APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Yang Tak Dianggap

Istri Yang Tak Dianggap

Kebahagiaan Arshella setelah akhirnya memiliki Dion sepenuhnya kini terancam oleh kemunculan sosok dari masa lalu. Kehadiran pria tersebut membawa komplikasi besar dalam kehidupan rumah tangga mereka. Situasi semakin memanas dan tak terkendali ketika sang pria secara mengejutkan mengklaim dirinya sebagai ayah kandung dari anak Arshella. Kini, Arshella harus menghadapi dilema berat yang menguji kesetiaan serta keutuhan cintanya bersama Dion.
Bab
Bagikan

Bab 1

Fyuh ...

"Akhirnya masalah selesai," gumam Shella sembari membuang napas panjangnya.

Ya! Hari ini terasa begitu melegakan baginya setelah menemani serangkaian sidang perceraian suami dengan istri sebelumnya sampai mereka resmi bercerai dan Shella menjadi istri Dion satu-satunya.

Ting tong!!

Suara bel pintu yang terdengar sampai ke ruang tengah, berhasil membuat Shella mengerjap kala ia tengah asyik bermain dengan putru kecilnya.

"Mbok!? Tolong bukakan pintu, sepertinya ada tamu," teriak Shella berusaha memanggil asisten rumah tangganya. Lalu ia kembali menemani Arshetta menempel-nempelkan beberpa puzle bergambar.

Beberapa menit berlalu, tiba-tiba bel tersebut kembali terdengar membuat Shella kembali mengerjap.

"Mbok Yem ke mana ya?" gumamnya, ia pun melihat anak perempuannya yang masih asyik memainkan beberapa mainan lainnya, "Sayang, Mama ke depan dulu ya! Shetta tunggu di sini dan jangan ke mana-mana."

Arshetta pun mengangkat kepalanya kemudian menjawab, "Iya, Ma."

"Anak pintar!"

Tanpa menunggu lama lagi, Shella lantas bangkit dari duduknya dan bergegas menuju pintu utama.

Dalam hati ia menduga-duga siapa seseorang di balik pintu tersebut.

Ceklek!

Ketika pintu terbuka, seketika saja kedua mata wanita itu terbelalak dengan kening yang mengerut.

Tampak seorang lelaki bertubuh tinggi berpakaian rapi tengah membelakanginya.

"Maaf, cari siapa ya?" tanya Shella bernada sopan.

Lelaki itupun membalikkan tubuhnya sembari menampakkan senyuman lebarnya. Seketika saja membuat Shella terkejut bukan main.

"Selamat siang! Long time no see, Nyonya Arshella!"

Deg!

Shella tampak shock, kedua bola matanya membulat sempurna, tubuhnya terasa kaku bahkan tak dapat bergerak sedikitpun.

Ya! Wanita itu tentu saja merasa terkejut dengan kehadiran lelaki yang dahulu menghantui bahkan sempat mengancamnya.

Dengan suara yang terdengar bergetar karena rasa takut yang menyelimuti, Shella pun berkata, "M-mau apa lagi kamu ke sini, Hans!? Bukankah sudah kukatakan untuk tidak menemuiku lagi!?"

Mendengar ucapan Shella yang seakan-akan merasa terganggu, membuat Hans berdecih sembari memutar bola matanya.

"Hmm, kupikir kau sudah melupakanku. Ternyata belum," ucap lelaki itu bernada menyinggung, "Yah ... mana mungkin kau lupa padaku bukan? Seorang pria yang-"

"Cukup! Jaga perkataanmu dan tolong tinggalkan tempat ini!"

Shella berusaha menghentikan perkataan Hans yang tak ingin ia dengar dalam bentuk apapun terkait kejadian masa lalunya.

Dengan raut wajah yang tampak memerah bak kepiting rebus, bahkan wanita itu sesekali mengedarkan pandangannya takut-takut seseorang melihat dirinya dan menguping pembicaraan tersebut.

Sedangkan Hans, lelaki itu terlihat bersikap tenang seolah tak ada yang harus ia khawatirkan.

Hans pun berdecih dengan senyuman sinis yang tiba-tiba menampak.

"Astaga ... kau masih saja menyangkal, tapi tidak apa. Aku berkunjung ke sini hanya ingin bertemu dengan anakku," jelas Hans, "Di mana dia?"

"Berhenti mengada-ngada, dia bukan anakmu!" elak Shella menekankan.

Ya! Alih-alih menjawab dan bersikap baik terhadap tamunya, Shella justru berlagak arogan, seakan-akan ia sangat benci melihat lelaki itu menemui dirinya.

Ucapan Shella pun berhasil membuat kesabaran Hans terkuras habis, ia datang dengan senyuman namun tak disangka ia disambut dengan sikap dan perilaku Shella yang kasar.

