APKDock Logo
Sampul Novel Jerat Hasrat Tetangga Tampan

Jerat Hasrat Tetangga Tampan

9.4 / 10.0
Kehidupan rumah tangga Andini yang terasa hambar mendadak terusik oleh kehadiran Andreas, tetangga baru yang masih muda dan menawan. Pesona luar biasa pria tersebut membangkitkan gairah terpendam dalam diri Andini yang selama ini padam. Meski menyadari statusnya sebagai wanita bersuami, ia terus terbayang akan sentuhan Andreas. Kini, Andini terjebak dalam dilema moral antara kesetiaan pernikahan atau godaan hasrat dari brondong yang sangat sulit ia tepis.

Jerat Hasrat Tetangga Tampan Bab 1

Banyak orang yang mengira kalau aku menjalani hidup yang sempurna.

Aku menikah dengan pria mapan yang baik hati dan bertanggung jawab. Kedua anakku, Evan dan Rico, tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Orang-orang bilang, di umurku yang ke-35 tahun aku masih nampak seperti gadis dengan tubuh molek yang mempesona. 

Pokoknya, tidak ada yang kurang dalam hidupku. Semuanya sempurna.

Tapi kesempurnaan yang dilihat orang-orang itu semu.

Sebuah kebohongan besar kusimpan dalam-dalam selama sepuluh tahun pernikahanku dengan suamiku. Kebohongan bahwa aku mencintainya.

*

Kebohongan lainnya adalah aku menikmati semua sesi bercinta dengan Prasetyo, panggilannya Pras–suamiku. Nyatanya, aku tidak pernah terpuaskan oleh suamiku sendiri. Tidak pernah. Sekali pun dalam sepuluh tahun pernikahan kami.

Ha! Menyedihkan memang. Dan aku selalu berpura-pura mencapai kenikmatan itu, memujinya sebagai pria hebat sepanjang masa, yang bisa membawaku melayang ke atas sana. Semua kulakukan hanya untuk menjaga harga dirinya.

Jangan salah, kami sudah membahas masalah ini di awal pernikahan–bahkan sampai ke seksolog segala–yah, tapi hal itu tidak membantu. Pras sepertinya sudah sekuat tenaga menahan agar tidak selesai duluan, tapi tetap saja sulit bagiku untuk mencapai kenikmatan itu.

Jujur, aku tidak pernah merasakan gairah saat kami berhubungan. Mungkin, karena aku memang belum bisa mencintainya. 

Kurasa aku layak dapat Piala Oscar sebagai aktris terbaik karena berkat akting menawanku ini aku berhasil mempertahankan rumah tangga kami selama sepuluh tahun.

Kamu sungguh hebat, Andini! Aku selalu memuji diriku seperti itu–sebenarnya ini hanya kamuflase untuk menyemangati diriku sendiri sih.

Tok, tok, tok.

Suara ketukan dari luar kamar mandi membuatku tersentak. 

Lamunanku–lebih tepatnya keluhanku–langsung buyar seketika.

"Sayang, udahan belum? Kok lama banget? Aku boleh masuk ya?" Suara Pras terdengar dari luar sana.

Aku berdecak kesal. "Sebentar!" balasku kemudian.

Cepat-cepat aku membasuh seluruh tubuhku hingga bersih. Aku tidak mau suamiku masuk dan memaksaku memulai ronde kedua.

Soalnya, stok kepura-puraanku sudah habis untuk malam ini.

*

Setelah selesai kelas pilates, aku sengaja mampir ke toko buah langganan. Setelah itu aku bergegas pulang untuk istirahat sebentar sebelum nanti aku lanjut les baking pukul dua siang.

Selesai kelas baking, aku harus menjemput kedua putraku, Evan, delapan tahun dan Rico, enam tahun, di sekolah.

Seperti itulah kegiatanku sehari-hari; belanja, les sana-sini, ngopi cantik dengan teman-temanku, ke salon, antar jemput anak. Pokoknya aku harus menyibukkan diri.

Pras tidak mengizinkanku bekerja. Dia ingin aku mengabdi sepenuhnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak kami. Kata salah satu temanku, itu adalah salah satu cara Pras agar aku tidak mandiri dan bergantung padanya.

Awalnya, aku keberatan. Karena sebelum menikah dengan Pras, aku memiliki pekerjaan yang cukup stabil. Tapi Pras berjanji untuk memenuhi segala kebutuhanku–dan dia melakukannya–jadi, ya sudah, aku menjalani peran sebagai ibu rumah tangga saja selama ini.

