APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel JODOH DEPAN RUMAH

JODOH DEPAN RUMAH

Naura terkejut saat dipaksa menikah dengan Bagas, tetangga depan rumah yang sangat menyebalkan. Ia terpaksa menjadi pengantin pengganti setelah mempelai wanita pilihan Bagas menghilang tanpa jejak. Meski awalnya tanpa cinta, benih asmara mulai tumbuh di antara mereka. Namun, kembalinya sang mantan kekasih menguji kesetiaan Bagas. Akankah rumah tangga mereka tetap bertahan atau justru hancur karena kehadiran orang ketiga di tengah mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

BAB 2

HARI PERNIKAHAN

"Bagaimana saksi? Sah?"

"Sah…."

"Alhamdulillahirobbilalamin…."

Tak terasa air mataku menetes. Hari ini, aku resmi menjadi nyonya Bagas.

Setelah akad selesai, Mama dan tante Salma menuntunku ke depan untuk duduk di samping Bagas. Mama menyenggol lenganku memberikan kode. Aku yang gak mengerti apa-apa malah bingung.

"Cium tangan suamimu!" bisik tante Salma.

Setelah itu, Bagas ganti mencium keningku. Aku melirik para orangtua. Mereka tersenyum bahagia.

Berbeda dengan Bagas. Ekspresi wajahnya sedingin es. Entah bagaimana nasib pernikahan kami. Pernikahan terpaksa dan tanpa cinta.

***********************

Alhamdulillah rangkaian acara pernikahan kami sudah selesai. Rasanya capek sekali berdiri seharian menyalami ratusan undangan.

Pesta ini ternyata benar-benar meriah. Setelah acara selesai, kami menginap di hotel semalam sebelum besok pulang ke rumah.

"Bagas, antar Naura ke kamar! Dia pasti capek sekali. Sayang, kamu istirahat disini dulu ya," ujar tante Salma.

"Iya, Tante," jawabku.

"Lho, kok masih panggil tante sih? Panggil bunda dong, seperti Bagas. Kan, sekarang kamu menantu Bunda. Sudah jadi anak bunda."

Iya, bun."

"Ya udah, selamat istirahat sayang."

Aku dan Bagas berjalan beriringan menuju kamar hotel. Kami berjalan dalam diam. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku bingung, takut, dan cemas. Entah apa yang akan terjadi nanti di dalam kamar.

********

"Kenapa bengong disitu? Cepat masuk."

"Iya, ini juga mau masuk. Bawel,"gerutu Naura.

Setelah masuk ke dalam kamar hotel, Bagas segera melepas jasnya dan masuk ke kamar mandi.

Mumpung Bagus sedang mandi, Naura segera melepas gaunnya dan mengganti dengan piyama. Untung saja tidak ada drama resleting nyangkut, jadi dia bisa ganti dengan aman.

Saat Naura duduk di meja rias menghapus make up, Bagas keluar kamar mandi hanya dengan handuk di pinggang. Tanpa sengaja Naura melihat pemandangan roti sobek itu.

"Aaaaaa ... Kak Bagas jorok! Kenapa gak pake baju sekalian di kamar mandi sih?" teriak Naura sembari menutup mukanya demgan kedua tangannya.

"Berisik. Jangan teriak-teriak. Ntar dikirain gue ngapa-ngapain elu lagi."

"Habisnya, kak Bagas keluar kamar mandi cuma pake handuk doang. Cepetan pake baju sana."

"Kenapa memangnya? Suka-suka gue dong. Lagian, kita kan sudah sah menjadi suami istri. Jadi gak papa dong. Lagian elu tadi juga lihatin tubuh gue. Apa jangan-jangan kamu mau lihat yang lain?"

ujar Bagas sembari mendekati Naura.

Tubuh mereka semakin dekat dan berimpit. Naura menjadi ketakutan dan panik.

"Awas aja kalo macam-macam. Gue aduin ke ayah dan bunda."

"Aduin aja. Siapa takut."

"Ih…., Kak Bagas nyebelin!" ujar Naura sembari berlari ke kamar mandi. Bagas hanya tertawa kecil melihat kelakuan Naura.

Cukup lama Naura bersembunyi dan mandi. Setelah Naura keluar kamar mandi, dia melihat Bagas sedang duduk di tempat tidur sembari bermain ponsel.

Dia kebingungan. Badannya lelah sekali dan ingin segera tidur. Tetapi Disana ada Bagas.

"Ngapain bengong disitu? Hobi banget bengong. Memangnya kamu tidak capek berdiri terus?"

“Capek!” keluh Naura.

“Yaudah, sana tidur!” ujar Bagas.

“Aku tidurnya dimana?” tanya Naura.

“Memangnya kamu mau tidur dimana?”

“Disana!” sahut Naura sambil menunjuk kasur empuk yang ditempat Bagas.

“Trus, ngapain masih bengong disitu?”

"Tapi kak Bagas jangan disitu. Kak Bagas tidur di sofa saja."

"Ogah. Kamu saja sana tidur di sofa," ujar Bagas sembari membaringkan badannya.

“Jahat banget sih! Masak, sama cewek gak mau ngalah!” rengek Naura.

Bagas cuek dengan rengekan Naura. Dengan santainya, dia berbaring dengan nyaman.

Naura semakin kebingungan.

"Udah,cepetan tidur sini. Gue gak mungkin ngapa-ngapain elu. Anak kecil juga."

"Beneran ya. Awas macem-macem," ancam Naura.

“Iya, bawel banget sih!” gerutu Bagas.

Akhirnya Naura membaringkan badannya di sebelah Bagas setelah sebelumnya menata guling sebagai pembatas. Tidak lama kemudian dia sudah terlelap.

*********

Naura terbangun dari tidurnya. Dia kaget setelah mendapati dirinya tidur di sebuah kamar hotel. Terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Setelah iangatannya pulih, Bagas tiba-tiba keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk lagi.

"Ih ... Kak Bagas! Udah dibilangin juga. Pake baju di kamar mandi sana!" teriak Naura sambil menutup mata dengan kedua tangannya.

"Kamu ngapain sih pagi-pagi berisik? Lagian ya, diluar sana banyak cewek-cewek tergila-gila sama tubuh gue yang atletis ini. Kenapa elu malah kelihatan jijik gitu sih?" protes Bagas.

Memang, Bagas memiliki fisik yang nyaris sempurna. Tubuh tinggi, badan atletis, kulit kuning bersih, dan mata elangnya benar-benar bisa memikat para kaum hawa.

"Pokoknya gue gak suka. Cepetan pake baju ke kamar mandi."

Akhirnya Bagas memilih mengalah dan kembali ke kamar mandi untuk berpakaian.

"Elu cepetan mandi sana. Habis sarapan kita langsung pulang," ucap Bagas.

Pukul 12.30 WIB, mereka sudah sampai di rumah. Lalu lintas yang padat membuat mereka terlambat sampai di rumah.

"Kita ke rumah mana dulu nih? " tanya Bagas.

"Ke rumah gue saja."

Bagas lalu membelokkan mobilnya masuk ke halaman rumah Naura. Terdengar suara yang cukup ramai dari dalam rumah.

"Assalamualaikum. Papa, Mama, Naura pulang," ujar Naura sembari nyelonong masuk ke dalam rumah diikuti oleh Bagas.

"Lho…., Ayah sama Bunda juga disini?"

Bagas dan Naura menyalami mereka semua. Memang, walaupun mereka orang berada, tetapi mereka tetap mengajarkan etika terhadap orangtua.

Masuk ke dalam rumah harus mengucapkan salam dan mencium tangan kedua orangtuanya.

"Iya sayang. Ini Mamamu mengundang Bunda dan Ayah makan siang disini. Ini kan pertama kalinya kita berkumpul sebagai keluarga. Bukan begitu, Jeng Sinta?" ucap bunda Bagas.

"Betul, Jeng. Ayo, mumpung sudah ngumpul, kita langsung makan. Itu bik Siti juga selesai menyiapkan makanannya."

Akhirnya, mereka makan siang bersama-sama sambil bercengkrama.

"Bagas, rencananya kamu mau mengajak Naura bulan madu kemana?" tanya ayah Bagas. Naura dan Bagas langsung tersedak bersamaan.

"Duh… kalo jodoh ya begini ini! Tersedak ja sampai barengan."

Mereka malah menanggapinya sambil tertawa.

Setelah minum dan menenangkan diri, Bagas menjawab," Sepertinya belum bisa sekarang, Yah. Pernikahan ini kan mendadak. Lagian, Naura masih kuliah. sebentar lagi ujian. Biar dia konsentrasi dulu sama kuliahnya."

"Baiklah kalo memang seperti itu. Tapi, Bunda minta, jangan menunda momongan ya! Bunda sudah kepengen menimang cucu."

Mereka berdua hanya bisa nyengir bersamaan.

"Lalu apa rencana kalian setelah ini?" tanya papa Naura.

"Biar kami jalani saja dulu, Pa. Kami perlu waktu untuk adaptasi. Bagas juga berencana untuk membawa Naura untuk tinggal di apartemen. Kami ingin belajar mandiri. Lagian, jarak apartemen dengan kantor dan kampus Naura kan tidak terlalu jauh."

"Kamu yakin mau tinggal di apartemen? Apa tidak sebaiknya tinggal sama Mama Papa dulu? Naura itu masih manja banget lho," ujar Mama Naura.

"Udah, Ma. Biarin saja mereka tinggal di apartemen. Benar kata Bagas. Biar mereka belajar mandiri. Papa mendukung keputusan kamu, Gas. Cuma pesan Papa, tolong, jaga putri Papa baik-baik! Bimbing dia agar bisa menjadi istri yang baik."

"Tentu,Pa," jawab Bagas sembari tersenyum.

************

Sore itu juga mereka langsung berangkat menuju apartemen dengan diantar kedua orang tua mereka.

"Wah, apartemennya bagus sekali. Kamu pinter milihnya. Tidak terlalu besar, tapi tidak kecil juga. Cocok untuk pasangan pengantin baru."

"Iya, Ma. Saya sengaja memilih apartemen yang tidak terlalu luas. Jadi mudah membersihkannya."

Setelah mereka berbincang cukup lama, akhirnya para orangtua pamit pulang.

"Naura, mama pulang dulu. Jaga diri baik-baik. Nurut sama suami. Jangan bandel."

"Iya, Ma."

"Naura sayang,Bunda pulang dulu ya! Kalo ada apa-apa, jangan sungkan telpon Bunda. Bagas, titip menantu bunda. Jangan dibikin nangis."

"Bagas, Papa titip Naura ya."

"Iya, Pa. Saya akan menjaganya dengan baik."

Mereka saling berpelukan.

Setelah para orangtua pulang, Naura dan Bagas duduk di depan TV.

"Kak Bagas, kenapa buru-buru ngajak gue tinggal disini, sih? Kan gue masih pengen nginep di rumah Mama atau Bunda gitu."

"Kalo kita nginep disana, yang ada kita dipaksa tidur satu kamar. Kamu mau tidur bareng bagi? Kalo gue mah ogah."

"Iya, ya. Bener juga. Gue juga ogah tidur sekamar dengan kak Bagas. Bikin alergi saja. Trus gue tidur dimana?"

"Tuh, kamar kamu yang itu. Kamar gue yang sana. Dah, sana masuk kamar. Beresin sendiri barang elo. Gue mau tidur."

"Kak!” pamggil Naura.

