APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel JANDA, MARRY ME!

JANDA, MARRY ME!

Menjadi janda bukanlah sebuah pilihan atau kesalahan yang patut dihakimi. Namun, jika status tersebut dianggap sebagai noda, siapakah yang layak disalahkan? Apakah takdir Tuhan yang harus digugat, ataukah sosok pria yang tega pergi meninggalkan wanita itu sendirian? Inilah kisah emosional mengenai perjuangan seorang janda dalam menghadapi stigma sosial dan luka hati yang mendalam, saat dirinya terus berupaya mencari kebahagiaan yang seolah mustahil untuk ia temukan kembali.
Bab
Bagikan

Bab 3

Melda mengguyur tubuhnya di bawah air shower. Tak peduli dengan baju yang basah kuyup. Tangisan yang dari tadi ia pendam terus menerus ia keluarkan. Beruntung tersamarkan dengan bunyi air yang jatuh sehingga sekeras apapun ia menangis dan berteriak takkan terdengar dari luar. Logikanya berpikir seperti itu.

Melda menangis bukan hanya karena ucapan sang calon suami yang kini berubah menjadi mantan calon suami. Namun, karena tidak sekali dua kali ia mendengarkan kata-kata buruk tentang dirinya. Ia lelah.

Bukan maunya. Sumpah demi apapun bukan mau Melda hidup dengan status yang kini ia sandang. Ia manusia biasa yang ingin bahagia, tertawa lepas dan berjalan mendongak meski status itu miliknya.

Namun, bisakah mereka menatap Melda seperti itu? Sebagai seorang wanita biasa? Sebagai seorang wanita pada umumnya? Sebagai masyarakat yang juga butuh teman dan sosialisasi?  Bukan Melda orang sang janda, tapi perkataan orang-orang yang terus mencibir membabat habis rasa percaya dirinya hingga tak bersisa. Membatasi ruang gerak serta lingkup sosialisasinya.

Belum lagi tentang dirinya yang dianggap sebagai benalu di keluarga mertuanya. Iya, Melda memang hidup di rumah mertuanya. Sudah berkali-kali ia mencoba pergi diam-diam, tapi mertuanya selalu menahannya. Menyuruhnya untuk menetap dan menjadi anak angkat mereka. Bahkan mereka sampai bersujud memohon pada Melda untuk tetap tinggal. Lantas, apa ia tega? Tidak.

Melda paham kalau Aldo Bramantyo adalah anak tunggal, sehingga kini ia diangkat sebagai anak untuk menahan dirinya, tapi apa mertuanya tidak tahu diluar sana banyak orang yang membicarakannya? Menggunjingnya? Membuat cerita fiksi tentangnya?

Ia difitnah telah membunuh suaminya sendiri. Tidak sampai disitu, ia juga di tuduh sengaja membiarkan mertuanya hidup karena ia membutuhkan tanda tangannya untuk mendapatkan harta warisan. Tuduhan kejam tanpa bukti.

Dan sampai saat ini mereka terus berpandangan negatif pada Melda. Pada statusnya juga pada sikapnya. Meskipun jutaan kali Melda menampik. Benar apa  kata pepatah 'Akan sia-sia menjelaskan tentang diri kita pada seseorang yang membenci kita.'

Melda mematikan shower, melepas bajunya dan berganti dengan handuk baju yang tersedia. Sudah cukup tangisannya hari ini. Ia tak mau membebani mertuanya yang sudah ia anggap seperti orang tua kandung. Pasti nanti akan ada pertanyaan kenapa kantung matanya menghitam.

"Mama!!" Melda begitu kaget saat melihat mertuanya sudah ada di ranjangnya. Menelan ludah susah payah.

"Kamu kenapa mandi?" tanya Rima. Melipat kening melihat menantu yang sudah ia anggap anak sendiri itu mandi. Wajahnya terlihat ramah dengan senyum tipis.

"Oh itu ... Ah iya, Melda gerah, Ma. Iya gerah." Melda menganggukkan kepalanya meyakinkan jawabannya sendiri. Karena jawaban itu keluar secara spontan. Ia belum menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang pasti keluar saat melihat dirinya.

"Sini." Rima menepuk ruang di sebelah kanannya.

Menurut, Melda bergerak ke tempat yang diarahkan. Begitu terkejut ketika mertuanya tiba-tiba memeluknya. Bahkan tak lama setelah itu terdengar isakan. Air yang keluar merembet membasahi handuknya. Melda masih diam tak bergerak. Tak tahu harus apa. Jantungnya bertalu ingin ikut menangis.