Kadang, aku merasa kesepian apalagi kalau teman-temanku sibuk dengan bisnis mereka–Pras juga melarangku berbisnis, katanya aku tidak berbakat–rumah terasa hampa. Kedua anakku sudah beranjak besar dan sibuk dengan kegiatan sekolah.

Makanya, aku mendaftar berbagai macam kursus.

Sepertinya hampir semua kursus pernah aku ikuti, mulai dari memasak, merajut, yoga dan pilates, bahasa asing, sampai yang terakhir aku iseng ikut kursus coding sampai dapat sertifikat segala–tapi entah untuk apa sertifikat itu, toh aku dilarang kerja oleh suamiku?

Aku menyeka keringat yang membasahi pelipis lalu menaruh keranjang belanjaan.

Tiba-tiba telepon rumah berdering. Keningku mengernyit karena tumben-tumbenan ada yang menelepon ke rumah.

"Halo?" 

"Selamat siang!" Suara seorang pria terdengar ceria dari seberang sana. "Ini benar dengan rumah Bapak Prasetyo Hendrawanto?"

Aku menghela napas pendek. Bisa kutebak, dia pasti sales yang hendak menawarkan kartu kredit, atau mungkin penipu yang bilang suamiku menang undian.

"Iya, benar," jawabku acuh. Huh, seharusnya aku tidak usah mengangkat telepon ini. Buang-buang waktu saja, pikirku.

"Kami dari Showroom Mobil Permata Indah. Saya dengan Wawan sebagai sales executive yang menangani pembelian mobil dari Bapak Prasetyo Hendrawanto."

"Mo-mobil?"

"Benar. Maaf, saya berbicara dengan siapa ya?"

"Saya istrinya."

"Oh, Ibu! Apa kabar, Bu? Sehat? Kebetulan, mobil ini kan dibeli Pak Prasetyo untuk Ibu. Nah, kami lupa, Bu. Waktu itu Bapak pilih mobilnya warna abu metalik atau hitam ya?"

"A-apa? Suamiku beli mobil baru?" Kerutan di keningku semakin dalam.

Sales itu nampak terdiam sesaat di seberang sana. "Iya, Bu. Sebagai hadiah perayaan pernikahan Ibu dan Bapak yang ke...Aduh, maaf Bu, saya lupa."

"Yang kesepuluh."

"Ah, iya yang kesepuluh ya? Jadi, Ibu pilih warna yang abu metalik atau hitam?"

Apa ini hadiah kejutan dari Pras untukku? Tapi perayaan ulang tahun pernikahan kami yang kesepuluh sudah lewat tiga bulan yang lalu dan Pras memberiku hadiah sepasang anting berlapis berlian.

"Entahlah. Aku kurang tahu suamiku pilih warna apa. Tapi kalau mobil itu untukku, aku lebih suka warna hitam," jawabku.

"Baiklah. Kalau begitu besok kami akan kirim mobilnya ke rumah."

Sales itu lantas mengkonfirmasi alamat rumah kami dan aku terus bertanya-tanya untuk apa Pras memberiku mobil baru padahal garasi kami saja tidak muat untuk menampung mobil lagi.

Setelah menutup telepon, aku masih termenung. Kurasa aku harus menanyakan hal ini langsung pada Pras. Kulirik pergelangan tanganku. Hm, aku bisa datang ke kantornya sambil membawakannya makan siang. Yah, hitung-hitung sebagai kejutan karena sudah membelikanku mobil baru.

Lalu aku pun bergegas menyuruh, Miyem, ART-ku agar menyiapkan makan siang untuk Pras.

*

Aku melangkah santai di koridor menuju ruangan Pras. Masih ada sepuluh menit lagi menuju jam makan siang. Mudah-mudahan saja Pras masih ada di ruangannya.

Namun, aku tidak menemukan asisten Pras di mejanya. Maka, aku masuk begitu saja ke arah pintu ruangan Pras yang ada di ujung koridor.

Alisku langsung bertautan begitu pintu ruangan Pras terkunci. Apa dia sedang keluar? Namun, saat aku hendak balik badan, aku mendengar suara kaki meja yang berdecit dari dalam sana.

Tok, tok, tok.

"Mas Pras? Mas?" tanyaku dari luar. "Mas ada di dalam? Mas Pras?"

Aku lalu menempelkan kupingku di permukaan pintu untuk mengetahui apakah ada orang di dalam atau tidak.

Tiba-tiba saja aku mendengar suara slot pintu yang bergeser dan tubuhku hampir limbung ke depan karena pintu ruangan Pras membuka begitu saja.

"Andini?" Pras berdiri di hadapanku dengan sedikit terkejut. Tangannya membenarkan posisi kerah kemejanya yang miring. "Kenapa kamu datang enggak bilang-bilang?"

"Sorry, Mas. Aku mau kasih kejutan untuk kamu."

"Kejutan?"

Aku mengangkat kantung bekal yang kutenteng sedari tadi. "Makan siang spesial untuk kita!"

"Tumben," kini Pras mengancingkan salah satu mansetnya.

Aku tersenyum tipis, menatapnya. "Aku tahu, Mas."

Pras nampak menelan ludahnya dalam-dalam. Astaga, kenapa dia jadi tegang begitu sih? Apa karena kejutan hadiah mobil untukku batal gara-gara sales itu menelepon ke rumah?

"Tahu soal apa?" Suara Pras terdengar sedikit parau kali ini.

Aku mendahuluinya, masuk ke dalam ruangannya. "Bahwa kamu..."

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, langkahku seketika tertahan begitu melihat seorang wanita cantik yang berdiri di samping meja Pras. Wanita itu tersenyum padaku namun aku membalasnya dengan tatapan tajam.

Kepalaku menoleh ke arah Pras yang berdiri di belakangku. "Siapa dia?" tanyaku dingin.

Dan Pras hanya terdiam seperti patung.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Jerat Hasrat Tetangga Tampan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Akulah Cintamu
9.3
Hidup Kayra hancur setelah suaminya menghilang tanpa jejak pasca panggilan video terakhir mereka. Kini, ia berjuang sendirian membesarkan dua anaknya. Di tengah kesulitan, ia bertemu Damar, ipar yang membencinya karena skandal masa lalu terkait rahasia saudari kembarnya. Meski awalnya Damar menolak mengakui anak hasil hubungan tersebut, kemiripan sang bayi meluluhkan hatinya. Akankah pertemuan ini membawa Kayra menuju kebahagiaan yang selama ini hilang?
Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Alya terjebak dalam keputusasaan saat ibunya, Kartika, butuh biaya medis besar dan donor organ langka. Di tengah krisis ini, Niko, pengusaha kaya yang mendambakan anak, menawarkan kesepakatan menjadi ibu pengganti demi kesembuhan Kartika. Meski ragu, Alya setuju demi nyawa ibunya. Namun, benih cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, memicu dilema emosional. Saat rahasia besar terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berubah drastis saat ia mengetahui fakta mengejutkan di kampusnya. Ezza, pria yang dijodohkan orang tuanya dan kini telah resmi menjadi suaminya, tiba-tiba muncul sebagai dosen baru di sana. Kehadiran Ezza yang tak terduga di lingkungan akademisnya memicu tanda tanya besar bagi Bunga. Ia pun mulai meragukan alasan di balik keputusan suaminya tersebut. Apakah Ezza memiliki motif tersembunyi atau ini hanyalah sebuah kebetulan belaka?
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan yang hancur karena dikhianati calon istrinya nekat memaksa Zahra menikahinya demi melampiaskan rasa kecewa. Zahra pun terkejut dan menolak mentah-mentah tawaran gila tersebut. Namun, Rayhan tak menyerah dan menjanjikan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra mau menggantikan posisi mempelai wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima kesepakatan ini dan sanggup menjalani kehidupan sebagai istri pengganti bagi pria dingin seperti Rayhan?
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Nada menyadari bahwa menjerat Ivander ke dalam pernikahan paksa adalah langkah yang keliru. Namun, baginya ini satu-satunya jalan untuk tetap berada di sisi pria yang hidupnya pernah ia hancurkan. Didorong rasa bersalah yang mendalam, Nada bertekad menebus dosa masa lalunya melalui pengabdian ini. Akankah segala pengorbanan Nada mampu mencairkan kebencian di hati Ivander, ataukah usahanya untuk mendapatkan maaf justru akan berakhir sia-sia?
Sampul Novel Menyusui Bayi Mafia
9.7
El Zibrano Elemanus memberikan tawaran gila kepada Lea untuk menyusui putranya dengan imbalan kekayaan yang tak terbatas. Lea yang masih berstatus pelajar menolak keras karena merasa permintaan itu tidak masuk akal bagi gadis seusianya. Namun, El tidak menerima penolakan dan bersikeras bahwa ia bisa mewujudkannya melalui caranya sendiri. Di bawah tekanan sang bos mafia, Lea terjebak dalam situasi intim yang mengancam masa depan dan harga dirinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan