APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel I'm The Beast

I'm The Beast

Rodolfo Silas adalah pembunuh bayaran yang beralih menjadi pelindung desa saat teror makhluk aneh melanda. Di tengah misteri hilangnya manusia setiap bulan purnama, Rodolfo berjuang sendirian menghalau pasukan serigala berkat kemampuan tempurnya yang luar biasa. Namun, nasibnya berubah drastis ketika pasukan elite werewolf menculiknya dan mengubahnya menjadi monster mengerikan. Kini, ia harus menghadapi kenyataan baru sebagai bagian dari kaum yang ia lawan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah mengalami hal yang tidak masuk akal, Rodolfo mencoba untuk menenangkan diri dengan tidak mengingat lagi peristiwa di gua itu. Ia menganggap misi untuk membunuh Jonathan telah selesai, karena ia merasa kejadian itu bukanlah mimpi, melainkan kenyataan.

"Ugh!" Tiba-tiba ia merasakan sakit kepalanya, sakit yang teramat sangat dan membuat ia terpaksa harus diam sejenak ketika sedang membaca misi yang ada di meja di depannya.

Kejadian aneh kembali ia alami saat ia mencoba membuka kedua matanya. Tanpa sengaja ia melihat sebuah bayangan hitam yang membentuk siluet seorang manusia yang sedang melayang tak jauh darinya. Namun, bayangan itu hilang saat Rodolfo memaksakan kelopak matanya agar terbuka lebih lebar.

"Hah?! Apa itu?" ucapnya sambil melotot dan melemparkan pandangan ke segala arah.

"Hmm ... mungkin hanya halusinasiku saja," ucapnya lagi sambil memijat keningnya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.

Kemudian, ia mencoba untuk bersikap biasa dan kembali mempelajari misi selanjutnya yang harus ia jalani.

"APA?!" Rodolfo tiba-tiba terkejut saat membaca salah satu lembar kertas yang berisi identitas orang yang akan menjadi targetnya.

Ia tidak menyangka jika seorang Diego yang merupakan public figure terkenal bisa terlibat dalam kasus penyelundupan heroin bersama dengan Jonathan dengan menggunakan media boneka hasil produksi perusahaan milik Jonathan.

Di mata masyarakat, Diego adalah seorang yang dermawan. Ia sering memberi bantuan dan menggalang dana untuk kemanusiaan, malah menjadi duta anti-narkotika.

"Publik figur yang sangat busuk! Hanya mengotori dunia dan menjadi wabah bagi generasi muda!" ucap Rodolfo, kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam.

Ia tidak percaya pada popularitas dan reputasi publik figur, karena menurutnya itu hanya topeng. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik tabir, dan itu harus segera diungkap.

"Aku harus membasmi orang seperti ini, agar tidak tumbuh tunas baru yang berakar kuat," gumamnya lagi sambil mematikan rokoknya ke dalam asbak.

Lantas ia membuka lembar demi lembar berkas dalam map itu, ia tersontak kaget dengan informasi terakhir yang ia dapat.

"Besok?!? Apakah tidak terlalu cepat?!" ucapnya dengan nada heran dan mengerutkan dahi.

Di sana tertulis bahwa, besok, Diego akan bertemu dengan seorang agen dari salah satu produk iklan di sebuah restoran pukul delapan malam dan akan duduk di kursi nomor dua belas.

Rodolfo mengangguk-angguk pasrah, karena tidak ada waktu baginya untuk bersantai. Walau ia tahu, sangat tidak mungkin baginya menjalani hidup seperti orang biasa.

Namun demikian, ia merasa tenang, karena ia cukup mengenal area sekitar restoran itu. Restoran itu terletak berdekatan dengan rel kereta api, di mana tidak ada ketenangan sama sekali seperti restoran pada umumnya. Apalagi letak meja nomor dua belas, posisinya seperti di pojok dan menghadap arah lintasan kereta api. Mengetahui hal itu, Rodolfo pun mulai memutar otaknya, mengatur strategi yang terbaik yang harus ia jalani.

"Hmm ...," ia bergumam sambil memejamkan mata.

Dalam pikirannya ia bersimulasi, membayangkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi ketika menggunakan masing-masing strategi yang ada di pikirannya.

"Oke!" ujarnya sambil menjentikan jari.

