APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istriku selingkuh

Istriku selingkuh

Bagaimanakah perasaan dan tindakan yang harus aku ambil saat menghadapi kenyataan pahit bahwa istri yang sangat kucintai telah mengkhianati janji suci pernikahan kami? Kepercayaan yang telah lama kubangun kini hancur berkeping-keping setelah mengetahui dia berselingkuh di belakangku. Di tengah badai emosi dan rasa sakit yang mendalam, aku dipaksa untuk menentukan langkah selanjutnya bagi masa depan hubungan kami yang kini berada di ujung tanduk.
Bab
Bagikan

Bab 3

BAB 3:

Langit Jakarta begitu cerah, kontras dengan suasana serius yang melingkupi pertemuan Prast dan Davin. Setelah selesai menukar dolar di bank, Prast sengaja memilih kafe terbuka. Angin sepoi-sepoi Jakarta yang hangat menerpa, dan mereka bebas menghirup asap rokok; sepertinya mereka akan menghabiskan waktu yang sangat lama di sana.

Setelah mengucap salam dan berbasa-basi sebentar menanyakan kabar keluarga, Prast mengajak Davin untuk duduk di meja pojok, tempat paling tersembunyi.

Prast menatap Davin. Wajahnya cerah, matanya pun bersinar. Ada ketenangan yang aneh, seolah Davin sudah berdamai sepenuhnya dengan keadaan. Prast yakin, Davin sudah menyusun rencana-rencana besar dan gila untuk menyelesaikan masalahnya.

Dua cangkir kopi hitam mengepul sudah tersedia di meja, ditemani beberapa camilan. Davin menghirup asap rokoknya dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, seolah itu adalah langkah pertama dari aksinya. Prast pun berusaha santai.

"Intinya, elu ikuti saja apa yang gue sudah rencanain ini Prast..." Davin mulai membuka percakapan, nadanya datar tapi tegas.

"Sebenarnya bisa saja gue yang jalanin semuanya ini," lanjutnya. "Tapi takutnya nanti ketahuan. Soalnya kan banyak yang kenal gue di sana."

"Ini...!!!" Davin menyodorkan beberapa lembaran kertas folio.

Prast menerima berkas itu. Hahhh... gile... ini Davin benar-benar sangat serius mau menghukum istri dan selingkuhannya itu, pikir Prast. Berkas itu menyerupai checklist seorang inspektur, tersusun rapi dengan langkah-langkah detail, jangka waktu pengerjaan, dan kolom kosong di pinggir kiri untuk tanda centang (✓) pekerjaan yang sudah selesai.

Prast tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat keseriusannya. Davin ikut tersenyum.

"Berapa lama elu nyiapin beginian?" Prast penasaran.

"Dua minggu sebelum kita pulang dari Cina kemarin," jawabnya bangga. "Ini yang kita bahas sekarang, Bro."

Davin menyandarkan punggungnya. "Cek, kali ada yang nggak bisa dikerjakan, atau elu mau nambahin juga boleh."

Davin melihat jam di arlojinya. Mereka benar-benar akan lama di sini, karena setiap langkah harus dibahas secara detail.

Diskusi di Bawah Matahari Senja

Prast mulai memeriksa rencana itu secara keseluruhan. Ada beberapa poin yang ia coret karena langkahnya terlalu berisiko atau tidak mungkin Prast kerjakan sendirian. Namun, ada pula langkah-langkah pendukung yang Prast tambahkan, tentu saja setelah berdiskusi dan mendapat persetujuan Davin.

"Kayaknya gue butuh bantuan orang lain deh, Dav!" ujar Prast. "Yang poin ini nih... nggak mungkin gue sendiri."

Davin mengangguk cepat. "Ningsih nanti yang bantu elu."

"Hanya Ningsih yang tahu gue pulang. Orang tua gue aja nggak gue kasih tahu," jelasnya, menunjukkan betapa ketatnya rahasia ini ia jaga.

Waktu berjalan terus, tak terasa sudah masuk waktu Ashar. Mereka pamit sebentar kepada pelayan kafe untuk salat. Prast berpesan agar meja mereka tidak dibersihkan dan meminta pesanan makanan dan kopi sudah tersedia saat mereka kembali.

Diskusi panas ini mereka lanjutkan setelah menunaikan salat Ashar. Prast mulai membahas detail setiap poin. Ia merasa seperti sedang merencanakan tindakan kriminal, karena apa yang akan ia lakukan nanti terasa ilegal di mata hukum.

Seperti kejahatan dibalas dengan kejahatan, apakah itu pantas? batin Prast. Ia merasa tidak peduli. Niatnya hanya satu: membantu sahabatnya ini.

Di tengah diskusi, Davin tiba-tiba mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkan dua buah handphone kepada Prast.

"Lu pegang ini," katanya, menyerahkan sebuah ponsel kecil. "Yang ini buat kita komunikasi dan mencatat semua kegiatan yang kita lakuin."

Prast mengangguk-angguk. Benar-benar seperti kriminal profesional, pikir Prast.

Ia lalu menunjukkan ponsel lain. "Yang ini ponsel kloningan handphone bini gue... buat nyadap."

Hahh! Davin sudah menjalankan poin awal rencananya! Prast tak habis pikir.

"Kapan lu cloning nih handphone?" tanya Prast meminta penjelasan.

"Seminggu lalu. Gue suruh Ningsih." Davin menatap ponsel kloningan itu. "Tapi jangan dibuka. Hanya di-cloning aja."

"Gue sendiri juga belum buka. Gue takut emosi, malah nggak jadi apa yang gue rencanain," akunya.

"Lha... berarti sudah ada bukti kalau Sabrina selingkuh?" potong Prast.

Davin menggeleng. "Kalau cuma WA aja masih lemah, Prast. Dia bisa saja bilang WA palsu. Lagian, mungkin juga dia selalu menghapus riwayat chat-nya."

Prast mulai mengerti jalan pikiran Davin. Dia tidak hanya ingin bukti, dia ingin menangkap basah, ingin menghantam telak.

Jejak Digital dan Dana Operasi

Akhirnya, semua poin selesai dijabarkan dengan detail. Hari menjelang sore. Davin mengeluarkan laptopnya, menulis ulang hasil diskusi mereka yang tadinya hanya coret-coretan kasar di kertas.

"Mana handphone lu?" tanya Davin.

Prast memberikan ponselnya yang biasa ia gunakan.

"Bukan, handphone yang kecil... yang buat rencana ini!" koreksinya. "Mau gue copy hasilnya ke situ."

Setelah berhasil menyalin file, Davin mengembalikan ponsel itu kepada Prast. Dia berpesan agar Prast segera memberi password pada file tersebut, berjaga-jaga jangan sampai rencana ini bocor. Memang, isi file itu adalah panduan yang harus Prast lakukan, dan ini harus dirahasiakan, bahkan dari Santi, istrinya, untuk meminimalkan risiko jika aksinya terbongkar.

"Norek lu berapa, Bro?" tanya Davin mendadak.

"Hah? Buat apa?" tanya Prast kembali, bingung.

"Gue tahu semua ini butuh dana. Mana nomernya?" Ia mendesak sambil menggenggam ponselnya.

"Nggak usah, Bro. Gue pakai duit sendiri aja. Sama lu, masa gue hitung-hitungan?" tolak Prast.

"Gue tanya Santi ya, norek lu?" ancamnya sambil senyum-senyum.

"Yaa... nanti malah ketahuan! Dia tanya macam-macam," sahut Prast, mengalah.

Akhirnya, Prast meminta Davin mengirim uangnya ke aplikasi UANGKU saja, untuk menghindari pertanyaan dari Santi jika ada transfer masuk ke rekening bank. Memang, rencana Davin ini membutuhkan dana yang lumayan besar bagi Prast. Walaupun terasa seperti membuang uang, Prast harus mendukungnya. Davin sendiri sepertinya tidak memikirkan biaya; yang ada di pikirannya hanyalah bukti dan hukuman setimpal untuk Sabrina dan selingkuhannya.

Fake GPS dan Aturan Main

Selesai sudah diskusi mereka. Davin merapikan barang-barangnya: kertas, pulpen, semuanya dimasukkan kembali ke tas. Dia berpesan bahwa mulai detik ini, komunikasi hanya menggunakan handphone kecil pemberiannya. (Handphone kecil di sini maksudnya ponsel dengan ukuran sekitar iPhone 5, karena ponsel zaman sekarang rata-rata berukuran 6 inci ke atas).

Prast merasa aksi mereka telah resmi dimulai saat ini. Namun, melihat tingkah Davin, Prast menduga Davin sudah mulai lebih dulu. Davin tidak pernah melepas topi dan kacamata hitamnya. Saat datang pun dia memakai masker-yang baru diturunkan setelah dia duduk-dan dia memilih tempat duduk yang membelakangi kamera CCTV. Setiap pelayan datang, maskernya selalu dinaikkan lagi.

"Dav... kalau mulai sekarang baru gue ngubungi lu pake handphone kecil... lha sebelom nyampe tadi siang, gue masih hubungi lu pake nomer biasanya, gimana tuuh???" cerocos Prast penasaran.

Davin tersenyum misterius. "Tenang, Bro. Gue udah rencanain ini matang."

