APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jadi Wanita

Jadi Wanita

Sota adalah pemuda dua puluh tahun yang sangat malas dan pengangguran. Meski cerdas dalam kelicikan, ia hanya menghabiskan waktu dengan gawainya. Hal ini memicu kekhawatiran mendalam bagi ibunya, Artisa. Sebagai wanita pekerja keras yang juga memiliki sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat buruk putranya secara total. Ia menempuh metode ekstrem dengan mentransformasi fisik Sota. Berhasilkah rencana Artisa mengubah jati diri Sota melalui perubahan tubuh tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Iya, kenapa?" tanya balik Artisa.

"Tidak apa-apa, aku belum pernah melakukan ini," kata Sota.

"Nanti lama-lama kamu akan terbiasa sendiri."

"Bu, aku malu melakukannya. Boleh tidak aku pejamkan mata."

"Baiklah, untuk kali ini saja. Tapi kau harus belajar berhias sendiri."

Sota memejamkan kedua matanya. Penglihatan tertutup rapat. Segala cahaya tak bisa masuk ke dalam. Hal ini mempermudah Artisa sebab Sota tak banyak bergerak. Alas bedak dia taburkan, diikuti dengan peralatan yang lain. Bibir dibuat senatural mungkin, begitu pula dengan yang lain.

30 menit telah berlalu. Artisa selesai merias wajah Sota. Segala peralatan dia tutup dan dirapikan.

"Sota, buka matamu," kata Artisa.

Perlahan kelompak mata diangkat. Sedikit demi sedikit cahaya mulai terlihat. Sebuah cermin dihadapkan ke wajah Sota. Tergambar bayangan wajah cantik. Sota tersipu malu tapi juga senang. "Bu, apakah ini aku?" tanyanya tak percaya.

"Iya," kata ibunya.

"Yeah, aku jadi cantik!" teriak Sota kegirangan. Tak terasa dia melompat-lompat.

"Sota, sebenarnya Ibu masih bisa membuatmu lebih cantik lagi. Hanya saja rambutmu masih pendek. Mungkin jika kamu sudah memanjangkan selama setahun bisa lebih cantik lagi." komentar ibunya.

"Terima kasih Bu, tapi aku ingin segera menjadi seperti semula lagi," kata Sota.

"Sota, sekarang ikut Ibu."

Artisa kembali menggandeng tangan anaknya. Dapur yang menjadi tempat tujuan kali ini.

"Sota, sebagai perempuan sudah seharusnya kita untuk bisa memasak makanan. Jadi Ibu akan ajari kamu cari memasak." Artisa mengambil beberapa bumbu dapur yang ada di dalam lemari. Diletakkan bumbu itu di depan Sota. Beberapa sayuran juga diambil Artisa dari dalam lemari es.

"Kamu perhatikan dulu cara Ibu." Pisau dapur di genggam di sebelah kanan. tangan cekatannya mengiris bawang merah hingga tipis. Sota mengikutinya walau masih lamban. Bumbu lain juga diiris Artisa dengan cekatan dan hasilnya halus. Sota mengikutinya masih sedikit, pelan dan kasar.

Sayuran diambil dari dalam lemari es, dicuci bersih lalu di potong. Sota memperhatikan setiap gerak tangan sang ibu. "Sota, perhatikan ukuran sayurannya," kata Artisa.

Sebuah kompor dinyalakan. Wajan yang ada di atas kompor diberi minyak. Saat minyak sudah panas bumbu dimasukkan dan digoreng hingga tercium bau harum. Kemudian sayuran dimasukkan. Sedikit Artisa mencicipinya. Gula dan gara dimasukkan sebagai penyeimbang rasa.

"Soya, coba kau cicipi. Segini standar rasa. Jika kurang sesuatu tinggal kau tambah saja," kaya Artisa.

Sota mencicipi sedikit cairan. Baru dia tahu rasa yang diinginkan sang ibu.

Artisa terus mengaduk sayuran di dalam penggorengan. Ketika sayuran telah layu dan matang kompor dimatikan, lalu sayuran dipindahkan ke sebuah wadah. Hasil olahan ditempatkan di atas meja makan. Kursi terdekat tempat Artisa duduk.

"Bu, aku mau tanya. Biasanya Ibu masak banyak, tapi sekarang kok sedikit," tanya Sota.

