APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janda Buruk Rupa Kesayangan Idol Tampan

Janda Buruk Rupa Kesayangan Idol Tampan

Jelita Laurenza, janda muda berparas buruk rupa, harus menelan pil pahit setelah dikhianati oleh suaminya, Romi. Tak lama usai bercerai dan menghadapi cibiran tetangga, ia mendapati mantan suaminya bertunangan dengan sang manajer. Di tengah keterpurukan, takdir mempertemukannya dengan Affandra, seorang idol populer yang sangat tampan. Pertemuan itu berujung pada hubungan satu malam yang tak terduga. Mampukah Jelita bertransformasi dan menemukan cinta sejati bersama sang bintang?
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari mulai malam. Hujan deras mengguyur kota. Kini, Jelita sudah berada di depan gedung apartemen milik mantan suaminya. Dia bahkan tidak memedulikan rambut dan bajunya yang sedikit basah. Dia benar-benar tidak habis pikir Romi seenaknya memberikan sertifikat rumahnya pada pihak bank sebagai jaminan, sedangkan pria itu masih hidup nyaman di apartemen yang terlihat cukup mewah.

Saat sudah berada di depan pintu, Jelita langsung memencet bel apartemen itu. Tak lama kemudian, pintunya pun terbuka. Menampilkan sosok pria yang dulunya pernah mengisi hatinya. Namun, ia segera menyadarkan dirinya kalau pria itu bukan siapa-siapanya lagi.

“Oh, kamu? Ada perlu apa kamu ke sini? Apa jangan-jangan kamu merindukanku?” ujar Romi dengan senyum mengejek.

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pria itu. Wajah Jelita terlihat nyalang, matanya memerah. “Apa yang kamu lakukan padaku?!” teriak Jelita.

“Beraninya kamu menamparku!” Romi yang takut terdengar oleh penghuni apartemen lain, dia langsung menyeret Jelita untuk masuk ke dalam apartemennya. Jelita berusaha melepaskan genggaman tangan Romi dengan penuh kekuatan

“Lepaskan!” hardik Jelita meronta.

“Oke. Tolong jangan membuat kegaduhan di sini. Bicarakan baik-baik. Ada apa sebenarnya kamu datang ke sini?” tanya Romi menatap mantan istrinya yang mulai menetaskan air mata.

“Rumahku mau disita sama pihak bank, karena hutang-hutangmu!” jawab Jelita penuh penekanan sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.

Namun bukannya panik, Romi malah terlihat santai dan masih bisa tersenyum. Pria itu kemudian mendekat dan mengusap pelan wajah jelek mantan istrinya. “Ya sudah. Biarkan rumah itu disita. Kamu bisa tinggal di tempat lain.”

Jelita kembali menampar keras wajah pria itu.

“Rumah itu satu-satunya peninggalan kedua orang tuaku. Bisa-bisanya kamu mau menyerahkan rumah itu pada pihak bank? Di mana akal sehatmu Romii?!” teriak Jelita histeris.

Romi menampar Jelita, hingga membuat tubuh wanita itu tersungkur di lantai. “Beraninya kamu menamparku!” hardik Romi. “Biarkan rumah itu disita. Lagian rumah itu sudah kuno.”

Jelita semakin menangis. Ia begitu menyesal sudah pernah mencintai pria itu. Ia berusaha bangkit. Bukan saat yang tepat baginya untuk lemah di hadapan mantan suaminya itu. Ia tidak akan membiarkan jika pria itu terus merendahkannya. Lalu, ia menatap wajah Romi dengan berani. “Kamu memang pria bajingan. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Aku pasti bisa membawa kembali sertifikat rumahku. Ingat itu!”

Jelita langsung pergi meninggalkan apartemen. Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh pria itu. Dia berjanji pada dirinya, dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di apartemen ini lagi dan mengemis pada pria itu. Baginya pria yang berani bermain dengan ikatan pernikahan, di kemudian hari pasti akan terulang lagi. Apa pun alasannya, dia tidak akan pernah percaya.

Jelita berusaha menguatkan diri untuk berjalan menyusuri jalanan malam yang mulai sepi dengan langkah gontai. Ia memang sengaja tidak membawa mobilnya. Ia tidak mau mobilnya lecet, karena sudah ia pasang di iklan untuk dijual. Namun, tiba-tiba ia melihat sebuah bar. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memasuki bar itu dengan mantap.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Affandra hanya diam, menatap gelas yang berisi wine. Memori tentang kecelakaan lima tahun lalu yang menimpa dirinya dan kakak wanitanya, kembali terputar di otaknya. Air mata membasahi pipi. Sampai saat ini, kenangan buruk itu terus menghantuinya. Kenangan di mana ia melihat jelas dengan matanya sendiri saat kakaknya menjatuhkan diri dari rooftop gedung rumah rumah sakit.

Kini pandangan Affandra mulai kabur. Namun, ia masih dapat tertawa karena rasa sakit di kepalanya mulai hilang. “Kenapa hidupku selalu diatur? Padahal aku sudah menjadi pria sukses. Kakak, maafkan aku ....” Ia mulai meracau tidak jelas dengan air mata yang terus menetes. Untung saja ia masih mengenakan topi dan berada di ruang VIP, sehingga tidak ada yang menyadari keberadaannya di sana.

Mata Jelita menatap ke sana-kemari. Suasana di dalam bar itu cukup ramai. Suasana hatinya sangat buruk kali ini dan dia ingin melepaskan semua penatnya. Ia tidak tahu lagi tempat mana yang harus ia datangi. Ia frustrasi dan seperti menyalahkan kehidupan yang sangat tidak adil kepadanya. Ia terus berjalan memasuki bar lebih dalam lagi. Namun tanpa sengaja, ia menyenggol seorang pria bertubuh kekar yang sedang asyik bermesraan dengan seorang wanita.

“Ahh, maaf. Aku nggak sengaja,” ujar Jelita meminta maaf dengan posisi kedua telapak tangan saling bertemu.

Pria bertubuh kekar itu langsung berdiri. “Yaahh. Kurang ajar kamu!” hardiknya menatap tajam ke arah Jelita. Ia sangat marah ketika kesenangannya diganggu oleh wanita jelek yang ada di depannya itu. Ia pun berjalan mendekat ingin memberi pelajaran. Teman-teman satu gengnya juga ikut mendekat.

Jelita merasa takut ketika ditatap oleh pria di hadapannya itu. Dia tidak siap jika tubuhnya akan dicabik-cabik oleh tubuh berotot dan mengerikan yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. “Ohh, polisi!” ujarnya dengan mata terbelalak. Saat pria itu menoleh ke belakang, Jelita mengambil kesempatan untuk kabur.

Jelita terus lari melewati kerumunan orang-orang yang sedang asyik berjoget. “Ahh, sial! Kenapa mereka terus mengejarku?” ujarnya frustrasi dengan napas yang terengah-engah. Ia pun dengan langkah cepat membuka pintu ruangan VIP yang kebetulan tidak terkunci, lalu langsung menutup dan menguncinya. “Akhirnya, aku bisa lolos dari para pria menyeramkan itu.” Ia bersandar di dinding sambil mengatur napasnya yang tidak beraturan itu.

“Siapa kamu?” tanya Affandra sambil tangannya menunjuk ke arah Jelita.

Jelita yang baru sadar kalau di dalam ruangan itu ada orang, langsung terkejut. Ia pun hanya menelan ludahnya. Sepertinya dia salah memilih tempat persembunyian. Affandra berejalan mendekat ke arah Jelita dengan langkah gontai sambil menajamkan penglihatannya yang mulai kabur.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Jelita saat pria yang tidak ia kenal itu, berada di depannya yang sedang membelai wajahnya.

“Kenapa wajahmu jelek sekali?” ujar Affandra dengan mata yang menyipit.

‘Plak’ Tamparan keras melayang di pipi Affandra, hingga membuat tubuh pria itu tersungkur di lantai dan tidak sadar.

“Astaga! Apa aku menamparnya terlalu keras?” Jelita membekap mulutnya, takut jika pria itu mati karena tamparannya. Ia langsung jongkok dan memastikan lagi. “Hei, bangun. Apa kamu mati? Ya ampun, kenapa hidupku gini banget, sih? Gimana ini? Aku mohon. Kamu jangan mati dong. Jangan menyusahkan hidupku yang sudah berantakan ini.” Ia terus menepuk pipi pria itu pelan.

“Dasar wanita jelek ...,” racau Affandra dengan senyuman simpul yang terukir di wajahnya.

“Hei. Beraninya kamu?!” Tangan Jelita kembali melayang hendak menampar pria yang tergeletak di lantai itu. Namun, ia urungkan.

Mata Jelita terus menelisik ke wajah tampan pria yang tidak ia kenal itu. Hidung mancung, alis tebal, rambut hitam, kulit putih, dan bibir yang sangat memesona. Bahkan dirinya tidak mengetahui siapa pria itu, karena memang dirinya bukan tipe orang yang selalu update tentang dunia artis.

Tiba-tiba Jelita langsung tersadar dari rasa kagum pada pria itu. “Kamu nggak boleh terpesona dengan wajahnya. Dia sudah berani mengejekmu jelek tadi. Semua pria sama saja. Kamu nggak boleh dibodohi lagi dengan fisik mereka, Jelita.” Cukup satu pria saja yang menyakiti hatinya. Ia tidak ingin terluka lagi. Air matanya kembali jatuh saat mengingat rumah tangganya yang hancur.

Jelita menyeret tubuh pria itu ke sofa. Ia kemudian beranjak menuju pintu. Kepalanya nongol sedikit untuk melihat keadaan di luar. Ia langsung menutup pintunya kembali saat melihat para pria menyeramkan itu masih berkeliaran di luar sana. “Ahh, terpaksa aku harus ada di sini dulu.”

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Meninggalkan Tunanganku di Pesta Pernikahan
9.0
Jake berpaling pada Elsie, gadis yang ia sponsori, hingga merusak hubungan kami. Meski Jake sempat memilihku dan mengusir Elsie, insiden tenggelamnya gadis itu di hari pertunangan kami mengubah segalanya. Jake panik dan menyalahkanku, bahkan menyebut Elsie sebagai masa depannya. Saat dia melepaskan tanganku demi mengejar wanita itu, aku menyadari cinta ini telah usai. Tak ada alasan bagiku untuk tetap bertahan di pesta pernikahan yang hampa ini.
Sampul Novel Arrogant Husband
8.4
Demi menyelamatkan aset berharga peninggalan sang ibu dari kebangkrutan total akibat utang miliaran, Alexa terpaksa menghadapi tawaran gila Damian. Pria arogan yang membenci wanita itu menuntut seorang anak sebagai syarat bantuan finansialnya. Meskipun saling membenci, Damian tidak bisa menepis obsesi gelapnya pada Alexa. Kini, Alexa yang keras kepala harus terjebak dalam dinamika panas bersama pria temperamental tersebut. Akankah hubungan penuh paksaan ini berakhir sesuai rencana?
Sampul Novel Balada Sang Pemuas
9.3
Dibalik kepatuhan pada norma dan tata susila, Andre dan Nadia menyimpan rahasia tentang fantasi seksual yang liar. Kehidupan pernikahan mereka menjadi panggung eksplorasi imajinasi yang selama ini terbelenggu oleh aturan sosial. Kisah ini mengungkap sisi terdalam manusia saat mencoba membebaskan hasrat terpendam tanpa melanggar batasan moral. Sebuah perjalanan intim tentang bagaimana seseorang mengejar kepuasan sejati dan mewujudkan dambaannya yang paling personal.
Sampul Novel Dendam Cinta dan wanita
8.3
Zheyya hanyalah gadis sederhana, sementara Kanha dikenal sebagai pemuda playboy. Meski berasal dari latar belakang kontras, kebencian di antara mereka perlahan berubah menjadi benih cinta. Di tengah dinamika obsesi dan keikhlasan, mereka belajar tentang arti mempertahankan serta melepaskan perasaan. Kisah ini mengeksplorasi emosi mendalam layaknya hujan di gurun pasir yang gersang. Akankah cinta mereka berhasil berlabuh di muara yang sama pada akhirnya?
Sampul Novel Dibiarkan Mati: Dosa Gembong Mafia
8.6
Suamiku, pemimpin mafia Jakarta, menolak memiliki anak sebelum aku mengungkap rahasia gelapnya: seorang putra dari wanita musuh bebuyutan kami. Kekejamannya memuncak saat dia mencelakaiku hingga keguguran, sementara selingkuhannya membuangku ke jurang. Namun, aku bertahan hidup. Saat aku muncul di TV sebagai arsitek kelas dunia, sang bos mafia kini bersujud di kakiku, memohon pengampunan dari sosok yang dulu ia hancurkan dan biarkan mati begitu saja.
Sampul Novel Dikejar Mantan Suami Arogan
9.1
Fay memohon dengan pilu agar Janus tidak menceraikannya, merasa cukup dengan hubungan yang ada tanpa menuntut lebih. Namun, permintaan itu justru membuat tatapan Janus mendingin. Dengan suara serak namun tegas, ia mengingatkan Fay akan kesepakatan awal mereka. Komitmen mereka harus berakhir saat Uke kembali. Meski suaranya sedikit bergetar, Janus menekankan bahwa janji lama itu adalah batas akhir bagi pernikahan mereka yang kini berada di ambang perpisahan.