"Maaf." Setelah beberapa menit kata itu terucap dari bibir mertuanya. "Maafkan Mama. Mama janji itu tadi yang pertama dan terakhir."

Tangisan itu semakin kencang. Melda hanya menatap kosong ruangan di depannya. Ia pikir hanya dirinya yang terluka akan ucapan Rendra. Ia pikir, mertuanya bersifat egois. Ia pikir mertuanya sudah lelah menampungnya. Ternyata ia salah. Mertuanya bisa merasakan kesakitan, kesedihan, kemarahan dan kekecewaannya.

"Maafkan Mama. Andai Mama tahu kalau dia sejahat itu, Mama tak akan menyetujui usul ini." Melda mengangkat tangannya mengelus punggung yang bergetar itu. Ternyata ini usul sahabat mertuanya.

"Mama mohon jangan pergi. Hanya kamu yang kami miliki setelah kepergian Aldo."

Mata Melda mengembun. Ia juga tak punya siapapun semenjak kepergian Aldo. Ia yang sebatang kara bertemu dengan Aldo yang sempurna. Lalu, Aldo pergi menghadap sang pencipta dan ia tak punya siapapun lagi di dunia ini. Namun, ia salah, ia masih punya mertua yang menganggapnya seperti anak kandung.

"Melda nggak akan ninggalin Mama apapun yang terjadi. Melda janji."

"Terima kasih, Sayang."

Ia juga butuh sandaran dan kasih sayang, di sini ia mendapatkan semuanya.

"Sekalipun ia bersujud padamu, Mama tidak akan merestui. Dia bukan pria baik dan Mama tidak ingin kamu hidup bersamanya."

"Iya, Ma. Sekarang Mama tidur, ya. Ini sudah larut," ucap Melda. Bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Ingat kata dokter, Mama tidak boleh terlalu capek dan tidur terlalu malam. Mama harus istirahat yang banyak."

"Mama takut ...."

"Melda janji, besok pas Mama bangun, Melda tetap di rumah ini."

Mertuanya butuh seseorang untuk menjaga dan merawat mereka. Menyayangi sepenuh hati dan selalu menghormatinya. Melda butuh orang tua untuk berbagi keluh kesah dan seseorang yang menguatkan hatinya. Mereka saling membutuhkan dan mereka memilih bertahan setelah kehilangan.

Mertuanya menurut dan pergi tidur. Melda menyeka air matanya. Bergerak ke lemari hendak mengambil piyama. Namun urung saat tangannya malah bergerak mengambil kemeja milik suaminya yang masih tertata rapi di lemari. Menarik baju itu dan mencium aroma suaminya lalu memakai kemeja itu hingga tertidur dengan lelap. Ia yakin akan bermimpi indah.

Ia kembali menangis. Andai bukan wasiat, ia akan memilih pergi jauh dan memulai hidup baru. Meski status janda tetap ia sandang, setidaknya ia akan nyaman dengan lingkungan baru. Bukan di lingkungan lama yang penuh dengan manusia bertopeng.

❄❄❄

"Pagi, Pa, Ma."

"Pagi, Sayang."

"Pagi juga, Mel." Rudi meminum kopinya. Memerhatikan menantunya yang tengah mengolesi roti dengan selai. "Gimana pabrik, Mel?"

Meletakkan pisau yang di gunakan untuk mengolesi, Melda mengesah pelan. "Kayaknya Melda mau pakai tepung lain deh, Pa. Tepung yang biasanya kita pakai itu semakin lama semakin naik harganya. Belum lagi kualitas juga menurun. Efeknya ke kita besar, Pa."

"Tapi Mel, kalau kamu mau pakai tepung lain, kamu harus melakukan test pada semua jenis roti, cocok tidak?"

Rima tersenyum hangat. Melihat keakraban antara suami dan menantunya membuat hatinya menghangat. Mungkin dia memang kehilangan Aldo anak kandungnya, tapi Melda sang menantu bisa bersikap baik pada dirinya. Mencintai dirinya seperti ibu kandung.

Ia memang sengaja menahan Melda supaya tidak pergi. Selain ia menyayangi wanita itu, ia sangat percaya padanya. Bahkan setelah dua tahun memegang pabrik, keuangan selalu bergerak naik dan tak pernah ada kesalahan. Bagi Rima menantunya itu wanita spesial yang dikirimkan tuhan untuknya. Menggantikan peran Aldo dengan sangat baik. Rima berjanji akan melakukan apapun untuk kebahagiaan sang menantu, untuk menahannya untuk tetap di sisinya.

"Sarapan, Sayang. Bukan bicara pekerjaan," sela Rima kala melihat roti di hadapan mereka masih utuh. "Pa, anakmu itu harus sarapan. Jangan ajak bicara terus."

"Maaf," lirih Rudi. "Makan dulu, Mel."

"Masih nunggu nasi goreng dari Mbok Nunik Pa, Ma."

"Lha, kenapa nggak bilang Mama, Mel? Tahu gitu Mama yang buatin," ucap Rima beranjak ke dapur berniat mengambilkan nasi goreng menantunya.

"Nggak usah ke dapur, Ma. Di tungguin aja. Melda juga nggak keburu, kok." Melda tersenyum hangat.

"Mel, apapun yang mengganggu hatimu katakan pada kita. Kita akan selalu mendengarkan dengan baik. Jangan simpan sendiri."

"Iya, Pa."

"Papa janji kejadian tadi malam tak akan terulang lagi."

"Terima kasih."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cinta Dan Obsesi
7.8
Melanjutkan kisah Ikhlasku dengan takdirku, Laras harus menjalani hidup sebagai anak angkat di keluarga kaya setelah kehilangan orang tuanya. Sosok yang merawatnya sebenarnya adalah penyebab kematian sang ibu yang ingin bertanggung jawab. Namun, kemewahan itu tidak membawa kebahagiaan. Laras justru terjebak dalam obsesi gelap kakak angkatnya sendiri. Di tengah berbagai rintangan pelik, mampukah obsesi tersebut berubah menjadi cinta yang tulus?
Sampul Novel Balas Dendam Manis Sang Ratu Miliarder
9.0
Pasca diusir, Helen menyadari bahwa ia bukan putri kandung di keluarganya. Meski dirumorkan kembali ke keluarga miskin yang eksploitatif, kenyataan justru berkata lain. Ayah kandungnya adalah miliarder yang sangat memanjakannya. Di balik itu, Helen memegang paten desain bernilai fantastis dan menjadi mentor astronomi nasional. Saat orang lain menanti kegagalannya, ia justru meraih status legendaris dan menarik perhatian pria misterius yang berkuasa.
Sampul Novel Gadis Pemuas Tuan Grey
8.9
Demi membiayai pengobatan sang ayah yang sakit keras, Laura berusaha mencari pekerjaan tambahan sebagai pengasuh. Namun, niat tulus itu justru berujung petaka saat ia bertemu Greyson. Pria itu merampas kesuciannya dan memaksanya masuk ke dalam ikatan gelap sebagai pemuas hasrat. Kini, Laura terjebak dalam dilema moral yang menyiksa: apakah ia sanggup bertahan menjadi budak nafsu Grey demi mendapatkan uang yang sangat ia butuhkan untuk ayahnya?
Sampul Novel Masa Puber Naldo
9.4
Naldo, putra konglomerat yang kesepian, tumbuh dewasa tanpa kasih sayang ibu. Meski ayahnya, Tuan Anggoro, sangat baik, kesibukan bisnis membuatnya jarang di rumah. Naldo hanya memiliki asisten rumah tangga yang merawatnya sejak bayi. Saat diminta memilih ibu baru, Naldo teringat sosok wanita misterius yang terus muncul dalam mimpinya. Ketika akhirnya bertemu wanita itu di dunia nyata, Naldo bertekad mengejar cintanya meski perbedaan usia menghalangi mereka.
Sampul Novel MEMBAKAR GAIRAH
9.4
Sepuluh tahun berlalu sejak tragedi hotel menghancurkan cinta Joshua dan Reinata. Takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi pelik saat Joshua muncul sebagai kekasih Kayla, putri tiri Reinata. Terbakar api cemburu dan perasaan yang belum padam, Reinata bertekad menggoda Joshua demi merebutnya kembali. Akankah Joshua terjebak dalam gairah terlarang bersama calon ibu mertuanya? Bagaimana hancurnya hati Kayla jika rahasia kelam masa lalu sang suami terungkap?
Sampul Novel Not a Stuntman!
8.1
Alin Arshavina terpaksa menggantikan kakak tirinya, Friska, untuk menikahi Evano Xander yang dikenal kasar. Pernikahan mendadak ini terjadi karena Friska kecelakaan tepat di hari sakral tersebut. Evano, asisten pribadi CEO yang sinis, menganggap semua wanita hanya mengejar harta. Saat Friska pulih dan menuntut posisinya kembali, Alin terjebak dilema. Meski ingin setia pada komitmen sekali seumur hidup, sikap buruk Evano dan gangguan Friska terus menguji keteguhan hatinya.