Karena merasa telah mendapat apa yang diinginkan, ia pun memutuskan untuk beristirahat.

***

Keesokan harinya...

Rodolfo tampak berjalan-jalan disekitar restoran yang tertulis di keterangan misinya. Ia melihat sekeliling, mencoba mencerna situasi. Pikirannya bervisualisasi dengan pandangan matanya. Tiba-tiba, arah matanya terjatuh pada seorang pria yang sedang duduk di kursi tepi jalan.

Rodolfo merasa curiga dengan tingkahnya, pria itu terlihat gelisah merencanakan sesuatu. Namun, Rodolfo mengabaikan saja dan melangkah menjauh meninggalkan lokasi restoran.

Saat memasuki gang sempit, ia menghentikan langkahnya.

"Siapa kamu?" tanya Rodolfo saat merasakan adanya pergerakan yang mengikutinya tanpa menoleh ke belakang.

"Hai, Rodolfo!" ucap seorang pria yang berada di belakangnya.

Rodolfo tak menjawab, ia langsung melakukan tendangan memutar ke arah pria itu. Namun dengan sigap pria itu menangkap kaki Rodolfo, kemudian membalas dengan pukulan telak ke dada Rodolfo.

Tapi, dengan cepat Rodolfo menangkis dan balik menendang kepala pria itu hingga jatuh tersungkur. Tanpa membuang waktu, ia lalu mendekatinya, kemudian mencekik leher pria yang terbaring itu.

"Katakan! Apa maumu?" tanya Rodolfo.

Pria itu hanya menatapnya tajam sambil berusaha melepas cekikan di lehernya. Sudut mata Rodolfo melihat bahwa tangan pria itu meraba pinggangnya sendiri, hendak mengambil pistol. Namun, dengan cepat Rodolfo meraih pisau dari balik jaketnya dan menusukannya ke leher pria itu.

Tiga kali tusukan membuat leher pria itu memuncratkan darah segar, matanya melotot, mulutnya menganga, dan tewas secara mengenaskan.

Setelah itu, Rodolfo berdiri dan membersihkan pisaunya, kemudian memasukannya kembali ke balik jaket. Namun, ia merasa penasaran dengan pria yang baru saja ia cabut nyawanya. Ia pun lalu meraba celana pria itu dan menemukan sebuah cincin berlogo tengkorak.

"Hmm ...," ucapnya sambil menggenggam cincin itu.

"Jangan pernah mengirim domba untuk membunuh serigala!" ucapnya sambil melangkah pergi saat mengetahui bahwa orang yang dia bunuh adalah salah satu anggota dari organisasi yang ia ketahui.

***

Malam harinya...

Terlihat Rodolfo sedang bersiap di tepi jembatan yang berada di atas rel kereta api. Beberapa saat kemudian, sebuah kereta api melintas di bawahnya dan ia langsung melompat ke atap gerbongnya.

Walaupun kereta api itu melaju sangat cepat, hal itu tidak menyulitkan sama sekali bagi orang terlatih seperti Rodolfo. Ia berdiri dengan gagah di atas atap gerbong kereta api sambil menggenggam sebuah pistol andalannya, yaitu pistol sejenis Magnum.

Pandangan matanya fokus ke depan, sesekali ia harus berlutut bahkan menelungkup saat melewati terowongan. Setelah jarak dirasa cukup dekat dengan restoran, ia berdiri mengokang senjatanya. Terlihat olehnya, Sang Target, yaitu Diego sedang duduk persis di dekat jendela sambil mengotak-atik ponselnya.

Dor!

Rodolfo melesatkan satu peluru dari pistolnya. Peluru yang dibuat khusus agar mampu melesat lebih cepat dari peluru biasanya, dan memungkinkan peluru itu bisa membelok membelah arah angin.

Dalam sekejap mata, peluru itu masuk ke otak Diego, menembus mata kirinya, membuat pria itu langsung jatuh tersungkur. Diego Sang Target pun langsung tak bergerak sedikit pun, ia meregang nyawa dengan cara yang mengenaskan.

Rodolfo hanya menatap dingin, lalu memasukan kembali pistolnya ke dalam jaket dan duduk santai di atas atap gerbong kereta api.

Kematian Diego yang mendadak itu sontak membuat seluruh pengunjung restoran menjadi panik. Begitu juga Sang Agen, ia yang melihat langsung semua kejadian dengan mata kepalanya sendiri, hanya bisa gemetar menahan rasa takut.

