian menyakitkan yang menguji batas antara bakti dan penderitaan dalam hubungan keluarga.
Sampul Novel Dikhianati Saudara Tiri
9.5
Dunia Kiana Putri hancur saat Salsabila, saudara tirinya, dan sahabatnya sendiri, Dara, mengkhianatinya. Terusir dari rumah penuh kenangan, ia bangkit dan sukses menjadi desainer perhiasan setelah lima tahun berjuang. Meski mandiri membesarkan putranya, Haidar, hati Kiana tetap tertutup rapat. Tiba-tiba, Alif muncul membawa tawaran mengejutkan: pernikahan dan janji untuk menjaga Haidar. Di tengah keraguan akibat luka lama, Kiana harus menghadapi kehadiran pria misterius ini.
Sampul Novel Garis Cinta
8.2
Diza sontak melayangkan protes saat merasakan perlakuan kasar dari kekasihnya. Menanggapi keluhan tersebut, Rayden segera meminta maaf dengan nada lembut. Pria itu berjanji akan melanjutkan interaksi mereka secara lebih perlahan dan berhati-hati. Sembari menenangkan suasana, Rayden mulai melonggarkan dasi yang telah melilit lehernya selama berjam-jam demi memberikan kenyamanan lebih bagi mereka berdua dalam momen intim yang penuh dengan ketegangan romantis tersebut.
Sampul Novel Gendutnya Istriku
9.2
Pasca menikah dengan Arman, Izzah merasa tertekan karena komentar miring mengenai berat badannya. Meski ia bertekad diet, Arman justru menghalangi demi menjaga kehamilan Izzah yang baru terdeteksi. Sebagai mantan nakes dengan dua anak, Izzah merasa tak perlu hamil lagi, namun bagi Arman yang sempat dituduh mandul, janin ini adalah bukti kejantanannya. Konflik ego pun memuncak antara keinginan Izzah untuk kurus dan ambisi Arman memiliki keturunan.
Sampul Novel Hamil Dengan Pengkhianat
8.6
Nasib buruk di Paris membawa Vera terjebak dalam malam panjang bersama pria asing. Betapa terkejutnya dia saat menyadari pria itu adalah Dante, perundung masa sekolah yang paling ia benci. Dua bulan berlalu di Jakarta, Vera mendapati dirinya hamil dan bertekad membesarkan janin itu sendirian demi menghindari bayang masa lalu. Namun, takdir justru mempertemukan mereka kembali. Kehadiran Dante yang tiba-tiba membuat hidup Vera kian rumit dan penuh dilema.
Sampul Novel Istri Dadakan
9.5
Skandal cinta satu malam yang terungkap oleh sang ayah memaksa Dave untuk menikahi Rachel secara mendadak. Dave yang merasa kebebasannya dirampas seketika menaruh kebencian mendalam pada istri barunya tersebut. Padahal, Rachel sendiri sebenarnya sudah memiliki kekasih hati sebelum perjodohan paksa ini terjadi. Di tengah rasa benci dan keterpaksaan, akankah pernikahan tanpa dasar cinta antara Dave dan Rachel ini mampu bertahan menghadapi konflik yang ada?