"Karena ibu hanya ingin melatihmu saja dan yang makan hanya kita berdua," kata Artisa dengan santai.

Mereka berdua menikmati hasil masakannya sendiri yang mereka hidangkan.

Waktu makan telah usai. Artisa menumpuk piring. Dengan isyarat tangan mengajak Sota. Bergegas Sota mengikuti kemana ibunya pergi. Sampai mereka ke tempat cucian piring. tertumpuk beberapa alat makan di sana.

"Sota, kamu bersihkan semua ini," perintah Artisa.

"Kok, aku?" tanya Sota.

"Karena sekarang kamu inii seorang perempuan. Sudah menjadi kewajiban kita untuk melayani suami termasuk juga membersihkan benda yang kotor," kata Artisa.

"Apa salahku dahulu hingga aku bisa mendapatkan tubuh ini," keluh kesah Sota.

Piring dan peralatan lainnya Sota basuh dengan ar dan bersihkan satu persatu. Terlihat tiada kesemangatan dalam diri Sota. Gerak masih lamban tapi hasilnya bisa bersih. Artisa memeriksa setiap peralatan yang dibersihkan si buah hati. Baru Artisa sadari ternyata Sota memiliki ketelitian lumayan tinggi.

Peralatan makan telah usai dibersihkan dan disimpan, Artisa memberikan isyarat lagi. Kini mereka berdua membersihkan rumah. Kain lap diambil, Artisa mengepel lantai rumah. Sota mengikuti jejak ibunya. Tempat yang lain pun ikut dibersihkan.

***

Rumah telah rapi, mereka berdua beristirahat. Terlihat rasa kelelahan menghinggapi wajah Sota. Napasnya seperti mau habis. Udara keluar masuk sangat cepat. Segelas air disodorkan oleh Artisa. "Nak, kamu capek," katanya.

"Tak kusangka membersihkan rumah selelah ini. Bu, aku minta maaf karena telah merepotkan selama ini," kata Sota.

"Sota, ini belum selesai. Handuk dan pakaian yang kamu basahi belum kamu cuci. Untuk hari ini cukup sekian dulu, mulai besok kamu cuci sendiri. Beristirahatlah." Artisa kembali berdiri dan bergegas menuju ke kamar mandi.

Telah lama Sota tak membuka ponselnya. Kouta internet telah habis masanya. Ingin rasanya Sota keluar untuk membeli pulsa. Saat tahu orang lalu lalang melintas Sota mengurungkan niatnya. Rasa malu telah membunuh keinginannya untuk berselancar di jejaringan. Remot diambil, televisi dinyalakan. Berbaringlah Sota di kursi panjang dengan santai.

Usai sudah Artisa mencuci pakaian anak yang baru berubah itu. Tanah di belakang rumah menjadi tempatnya menjemur kain yang masih basah. Artisa kembali menemui Sota. Tampak jelas Sota berbaring dengan posisi kaki terbuka lebar.

"Nak, kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus sopan," kata Artisa.

"Memangnya kenapa, Bu?" tanya Sota.

"Apa kamu tak malu jika ada orang yang melihatmu seperti ini?" Artisa menyingsingkan rok yang digunakan Sota.

"Bu, jangan begitu. Aku malu." Wajah Sota memerah karenanya. Segera dia menutup bagian kaki.

"Itu baru Ibu sendiri yang melihatmu. Bagaimana nanti jika lelaki nakal di luar sana yang menggodamu." Artisa menurunkan kaki Sota satu persatu. Duduklah Sota dikursi itu. "Sota, kau harus menutupi bagian vitalmu. Kau silangkan kakimu agar tak terlihat dan letakkan tanganmu di atasnya," imbuhnya.

"Ibu sih enak, pakai rok panjang. Sedangkan aku Ibu paksa pakai gaun rok mini. Bu, tolong contohkan. Buka rok Ibu, sedikit saja," kata Sota.

"Eh Sota, itu tidak sopan. Kau mau melihat tubuh Ibu," kata Artisa.

"Lho, bukannya Ibu yang duluan melakukannya. Tadi Ibu melihat tubuh mulusku, sekarang gantian aku yang melihat Ibu. Lagian aku ini juga perempuan."