Bagas menghentikan gerakannya yang hendak bangkit.

“Ada apa?”tanya Bagas.

“Em ... Kak Bagas, gue boleh tanya gak?"

"Tanya apaan?"

"Eeeee, itu. Tentang ...eeeee …."

"Mo tanya apa sih? A e a e. Gak jelas banget."

"Itu, mau tanya tentang kak Kirana. Memangnya dia gak ada hubungi kakak gitu?" tanya Naura hati-hati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BACK TOGETHER
8.1
Pernikahan paksa Belinda dan Gio dimulai dengan penuh luka. Gio sengaja menyakiti istrinya agar hubungan mereka berakhir, namun Belinda memilih bertahan demi anak yang dikandungnya. Kelahiran sang buah hati menjadi titik balik saat rahasia besar Belinda terungkap satu per satu. Di tengah ancaman pihak luar yang ingin menghancurkan mereka, pasangan ini harus belajar saling menguatkan untuk menjaga keutuhan rumah tangga yang penuh cobaan.
Sampul Novel Boy and Secret
9.2
Kenzo dan Alesha terjebak dalam pernikahan paksa akibat tuntutan orang tua. Hubungan tanpa cinta ini menjadi semakin rumit karena mereka harus menyembunyikan status tersebut dari publik. Situasi kian pelik saat Alesha hamil, memicu ketakutan luar biasa dalam dirinya. Meski penuh tekanan dan lika-liku, keduanya berupaya membangun komitmen di tengah badai emosi. Inilah perjalanan sulit mereka dalam menghadapi rahasia besar serta tanggung jawab yang tak terduga.
Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan adalah bujangan kaya yang ramah namun ceroboh dalam urusan asmara. Ia sering memicu konflik keluarga karena terang-terangan menggoda kekasih para sepupunya agar berpaling padanya. Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat ia jatuh hati pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan dan cinta. Kini, Erhan harus berjuang keras membuktikan ketulusannya. Mampukah sang miliarder meyakinkan wanita itu bahwa ia telah menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel Cinta Yang Penuh Rahasia
8.0
Risa jatuh hati pada Bima, dosen mudanya, meski hubungan itu tabu. Saat mereka dijodohkan, Risa merasa mimpinya terwujud, namun Bima justru menyimpan rahasia kelam di balik senyumnya. Begitu kebenaran pahit terungkap, hati Risa hancur hingga ia berubah menjadi sosok pendiam. Ia pun memilih pergi menghilang tanpa jejak. Kepergian Risa meninggalkan luka dalam bagi Bima, yang akhirnya terjebak dalam penyesalan tanpa akhir selama bertahun-tahun lamanya.
Sampul Novel CUKUP SETAHUN AKU DI SISIMU, MAS
9.0
Menjalani peran sebagai istri kedua di bawah bayang-bayang pernikahan siri bukanlah hal mudah. Namun, segalanya menjadi rumit saat aku menyadari bahwa istri pertama suamiku adalah sahabat karibku sendiri. Terjebak dalam rahasia besar ini, aku memilih untuk bermain cantik dan menyembunyikan identitas asliku demi bertahan di sisinya. Dalam waktu setahun yang penuh drama dan kepura-puraan, mampukah aku menjaga rahasia ini tanpa menghancurkan persahabatan kami?
Sampul Novel HASRAT PENUH LUKA
9.7
Dominic mengejar sosok yang menyerupai Stella di tengah guyuran hujan deras. Sambil berlutut penuh penyesalan, ia memohon ampunan atas dosa masa lalunya. Namun, luka hati Stella dari kejadian tiga tahun silam telah membeku dan tertutup kegelapan. Dengan sikap yang amat dingin, Stella menegaskan bahwa permohonan maaf Dominic tidak ada artinya. Ia menyatakan bahwa hanya kematian pria itu yang mampu menebus segala penderitaan yang telah ia alami selama ini.