APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jodoh Titipan Mama

Jodoh Titipan Mama

Leon meragukan kecantikan Celine saat pertama kali diperkenalkan oleh ibunya dalam rencana perjodohan. Tak tinggal diam, Celine membalas hinaan itu dengan ancaman jenaka yang berani. Meski terpisah jarak antara Papua dan Sumatra, kedua orang tua mereka tetap bersikeras menyatukan dua kepribadian yang bertolak belakang ini. Di tengah perdebatan sengit dan interaksi unik, mampukah benih cinta tumbuh di antara mereka berdua dalam ikatan yang tak terduga?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kamu jelekin aku sekali lagi, bibir kamu kutarik sampe Sumatra ya! Berani?" Celine berteriak dengan amarahnya. Gadis itu menatap tajam ke arah Leon.

"Tuh kan, Ma? Liat sendiri kan galaknya? Jadi cewek kok galak banget sih?" protes Leon.

"Leon, sudah ah ...." Naya menegur putranya seraya merapikan piring-piring kotor seusai mereka makan siang.

"Kalian akur-akur lho, jangan bertengkar trus. Masak calon suami istri kayak kucing dan anjing. Papa mau ke kantor dulu," Rendy meneguk air putih yang sudah disajikan Naya lalu menatap putranya dan Celine secara bergantian.

"Kalau Leon sih ga suka ribut, Pa, tapi ini nih, cewek jadi-jadian ini, kok emosian sekali!"

"Leon ... sudah, mending kamu bantuin mama beberes sana!" pinta Rendy.

Dengan rasa malas, Leon beranjak. Di liriknya sesaat gadis manis berkulit putih di hadapnnya, nampak gadis itu menjulurkan lidah padanya. "Syukurin!" ucapnya sedikit berbisik dan menyindir.

"Awas kamu!" ancam Leon pada Celine seraya menatap mata gadis itu dengan tajam.

Matahari begitu terik, udara panas begitu terasa menyentuh kulit, meskipun berada di dalam rumah. Celine benar-benar tampak kegerahan.

"Tante, ini kenapa sih panas sekali?" tanya Celine pada Naya seraya mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah.

Gadis itu menghampiri ibu dari Leon yang tengah asik menonton televisi di ruang depan.

"Namanya juga siang, ya panas!" celetuk Leon menanggapi pertanyaan Celine.

"Yang nanya sama kamu siapa? Dasar!" Celine mendelik melihat Leon masuk ke dalam kamarnya.

"Sudah duduk di sini saja, sama tante. Ada kipas angin, jadi gerahnya sedikit berkurang," jawab Naya.

"Oh ya, kamar kamu di sebelah sana, tapi papanya Leon belum pasangkan AC di sana. Mungkin agak gerah, kamu bisa pakai kipas angin ini dulu ya nanti malam. Besok pagi tante panggilkan tukang AC untuk pasang AC di kamar Celine."

"Tidak usah tante, kan' Celine ga selamanya di sini. Celine juga nanti akan pulang ke Sumatra."

"Lo, Celine kan nanti jadi istri Leon, pasti akan menetap di sini dong."

Celine terdiam, gadis itu tak ingin berdebat lebih lama. Hatinya kesal, kenapa pula mamanya harus menjodohkan dirinya dengan Leon. Padahal sudah jelas sang mama tahu jika ia sudah memiliki kekasih.

Sore menjelang, Celine sudah tampak cantik dengan pakaian santainya. Kaos berwarna cream bergambarkan bunga dan kupu-kupu di bagian depan, juga menggunakan celana pendek dengan warna senada.

"Kita jalan-jalan ya?" ajak Leon padanya.

"Jalan-jalan? Kemana?" Celine sedikit merasa lega, hatinya berbunga-bunga saat mendengar kata jalan-jalan.

"Keliling-keliling, biar kamu tahu wilayah ini. Nanti terakhir kita mampir di warung bakso, atau nasi goreng, kalau kamu mau." Leon berantusias.

"Mau dong, ayo!" Senyum Celine terukir manis. Gadis itu bersemangat untuk pergi bersama Leon.

"Nah, kalau akur gini kan mama senang liatnya. Hati-hati ya, Leon?"

"Iya, Ma."

Leon mengajak Celine mengitari kampung Asiki, di mana tempat tinggal Leon dan keluarganya menetap. Gadis itu terpaku, ia hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kampung yang sangat jauh berbeda dengan kampung halamannya.

"Leon, ini, kok masih kampung sekali ya? Rumah-rumahnya kayak gini banget. Hutan lagi, aku pikir kamu mau ngajak aku ke mall."

"Celine, di sini ga ada mall, kamu jangan berharap banyak." Leon terkekeh, ia merasa puas mendapati kekecewaan Celine.

"Ya ampun, itu kan hutan? Kenapa harus ada hutan sih?"

"Kemarin, pertama kamu datang ke sini, memangnya sepajang jalan ga lihat hutan? Bukankah sepanjang jalan juga hutan?"

"Aku tertidur," jawab Celine singkat. Gadis itu sibuk mengamati sekelilingnya seraya memegang erat pinggang Leon.

"Leon, di sini ga ada tempat wisata atau tempat rekreasi? Kita ke sana aja, kalau ada. Aku capek keliling-keliling ga jelas gini. Yang keliatan juga cuma rumah-rumah penduduk, bahkan rumahnya, aduh, aku ga bisa bayangkan jika tinggal di tempat mereka. Untung aja, tante Naya tinggal di Asrama Polisi, jadi walau rumahnya sama, tapi lebih layak huni."

"Kamu cerewet banget sih! Jadi kita mau ke mana?" Leon mulai geli mendengar celotehan Celine yang ga habis-habisnya.

"Tempat wisata, atau tempat rekreasi deh."

"Di sini cuma ada taman, taman Asiki. Mau ke sana atau ke pelabuhan aja?"

"Ke Taman deh."

Leon memutar balik, ia menuruti kemauan gadis manja Celine pergi ke Taman Asiki. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Leon bergegas menggandeng tangan Celine dan mengajak gadis itu masuk.

"Ih, apaan sih pegang-pegang," gerutu Celine.

"Kalau ga dipegang nanti kamu hilang." Leon kembali meraih tangan Celine.

"Ini Taman?" tanya Celine. Matanya membulat sempurna memandang sekelilingnya.

"Kenapa? Kamu terpukau kan melihat semua ini? Memang, Papua itu sungguh luar biasa."

"Hahahahhaha .... Hahahha ... Ini namanya taman bermain, semua mainan anak-anak TK ada di sini." Celine terkekeh ia memegang perutnya.

"Sudah, jalan, aku tunjukin yang mungkin belum pernah kamu lihat secara langsung." Leon menarik lagi lengan gadis itu.

Situasi taman agak lenggang. Beberapa pengunjung tampak sudah pulang, sisanya masih asik bermain. Ada yang mengawasi anak-anak mereka. Ya, taman ini memang mirip seperti taman kanak-kanak dengan berbagai arena permainannya.

"Astaga, Leon. Kenapa harus ada patung-patung hewan sih? Itu lagi, patung buaya, berpelukan. Hahahahha ... hahahhaa ... emangnya tuh buaya ngapain pelukan gitu?" Celine kembali terkekeh.

"Ini kebun binatang," jawab Leon kesal.

"Kebun binatang apaan sih, Leon? Semuanya patung. Hahah ... hahaha ... aku sampai sakit perut ini." Wajah Celine memerah, ia tertawa tak habis-habis.

"Tuh lihat, ada kan binantang aslinya?" Mereka tiba dibeberapa kandang hewan luas.

Celine terdiam, ia terpukau melihat rusa yang memang baru pertama kali gadis itu lihat.

"Itu, itu rusa kan?"

"Iya, nanti aku ajak kamu makan bakso rusa, mau?"

"Itu burung apa? Aku lupa namanya." Celine menunjuk ke arah binatang yang ia lihat di sebelahnya.

"Itu namanya kasuari, dan sebelahnya kalkun. Masak gitu aja kamu ga tau sih?"

"Fotoin donk, biar kelihatan ya semua?"

"Tuh kan, akhirnya minta foto juga." Leon meraih ponsel Celine, ia mengambil beberapa gambar gadis itu.

"Cantik juga," gumam Leon dalam hati.

Hari menjelang malam, keduaya memutuskan untuk kembali pulang. Celine asik menatapi beberapa gambar yang tadi diambil oleh Leon. Gadis itu tersenyum kemudian mengirim beberapa gambar dirinya kepada sang kekasih.

[Agung, aku rindu.] Celine mengirimkan pesan pada pria yang dicintainya itu.

"Celine, makan malam dulu yuk," ajak Naya.

Gadis itu berdiri lalu menuju meja makan, bergabung dengan Leon juga orang tua Leon.

Celine menghela napas dalam-dalam, ia sudah terbaring di atas tempat tidur miliknya setelah usai makan malam tadi. Kamar yang memang di sediakan khusus untuk dirinya. Ia menatap langit-langit kamar, beberapa kali matanya berkedip.

"Pa, ma, kenapa kalian meninggalkanku? Kenapa pula kalian harus menjodohkanku? Aku ingin pulang. Aku ingin pulang," gumam Celine lirih. Air mata gadis itu tak tertahan lagi, ia menangis mengenang kedua orang tuanya, sampai akhirnya kemudian tertidur.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.
9.2
Banyu menerima surat misterius yang menyatakan dirinya terpilih sebagai avatar setelah pengamatan enam bulan oleh tim rahasia. Meski bingung dan curiga, ia diminta datang ke Jalan Lembayungkuning No. 17, tepat di samping kantor MNG Group, untuk mendapatkan penjelasan lengkap melalui sesi wawancara. Didorong rasa penasaran sekaligus takut, Banyu akhirnya memutuskan memenuhi panggilan tersebut. Keputusan nekat ini menjadi awal mula petualangan besar dalam hidupnya.
Sampul Novel Bukan Mantan Istri Biasa
9.2
Tiga tahun Laura mengabdi sebagai istri yang penurut, namun Nikolas Riyadi justru membalasnya dengan dingin karena wanita lain. Sadar pengorbanannya sia-sia, Laura akhirnya memilih bercerai. Kabar kembalinya status lajang sang ahli waris kaya ini langsung menggemparkan publik, memicu persaingan para CEO tampan untuk meminangnya. Saat Nikolas memohon kesempatan kedua di depan umum, akankah Laura luluh atau tetap pergi meninggalkan masa lalunya?
Sampul Novel Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku
8.2
Lima tahun di Milan, desainer Kinan akhirnya kembali ke Jakarta untuk mengunjungi kakaknya, Airin. Namun, suasana hangat di rumah itu terusik saat ia bertemu Liam, suami kakaknya yang maskulin. Sebuah insiden membuat Liam menangkap Kinan dan berakhir dengan ciuman tak terduga yang membakar gairah. Kini, Kinan terjebak dalam dilema antara godaan terlarang dan loyalitas pada keluarga. Akankah perasaan berbahaya ini menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Crazy In Love  (Katharine)
9.2
Pasca kematian Alex Wolff di medan tempur, Katharine terpaksa menjadi orang tua tunggal bagi putra kecilnya. Di tengah duka, muncul Warren Cook, pria misterius bermata satu yang mengaku sebagai sahabat karib mendiang suaminya. Secara mengejutkan, Warren melamar Katharine dengan janji kebahagiaan. Demi masa depan sang anak, Katharine menerima pinangan pria asing tersebut. Namun, kecurigaan menyelimuti hatinya. Siapa sebenarnya Warren dan apa motif tersembunyinya?
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra mengalami tragedi memilukan saat kesuciannya dirampas di hadapan kekasihnya sendiri akibat rencana keji kakek sang pria. Alih-alih membela, kekasihnya justru memilih menikahi wanita lain. Di tengah kehancuran, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama mereka, ia merancang pembalasan dendam untuk menghancurkan pria itu beserta keluarganya. Namun, akankah kepuasan batin ia temukan setelah semua hancur?
Sampul Novel Dua Takdir, Satu Malam
9.7
Menjelang hari pernikahan, Damar terbangun di sisi sekretarisnya, Kyra. Murka karena merasa dijebak, Damar memecat Kyra dan menghancurkan reputasinya. Hidup Kyra lantas runtuh; ia kehilangan tempat tinggal serta biaya pengobatan ibunya. Di tengah penderitaan, Kyra menyadari dirinya hamil. Berbulan-bulan kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali saat Kyra tengah berjuang sendirian. Sebuah rahasia besar pun perlahan terungkap mengenai apa yang sebenarnya terjadi malam itu.