APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jejak Cinta di Kota Hujan

Jejak Cinta di Kota Hujan

Naya, penulis yang sedang buntu ide, mencari inspirasi di kota kecil penuh hujan. Di sana, ia terpikat oleh Arga, barista misterius yang menyimpan rahasia besar. Saat benih cinta tumbuh, Naya menemukan fakta bahwa Arga adalah penulis ternama yang sengaja menghilang akibat skandal masa lalu. Kini Naya terjebak dalam dilema moral yang sulit. Haruskah ia mengungkap identitas Arga demi kebenaran, atau melindungi pria yang ia cintai demi menjaga rahasianya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pikiran Naya masih berputar ketika ia meninggalkan Café Aria. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap jejak yang ditinggalkannya di trotoar yang basah menjadi beban pikiran yang baru. Bagaimana mungkin barista di kafe itu tidak mengenali Arga? Apakah dia hanya bermain-main dengannya? Atau ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika?

Naya melangkah pulang dengan perasaan campur aduk. Kepalanya penuh dengan pertanyaan, namun tak satu pun dari pertanyaan itu memiliki jawaban yang memuaskan. Setibanya di apartemen, ia langsung menuju ke jendela, menatap hujan yang masih terus turun. Kota Windfall sepertinya tidak pernah lelah dengan hujannya. Tapi kali ini, hujan itu tidak menenangkan Naya. Justru sebaliknya, hujan itu memperburuk perasaannya yang sudah kacau.

Di dalam apartemennya yang sepi, Naya merasakan kesepian yang lebih dalam dari sebelumnya. Ia duduk di depan laptopnya, mencoba menulis, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Pikirannya terus-menerus kembali ke sosok Arga dan buku catatan hitamnya. Mengapa Arga tampak begitu akrab dengannya, namun di saat yang sama begitu jauh dan tidak bisa didekati? Dan yang paling mengganggu, mengapa tidak ada seorang pun yang mengenalnya?

Naya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan: mencari tahu lebih lanjut. Ia membuka mesin pencari di laptopnya dan mulai mengetik nama “Arga”. Namun, tidak ada hasil yang relevan. Nama Arga terlalu umum, dan meskipun ia mencoba menambahkan kata kunci seperti “barista” atau “Windfall”, hasilnya tetap nihil. Frustasi, Naya memutuskan untuk meninggalkan pencarian itu sejenak dan mencoba mencari jawaban dengan cara lain.

Keesokan harinya, Naya memutuskan untuk kembali ke kafe. Meskipun ada sedikit perasaan takut bahwa ia hanya akan menemukan kekecewaan lagi, ia merasa harus mencari tahu lebih lanjut. Saat ia tiba di Café Aria, perasaannya mulai campur aduk antara harapan dan keraguan. Pintu kafe itu masih sama, papan nama yang sama, tetapi suasana di dalamnya tampak sedikit berbeda. Barista yang kemarin menyapanya dengan kebingungan kini tersenyum ramah padanya.

“Selamat pagi, apa kabar?” sapanya dengan suara yang ramah.

Naya mencoba tersenyum meskipun pikirannya masih penuh dengan tanda tanya. “Pagi. Saya hanya ingin memesan kopi lagi.”

Barista itu mengangguk dan dengan cepat menyiapkan pesanannya. Naya menunggu dengan cemas, berharap Arga akan muncul dari belakang counter, tetapi tidak ada tanda-tanda dirinya. Setelah beberapa menit, barista itu menyerahkan cangkir kopi ke Naya, dan dengan sedikit ragu, Naya bertanya lagi.

“Maaf, tapi apakah mungkin Arga bekerja di shift lain?”

Barista itu kembali tampak bingung. “Saya sudah bilang kemarin, saya tidak tahu siapa yang Anda maksud dengan Arga. Kami hanya memiliki tiga barista di sini, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bernama Arga.”

Naya merasa seperti dinding realitasnya mulai runtuh. Apakah dia hanya membayangkan semuanya? Atau apakah ada yang lebih aneh lagi yang sedang terjadi? Dengan bingung, Naya mengambil kopinya dan kembali ke meja yang sama tempat ia duduk kemarin, mencoba mengingat setiap detail percakapannya dengan Arga.

Namun, saat ia meneguk kopinya, sebuah ingatan tiba-tiba muncul di benaknya. Buku catatan hitam. Mungkin itu adalah kunci dari misteri ini. Naya mencoba mengingat letak buku itu saat terakhir kali ia melihatnya. Ia tidak yakin apakah buku itu masih ada di kafe, tetapi ia merasa harus mencarinya.

Dengan hati-hati, Naya berdiri dan berjalan menuju counter. Ia mencoba tidak menarik perhatian barista saat matanya mencari-cari buku catatan itu. Namun, tidak ada tanda-tanda buku tersebut. Semuanya tampak normal, bahkan lebih biasa daripada sebelumnya. Seperti Arga dan buku catatannya tidak pernah ada.

Naya kembali duduk, merasa frustasi. Namun, rasa penasaran dalam dirinya terlalu kuat untuk diabaikan. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang harus ia ketahui, sesuatu yang berada di luar jangkauan pikirannya saat ini. Apakah mungkin Arga memiliki alasan untuk bersembunyi? Atau mungkin dia memiliki hubungan dengan tempat ini yang tidak diketahui oleh siapa pun?

Selama beberapa hari berikutnya, Naya terus datang ke kafe itu, berharap bisa bertemu Arga lagi. Namun, setiap kali ia datang, kekecewaan yang sama menyambutnya. Tidak ada Arga, tidak ada tanda-tanda bahwa dia pernah ada. Hanya barista yang sama, yang mulai curiga dengan kehadiran Naya yang berulang kali tanpa alasan jelas.

Frustrasi dan kelelahan mulai menggerogoti Naya. Hujan yang tak pernah berhenti di Windfall kini menjadi sesuatu yang menekan, bukannya menenangkan. Naya merasa seperti tenggelam dalam lautan kebingungan, di mana setiap tetes air hujan menambah beban pada pundaknya.

Namun, di tengah kebingungannya, sebuah ide baru muncul. Jika Arga adalah seseorang yang berusaha bersembunyi, mungkin dia tidak akan meninggalkan jejak yang mudah ditemukan. Mungkin dia telah menghapus jejaknya dengan sangat hati-hati. Naya tahu bahwa jika dia ingin menemukan jawaban, dia harus berpikir di luar kebiasaan. Ia harus keluar dari jalur biasa dan mencari petunjuk di tempat-tempat yang tidak biasa.

Suatu malam, ketika hujan turun lebih deras dari biasanya, Naya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kota. Dia tidak tahu persis apa yang ia cari, tetapi ia merasa dorongan kuat untuk terus berjalan, seolah-olah ada sesuatu yang memanggilnya. Kota Windfall yang sepi dan hampir kosong membuat langkahnya terdengar lebih keras dari biasanya. Setiap tetesan hujan yang jatuh dari payungnya terasa seperti dentingan jam yang terus berdetak, mengingatkannya bahwa waktu terus berjalan.

Tanpa sadar, Naya menemukan dirinya di depan sebuah toko buku tua yang tampak sudah lama tidak terurus. Jendela toko itu berdebu, dan cahaya redup yang berasal dari dalam membuat toko itu tampak suram. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian Naya—sebuah buku yang dipajang di etalase, dengan sampul hitam pekat dan desain yang sangat familiar. Itu adalah buku catatan hitam yang sama dengan yang dilihatnya di Café Aria.

Dengan hati yang berdebar, Naya membuka pintu toko yang berderit dan masuk. Aroma kayu tua dan kertas menyambutnya, memberikan nuansa nostalgia yang aneh. Di dalam toko, ada seorang pria tua yang duduk di belakang meja kasir, matanya tertutup, tampak sedang tidur.

Naya merasa sedikit canggung, tetapi rasa penasarannya terlalu kuat. Ia mendekati rak tempat buku catatan itu dipajang, dan dengan hati-hati mengamati sampulnya. Tidak ada tulisan atau petunjuk apa pun yang bisa memberitahu siapa pemilik buku itu. Namun, ketika Naya membalik-balik halaman pertama, ia menemukan sesuatu yang mengejutkan—sebuah tulisan tangan yang sangat familiar. Itu adalah tulisan tangan Arga.

Naya merasa jantungnya berdegup kencang. Bagaimana mungkin buku ini ada di sini? Dan mengapa tulisan tangan Arga ada di dalamnya? Apakah ini semacam pesan tersembunyi? Naya membuka lebih banyak halaman, berharap menemukan petunjuk, tetapi isinya tampak seperti catatan acak—potongan kalimat, ide cerita, dan sketsa yang tidak jelas. Namun, di salah satu halaman terakhir, ia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Di sudut halaman itu, ada sebuah gambar yang tergambar dengan sangat detail—sebuah pemandangan kota Windfall dari ketinggian, dengan beberapa bangunan ikonik yang bisa dikenali. Namun, yang paling menarik perhatian Naya adalah tanda panah kecil yang menunjuk ke arah sebuah bangunan tertentu, dengan tulisan kecil di sampingnya: “Temukan aku di sini.”

Naya merasakan adrenalin mulai mengalir di dalam tubuhnya. Dia tahu bahwa ini bukan kebetulan. Arga ingin dia menemukan sesuatu—mungkin bahkan dirinya. Dengan cepat, Naya menyimpan buku itu dan membayar kepada pria tua yang masih tertidur, sebelum segera keluar dari toko dan berlari menembus hujan.

Peta yang digambar Arga dalam buku itu menunjukkan sebuah tempat yang terletak di pinggiran kota Windfall, sebuah gedung tua yang tampak seperti tidak terpakai. Naya berjalan cepat ke arah yang ditunjukkan peta, tidak peduli dengan hujan yang semakin deras. Ia merasa seperti sedang berada dalam sebuah cerita misteri, di mana setiap langkahnya membawa dia lebih dekat ke kebenaran yang telah lama tersembunyi.

Setelah beberapa menit berjalan, Naya akhirnya tiba di tempat yang ditunjukkan peta. Gedung tua itu tampak suram dan kosong, dengan jendela-jendela yang pecah dan cat yang mulai mengelupas. Namun, ada sesuatu yang membuat Naya merasa bahwa ini adalah tempat yang tepat—sebuah perasaan yang

tidak bisa dijelaskan, seolah-olah gedung itu memanggilnya.

Dengan hati-hati, Naya membuka pintu gedung yang berderit dan masuk ke dalam. Di dalam, suasananya dingin dan lembab, dengan bau debu yang tajam. Ruangan itu kosong, kecuali beberapa perabotan tua yang tampak telah lama ditinggalkan. Namun, di tengah ruangan, ada sesuatu yang menarik perhatian Naya—sebuah pintu kecil di lantai, yang tampak seperti pintu menuju ruang bawah tanah.

Dengan tangan gemetar, Naya membuka pintu tersebut dan melihat sebuah tangga yang menuju ke bawah, ke dalam kegelapan. Ia merasa takut, tetapi rasa penasarannya lebih kuat. Dengan langkah hati-hati, Naya mulai menuruni tangga itu, sementara pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan. Apakah Arga ada di sini? Atau mungkin dia akan menemukan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih mengejutkan?

Ketika Naya akhirnya sampai di dasar tangga, ia menemukan dirinya berada di sebuah ruangan kecil yang hanya diterangi oleh cahaya redup dari lampu tua di sudut. Di tengah ruangan, ada meja kecil dengan beberapa kertas berserakan di atasnya. Naya mendekati meja itu dan melihat sebuah buku catatan lain yang terbuka, dengan tulisan tangan yang sama—tulisan tangan Arga.

Namun, sebelum Naya sempat membaca lebih jauh, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Dengan cepat, Naya berbalik, dan di sana, di tengah bayangan, berdiri seseorang yang sangat familiar—Arga.

Namun, ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Tatapan matanya yang tajam dan senyum kecil di wajahnya membuat Naya merasa bahwa dia telah jatuh ke dalam sebuah jebakan yang telah lama direncanakan.

Cliffhanger:

Arga melangkah lebih dekat, dan dengan suara lembut namun penuh misteri, ia berkata, “Kau akhirnya menemukan aku, Naya. Tapi apakah kau siap untuk mengetahui kebenarannya?”

Naya merasa seluruh tubuhnya membeku, sementara bayangan gelap di sekitar Arga tampak semakin menakutkan. Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan Arga? Dan apakah Naya benar-benar siap untuk menghadapinya?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan membawa Naya semakin dalam ke dalam pusaran misteri yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayo Nikah! Siapa Takut
8.3
Fiona terpaksa meneriakkan cinta di bandara demi menjatuhkan reputasi David, sang kapten pilot yang mengancam bisnis 'Ana's Wedding Dream'. Meski tampil anggun, Fiona menyimpan kemarahan besar di balik senyum manisnya. David yang semula dingin justru menanggapi aksi bar-bar tersebut dengan senyuman sinis. Fiona merasa terhina karena harus melakukan aksi memalukan ini, namun ia bertekad menjebak pria itu dalam drama romansa yang penuh dengan tipu daya.
Sampul Novel I am always waiting for you (I'm fine 2)
7.8
Aldy Fathee, CEO arogan dari Fathee Grup, menjadi makin kejam sejak ditinggal Ara Valeria. Ara pergi tanpa kabar demi mengobati HIV akibat trauma masa lalu. Takdir mempertemukan mereka kembali dalam proyek besar saat Aldy telah bertunangan dengan Melly. Meski Aldy ingin mendekat, Ara kini bersikap dingin dan tak tersentuh. Setelah sebuah kecelakaan menimpa Ara, Aldy bertekad mengungkap rahasia di balik sikapnya. Akankah cinta mereka bersatu atau Ara kembali menghilang?
Sampul Novel Janji yang Diingkari, Hati yang Sejati
8.7
Pasca penglihatannya pulih, Della terkejut mendapati Hurst Owen, adik kekasihnya, yang justru menjadi suaminya. Rahasia terbongkar saat ia mendengar Brady Owen lebih memilih Betty Kirk ketimbang dirinya yang buta demi dia. Meski Brady berjanji kembali dalam sebulan dan menganggap pernikahan adiknya palsu, Hurst mulai menyimpan rasa. Tanpa mengungkap kesembuhannya, Della justru membawa Hurst meresmikan ikatan mereka demi menjadi istri sejatinya.
Sampul Novel Karena Anak Hatiku Melunak
9.4
Tanti dijual keluarga tirinya kepada Darian demi melunasi utang, hingga berujung pada kehamilan. Enam tahun berselang, mereka bertemu kembali saat putra Tanti, Ade, berjuang melawan penyakit sumsum tulang belakang. Darian terkejut saat tes DNA membuktikan Ade adalah anaknya. Ia pun berusaha menebus kesalahan masa lalu dengan menjadi donor bagi sang putra. Kini Tanti terjebak dilema antara benci pada Darian atau menerima bantuannya demi nyawa buah hatinya.
Sampul Novel Kekasih Bayaran
8.1
Demi melunasi utang ibunya, Tiara bersedia menjadi kekasih Adrian Wiratama. Namun, ia justru dicampakkan saat Adrian memilih menikahi tunangannya. Hancur karena hanya dianggap wanita simpanan, Tiara pergi dalam kondisi hamil dan menikahi pria lain demi ketenangan. Sayangnya, hidupnya tetap menderita karena sang suami membenci anaknya. Saat Adrian muncul kembali, ia justru merebut paksa putra Tiara hingga membuat wanita itu nyaris gila dalam kepedihan.
Sampul Novel LEBIH BAIK MUNDUR
8.3
Dunia Melani hancur saat mengetahui kekasihnya, Robin, diam-diam menikah dengan wanita lain. Meski sudah berkhianat, Robin bersikeras tidak ingin melepaskan Melani. Di tengah upaya melarikan diri dari jeratan sang mantan, Melani dipertemukan dengan Yudha, seorang dosen berparas rupawan namun memiliki sifat yang sangat dingin. Kini Melani terjebak dalam dilema asmara. Akankah ia kembali pada Robin yang obsesif, atau meluluhkan hati Yudha yang kaku?