Kejadian itu diluar dugaannya, saat ia akan memanggil Diego untuk membuka percakapan, tiba-tiba kereta api melintas dan tubuh Diego langsung terkapar. Ia seolah tidak percaya dengan yang terjadi, lalu menghampirinya dan melihat tubuh Diego sudah terbaring kaku dengan luka tembakan dari mata kiri hingga tembus ke kepala.

Pihak restoran yang mengetahui peristiwa itu pun segera membubarkan pengunjungnya dan menelepon Petugas Kepolisian.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Captain's Ravenge
9.4
Arya Bimantara terpaksa meninggalkan posisinya di perbatasan Kalimantan setelah menerima berita duka yang mendadak. Aryo, saudara kembarnya, ditemukan tewas bersama istrinya tak lama setelah mereka saling berkirim pesan. Saat pulang untuk menghadiri pemakaman, Arya mencium adanya kejanggalan. Penyelidikan mandiri mengungkap bahwa pasangan itu sebenarnya dibunuh secara terencana. Kini, sang kapten harus melacak pelaku di balik tragedi berdarah ini demi membalaskan dendam keluarganya.
Sampul Novel Ditinggal Kekasih Mafia
9.0
Dante Alvarado, gembong mafia kejam, menutup hati akibat pengkhianatan mantan kekasih yang menikah dengan pria lain. Kebenciannya pada wanita terusik saat seorang gadis misterius tiba-tiba mengklaim sebagai calon istrinya di depan publik. Situasi kian rumit ketika sang mantan kembali muncul dan menyatakan perasaan. Dante pun tersulut amarah besar. Akankah ini menjadi kehancuran prinsipnya atau justru awal dari sebuah permainan maut yang jauh lebih berbahaya?
Sampul Novel Escape
8.1
Emily Watson, model cantik yang terancam bahaya, berada dalam lindungan Ethan Davis, pemilik perusahaan keamanan elite di London. Dr. Watson menyewa jasa Ethan demi menjaga rahasia besar putrinya, sebelum ia ditemukan tewas mengenaskan tanpa kepala. Di tengah pelarian dan ancaman pembunuhan, Ethan dan Emily harus menghadapi trauma masa lalu mereka yang kelam. Akankah cinta yang lahir dari kegelapan ini mampu menyelamatkan mereka dari intrik mematikan yang mengintai di setiap sudut kota?
Sampul Novel Genderang Perang Manusia Elektrokinesis
8.2
Manfred Argianta Bergmans atau Gian menjalani hidup penuh penderitaan akibat perundungan keluarga dan teman sekolahnya. Hanya Alicia yang setia mendukungnya, meski hal itu memicu intimidasi yang lebih parah. Setelah menolong kucing malang, Gian menerima warisan kekuatan elektrokinesis dari sosok misterius dalam mimpi. Didampingi seekor tikus putih sebagai mentor, ia memulai misi balas dendam. Namun, saat dianggap monster dan Alicia menjauh, sanggupkah Gian memenangkan perang ini?
Sampul Novel Ksatria Naga Phoenix
8.3
Ramalan kuno di Benua Arkandaria memperingatkan kemunculan Naga Langit yang akan membawa kiamat. Hanya Ksatria Naga Phoenix yang mampu menghentikannya, namun sosok sakti ini hanya dianggap dongeng. Zhu Fei, putra Panglima Zhu Lei, diramalkan menjadi ksatria pertama tersebut. Di usia lima tahun, ia harus menjalani latihan berat di Pulau Pek Long demi memenuhi takdirnya. Akankah ia berhasil mencegah kehancuran dunia atau ramalan itu tetap menjadi legenda?
Sampul Novel RAHASIA SANG BODYGUARD
8.3
Bukan kisah cinderella, ini tentang Kinara yang hidupnya berubah menjadi teror mengerikan. Demi keamanan, ia menyewa Satria sebagai bodyguard. Meski Satria sangat tampan, Nara tetap waspada karena ia percaya ketampanan adalah alat tipu daya. Saat Satria mencoba memikat hatinya, rahasia gelap perlahan terkuak. Identitas asli Satria ternyata adalah Ghazi Ammar Fahrezi, pria misterius yang memiliki kaitan erat dengan trauma masa lalu Nara yang sangat kelam.