APKDock Logo
Sampul Novel Jerat Janda Terhormat

Jerat Janda Terhormat

8.2 / 10.0
Pasca kematian suaminya, Serena Aqulea Abraham terpaksa berjuang sebagai ibu tunggal demi putri kecil dan ibunya yang sakit. Di tengah beban ekonomi dan stigma negatif sebagai janda muda, ia harus bertransformasi dari sosok lemah menjadi wanita tangguh. Serena bekerja keras melakoni apa pun demi bertahan hidup tanpa sandaran. Akankah ia terus kuat menghadapi cemoohan orang sekitar, atau justru menemukan sosok pria baru yang tulus menerima masa lalunya?

Jerat Janda Terhormat Bab 1

Serena mematung, netranya tak lepas menatap single bed di tengah rumah. Di atasnya terbaring raga yang tadi pagi masih mengajak berdebat.

“Sudah aku katakan Seren, aku ini memang suka menggoda gadis-gadis. Tapi itu hanya sebatas godaan tidak lebih, kamu seperti baru mengenalku kemarin sore,” sergah Hanan yang tampak kesal pada sang istri sejak pagi tak henti menuduhnya memiliki wanita lain hanya gara-gara kabar yang berhembus.

“Aku tidak peduli. Yang aku tahu dia menghubungimu. Bukan tepuk tangan jika hanya sebelah,” sahut Serena mengenakan seragam dinasnya hari ini jadwal piket pagi.

“Harus bagaimana caranya aku meyakinkanmu, belum cukupkah masa tujuh tahun kita berpacaran. Untuk kamu percaya hanya ada kamu dalam hatiku. Haruskah aku mati dulu baru kamu akan menyadari cinta terlalu besar padamu. Bahkan melebihi cinta pada diriku sendiri. Aku mencintaimu sampai mati,” sembur Hanan berdiri meraih putri semata wayangnya yang baru berusia satu tahun.

Serena bekerja sebagai staf administrasi sebuah rumah sakit swasta. Menjadikan dia terikat dengan jadwal kerja yang tidak menentu.

Mengharuskan Hanan mengalah mengambil job freelance agar anak mereka tidak dirawat oleh pengasuh. Sehari-hari saat Serena dinas maka Hanan yang mengurus dan mengasuh anak mereka.

“Mati sana. Kerjaan kamu hanya mengganggu anak gadis orang, kamu menganggapnya biasa tapi apa mereka tahu? Yang mereka tahu kamu tertarik pada mereka. Aku pusing setiap hari mendengarnya. Plis Hanan, kita ini sudah suami istri. Kurangi dan kalau bisa hentikan semua kelakuan jelek semasa bujangan dulu. Kamu tidak malu!! Anak perempuan papanya kelakuannya entahlah,” cerocos Serena yang telah siap menunggu di depan.

Hanan menitipkan Qianzy pada ibu mertua. Mengeluarkan sepeda motor bergegas mengantar Serena ke tempat kerja.

Di sepanjang perjalanan Serena terus mengoceh. Tak peduli orang-orang yang memperhatikannya. Terpenting isi hatinya tersalurkan. Pagi-pagi suaminya sudah membangkitkan amarahnya.

“Dengar!! Kurangi kelakuan jelekmu itu Hanan. Aku malu,” pungkas Serena mencium punggung tangan Hanan yang pagi ada rasa yang tak biasa. Tidak pernah Hanan mengusap pucuk kepalanya dengan lembut seakan menunjukkan betapa besar rasa cintanya.

“Tenanglah my baby, aku mencintaimu sampai mati.” Hanan tersenyum lama belum beranjak sebelum Serena hilang dari pandangan.

“Ren, kamu oke? Ayo kita duduk di samping jasadnya,” ujar seseorang menyentuh pundaknya. Memutus ingatan tentang kejadian tadi pagi.

Semua terjadi sangat cepat, rasanya masih belum yakin yang terbaring itu adalah pria yang dimakinya sepanjang perjalanan tadi.

Pria yang semalam masih mencumbunya meski dia berkata lelah. Dan meminta diulangi saat menjelang subuh.

Andai tahu itu adalah cumbuan terakhir, dia rela mengulangi berpuluh kali. Cumbuan dan sentuhan yang tidak akan pernah merasakannya lagi di masa akan datang.

Serena mengumpulkan kekuatan mengayunkan langkah menuju jasad yang di tutupi kain batik. Dengan harapan yang berada di bawahnya adalah orang lain. Bukan Hanan Bagaskara pria yang telah menghalalkannya dua tahun lalu. Janji suci yang diikrarkan dalam satu tarikan nafas dihadapan Tuhan.

Kedua lututnya bersimpuh tepat di bagian kepala. Tangan kanannya terulur membuka selendang putih tipis.

Perlahan selendang diturunkan dan menampilkan wajah tampan yang telah membuatnya tidak bisa berpaling. Wajah yang hampir setiap waktu selalu tertawa memamerkan deretan gigi yang putih dan tersusun rapi.

Kini wajah itu terlihat tenang, damai dan seakan telah ikhlas meninggalkan keindahan dunia yang penuh tipuan.

Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah. Tulang-tulang terasa lolos luluh lantak berantakan di lantai.

“Bang, bangun Bang. Buka matanya, jangan buat aku takut. Abang bangun aku, belum siap tanpa Abang. Iya, iya aku percaya kok sama Abang. Aku tidak akan memarahi Abang lagi.”

“Abang, lihat Qianzy dia asyik bermain dalam kamar. Dia menunggu Abang.”

“Abang bangun.”

“Bang jangan tinggalkan aku.”

Serena meracau mengatakan yang hanya dirinya yang mengerti. Sari Sandra ibunya mendekat dan membawanya ke kamar.

Sari mengerti saat ini putri sulungnya sangat hancur dan rapuh. Teringat Serena yang tidak boleh shock dia harus menenangkannya terlebih dahulu.

“Mak, yang di depan sana bukan Hanan ‘kan?” tanya Dira berusaha menyangkal kenyataan.

“Setiap yang bernyawa akan menemui ajalnya. Dan Hanan telah sampai waktunya. Kamu harus ikhlas, ingat ada Qianzy yang membutuhkan kamu sebagai mama dan papa untuknya. Istirahatlah, Mamak ambilkan makanan untukmu. Kamu memang tidak lapar tapi anakmu butuh asi,” ujar Sari beranjak mengambil makanan untuk anak sulungnya.

Serena menekuk lutut menatap lurus ke depan, barisan kenangan indah maupun menyakitkan menari-nari di benaknya. Seperti putaran kaset rusak menyenangkan dan juga menyesakkan.

“Mama. Papa kok bobok di luar,” celoteh Qianzy yang sepertinya mulai mengantuk dan hanya akan bisa terlelap di samping sang papa.

“Iya sayang papa bobok di luar. Qianzy mengantuk bobok sama Mama ya,” bujuk Serena seketika mempunyai kekuatan tambahan saat tatapan polos sang anak tertuju padanya.

Tangannya meraih tubuh mungil biasanya setiap malam selalu bersama Hanan. Serena menggerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan hingga nafas tubuh mungil itu beraturan.

“Anak Mama sayang, mulai malam ini dan seterusnya kita akan melewati malam berdua, sudah tidak ada lagi papa yang menenangkan adek saat mengamuk. Mama mohon adek jangan mengamuk ya? Hanya papa yang tahu mendiamkanmu,” gumam Serena meletakan Qianzy yang telah pulas tertidur.

***

“Lihat jasad Hanan tergeletak begitu saja di tengah rumah, entah di mana istrinya yang tukang selingkuh itu,” ujar salah satu dari empat orang pria yang merupakan teman baik Hanan dan Serena.

“Paling asyik telponan dengan selingkuhannya. Merencanakan pernikahan,” sahut pria yang berbaju putih.

“Lihat saja paling belum kering tanah kubur Hanan. Serena bakal ijab qobul sama selingkuhannya.”

“Kita lihat saja nanti.”

“Aku akan membuatnya malu seumur hidupnya. Gara-gara wanita itu kita harus kehilangan teman sebaik Hanani.”

“Aku sudah mengingatkannya untuk tidak menikahi jalang itu. Tapi dia masih ngotot.”

“Kalian tidak tahu Hanan itu bucin. Mau kita bicara apa tidak bakal di dengarnya. Di matanya hanya Serena, pada hal masih banyak wanita lain yang lebih baik dan cantik dari wanita itu. muak aku lama-lama melihat si Serena.”

“Apa lagi aku, aku tahu bagaimana kelakuannya dulu. Pantaslah keluarga Hanan kurang merestui pernikahan mereka. Kelakuan Serena itu bukan rahasia umum lagi. Aku sudah mengatakan pada Hanan, Serena itu pembawa sial. Jadi wanita tidak ada bagusnya. Lihat sekarang, terbukti 'kan apa yang aku katakan. Coba waktu itu dia mendengarkan apa yang aku katakan. Pasti saat ini masih bisa berkumpul bersama kita,” ujar pria yang paling bersemangat mengungkit masa yang telah berlalu.

Keempat orang itu terus membicarakan soal Hanan dan Serena. Satu per satu tetangga pulang ke rumah.

Hanya tersisa beberapa orang terdekat termasuk empat orang itu menjaga jasad Hahan hingga pagi menyapa.

Jasad suami Serena terpaksa disemayamkan semalam karena usianya habis mendekati magrib. Atas permintaan keluarga di makamkan esok harinya.

Malam semakin larut pekat malam semakin mencekam. Hawa dingin yang menyelinap di sela celah tidak bisa membuai Serena menuju alam mimpi.

Kelopak matanya tidak bisa dipejamkan walau sedetik pun. Bayangan masa lalu dan masa depan yang pahit tengah bertarung dalam benak.

Apa yang harus dia lakukan ke depan nantinya. Selama ini hanya Hanan tempatnya bersandar. Bersama sang suami dia memenuhi kebutuhan keluarga ini dan sekolah ke dua adik-adiknya.

Kini satu kakinya telah patah, kuat tidak kuat dia harus tetap berdiri. Bukan sekedar berdiri namun juga berjalan kalau bisa berlari.

Dia harus bisa mengimbangi pergerakan dunia. Dunia ini tidak akan pernah bisa berhenti meski dia memaksanya untuk menghentikannya.

Takdir sangat kejam padanya dengan tega merampas kebahagian yang baru saja mulai ditenun. Mudah bagi Tuhan membolak balik keadaan meluluhlantakkan harapan dan mimpi-mimpi.

Serena menatap ke atas mencari satu ingatan yang membuatnya sakit hati. Agar dia bisa mengurangi satu penyesalan yang menyudutkannya.

Seandainya, jika, bilamana, dan semuanya yang bersifat permulaan bisa menebak kejadian selanjutnya mungkin akan di ukir kisah yang jauh lebih indah.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Jerat Janda Terhormat

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Menikahi pria yang pernah ditolak di masa lalu membawa dilema besar dalam sebuah perjodohan. Apakah dia bertahan karena cinta yang tersisa, atau justru merencanakan balas dendam atas luka lama? Sebagai pasutri, mereka dipaksa menjalani komitmen di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik ketenangan. Di dunia Chronophile, di mana waktu sangat dihargai, rahasia dan konflik mulai menguji kesetiaan mereka dalam mempertahankan rumah tangga ini.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Tiga tahun menikah, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai dari istrinya demi menyelamatkan putra kandungnya bersama Lin Yanran yang menderita leukemia. Ia memohon izin untuk memiliki anak lagi dengan sang mantan agar sel bayi baru lahir itu bisa menjadi obat, sambil berjanji akan kembali setelah misi medis itu selesai. Namun, di tengah tangis kepedihan suaminya, sang istri menemukan pesan provokatif dari Yanran yang sudah menanti Yu'an untuk segera menghamilinya malam ini juga.
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Pasca kehilangan Rizal, Sonia pindah ke apartemen kecil bersama dua anaknya, Alif dan Hana, demi lari dari duka. Di sana, ia bertemu Yudha, seorang duda karismatik yang membesarkan putrinya, Mira, sendirian setelah tragedi serupa. Meski sama-sama terluka, pertemuan di lorong apartemen itu memicu percikan emosi. Kini, mereka harus memilih: tetap terbelenggu kenangan pahit masa lalu atau meruntuhkan dinding ketakutan demi menyambut cinta baru yang hadir di depan mata.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Sampul Novel My Bad Boss
8.6
Xavier Narendra Maximilian pernah bersumpah takkan menikah karena menganggap wanita hanya teman tidur. Namun, prinsip itu goyah sejak ia bertemu sekretarisnya, Adeeva Adelia Albert, yang sama sekali tidak tertarik menggodanya. Xavier merasa pertemuan ini adalah anugerah terindah, sementara Adeeva sempat menganggap Xavier sebagai hal terburuk dalam hidupnya. Kini, kebencian itu berubah menjadi hari-hari penuh keindahan bagi mereka berdua.
Sampul Novel Pengantin Pengganti, Hati Pendendam
8.8
Upacara janji nikah yang seharusnya menjadi ajang kampanye Baskara berubah jadi pengkhianatan. Aku dibius dan melihatnya menikahi selingkuhannya di depan para elite. Setelah tujuh tahun pengorbananku membangun kariernya, dia justru menyebutku tidak berguna. Namun saat perceraian tiba, Baskara berpura-pura amnesia akibat kecelakaan dan memohon agar aku tidak pergi. Dia ingin bermain sandiwara, maka aku akan memastikan dialah yang hancur dalam permainan ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan