APKDock Logo
Sampul Novel Janjinya, Kehancurannya

Janjinya, Kehancurannya

8.6 / 10.0
Malam puncak karier arsitekturku berubah menjadi kehancuran saat tunanganku, Baskara, memberikan hasil karyaku kepada cinta pertamanya. Aku dipaksa menjadi mentor wanita itu hingga mengalami kekerasan fisik yang berujung pada pemecatanku. Bahkan saat aku hamil anaknya, Baskara tega mencelakaiku di rumah sakit dan meninggalkanku berdarah. Muak dengan pengkhianatannya, aku memilih pergi jauh, mengganti identitas, dan menghilang bersama bayiku selama lima tahun.

Janjinya, Kehancurannya Bab 1

Malam ini seharusnya menjadi malam terhebat dalam karierku. Aku adalah kandidat terdepan untuk Anugerah Puncak Arsari, penghargaan tertinggi di dunia arsitektur.

Tapi penghargaan itu jatuh ke tangan orang yang sama sekali tidak dikenal—cinta pertama tunanganku, janda dari kakak laki-lakinya. Tunanganku, Baskara, pria yang seharusnya membangun desain kemenanganku, telah memberikan hasil kerja kerasku seumur hidup kepadanya.

Dia bilang wanita itu lebih membutuhkannya. Lalu dia memaksaku untuk menjadi mentornya, membiarkannya mengambil kredit atas proyek-proyekku. Selama syuting promosi, dia hanya berdiri dan menonton saat wanita itu menamparku berkali-kali dengan dalih "agar aktingnya terlihat natural."

Ketika aku akhirnya membalas tamparannya, dia membuatku dipecat dan masuk daftar hitam di seluruh industri. Dia tidak berhenti di situ. Dia mendorongku hingga jatuh di lorong rumah sakit, membuatku berdarah, lalu meninggalkanku.

Dia melakukan semua ini saat aku sedang mengandung anaknya.

Terbaring di lantai rumah sakit yang dingin itu, aku membuat keputusan. Aku membawa bayi yang belum lahir ini dan menghilang. Aku terbang ke negara baru, mengganti namaku, dan memutuskan semua hubungan.

Selama lima tahun, kami seperti hantu.

Bab 1

Udara di aula megah itu terasa sesak oleh penantian. Aku merapikan bagian depan gaun sutraku, jantungku berdebar kencang di dalam dada. Malam ini adalah malam yang telah ku perjuangkan sepanjang karierku. Anugerah Puncak Arsari. Kehormatan tertinggi dalam arsitektur.

Desainku, "Permata Surya," adalah yang terdepan. Itu lebih dari sekadar bangunan; itu adalah jiwaku yang terwujud dalam kaca dan baja.

Seorang kolega yang disegani, Pak Arthur Wijoyo, menepuk bahuku.

"Selamat sebelumnya, Clara. Kemenangan yang pantas. Permata Surya adalah sebuah mahakarya."

Aku memberinya senyum terima kasih, meskipun gugup. "Terima kasih, Pak Arthur. Jangan sampai membawa sial."

Dia terkekeh. "Tidak ada yang bisa membawa sial bagi seorang jenius."

Tunanganku, Baskara Aditama, seharusnya berada di sisiku. Dia adalah raja properti paling berkuasa di kota ini, pria yang akan membangun Permata Surya. Tapi dia menelepon satu jam yang lalu, mengatakan dia terjebak dalam rapat mendadak. Dia berjanji akan menebusnya.

Pembawa acara melangkah ke podium. "Dan sekarang, saat yang kita semua tunggu-tunggu. Anugerah Puncak Arsari untuk Keunggulan Arsitektur jatuh kepada..."

Aku menahan napas, senyum sudah mulai terbentuk di bibirku.

"...Hazel Larasati untuk 'Lambaian Dedalu'."

Nama itu menghantamku seperti pukulan fisik. Tidak masuk akal. Lambaian Dedalu adalah desain turunan yang tidak inspiratif. Hazel Larasati bukan siapa-siapa.

Gelombang dingin menyelimutiku. Tanganku mati rasa. Aku bisa merasakan mata seluruh isi aula tertuju padaku, kandidat favorit yang baru saja dipermalukan di depan umum.

Aku berhasil bertepuk tangan, gerakanku kaku seperti robot. Aku merosot kembali ke kursiku, beludru empuk itu terasa seperti batu. Senyum paksa di wajahku terasa seperti akan retak.

Pandanganku menyapu kerumunan, mencari sesuatu, apa pun untuk memahami ini. Dan kemudian aku melihatnya.

Baskara.

Dia tidak sedang rapat. Dia duduk di baris ketiga, postur tubuhnya yang gagah terbalut setelan gelap yang sempurna.

Dia tidak menatapku. Matanya terpaku pada panggung, pada wanita yang berjalan menuju podium.

Hazel Larasati. Cinta pertama tunanganku. Janda dari kakak laki-lakinya.

Kehadirannya di sini bukan untukku. Tapi untuk wanita itu.

Bisikan-bisikan mulai terdengar di sekitarku, dengungan rendah kebingungan dan kecurigaan.

"Hazel Larasati? Siapa dia?"

"Aku dengar dia punya hubungan dengan Aditama Group. Sponsor utama acara ini."

"Ini terasa... aneh. Permata Surya jelas pemenangnya."

Pikiranku menyatukan semuanya dengan kejelasan yang brutal. Baskara telah melakukan ini. Dia telah memberikan penghargaanku.

Aku teringat percakapan beberapa minggu yang lalu, Hazel menangis di ruang tamu kami tentang kariernya yang mandek dan bagaimana dia tidak akan pernah mencapai mimpinya. Aku ingat Baskara memeluknya, membisikkan sebuah janji.

"Aku akan mewujudkannya untukmu, Hazel. Aku bersumpah. Aku berutang budi padamu."

Dia berutang budi padanya. Untuk sebuah peristiwa masa lalu yang diselimuti rasa bersalah, sebuah cerita yang tidak pernah dia ceritakan sepenuhnya padaku. Sebuah cerita di mana dia percaya Hazel telah menyelamatkan hidupnya.

Sepuluh tahun hidupku. Malam-malam tanpa akhir, pengorbanan, fokus tunggal pada keahlianku—semuanya memuncak pada saat ini. Momen yang telah dia serahkan padanya di atas piring perak karena wanita itu rapuh dan dia merasa bersalah.

Upacara berakhir dalam sekejap mata. Aku duduk membeku sampai aula mulai kosong.

Baskara akhirnya menemukanku, ekspresinya tidak terbaca.

"Clara."

Aku berdiri, suaraku sangat tenang. "Kenapa, Baskara?"

Dia berani-beraninya terlihat bingung. "Ini hanya sebuah penghargaan. Itu tidak mengurangi bakatmu."

"Itu penghargaanku," kataku, suaraku kini bergetar. "Itu Anugerah Puncak Arsari. Kau tidak bisa begitu saja memberikannya kepada seseorang."

"Hazel lebih membutuhkannya. Ini adalah batu loncatan untuknya."

Sikapnya yang meremehkan hasil kerja kerasku membuat sesuatu di dalam diriku patah.

"Dia membutuhkannya? Bagaimana dengan apa yang aku butuhkan? Bagaimana dengan apa yang aku dapatkan dengan susah payah? Aku mengorbankan satu dekade hidupku dalam pekerjaanku untuk sampai di sini! Integritasku, namaku, masa depanku—itulah yang diwakili oleh penghargaan itu!"

Aku gemetar begitu hebat hingga nyaris tidak bisa berdiri. Kata-kata itu mengalir deras, bendungan rasa sakit dan pengkhianatan pecah.

"Ini bukan hanya sebuah penghargaan! Ini adalah segalanya!"

Aku begitu tercekik oleh emosi hingga tidak bisa bicara lagi.

Untuk sesaat, aku melihat kilatan sesuatu di matanya. Penyesalan, mungkin. Tapi itu lenyap secepat kemunculannya.

"Aku akan memberimu penghargaan lain, Clara. Proyek yang lebih besar. Lupakan saja ini."

Sebuah janji kosong. Merendahkan. Dia tidak mengerti. Dia tidak peduli.

"Aku tidak butuh kau memberiku apa pun," kataku, suaraku turun menjadi bisikan. "Aku mendapatkan ini dengan usahaku sendiri."

Saat itu, sebuah suara terengah-engah memanggil.

"Baskara!"

Hazel Larasati, memegang trofi emas yang berat, berlari ke arah kami. Dia melingkarkan lengannya di leher Baskara, mengabaikanku sepenuhnya.

Dia menarik diri, matanya berbinar. "Aku tidak percaya ini. Terima kasih, terima kasih, terima kasih!"

Wajah Baskara melembut saat menatapnya. Dia merapikan rambut wanita itu.

"Kamu pantas mendapatkannya, Hazel. Bakatmu pantas untuk dilihat."

Pantas mendapatkannya. Kata itu bergema di aula yang kosong, tawa mengejek atas pengorbananku. Dia tidak menghabiskan satu malam pun tanpa tidur untuk menyempurnakan desainnya. Dia tidak berjuang untuk setiap garis, setiap sudut, setiap bagian dari jiwanya yang telah aku curahkan ke dalam karyaku.

Dia hanya menangis, dan Baskara mewujudkan mimpinya.

Aku tidak tahan menontonnya sedetik pun lagi. Aku berbalik dan pergi, suara obrolan bahagia mereka mengejarku ke dalam malam yang dingin.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Janjinya, Kehancurannya

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly adalah siswi berprestasi yang mengidap galaktorea, sebuah kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI meski belum pernah hamil. Suatu hari, rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan hingga ia terpaksa meminta bantuan gurunya di sekolah. Kejadian tak terduga di ruang guru tersebut lantas mengubah segalanya. Berawal dari rahasia medis yang memalukan, hubungan mereka berkembang menjadi jalinan asmara yang rumit dan penuh risiko.
Sampul Novel Desain Cinta Kedua
9.4
Tiga tahun Jessica mengabdi sebagai istri, namun pengorbanannya dibalas luka mendalam. Setelah resmi menceraikan Aaron, ia bangkit secara mandiri menjadi desainer ternama dan pengusaha sukses tanpa bantuan harta keluarga. Saat Jessica menikmati puncak karier dan kebebasannya, Aaron justru datang kembali dengan penyesalan besar. Sang mantan suami memohon kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya. Akankah Jessica luluh atau tetap teguh pada pilihannya?
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Dikhianati oleh tunangan dan saudara angkatnya setelah kembali dari desa, Sabrina membalas dendam dengan mendekati paman sang mantan, Charles. Meski awalnya Charles menolak ikatan emosional setelah malam penuh gairah, Sabrina justru memancing harga dirinya hingga mereka terikat selamanya. Kini sebagai bibi mantan kekasihnya, Sabrina yang dianggap remeh ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan bahwa dia bukan sekadar pemburu harta, melainkan pemilik takhta sesungguhnya.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan