APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Impian untuk Rian

Impian untuk Rian

Anara adalah sosok gadis ceria yang selalu hadir dengan senyum lebar dan binar mata tulus untuk Rian. Bagi Anara, Rian adalah pusat kebahagiaan terbesarnya, sementara Rian sendiri merasa hidupnya kini sangat bergantung pada kehadiran gadis itu. Namun, sebuah tanda tanya besar muncul mengenai masa depan mereka. Jika suatu saat Anara pergi meninggalkannya, mampukah Rian melanjutkan hidup dengan normal atau justru selamanya terjebak dalam bayang-bayang kenangan Anara?
Bab
Bagikan

Bab 2

Keluarga Yusan aryunandyaz di hebohkan oleh kabar putri bungsunya yang pulang diantarkan oleh sosok pangeran bermotor hitam (bukan berkuda putih ya?) Menurut informasi yang di berikan Arin selaku ibu negara di rumah tersebut, ketampanannya di gadang-gadang melebihi ketampanan suaminya tercinta yaitu Yusan dan anak pertamanya yang bernama Arya.

Ibu rumah tangga itu mendadak heboh sendiri saat melihat putrinya yang kaku memeluk pinggang sang pangeran dengan mesra. Bukan tidak mungkin jika Anara langsung di introgasi oleh ibu biologisnya itu.

"Mom... Anara mau ganti baju dulu, takut kena flu," gadis itu merengek pada ibunya yang bertanya posesif pada dirinya hingga tak melihat keadaan anaknya yang basah kuyup akibat hujan.

"Tapi sayang jawab dulu, itu pacar kamu bukan?"

"Bukan Mom..." Arin tak percaya, 16 tahun ia mengenal putri kecilnya. Gadis kaku pecinta buku serta bolu ketan hitam itu hanya berfokus pada impiannya tanpa bertekad untuk memiliki pacar. Katanya, hanya mengganggu jam belajarnya. Namun sekarang? Putrinya malah pulang dengan laki-laki tampan.

Anara langsung melenggang menuju kamar abu-abunya lalu mengguyur tubuh dinginnya dengan air hangat. Kepalanya pening bukan main, apalagi saat ibunya terlalu banyak bertanya padanya tadi. Perempuan itu memutuskan untuk tidur setelah mandi, memasang lagu cukup kencang di kamar kedap suaranya agar tak mendengar perghibahan yang akan mengguncang keluarganya sebentar lagi.

****

"Tuan putriku terchintahhh selamat pagiii," suara milik kakak tunggalnya menggelegar keseluruh rumah saat melihat adik bungsunya menuruni anak tangga dengan seragamnya.

"Kakak niat banget sih bikin gendang telinga Anara pecah pagi-pagi. Rumah kita ini ga selega istana merdeka kak... gausah teriak-teriak kaya tarzan di hutan," ia menatap jengah kakaknya lalu duduk di sebelah Ayahnya.

"Wajar aja baby dia kan waktu bayinya pernah di culik sama kingkong terus di tahan selama 5 tahun. 17 tahun hidup di kota bikin dia frustasi karna ga bisa sebebas di hutan," ucap Yusan sambil mengelus surai hitam Anara dengan sayang.

"Dad....." panggil Arya dengan nada lembut.

"Whyy?" Tentu Yusan menanggapi.

"Fuck you!" Dengan lantang pria itu mengucapkan permusuhan pada ayahnya, mengibarkan bendera peperangan yang berwujud jari tengah dan ia kibarkan tinggi-tinggi di atas meja makan.

"Fuck you too!!" Alih-alih emosi, Yusan malah membalas kibaran bendera itu berupa acungan jari tengah yang sama.

****

"Araaaaaa!" gendang telinganya kembali terguncang akibat teriakan Arsya. Perempuan itu memeluk Anara sayang lalu beralih menggandeng lengan mungilnya.

"Kesambet?"

"Ish kok gitu? Gue kangen banget sama lo,"

"Please deh Arsya gausah belaga alay kaya bocil yang baru pacaran sehari,"

Arsya mengerucutkan bibirnya, "kit ati aku bestie di bilang bochil, padahal kan aku bayikkk," Anara hanya memutar bola matanya malas.

"Eh eh lu bawa apa?" Manik coklat tuanya tertarik menatap paperbag berwarna putih yang di jinjing oleh Anara.

"Seragam sama jaket punya orang,"

"Lo nyediain layanan jahit Ra? Atau beralih profesi jadi tukang laundry?"

"Gue ga mau jelasin, panjang kali lebar kali alas,"

"Kaya rumus volume kotak," Anara hanya terkekeh pelan. Emang beda kalau becanda sama orang pinter mah.

Mereka melanjutkan sisa perjalanan ke kelas dalam diam, karna tak ada topik untuk di bahas. Hingga pada lorong dekat kelas 12 IPS 5 mereka bertemu dengan Ersya yang sedang berjalan sendirian.

"ERSYA! hai," Anara memanggilnya, menyapa Ersya yang langsung berlari kearah keduanya.

"Abis dari mana?" Tanya Arsya saat Ersya di hadapan keduanya.

"Kelas kakak gue,"

"Ouh kalian satu sekolah," ucap Arsya sambil ber'oh ria.

"Iya beda 2 tahun sama gue," Anara dan Arsya hanya mengangguk paham lalu pergi ke kelas bersama.

****

"Lo udah liat guru olahraga belum? Sumpah anjer cakep banget," Anara tak tertarik pada topik pembicaraan Ersya dan Arsya yang sedang berghibah soal guru olahraga yang katanya sangat HOT.

"Gue pengen cepet ketemu... sayang banget jadwal olahraga gue sama Anara di hari kamis,"

"Hahaha yang sabar ya?"

Anara sedang anteng membaca novel 500 halamannya dengan es jeruk yang sesekali ia sedot. Ketiganya kembali di kagetkan oleh suara riuh para siswi atas kedatangan most wanted di sekolah tersebut.

"ABANG!" Arsya mengangkat tangannya tinggi, memanggil salah satu dari ketiga most wanted tersebut.

Mereka menghampiri dan duduk di kursi yang kosong. "Kenapa?" Tanyanya. Arsya ingat kalau katanya cowo ini adalah playboy kelas kakap yang Ersya beritahu kemarin.

"Tadi pas ketemu Ers lupa nanyain something,"

"Apaan?"

"High heels Ers yang warna ungu kemana ya? Kok gaada di tempatnya? Aku udah nanya mama, katanya di bawa Abang sabtu kemarin. Abang bawa kemana?" Bagai di sambar petir, wajah tampan berparas bule itu mendadak pucat.

"Lo kasih ke si Inoia pas ultahnya kemarin," jawab lelaki di sampingnya. Terlihat aneh, bagaimana ia bisa mendengar percakapan keduanya saat telinganya tersumpal aerphone dan kedua matanya fokus pada game.

Kakak Ersya menatap horor pada sahabatnya, bisa-bisanya kejujurannya di pakai di saat yang tidak tepat.

"Um itu Ers nanti Abang beliin lagi yang baru," ucapnya tergagap, takut jika ratu sejagatnya ngamuk dan berakhir menginjak-injak harga diri laki-laki berdarah Norwegia itu di hadapan seluruh siswa-siswi yang berada di kantin.

"Abang!! Itu kan pemberian paman Nico! High heels kesayangan aku! Ga mungkin sama, sama yang baru bang...." Ersya geram bukan main, ia sangat marah pada saudaranya yang selalu mengambil barang-barang dari kamar miliknya.

"Um Ers marahnya nanti di rumah aja ya?" Ersya tak mendengarkan dan masih setia mengomeli kakaknya tanpa henti.

Anara tak tergubris, ia tetap membaca novelnya dengan seksama, tidak peduli akan suara dan keadaan di sekitarnya. Tak menyadari bahwa sepasang bola mata biru sedang memusatkan perhatiannya pada wajah gadis itu.

Menurunkan buku yang di bacanya hingga menyentuh meja kantin, Anara menengok, mendapati sosok yang menjemputnya kemarin.

"Oh hai, kamu pasti mau ngambil baju kamu ya? Aku dah bawa kok, tinggal di ambil aja,"

"Pulang bareng aku lagi?" Harapan laki-laki itu seketika luntur saat Anara menggeleng pelan.

"Aku mau di jemput sama Daddy," walaupun kecewa, laki-laki itu tetap tersenyum tipis, bahkan kakak Ersya itu terkejut saat melihatnya. Dia dan temannya memperhatikan interaksi keduanya diam-diam.

"Nama kamu siapa? Anara lupa nanya kemarin,"

"Rian, Rian yudha nadhar," Anara mengajukan tangannya, dan di sambut hangat oleh Rian.

"Anara yusrin nadyaz, jangan malu-malu ya sama Anara, kalau ada apa-apa curhat aja. Makasih buat yang kemarin!" gadis itu tersenyum begitu lebar, hingga lesung di pipinya tercetak jelas.

Suara Ersya membuyarkan pusat perhatian keduanya, "Arsya, Anara, kenalin ini abang gue, namanya Zion permana putra yuasgar, dan mereka temen-temennya. Itu kak Rian, yang itu kak Janu,"

Anara terlihat sangat antusias. "Kenalin aku Anara yusrin nadyaz terus yang ini namanya Arsyalla abimanggala," senyuman yang Anara berikan pada teman-temannya malah membuat Rian merasa sebal.

****

Saat bubar Anara dan Rian tiba-tiba bertemu di koridor utama. "Hai kak Rian!" sebenarnya Rian ragu untuk membalas, dia tak bisa santai saat jantungnya berdetak lebih cepat. Aneh selalu seperti itu saat bersama Anara.

"Um hai,"

"Iii jangan kikuk gitu dong. Harusnya gini 'hai juga Anara' sambil senyum gitu kak Rian,"

"Um kaya gimana?"

Anara sedikit berjinjit untuk mengimbangi tinggi Rian yang terbilang jangkung bak gantar. Menarik kedua pipi Rian hingga terbentuk senyuman abstrak.

"Udah mendingan, lain kali kalau aku sapa kakak balesnya harus kebih ramah lagi oke? Oh ya, ni bajunya," ucapnya sambil memberikan paperbag putih yang berisikan baju Rian.

"Simpen aja,"

"Loh kok gitu?" Tanya Anara bingung, masa iya dia jijik karna jaketnya udah di pake Anara dan gamau diambil lagi. Setidaknya itu yang di pikirkan Anara.

"Aku punya banyak, siapa tau kamu butuh itu suatu saat,"

"Um oke, kalau gitu duluan kak Rian. Asalamualaikum,"

Dilihatnya Anara yang langsung di sambut hangat oleh ayahnya, pucuk kepalanya langsung di kecup dan di bukakan pintu mobil itu. Sampai di sini Rian paham, bahwa Anara bukan hanya dunia yang indah untuknya, tapi juga untuk keluarganya.

"Waalaikumsalam..."

Seakan waktu berjalan dengan lambat, Rian yang masih membeku di tempat hanya bisa menatap kepergian Anara dengan perasaan yang sulit diartikan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA DINGIN TUAN BESAR
8.4
Marla masuk ke kediaman Austin sebagai pelayan, namun ia tidak menyadari bahwa Margaret memiliki agenda tersembunyi untuk menjodohkannya dengan sang cucu tertua, Richard Branson Austin. Richard adalah pria kaku yang sangat pendiam, kontras dengan adiknya, Ascar, yang gemar memberontak. Terjebak di antara dua kepribadian yang bertolak belakang, Marla kini menghadapi dilema besar: bertahan dalam rencana perjodohan tersebut atau memilih untuk melarikan diri.
Sampul Novel Dokter Milik Tuan Muda
8.2
Kimmy Jordan, seorang dokter berbakat, terjebak dalam dilema besar setelah menyetujui perjodohan dari orang tuanya. Di tengah komitmen itu, hatinya justru tertambat pada pemilik kafe langganannya. Sementara itu, Dokter Inggit harus menghadapi realita pernikahan paksa dengan pria kaku yang ia juluki beruang kutub. Ikuti perjuangan dua dokter cantik ini dalam menavigasi rumitnya komitmen, perasaan tulus, dan dinginnya sikap pasangan dalam hidup mereka.
Sampul Novel I Stuck On You
7.9
Pasca patah hati, penulis amatir Nadya Ivanka terpikat oleh Ethan Sullivan, pria tampan asal Australia. Nadya tak menyangka bahwa Ethan adalah bos media besar dan pemilik resor mewah. Meski trauma masa lalu menghantuinya, pesona Ethan di Bali mulai meruntuhkan pertahanan Nadya. Sementara itu, Ethan yang biasanya dingin karena luka lama justru terobsesi pada kesederhanaan Nadya. Akankah keduanya mampu melupakan pedihnya masa lalu demi memulai lembaran cinta yang baru?
Sampul Novel Ipar Tercinta
8.1
Permintaan terakhir sang kakak sebelum tiada mengubah total hidup Diraya Paramitha. Dira diminta menggantikan posisi kakak perempuannya sebagai ibu bagi keponakannya sekaligus menjadi istri bagi Wira Dharmawan. Di usia yang masih muda, ia terjebak dalam tanggung jawab besar dan pernikahan mendadak. Akankah cinta tulus tumbuh di antara Dira dan Wira seiring berjalannya waktu, ataukah ikatan mereka selamanya hanya sebatas kewajiban demi sang buah hati?
Sampul Novel Pernikahan Berbayar Si Gadis Culun
7.8
Demi mempertanggungjawabkan kehamilan yang tidak direncanakan, Silia nekat membayar kekasih sahabatnya sendiri untuk menikahinya. Meski terasa janggal, Roby yang tampan dan perhatian ternyata bersedia menerima tawaran tersebut. Seiring berjalannya waktu, benih cinta mulai tumbuh di antara mereka saat tinggal bersama. Namun, kehadiran Yesika sebagai pacar asli Roby serta Vatra sebagai cinta pertama Silia memicu konflik besar yang mengancam keutuhan rumah tangga baru mereka.
Sampul Novel Perpisahan Terakhir, Jejak Abadi
9.2
Selama enam bulan, aku menahan derita penyakit misterius demi mendukung Baskara, suami arsitekku. Namun, pengabdianku dibalas pengkhianatan saat ia memilih asistennya yang sedang hamil. Bahkan ibuku sendiri justru membelanya dan mengabaikan rasa sakitku. Kini, diagnosis kanker otak stadium akhir memastikan hidupku tak lama lagi. Tanpa dukungan keluarga, aku berhenti menjadi korban. Aku akan menghabiskan sisa usiaku demi diri sendiri dan membiarkan Baskara memikul penyesalan abadi.