APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Yang Tersiksa

Istri Yang Tersiksa

Tiga tahun Rania Alvi menderita dalam pernikahan dingin bersama pengusaha sukses, Rizky Wira. Sebagai istri kedua, ia merasa terasing oleh kehadiran mantan istri Rizky, Inez. Saat divonis kanker stadium dua, Rania yang hancur fisik dan mental akhirnya meminta cerai. Namun, Rizky dengan tegas menolak dan bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Kini Rania terjebak dalam obsesi suaminya, berjuang di antara rasa sakit dan ikatan pernikahan yang menyesakkan tanpa jalan keluar.
Bab
Bagikan

Bab 1

Pagi itu, Rania Alvi duduk di tepi tempat tiduran, memandangi bayangan dirinya yang terpantul di cermin besar. Jari-jarinya bermain dengan kain gorden berwarna krem yang bergelombang lembut di jendela. Angin pagi yang masuk melalui celah-celah gorden membawa aroma segar dari taman kecil di halaman belakang. Tapi tidak ada kesejukan yang mampu menghapus panas yang mengalir di sekujur tubuhnya. Panas yang datang bukan dari sinar mentari, melainkan dari luka yang terus membara di hatinya.

Suami Rania, Rizky Wira, masih terlelap di tempat tidur mereka. Wajahnya yang terbalut tidur tampak lelah, namun tak kehilangan ketampakan angkuhnya. Rizky adalah pria yang selalu diidam-idamkan oleh banyak wanita; tampan, karismatik, dan cerdas. Namun, bagi Rania, pria itu seperti musim dingin yang membekukan. Ketegangan di antara mereka sudah tak terhitung. Setiap percakapan mereka hanya menyisakan keheningan yang membosankan, hanya suara jam dinding yang berdetak kian lama kian menekan.

Rania menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arah pintu. Terdengar suara langkah kaki kecil yang mengetuk lantai kayu dengan ritme riang. Seperti biasa, itu adalah Raka, putra Rizky dari pernikahan sebelumnya. Rania tahu bahwa hari itu, seperti hari-hari lainnya, akan penuh dengan rutinitas yang membosankan dan menyakitkan. Di dalam kebisuan rumah ini, ia adalah satu-satunya yang selalu merasa asing.

"Selamat pagi, Bu," sapa Raka, suaranya melompat riang saat dia masuk ke kamar. Ia membawa sebuah buku cerita dengan gambar-gambar berwarna cerah.

"Selamat pagi, Nak," jawab Rania, berusaha menghadirkan senyum yang tulus di wajahnya. Namun, senyum itu terasa seperti senjata yang tajam, menyakitkan saat ditarik paksa.

Raka meloncat ke tempat tidur, mengendap-endap di samping Rania. Dia mendongakkan kepala ke arah Rizky, yang masih terlelap. "Ayah masih tidur, ya, Bu?" tanyanya, matanya bersinar penasaran.

Rania menatap Rizky, yang kini berbalik arah, memperlihatkan rahangnya yang tegang. "Ya, Nak. Ayah sangat lelah akhir-akhir ini," jawab Rania sambil menahan rasa sakit di dadanya. Penuh kebohongan, tetapi hanya itu yang bisa ia katakan.

"Bukankah ayah selalu lelah, Bu?" Raka bertanya dengan nada polos, membuat Rania terdiam sejenak. Kali ini, pertanyaan itu menyakitkan, lebih dalam daripada biasanya. Sejak awal pernikahannya, Rania sudah tahu bahwa Rizky hanya menyisakan ruang kosong dalam hatinya untuknya. Tapi, melihat Raka yang berbicara dengan kepolosan seorang anak kecil membuat hatinya semakin sakit, seperti dirajam ribuan pecahan kaca.

"Sudah, jangan ganggu ayah, Nak. Ayo kita sarapan dulu," kata Rania dengan lembut, mengalihkan perhatian Raka.

Mereka turun ke ruang makan, tempat di mana mereka biasa berbagi momen pagi yang sunyi. Setiap pagi seperti ini, suasana terasa semu dan hampa, meskipun di luar jendela matahari sedang tersenyum cerah. Rania menghidangkan roti bakar dan selai strawberry, menu yang hampir tak pernah berubah sejak pernikahan mereka. Ia tahu Rizky hanya akan mengambil secangkir kopi dan berlalu ke kantornya tanpa banyak bicara. Itu sudah cukup bagi Rania, setidaknya dia bisa melihat anaknya senang di pagi hari.

Raka duduk dengan penuh semangat, mengunyah roti sambil bercerita tentang sekolahnya. "Hari ini, Bu, aku akan bermain bola di lapangan!" katanya dengan mata yang berbinar. Rania mengangguk, membalas senyuman Raka, meskipun hatinya terasa sakit mendengar riuh tawa anak kecil itu, yang tak bisa ia bagi dengan suaminya.

Seperti dugaan Rania, Rizky datang ke meja makan dalam balutan jas hitamnya. Wajahnya segar, matanya tajam, dan ekspresinya tetap seperti biasa, dingin dan tak terbaca. Ia duduk di kursi di ujung meja, mengangkat cangkir kopi, dan hanya memberikan sekilas pandangan pada Rania.

"Selamat pagi, Rizky," ucap Rania dengan suara yang begitu lembut, hampir tak terdengar. Rizky hanya mengangguk, lalu kembali menatap ponselnya, mencari tahu email atau pesan yang menunggu di layar. Di sisi lain meja, Raka menatap ayahnya, berharap akan mendapatkan perhatian lebih dari pria yang hanya hadir dalam hidupnya seperti bayangan.

Rania merasa seolah dirinya berada di tengah badai yang tak terlihat. Setiap kata yang keluar dari mulut Rizky adalah pisau yang merobek, dan setiap diam yang ia pilih adalah luka yang semakin dalam. Pagi itu pun berlalu dalam keheningan, hanya diisi dengan suara piring, sendok, dan gelas yang berdenting.

Setelah Raka pergi ke sekolah, Rania duduk di ruang tamu, menatap dinding kosong yang penuh dengan foto-foto keluarga mereka. Foto-foto yang diambil ketika semuanya tampak sempurna. Tawa mereka terlihat tulus, mata mereka terlihat hidup. Namun, sekarang, semua itu hanyalah kenangan yang membebani, seperti gumpalan awan gelap yang menghalangi sinar matahari.

Rizky sudah pergi, meninggalkan rumah dengan langkah cepat, seperti selalu. Rania merasakan kekosongan di sekelilingnya, yang lebih dalam daripada ruang di antara dinding-dinding rumah. Ia tahu bahwa di dalam rumah ini, kebahagiaan hanya tinggal sebuah kenangan, sebuah ilusi yang tak pernah bisa ia genggam.

Telepon di meja sampingnya berbunyi. Rania menatap layar ponsel, yang menampilkan nama Dr. Amelia. Jantungnya berdegup kencang, seolah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh dokter itu. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan beratnya kenyataan yang telah menunggu sejak beberapa minggu terakhir. Lalu, ia menekan tombol untuk menjawab.

"Selamat pagi, Ibu Rania. Maaf mengganggu pagi Anda," suara Dr. Amelia terdengar melalui ponsel, hangat dan penuh empati.

"Selamat pagi, Dokter," jawab Rania, suaranya gemetar.

"Rania, hasil tes terakhir sudah keluar. Kami ingin mendiskusikan hasilnya dengan Anda."

Mata Rania mulai berair, suara Dr. Amelia seperti ribuan ombak yang menghantam pantai. "Apakah... apakah ada kabar buruk?" tanyanya, suara itu hampir hilang di antara isak tangis yang sudah tak bisa ia tahan.

"Ya, Ibu Rania. Kami menemukan bahwa kanker Anda sudah mencapai stadium dua. Kami harus segera memulai pengobatan untuk menghentikan perkembangan penyakit ini."

Rania mendapati dirinya terdiam, seolah kata-kata itu melayang di udara dan membekukan seluruh tubuhnya. Di luar, suara mobil yang lewat terdengar begitu jauh, seperti deru angin yang tak ada artinya. Di dalam dirinya, dunia seperti berhenti sejenak, mengalir lambat dan berat, menunggu realitas baru yang akan segera datang.