"Gue pakai FAKE GPS. Jadi, kalau lu telepon gue, itu seakan-akan gue masih di Cina," jelas Davin. "Sama kayak kemarin malam lu telepon gue... itu gue di Cina kalau dicek."

"Yang tahu keberadaan gue di sini cuma elu, Ningsih, sama pegawai imigrasi... hahaha" Davin tertawa, seolah mengejek Prast yang baru menyadari detail ini.

"Elu juga, mulai sekarang... kalau lagi jalanin rencana gue, handphone utama lu matiin ya!" tegas Davin.

"Dari mulai keluar rumah sudah lu matiin!"

"Lha... kok bisa???"

"Jejak digital, Bro. Jejak linimasa lu ketahuan, lu pergi ke mana saja," jelas Davin, mengakhiri perdebatan.

"Okelah, Bro. Sampai ketemu lagi," ucap Prast.

Mereka bersalaman tanpa pelukan, keluar dari kafe itu. Davin mengangkat tangannya, memberikan kode perpisahan.

"Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bersama Kita Bangkit Dari Abu
8.0
Dalam kondisi hamil tua, mobilku ditabrak truk secara sengaja. Saat sekarat, aku menghubungi suamiku, Kian, namun ia justru mengabaikanku demi keluhan sakit kepala Florence. Pengkhianatan itu berujung tragis: bayi kami tewas dan kakakku kehilangan karier pianisnya selamanya. Kini, duka berubah menjadi amarah yang membara. Kian menganggap kami sampah, namun ia tak sadar bahwa kami akan bangkit dari kehancuran ini untuk menuntut balas atas semua penderitaan kami.
Sampul Novel Bukan Istri Bayaran
9.8
Terhimpit keadaan sulit yang tanpa jalan keluar, aku terpaksa membuat kesepakatan nekat dengan Alister Bagaskara. Pria yang jauh lebih dewasa itu menjadi satu-satunya penyelamat yang mampu membebaskanku. Sebagai imbalan atas bantuannya, aku menawarkan diri untuk menjadi istrinya. Pernikahan ini pun dimulai tanpa landasan cinta, melainkan sebuah keterpaksaan demi bertahan hidup. Kini, aku harus menjalani hari-hari sebagai istri dari pria yang asing bagiku.
Sampul Novel Istri Muda
8.7
Elang terjebak dalam dilema besar saat ia terpaksa menikahi Huri untuk melunasi utang ibunya kepada orang tua gadis itu. Padahal, Elang sudah memiliki istri sah bernama Kiya. Kini, hidupnya berubah drastis karena harus menyeimbangkan tanggung jawab di antara dua wanita. Akankah Elang mampu mempertahankan keutuhan rumah tangganya dan menjalankan perannya sebagai suami bagi dua istri sekaligus tanpa memicu kehancuran dalam kehidupan pernikahannya?
Sampul Novel KEHIDUPAN SETELAH MENIKAH
8.9
Demi membahagiakan orang tuanya, Kanaya merelakan diri menikah dengan Bisma meski hatinya masih terpaut pada Hamdan. Namun, rumah tangga mereka diguncang kenyataan pahit saat Bisma diketahui menghamili kekasihnya, Vilia. Kanaya yang tegar justru memfasilitasi pernikahan keduanya. Ironisnya, saat Bisma mulai jatuh hati padanya, Hamdan justru kembali datang melamar. Kanaya kini terjebak dalam pusaran asmara dan dilema emosional yang rumit.
Sampul Novel Menjadi Ibu Susu
8.5
Viona, seorang wanita yang terjebak dalam dunia prostitusi dengan nama panggung Ros, mendapati hidupnya berubah drastis secara tidak terduga. Ia mengemban tanggung jawab sebagai ibu susu bagi bayi piatu bernama Melati. Di tengah tugas barunya itu, Viona dihadapkan pada tantangan emosional yang sulit. Ia harus berjuang menjalankan perannya dengan profesional sembari berusaha keras menahan perasaan yang mulai tumbuh terhadap ayah kandung Melati.
Sampul Novel MOLLY, She Will Be Love
8.9
Molly adalah mahasiswi yang jenuh dengan rutinitas membosankan dan sikap kakaknya yang terlalu protektif. Sebelum masa kuliahnya berakhir, ia merancang sebuah rencana nekat untuk mendekati dosen muda di kampusnya. Namun, situasi menjadi rumit saat Molly justru terjebak di antara dua pria yang bersaing sengit demi mendapatkan cintanya. Keduanya merasa terpikat oleh pesona unik Molly, hingga menciptakan persaingan hati yang penuh dengan lika-liku tak terduga.