Sota hendak membuka pakaian ibunya tapi tangan Sota terlebih dahulu dipegang sang ibu. Terjadinya adu dorong keduanya hingga mereka berguling-guling di lantai. Tenaga Sota telah habis, sekali lagi dia kalah dari sang ibu. Gagal sudah usaha Sota. Berbaring di lantai menjadi kenikmatan tersendiri.

"Sota, entah kenapa aku merasa senang seperti ini. Apakah kau juga merasakannya?" tanya Artisa.

"Iya, Bu. Mungkin hal seperti ini yang aku rindukan. Aku ingin saat seperti ini selamanya," jawab Sota.

"Tapi harus kita akhiri saat seperti ini. Kau masih butuh banyak belajar untuk menjadi perempuan."

"Bu, bolehkan aku beristirahat. Sebentar saja, aku capek," pinta Sota.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bulan di Darah Awan
9.8
Dunia kini diselimuti cahaya merah abadi yang membawa derita darah dan kesedihan mendalam. Di tengah perjuangan mempertahankan kewarasan, sebuah pertemuan singkat justru berujung pada luka lama yang kembali terbuka. Meski ada ikatan yang terasa berbeda, kebencian dari masa lalu menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Rahasia yang tersimpan memicu amarah hingga hubungan yang baru saja dimulai ini terancam hancur, meninggalkan rasa sesak yang tak terlukiskan.
Sampul Novel Dewa Alkemis
8.9
Tian Fan adalah pemuda berbakat dari keluarga bangsawan rendah yang bermimpi menjadi seorang alkemis hebat. Namun, kejeniusannya justru memicu kebencian para tuan muda dari kalangan atas yang terus menekannya. Di tengah berbagai kesulitan dan intimidasi tersebut, sebuah peristiwa besar menimpa dirinya dan mengubah segalanya. Kejadian tak terduga ini membuka jalan baru yang memperbesar peluang Tian Fan untuk mewujudkan ambisinya menjadi Grandmaster Alkemis.
Sampul Novel Dokter Iblis Yang Tak Tertandingi
9.4
Pasca kematian gurunya, Zhao Erhu menerima wasiat terakhir yang sangat mengejutkan. Ia diperintahkan turun gunung untuk menemui tujuh kakak perempuan seperguruannya. Tugasnya bukan sekadar mencari mereka, melainkan harus meniduri ketujuh wanita tersebut. Instruksi aneh ini membuat semua orang tercengang, namun sang guru menegaskan bahwa ini adalah misi penyelamatan nyawa. Tanpa melakukan hubungan intim itu, nyawa kakak-kakaknya akan berada dalam bahaya besar.
Sampul Novel JARAN GOYANG PENARI JAIPONG
8.3
Terbakar api cemburu melihat Abimanyu memadu kasih dengan sahabatnya sendiri, Kamila nekat menempuh jalan hitam. Ia mengamalkan Ajian Jaran Goyang pemberian Nyai Winarsih, sosok tua yang secara misterius tetap berparas jelita. Kamila tidak menyadari bahwa tindakannya menyeretnya ke dalam pusaran sumpah masa lalu sang nyai. Obsesi buta ini membangkitkan petaka kuno yang telah terkubur puluhan tahun, mengancam nyawa demi sebuah cinta yang dipaksakan.
Sampul Novel Jodoh Palsu Sang Alfa, Perang Diam Sang Omega
9.2
Sebagai Omega, aku percaya saat Dewi Bulan menakdirkanku bagi Alpha Baskara. Namun, janin yang kukandung ternyata dianggap aib. Baskara telah mandul demi wanita lain dan menjadikanku bahan taruhan keji. Setelah disiksa oleh Kirana dan dikhianati prajuritnya, hatiku membeku. Di ambang kehancuran, aku menelan ramuan terlarang untuk mematikan benih di rahimku. Ini bukan sekadar rasa putus asa, melainkan awal perang dingin untuk membalas dendam.
Sampul Novel Mr. Devil
8.1
Kehidupan Ellena berubah menjadi mimpi buruk saat ayah kandungnya sendiri menjualnya demi ambisi bisnis gelap. Kini, ia terperangkap di sebuah mansion mewah milik Hogue, pria kejam dengan hasrat seksual menyimpang yang tidak segan menyiksa fisiknya. Di tengah kekejaman sang vampir yang menganggapnya tak lebih dari sekadar budak, Ellena harus menghadapi penderitaan tanpa henti. Sanggupkah ia bertahan hidup di bawah kendali pria sadis tersebut?