APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istriku, Jaminan Bisnis Ayahku

Istriku, Jaminan Bisnis Ayahku

Elias Pradana, pengusaha sukses yang merasa terjebak dalam hampa pernikahan bersama Safira, menemukan pelipur lara pada sosok Dina. Kepolosan gadis desa itu membawa warna baru saat hubungannya dengan sang istri mendingin pasca insiden pahit. Namun, keadaan berbalik ketika Safira berusaha berubah kembali menjadi wanita yang dulu dicintai Elias. Merasa menjadi beban, Dina memilih pergi menghilang. Kini Elias terjebak di persimpangan antara masa lalu dan kebahagiaan barunya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sore itu, kantor Elias terasa lebih panas daripada biasanya, padahal AC sentral di lantai 30 itu dijamin bekerja sempurna. Mungkin karena stressor yang datang kali ini bukan berbentuk laporan keuangan, melainkan telepon dari ibunya.

"Kamu harus datang makan malam, El. Besok malam. Enggak ada penolakan," suara Ibu Martha terdengar tegas di seberang sana.

Elias mengurut pangkal hidungnya. "Aku tahu, Bu. Tapi aku ada rapat penting besok sore. Lagipula, ada perlu apa mendadak begini?"

"Enggak ada mendadak-mendadak. Sudah lama Papa kamu ingin bicara serius. Tentang kamu, tentang Safira," kata Ibu Martha, nadanya langsung membuat Elias waspada.

"Tentang kami? Kan baik-baik saja," balas Elias cepat, pura-pura enteng.

"Jangan bohong sama Ibu, Elias. Sejak kapan Safira enggak pernah ikut kumpul keluarga? Sejak kapan kalian enggak pernah datang berdua ke acara amal? Kami semua tahu ada yang enggak beres. Dan ini sudah dua tahun, El. Dua tahun."

Hati Elias mencelos. Seharusnya dia tahu, sandiwara yang ia mainkan di depan publik pasti enggak akan mempan di depan ibunya sendiri.

"Baik, aku usahakan datang," Elias menyerah. "Tapi tolong, jangan libatkan Safira di sini. Dia sedang enggak enak badan."

"Itu alasan kamu dua tahun terakhir, Elias. Pokoknya, datang. Sendirian atau berdua, itu urusan kamu. Tapi kamu harus hadapi Papa."

Telepon terputus. Elias melempar ponselnya ke sofa ruangannya. Ia bersandar di kursi, menatap ke luar jendela. Kota Jakarta yang gemerlap tampak begitu jauh, seolah masalahnya hanya dia seorang yang alami.

Makan malam keluarga Pradana. Itu bukan sekadar makan malam. Itu adalah sidang paripurna. Papa, Bram Pradana, adalah pria yang sangat menjunjung tinggi nama baik dan tradisi keluarga. Keluarga Pradana harus sempurna: sukses secara finansial, stabil secara politik, dan yang terpenting, memiliki penerus.

Keesokan malamnya, Elias datang sendirian. Ia sudah mencoba menghubungi Safira, memintanya datang.

"Aku enggak mau, El," jawab Safira lewat pesan singkat. "Aku enggak siap mendengar pertanyaan-pertanyaan mereka. Aku cuma akan merusak suasana. Bilang aja aku ada proyek di luar kota mendadak."

Elias enggak membalas. Dia cuma tahu dia harus menghadapi api ini sendirian.

Begitu masuk ke rumah besar orang tuanya, nuansa formal langsung menyergapnya. Ayahnya, Papa Bram, duduk di ruang keluarga, membaca koran dengan sorot mata dingin yang khas. Ibu Martha menyambutnya dengan pelukan hangat yang terasa seperti menenangkan seorang prajurit sebelum perang.

Di meja makan, suasananya kaku. Ada Kakaknya, Shinta, dan suaminya, Robi. Mereka sudah punya dua anak yang lucu-lucu, menambah kontras pada meja makan Elias yang selalu kosong.

Obrolan basa-basi berjalan lambat. Tentang bisnis, tentang politik, tentang cuaca. Tapi Elias tahu, ini hanyalah pemanasan.

Begitu makanan penutup selesai disajikan, Papa Bram meletakkan garpunya dengan bunyi denting yang nyaring. Semua mata tertuju pada Elias.

"Safira ke mana?" tanya Papa Bram, suaranya berat dan mengintimidasi.

"Dia ada klien dari luar kota, Pa. Enggak bisa ditinggal," jawab Elias, kebohongan yang sudah ia siapkan.

Papa Bram menatapnya tajam. "Klien. Selalu klien. El, Ibu kamu bilang kamu sudah pindah ke kamar tamu. Benar?"

Jantung Elias berdegup kencang. Ia melirik Ibu Martha, yang hanya memberi tatapan penuh arti, seolah bilang, Sudah kubilang ini akan terjadi.

"Hanya sementara, Pa. Aku sedang butuh fokus untuk proyek besar. Kamar tamu lebih tenang," Elias berusaha berdalih.

"Omong kosong!" Papa Bram membanting tangan ke meja, membuat gelas bergetar. "Kamar kamu di rumah itu sebesar lapangan tenis! Mana ada yang enggak fokus di sana? Katakan yang sebenarnya, Elias. Kalian bertengkar hebat?"

Elias merasa semua energinya terkuras. "Kami cuma sedang butuh waktu. Kami sedang menyelesaikan masalah kami."

"Masalah apa?" Papa Bram menyipit. "Masalah yang sama yang sudah kalian 'selesaikan' selama dua tahun? Masalah yang membuat Safira enggak pernah mau bicara tentang anak?"

Pertanyaan itu tepat menusuk ulu hati Elias. Kakaknya, Shinta, mencoba menengahi. "Pa, jangan begini. Biarkan Elias dan Safira yang menyelesaikan masalah rumah tangga mereka."

"Ini bukan cuma masalah rumah tangga!" bantah Papa Bram. "Ini tentang garis keturunan, Shinta! Elias adalah putra kedua, dia harus punya anak. Ini tentang nama baik! Orang-orang mulai berbisik, kenapa Elias yang suksesnya luar biasa, enggak bisa menghidupi satu anak pun? Kenapa Safira selalu menghindar?"

Robi, suami Shinta, ikut bicara, berusaha menenangkan. "Mungkin mereka memang belum siap, Om. Atau masih trauma setelah yang lalu."

Mendengar kata 'trauma', Papa Bram terdiam. Ia menatap Elias. "Aku tahu soal insiden itu, El. Aku tahu Safira trauma. Tapi sudah dua tahun! Kalian enggak bisa hidup di masa lalu terus! Kapan kalian akan mencoba lagi? Aku enggak minta cucu besok pagi, tapi aku minta kejelasan!"

Elias menunduk, enggak mampu menghadapi tatapan menuntut Papanya.

"Kami sudah mencoba, Pa. Berulang kali," kata Elias, suaranya tercekat. "Tapi Safira... setiap kali kami mencoba, dia akan kembali ke titik nol. Dia menyalahkan dirinya, dia menyalahkan aku. Dia enggak bisa melepaskan rasa bersalahnya."

"Maka ajak dia ke terapis terbaik!" bentak Papa Bram. "Atau bawa dia keliling dunia! Cari solusi, Elias! Jangan cuma menyerah dan pindah kamar!"

Elias mengangkat kepala. Rasa frustrasinya mendidih. "Aku enggak menyerah! Aku hanya lelah, Pa! Aku sudah berusaha keras untuk mempertahankan pernikahan yang satu pihak sudah mati rasa!"

Keheningan melanda ruang makan itu. Ibu Martha menatap Elias dengan air mata di pelupuknya. Shinta menggeleng, prihatin.

Papa Bram menghela napas, suaranya melembut, tapi ancamannya terasa lebih menakutkan.