Di tengah-tengah suasana yang semakin panas tersebut tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari dalam rumah tersebut.

"Ma!? Mama di mana!?" Lalu beberapa detik kemudian muncul seorang gadis kecil memeluk paha Shella dari belakang.

Hal itu jelas membuat Shella terkejut bukan main, kenapa Arshetta tiba-tiba saja muncul?

Perasaan Shella kini terasa campur aduk, ia tentu tak ingin putri kecilnya bertemu dengan Hans.

Akan tetapi meskipun begitu, tampaknya Hans terlihat senang, bibirnya menyeringai dengan indah kala ia bertemu dengan Arshetta, gadis kecil berusia 5 tahun tersebut.

"Hallo, anak manis! Senang bertemu-"

"Shetta, Mama 'kan sudah bilang kamu tunggu di dalam saja," ujar Shella lekas berjongkok dan menatap putrinya sembari memegangi kedua tangannya.

"Tapi ... Mama lama sekali, Shetta jadi takut," jawab Arshetta dengan mimik wajah ketakutan.

Betul! Wanita itu kentara sekali berusaha membuat anaknya agar tidak bertegur sapa dengan Hans.

Hal itu semakin membuat Hans geram, namun tak dapat dipungkiri, ia terus berusaha mengendalikan sikapnya dan berperilaku baik di depan gadis kecil itu.

Untuk apa lagi? Hans jelas tidak ingin menciptakan kesan buruk saat pertemuan dengan Arshetta untuk kali pertama.

Sementara itu Shella, ia kini semakin gugup dan panik. Lalu tanpa berpikir panjang ia kembali bangkit dan menatap Hans dengan tatapan tajam seakan-akan kemarahan telah menguasainya.

"Maaf, sepertinya kamu harus pergi," ucapnya ketus, lalu mengalihkan pandangannya mengarah pada Arshetta, "Ayo, Sayang. Kita main lagi di dalam."

Belum sempat Hans berkomentar, Shella telah lebih dahulu menutup pintu tersebut bahkan sebelum ia memberi kesempatan padanya untuk berbicara lebih banyak.

Hans tetap diam dengan pandangan kosong, tubuhnya seakan-akan kaku, terpaku dengan perkataan Shella yang tetap saja menolak kehadirannya.

Hingga beberapa detik berlalu sampai akhirnya Hans mendengkus kesal sembari menampakkan senyuman sinisnya.

"Tch!"

Hans membalikkan tubuhnya, lalu bertolak pinggang menatap sekeliling.

Sungguh! Ia tak bisa berkata apapun untuk sekadar melampiaskan kekesalannya, niatannya untuk melihat gadis kecil yang selalu ia rindukan rupanya tak membuahkan hasil.

Yang ia dapat hanya cacian dan ancaman dari Shella.

Lalu pandangannya beralih pada paper bag yang sedari tadi ia pegangi tanpa sempat memberikannya kepada Arshetta.

"Aish!! Aku sampai lupa memberikan ini," gumamnya bernada lemah.

Hans kembali menatap pintu yang sudah tertutup rapat tersebut dan berpikir sejenak.

Tetapi semua percuma saja, jika ia kembali mengetuk pintu tersebut berniat untuk memberikan hadiah itu, bukan hal aneh jika Shella menolaknya bahkan mungkin saja wanita itu membuangnya tepat di depan Hans.

Hans pun menggeleng-gelengkan kepalanya kala ia membayangkan hal itu, "Tidak, sepertinya itu bukan ide yang bagus!"

Lelaki itupun berjalan satu langkah dan berjongkok, lalu meletakkan paper bag tersebut tepat di samping pintu bersama dengan langkah kakinya meninggalkan rumah itu.

***

"Bagaimana ini? Kupikir dia tidak akan kembali ke dalam hidupku lagi," gumam Shella dalam hati.

Tentu, setelah ia mengusir Hans dengan bersikap kasar, rupa-rupanya masalah tak berhenti sampai di situ. Pikiran Shella kini terasa kalut memikirkan suatu hal bahkan telah ia kubur dalam-dalam.

Kedua matanya fokus memerhatikan Arshetta yang tengah asyik mewarnai buku bergambar, namun tidak dengan pikirannya.

"Bagus gak, Ma?" tanya Arshetta sembari mengangkat gambar yang telah selesai ia warnai.

Tetapi ibunya tidak menjawab pertanyaan anak itu dan hanya terdiam.

"Ma?"

Satu panggilan dari Arshetta tak lantas membuat Shella menoleh, wanita itu tampak melamun kala ia kembali menemani Arshetta bermain di ruang tengah.

"Ma??" Arshetta kembali berusaha memanggil ibunya, namun kali ini ia menaikkan nada bicaranya hingga berhasil membuat Shella mengerjap terkejut.