Ia tahu, saat itu, bahwa tidak ada lagi kesempatan untuk melarikan diri. Tidak ada ruang untuk menolak kenyataan. Hatinya bergetar, bukan hanya karena rasa sakit yang akan datang, tetapi juga karena ketidakberdayaan yang menggerogoti. Ia mendongak ke arah langit-langit rumah, mengingat kembali janji-janji yang telah diucapkan saat pernikahan, yang kini hanya menjadi angin lalu yang menyinggahi.

"Rizky," bisik Rania dalam hati, berharap pria itu mendengar. Namun, di mana pun Rizky berada, ia hanya sebuah bayangan di antara kegelapan yang membungkus malam mereka.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dalam Pelukan Sang Miliarder
9.7
Raissa terancam kehilangan panti jompo tempat tinggalnya akibat rencana penggusuran oleh taipan kejam, Arkhan Alvaro. Demi menyelamatkan tempat itu, Raissa nekat menghadapi sang miliarder yang dingin. Namun, Arkhan justru memberikan penawaran mengejutkan: panti akan selamat jika Raissa bersedia menjadi miliknya sepenuhnya. Terjebak dalam dilema antara pengorbanan dan harga diri, hubungan penuh paksaan ini mulai memicu konflik emosi yang mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Dari Istri Tercampakkan Menjadi Pewaris Berkuasa
9.3
Dunia Kirana runtuh saat suaminya, Bima Nugraha, memamerkan kehamilan selingkuhannya di depan publik. Demi kelancaran bisnis, Bima dan keluarga angkat Kirana bersekongkol menjadikannya tahanan di rumah sendiri. Kirana difitnah gila dan dipaksa menggugurkan kandungannya. Namun, mereka tidak tahu identitas asli Kirana. Dengan satu panggilan, ia menghubungi ayah kandungnya, Antony Suryoatmodjo, konglomerat kuat yang siap menghancurkan Bima hingga tak bersisa.
Sampul Novel Jadilah Milikku, Nona Sekretaris
8.9
Julian Evans, CEO tampan nan kaya, menghadapi satu penolakan besar dari sekretarisnya sendiri, Mia Sanders. Meski saling mencintai, Mia yang merupakan anak pelayan keluarga Evans memilih memendam rasa demi balas budi dan status sosial. Ia menganggap hubungan mereka mustahil. Namun, Julian tidak menyerah dan menantang keraguan Mia untuk membuktikan keseriusannya. Mampukah kegigihan Julian meluluhkan hati Mia dan meyakinkannya bahwa cinta mereka layak diperjuangkan?
Sampul Novel Jerat Cinta Sang CEO
8.9
Terusir dari rumah oleh ayahnya sendiri membuat Emma Karina terdesak hingga akhirnya menyetujui pernikahan kontrak dengan Ethan Marvino. Sebagai CEO penguasa bisnis di Pulau Bali, Ethan sangat protektif dan mengawasi setiap gerak-gerik Emma secara ketat. Namun, stabilitas hubungan mereka terancam saat Emma tidak sengaja mengungkap rahasia besar yang disembunyikan Ethan. Akankah ikatan mereka bertahan setelah kebenaran terungkap atau justru hancur selamanya?
Sampul Novel Kawin Kontrak Sang Pewaris Tunggal
8.5
Maya Syaqilla merantau ke kota demi mengangkat derajat keluarganya. Awalnya ia mengira akan bekerja sebagai asisten rumah tangga, namun kesepakatan dengan Handoko justru menjadikannya istri kontrak sang majikan selama setahun. Meski caranya salah, kemakmuran kini menyelimuti keluarganya. Akankah benih cinta tumbuh antara Maya dan Boy hingga pernikahan mereka menjadi nyata? Ataukah rahasia besar ini akan terbongkar dan memicu kemarahan besar dari kedua keluarga besar mereka?
Sampul Novel Malam Gairah: Cinta Adalah Game Pemberani
7.9
Hari pernikahan impian Camila berubah menjadi bencana memalukan saat calon suaminya mangkir dari upacara tersebut. Di tengah rasa hancur dan amarah karena menjadi bahan ejekan tamu, Camila nekat menghabiskan malam bersama pria asing. Ia mengira hubungan itu akan berakhir saat fajar tiba, namun pria misterius tersebut justru enggan melepaskannya. Kini, Camila terjebak dalam dilema antara mengabaikan rayuan pria itu atau membuka hati untuk cinta yang baru.