APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Untuk Warisan

Istri Untuk Warisan

Malam perceraian yang dinanti Launa justru berujung pada penolakan keras dari suaminya. Meski tiga tahun pernikahan mereka terasa hambar dengan kebersamaan yang sangat singkat, sang suami enggan melepaskannya. Rahasia besar Launa akhirnya terbongkar saat suaminya mengetahui tentang kehamilannya yang disembunyikan. Ia bersikeras melarang Launa pergi untuk berjuang sendirian. Kini, pelarian Launa terhenti karena sang suami tak akan membiarkannya membawa calon buah hati mereka menjauh.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Kamu sudah yakin akan hal ini?"

Pria bersnelli putih di hadapannya tersenyum, lalu mengangguk mantap.

"Aku mendapatkannya dari Dokter Attiyah. Dia adalah rekanku di rumah sakit, jadi kami punya kontak. Istrimu tiga hari lalu menemuinya dan positif."

Arham menarik napasnya panjang, lalu membuangnya kemudian. Dia benar-benar tak menyangka. Diambang kegundahan yang dia rasakan setahun terakhir, akhirnya punya alasan untuk bertahan.

Di sambarnya amplop dari rumah sakit itu, lalu membuka laci dan mengambil sebuah surat.

"Terima kasih atas bantuanmu, Alzam . Aku pulang dulu, ya?" ujarnya sambil memukul bahu dokter pria itu. "Nanti uangnya kutransfer."

"Oke." Alzam tersenyum, melihatnya yang beranjak keluar.

Sepanjang jalan di lobby perusahaan, Arham menimbang-nimbang keputusannya agar lebih matang. Dia akan melakukan banyak hal agar tidak jadi mendapatkan apa yang ibunya mau. Di bukanya pintu mobil, lalu segera memasukinya dan berpacu meninggalkan pekarangan perusahaan.

***

"Aku sudah tahu kedatanganmu untuk apa." Launa tersenyum, sambil meletakkan kopi untuk suaminya yang tampak menegang di sofa.

Arham Afsanur Rumman. Pria yang menikahinya akibat kontrak. Pria ini sudah hampir tiga bulan tak mendatanginya dan dia tahu karena adanya sang tunangan yang sudah membahagiakannya.

"Selamat, ya? Atas pertunanganmu dengan Felina. Kalian cocok sekali, kuharap kau bisa bahagia dengannya."

Arham menarik napasnya, menunjukkan rasa tak senang akibat ungkapan istrinya. Dia memandang wajah lonjong itu. Putih bersih dengan dress kuning telur yang sangat kontras dengan kulit putihnya.

Launa Amsya Lathira. Namanya sama cantik dengan orangnya. Launa adalah istrinya dalam tiga tahun terakhir. Istri yang dia nikahi demi menghalangi niat ibu tiri yang akan merebut harta ayahnya, juga istri yang terpaksa harus menandatangani surat kontrak dengannya agar wanita berkepala ular itu bisa mati kutu. Pasalnya, wanita itu amat berbisa. Mulutnya seakan banyak cabangnya dan bisa membuat siapa saja teracuni.

"Ekhm." Launa memperbaiki posisi duduknya, mulai tahu diri karena tetap mengakrabkan diri dengan Arham yang justru tak bersuara apa-apa sejak datang tadi. "Ini sudah tanggal delapan belas bulan dua," gumamnya sambil menunduk sedikit. "Kau membawa surat perceraiannya, 'kan? Berikan padaku."

Arham menggeleng, baru kali ini merespons dan tidak mengenakkan bagi Launa.

"Aku tidak bisa bercerai denganmu."

Deg!

"Kenapa? Bukankah sudah jatuh tempo? Mau berapa kali lagi kamu akan mengundur? Ingatlah, kamu sebentar lagi akan menikah, Arham. Felina tidak mungkin kamu gantung-"

"Felina itu tidak sungguh-sungguh kucintai, Launa." Arham memalingkan wajah. "Aku tidak sungguh-sungguh bertunangan dengannya. Aku hanya ingin mengecoh ibuku."

"Tidak begitu caranya, Arham." Launa menggigit bibirnya. "Kau tidak harus mempermainkan wanita lagi. Cukup hanya aku.".

Arham tertunduk sedikit. "Ya, cukup hanya kau. Tidak lagi."

Launa menatapnya yang sudah mengangkat kepala dan mengambil tas. Dia mengeluarkan surat perceraian, hingga Launa tersenyum melihatnya.

Itu yang dia inginkan!

Segera di ambilnya bolpen dari balik vas bunga di meja itu. Lalu menatap Arham yang ternyata menangkap ulahnya.

"Kemarikan, biar aku tandatangani," pintanya bersemangat, tapi Arham malah tersenyum dan meletakkan surat perceraian itu di meja.

Dia sendiri bangkit, lalu duduk di sebelah istrinya. "Aku tidak mau bercerai," ujarnya lagi, mengatakan kalimat yang sama.

"Bagaimana mungkin-"

"Tidak akan ada perceraian di antara kita." Arham bicara lagi, kali ini wajahnya di bubuhi senyum hingga terlihat lebih baik. "Apakah yang kau kejar dengan perceraian, Launa? Kenapa kau se-excited itu?"

Launa terdiam. Tangannya perlahan naik, lalu hinggap di perutnya. Arham menangkap gerakan itu, hingga bibirnya tersenyum dan mengambil tangan Launa yang tengah mengusap perutnya itu.

Launa sampai tersentak. Namun, saat melihat Arham hanya menggenggam tangannya, dia mencoba mengembalikan raut wajahnya.

"Arham ..., bukankah ini yang kau inginkan? Kau akan menceraikanku, tapi mengapa sekarang tidak jadi?" tanya Launa lembut, seraya membalas genggaman tangan Arham yang lebar. "Kebersamaan kita tidak ada yang indah, Arham. Kau tidak harus menyayangkannya."

Arham menarik napasnya perlahan. "Bukan aku menyayangkannya, Launa ...."

Launa menatapnya penuh perhatian. "Lalu?"

Arham menggeleng. "Aku tidak bisa melepaskanmu setelah apa yang kita lalui bersama tiga tahun ini-"

"Itu tidak benar." Launa menggeleng pelan. "Kau bahkan menghabiskan waktu kurang lebih hanya sembilan bulan denganku dalam tiga tahun ini. Tidak ada yang spesial."

"Ada," tegasnya membuat Launa menelan ludah. "Mau kau bawa kemana kehamilanmu? Kau mau terus merahasiakannya dariku? Lalu pergi dari rumah ini dan mengandungnya susah payah seorang diri? Tidak, Launa! Tidak akan kubiarkan!"

Wajah Launa langsung memucat mendengar ucapan itu. Segera di tariknya tangan dari genggaman itu, lalu mundur ke belakang dan menyentuh perutnya sendiri.

Arham memandangnya dalam, melihat dengan jelas bagaimana gugupnya Launa akibat ketahuan.

"Ak-aku tidak hamil-"

"Masih mau membantah?" Arham mengerutkan dahinya. "Aku ingat malam itu, Launa. Berhentilah menolak kenyataan kalau kau sedang mengandung anakku sekarang ini."

Launa sudah payah menelan ludahnya. Dia menggeleng tegas, tidak mengakui kehamilannya karena hal itu akan membuatnya merasa sakit sendiri. Arham bisa menungguinya melahirkan, lalu mengambil anaknya sebagai pewaris yang diinginkan oleh ayah mertuanya.

Bagaimanapun tujuan Arham menikahinya dalam kontrak adalah hal itu. Dia mengelabui ayahnya yang termakan hasutan ibu tiri. Perusahaan dan kekayaan ayahnya akan jatuh menjadi milik istri keduanya jika Arham tidak segera memberikan cucu. Begitu, 'kan?

"A-aku tidak hamil, Arham. Salah paham ...," ujarnya dengan tangis tersendat. "Maafkan aku karena malam itu. Please, tidak ada kehamilan, Arham. Kau salah paham .... Darimana kau tahu kabar palsu itu? Ayolah, jangan percayai. Bisa saja itu kehamilan orang lain yang ingin menghancurkan kebahagiaan pertunanganmu."

Arham melihatnya yang tampak sesenggukan takut. Ucapan dan kegugupan wanita itu justru membuatnya melihat sisi lainnya. Launa hamil akibat jebakannya sendiri. Dia yang membuatnya meminum obat malam itu hingga akhirnya mereka menghabiskan malam bersama.

"Aku tidak hamil. Kau bisa ceraikan aku sekarang." Masih melanjutkan, Launa tampak amat sangat berharap dengan tatapan memelasnya. "Aku tahu aku salah malam itu karena sudah menjebakmu. Namun, aku tidak-"

"Berhentilah menangis." Arham tersenyum melihatnya. "Kau tidak harus sampai menangis mengatakannya. Aku tidak bodoh, Launa. Meski malam itu kau mempengaruhiku dengan obat. Aku tahu apa tujuanmu melakukannya."

Launa menggeleng hingga Arham terkekeh melihatnya yang amat sangat keras kepala. Pria itu beringsut mendekat, lalu meraih tangan halus Launa dan menatap matanya.

"Tidak perlu memaksakan dirimu," ujarnya pelan membuat Launa makin terisak. "Aku juga tidak akan memaksakan diriku. Ada banyak hal rahasia yang tersembunyi di antara kita karena memang kita tidak pernah terbuka. Tetapi aku akan menyelaminya perlahan hingga kau benar-benar kukenali dengan baik. Dan selama itu, kumohon ..., jangan tutupi kehamilanmu dariku. Karena aku akan bertanggung jawab atasmu dan dia."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 180 Days
9.4
Saat pengkhianatan suami terungkap, April tidak memilih jalan cerai seperti wanita pada umumnya. Ia justru bertekad memperjuangkan keutuhan rumah tangganya yang retak. Sebuah tantangan besar ia tetapkan bagi dirinya sendiri: menaklukkan kembali hati sang suami dalam kurun waktu 180 hari. Di tengah luka hati, April harus berjuang melawan waktu demi mengembalikan cinta yang hilang. Mampukah ia memenangkan kembali suaminya sebelum batas waktu itu berakhir?
Sampul Novel BIDADARI
8.1
Aida Tazkia merasa rendah diri karena kondisi fisiknya sebagai penyintas kanker. Reiko Byakta Adiwijaya, pria dari keluarga konglomerat, justru tetap menikahinya meski melontarkan hinaan tajam. Di balik pernikahan tanpa cinta ini, tersimpan rahasia besar yang disembunyikan Reiko. Aida kini terjebak dalam belenggu keluarga Adiwijaya yang penuh tekanan. Mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati dan cinta tulus di tengah keraguan akan kesempurnaannya sebagai wanita?
Sampul Novel Budak ranjang tuan muda
8.2
Demi ambisi bisnis, Rian tega menjual kekasihnya, Renata, kepada pemuda kaya bernama Albert. Mahasiswi pertanian ini dipaksa menjadi pemuas nafsu Albert setiap hari, bahkan saat pria itu sedang murka. Namun, kebencian berubah menjadi cinta. Albert akhirnya bertekad menjadikan Renata pendamping hidupnya. Ia rela menentang restu orang tua serta membatalkan pertunangan dengan wanita pilihan keluarganya demi melindungi hubungan mereka.
Sampul Novel Diary Cinta Naelsa: Macaca Lova
8.5
Naelsa tidak sengaja menemukan kembali buku harian lamanya yang penuh kenangan. Saat membuka tiap lembarannya, ia terkejut teringat kembali pada kisah romansa masa sekolah yang manis. Tulisan itu membawanya bernostalgia tentang cinta monyet dengan seorang teman sekelas. Kenangan emosional tersebut sering disebut oleh sahabatnya, Myna, dengan istilah unik Macaca Lova. Sebuah perjalanan masa lalu yang kembali hadir membuka memori yang sempat terlupakan.
Sampul Novel Dikhianati Di Hari Pernikahan
9.2
Aurelia Callista tidak menyangka hari tidurnya berakhir tragis saat ia dipaksa menjadi mempelai wanita Kaelan Castor. Awalnya mengira hanya menjadi penerima tamu, Rhea terkejut saat namanya disebut dalam ijab kabul oleh sang direktur muda. Ia ternyata hanyalah pengantin pengganti dalam pernikahan megah yang penuh dengan tipu daya keluarga. Kini, Rhea terjebak dalam ikatan tanpa cinta dan harus menghadapi intrik serta rahasia besar di balik status barunya.
Sampul Novel Dirka & Viona
8.2
Dirka hidup bergelimang harta namun kesepian tanpa orang tua. Ia hanya ditemani para pelayan setia yang mencemaskan masa depan warisannya. Saat mengunjungi tempat penuh kenangan masa kecil, Dirka bertemu seorang gadis misterius yang berniat mengakhiri hidup. Pertemuan itu membangkitkan memori kelam masa lalunya. Meski sang gadis membisu, Dirka tak tega membiarkannya sendiri. Ia pun memutuskan membawa gadis itu pergi demi menyelamatkannya dari keputusasaan.