"Y-ya!?" sahut Shella mendelikkan matanya, "A-ada apa, Sayang?"

Shella tampak ketar ketir, menunjukkan gelagat aneh sehingga membuat Arshetta sedikit merasa heran dengan tingkah laku ibunya sendiri.

Arshetta pun kini terlihat kesal, karena baru kali ini ia merasa diabaikan oleh ibunya.

Sedangkan Shella yang telah menyadari sikap anaknya pun merasa sedih dan menyesal, bisa-bisanya ia terhanyut dalam lamunannya sendiri.

Di tengah-tengah itu, dering ponsel lantas membuat perhatiannya kembali teralihkan. Shella pun melihat layar ponsel yang memperlihatkan deretan angka yang berjejer, tentu ia tidak mengenali sang penelepon tersebut.

"Tunggu sebentar ya, Nak!" ujarnya lalu meraih ponsel itu dan kemudian menekan tombol hijau.

Detik berikutnya Shella tampak terdiam, dengan kedua mata terbuka lebar kala ia berbicara dengan sang penelepon.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Liar Istri Kecilku
8.5
Maia Vandini, seorang lulusan SMA, terjebak dalam situasi berbahaya saat kencan butanya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah diberi obat perangsang oleh teman kencannya, Maia berusaha melarikan diri demi menyelamatkan diri. Dalam kondisi yang tidak terkendali, ia bertemu dengan seorang CEO asing. Maia yang kehilangan kesadaran memohon bantuan padanya, memicu pertemuan panas yang tak terduga. Sang pria memperingatkan bahwa Maia-lah yang memulai segalanya.
Sampul Novel Gairah Terpendam Suami Kontrak
8.4
Demi melunasi utang sang suami, Deryl, Kavita nekat menjalani pernikahan kontrak setahun dengan bosnya, Ezra. Namun, pengorbanan itu dikhianati saat Deryl diam-diam menikah lagi dengan Yura. Tak tinggal diam, Kavita memperpanjang kontraknya bersama Ezra untuk membalas dendam dan merebut seluruh harta Deryl hingga pria itu jatuh miskin. Ironisnya, saat semua rencananya berhasil, Ezra justru enggan melepaskan Kavita meski masa perjanjian mereka telah berakhir.
Sampul Novel Istri Kedua Tuan Gio
8.5
Demi menyelamatkan ibu dan anaknya yang sakit, Liana terpaksa memohon bantuan finansial kepada Rafael. Namun, pria berkuasa itu memberikan penawaran yang mengejutkan. Rafael bersedia menanggung seluruh biaya pengobatan dengan syarat Liana harus bersedia menjadi istri keduanya. Terjepit dalam situasi sulit, Liana harus menghadapi kenyataan pahit dalam ikatan pernikahan yang tak terduga. Akankah ini menjadi awal kebahagiaan atau justru luka yang lebih dalam?
Sampul Novel Ketika Istri Sah Hanya Dijadikan Pengasuh Anakmu
8.4
Dua tahun terpuruk dalam duka, Reno Adiprana mencoba menata hidup melalui mutasi kerja ke Yogyakarta. Di lereng Merapi, ia menetap di rumah Bude Ratna demi mencari ketenangan. Tak disangka, rutinitas pagi membawanya bertemu Mira Pradipta, sarjana gizi yang memilih berjualan bubur demi merawat ayahnya yang demensia. Pertemuan ini menyatukan dua jiwa yang terluka, menumbuhkan benih cinta tak terduga, dan memberi makna baru tentang arti rumah di tengah kesederhanaan.
Sampul Novel Mama Polos Dan Bayi Jenius
9.2
Insiden salah kamar enam tahun silam mengubah hidup seorang wanita selamanya. Tanpa mengingat wajah pria di malam itu, ia terpaksa melarikan diri untuk membesarkan buah hatinya sendirian. Takdir kembali mempertemukan mereka saat ia bekerja sebagai sekretaris di kantor pria tersebut. Meski sang bos tampak tidak mengenalnya, ada ketertarikan yang tak tertahankan di antara mereka. Rahasia masa lalu kini mengancam ketenangan hidup yang ia bangun.
Sampul Novel Mantan Istri CEO Tampan
8.9
Demi membiayai operasi Andra, Alana terpaksa menerima tawaran mertuanya untuk pergi menjauh selamanya. Ia rela meninggalkan sang suami meski sedang mengandung. Andra yang merasa dikhianati lantas menaruh dendam mendalam dan bertekad membalas sakit hatinya jika mereka bertemu lagi. Tujuh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Alana kini telah memiliki anak, sementara kebencian Andra masih membara. Akankah cinta lama mereka bisa kembali?