"Dengar, El," katanya. "Aku sudah tua. Aku ingin melihat cucu dari kamu. Kalau Safira memang enggak bisa memberikan itu-dan aku enggak menyalahkan dia, ini tentang psikologis-maka kamu harus mencari solusi yang lain. Jangan biarkan nama keluarga ini dipertanyakan."

Elias tahu maksud 'solusi lain' itu. Itu adalah izin terselubung untuk mencari pengganti. Itu adalah sinyal bahwa Ayahnya sudah muak dan siap mencampuri lebih dalam.

"Aku enggak akan menceraikan Safira," tegas Elias. "Dia istriku. Aku mencintainya."

"Cinta yang bagaimana, Elias? Cinta yang membuat kamu tidur di kamar terpisah? Cinta yang membuat kamu hampir enggak pernah pulang?" balas Papa Bram. "Aku kasih kamu waktu enam bulan. Enam bulan untuk memperbaiki ini. Kalau sampai akhir tahun kalian enggak bisa menunjukkan kemajuan, entah itu Safira yang sudah mau berdamai atau... ya, setidaknya kamu sudah punya rencana yang jelas untuk masa depan keluarga ini, aku akan turun tangan."

Ancaman itu membuat Elias menggigil, bukan karena takut, tapi karena marah. Dia benci didikte.

"Apa yang akan Papa lakukan?" tantang Elias.

"Aku akan bicara pada Safira secara langsung. Aku akan memintanya untuk memilih: sembuh dan berjuang, atau membebaskan kamu," jawab Papa Bram tanpa ragu. "Aku enggak mau melihat putraku menderita, El. Dan aku enggak mau garis Pradana berhenti di kamu."

Elias berdiri. Nafsu makannya hilang, digantikan oleh gelombang frustrasi.

"Aku mengerti," kata Elias, suaranya dingin dan terkontrol. "Aku akan pikirkan. Tapi ini hidupku, Pa. Aku yang akan memutuskan."

"Hidup kamu adalah hidup keluarga ini, Elias. Jangan lupa itu," tutup Papa Bram, kembali membaca korannya, seolah sidang sudah ditutup.

Elias pamit dengan tergesa-gesa. Dia meninggalkan rumah itu dengan perasaan campur aduk. Ia marah pada Papanya, tapi ia juga marah pada dirinya sendiri dan Safira. Ayahnya benar, mereka enggak bisa begini terus.

Di mobil, Elias mengendarai tanpa tujuan. Kota sudah larut, tapi ia enggak mau pulang. Ia tahu Safira mungkin sudah tidur, mungkin juga tidak, tapi ia enggak peduli. Ia hanya butuh udara segar.

Ia memarkir mobilnya di pinggir taman yang sunyi. Ia keluar, menghirup udara malam.

Enam bulan. Itu waktu yang sedikit.

Elias menyentuh ponselnya lagi. Dia enggak menelepon Safira. Dia enggak menelepon siapa pun. Dia hanya duduk di bangku taman, memikirkan apa yang harus dia lakukan. Menceraikan Safira? Itu terasa kejam, mengingat Safira sudah melalui banyak hal. Tapi mempertahankan pernikahan yang kosong ini juga terasa kejam, terhadap dirinya sendiri.

Aku butuh jalan keluar.

Pikirannya kembali pada senyum gadis yang ia lihat kemarin. Senyum yang enggak menanggung beban, senyum yang bebas.

"Di mana ketenangan itu bisa aku temukan?" bisik Elias pada kegelapan.

Dia merasa lelah. Lelah dengan janji, lelah dengan trauma, lelah dengan nama baik keluarga yang harus ia jaga. Dia hanya ingin hidup yang sederhana, yang penuh tawa, yang enggak perlu sandiwara.

Elias kembali masuk ke mobil. Tapi alih-alih pulang, dia mengemudi ke tempat lain-ke apartemen kecil yang ia beli diam-diam beberapa tahun lalu, sebagai tempat pelarian. Malam ini, ia enggak akan pulang ke rumah yang dipenuhi kebekuan. Dia akan lari ke ruang yang memang benar-benar miliknya, tanpa kenangan, tanpa Safira, tanpa tuntutan Papa Bram.

Malam itu, Elias enggak hanya menjauhkan dirinya dari Safira, tapi juga menjauhkan dirinya dari beban nama Pradana. Dan di dalam kesendirian yang pahit itu, ia semakin siap untuk mengambil keputusan yang akan mengubah segalanya. Keputusan yang hanya didorong oleh satu hal: kebutuhannya untuk bernapas.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos Terkutuk: Jauhi Aku!
8.6
Lima tahun pengabdian Valerie sebagai sekretaris berujung sia-sia saat Edwin membuangnya ke kantor cabang. Namun, pengasingan itu justru menjadi awal kebahagiaannya. Saat seorang pria baru mendekat dan warisan miliarder dari ayahnya menanti, Valerie menyadari betapa suram masa lalunya. Ketika Edwin yang sombong menuduhnya gagal move on di sebuah pesta, Valerie dengan berani membalas ejekan mantan bosnya itu. Kini, roda berputar dan dialah yang memegang kendali.
Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
8.9
Pamela nekat menyatakan cinta pada Zero, sahabat posesifnya, namun malah dihina dan ditinggalkan. Saat trauma itu sembuh berkat kasih sayang Tirta, Zero mendadak muncul kembali untuk mengacaukan rencana pernikahan mereka. Meski ada gangguan dari mantan kekasih Tirta, Zero tetap menjadi ancaman utama. Dengan segala kegilaan dan kekuasaannya, putra konglomerat itu berusaha menjerat kebebasan Pamela serta menghancurkan kebahagiaan yang baru ia bangun.
Sampul Novel Gairah Nakal Sang Billionaire
8.5
Raisa Aquila Nazara, wanita cantik berusia 25 tahun, terjerat dalam skema jahat Helena, ibu dari kekasihnya sendiri. Jebakan itu membawanya berakhir di satu kamar dengan Raka Mirza Bramantyo, CEO tampan berumur 27 tahun yang dikenal sebagai seorang player. Setelah malam tak terduga itu terjadi, Raisa harus menghadapi kenyataan pahit atas apa yang mereka lakukan. Akankah insiden memalukan ini menjadi akhir segalanya atau justru awal hubungan baru bagi mereka?
Sampul Novel Gairah Terlarang Sang CEO!
9.0
Jordan Freemantle menyimpan dendam membara pada Lawrence Brickman yang kabur setelah menggelapkan dana proyek besar mereka. Saat Chantal Brickman, putri Lawrence yang cantik, datang ke rumah ayahnya di Malibu, Jordan langsung menjadikannya target pelampiasan. Pria arogan ini memaksa Chantal mematuhi segala hasrat gilanya sebagai bentuk penebusan utang sang ayah. Terjebak dalam cengkeraman Jordan, Chantal tak punya pilihan selain menuruti semua kemauan pria itu.
Sampul Novel Gairah Tuan Besar
8.2
Zain adalah pengusaha sukses yang tampak sempurna, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak kecelakaan tragis lima tahun lalu akibat pengkhianatan istrinya, ia menderita disfungsi seksual. Bella memanfaatkan kondisi ini untuk berselingkuh secara bebas demi memeras harga diri Zain. Namun, pertemuannya dengan Yvone di sebuah kelab malam membangkitkan kembali gairah Zain yang lama padam. Masalah besar muncul karena Yvone ternyata adalah kekasih Daniel, anak tirinya sendiri.
Sampul Novel Istri Yang Kau Remehkan
8.4
Jiwa Eleanor Vienne, seorang supermodel ternama, berpindah ke raga Seraphina Elmswood setelah kematian tragisnya. Seraphina adalah istri dari keluarga kaya yang selama ini dihina karena dianggap buruk rupa dan bodoh. Suaminya, Lysander, bahkan bersikap dingin dan tidak setia. Namun, pesona Eleanor mengubah segalanya. Kini Seraphina tampil berkelas, memicu kecemasan keluarga Elmswood dan membuat Lysander terpesona. Akankah ia memaafkan pria yang dulu meremehkannya?