APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jovan, Birahi Anak Panti

Jovan, Birahi Anak Panti

Menjalani kehidupan pernikahan ternyata jauh lebih rumit dari dugaan awal saya. Dahulu, saya mengira berumah tangga hanya sebatas menyatukan dua insan serta saling memenuhi nafkah lahir dan batin secara sederhana. Namun, kenyataan mengungkap adanya elemen kompleks yang mewarnai perjalanan panjang ini. Inilah sebuah kisah nyata yang saya alami sebagai pasangan suami istri di usia dua puluh dua tahun, di mana setiap tantangan menguji kedalaman komitmen kami.
Bab
Bagikan

Bab 3

Entah untuk berapa lama aku hanya duduk terdiam sambil memejamkan mata. Memusatkan konsentrasi sekaligus mengendalikan perasaan yang tak makin karu-karuan. Syukur-syukur bisa meredakan si kaludin dari ketegangannya.

Aku rasa Tania pun sedang melakukan hal yang sama, karena sama sekali tak terdengar suaranya.

“Fan!” tegur Tania dengan suara yang sangat pelan.

“Ya,” jawabku pelan sambil menolehkan wajah memandangnya.

Tania membuka tas tangannya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang merah, kemudian menyodorkannya padaku. Aku tertegun memandangi uang tersebut, tak mengerti dengan maksudnya.

“Kamu mau pulang kampung dulu kan? Ini buat ongkosnya,” ucapnya sambil tersenyum.

“Ma..maksudnya, Tan?” Aku bertanya untuk memastikan, dan sama sekali belum berani mengambil lima lembar uang merah yang disosorkanya.

‘ASTAG!!’ seruku dalam hati mengiringi degup jantungku yang seketika terasa berhenti berdetak dan nayris copot dari sangkarnya.

Tangan Tania yang memegang uang itu, tiba-tiba meluncur ke selangkanganku dan memegang sesuatu yang masih berdiri tegang dengan gagahnya. “Taan, Taaaan jaa…,jangan!” cegahku gelagapan.

“Kamu gak bisa bohong lagi, Fan,” desahnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku yang mungkin telihat sangat tegang. Sementara tangannya terus meremas-remas lembut rudalku, hingga uang yang dipegangnya berjatuhan.

“i…i…ya aku ngak bohong kok, taa..pi aaah jaaa…….” Belum selesai aku bicara, bibir Tania langsung melumat bibirku. Lidahnya pun langsung menerebos dan membelah kedua bibirku yang terkatup. Mau tidak mau walau dengan degup jantung yang sulit diceritakan, aku membalas ciumannya dengan masih kaku.

“Eeeh, Faaaan aaah,” desah Tania lirih di antara ciuman kami yang terasa lembut dan sangat mesra. Entah keberanian darimana yang tiba-tiba membuat tanganku refleks meremas payudaranya yang masih terbungkus kaos dan behanya.

“Aaaah gede bangeeet punya kamu, Fan,” lenguh Tania sambil berusaha menarik retsleting celanaku. Namun segera kutahan tangannya.

Tania lantas melepaskan cumbuannya, juga pegangannya. Lalu kemudian dengan sangat frontal melepas baju dan behanya. Aku benar-benar terbelalak terkesima karena. Tak percaya dengan yang sedang dilakukan Tania. Benar-benar nekad.

“Fan, kamu tadi terangsang melihat ini kan?” tanyanya sambil menyodorokan kedua payudarara yang dipegangnya ke arahku. Aku bahkan masih belum bisa menguasai diriku.

Bibir Tania sedikit manyun seakan mengejekku atau setidaknya tidak suka dengan sikapku yang hanya bengong memandangi tubuhnya dengan tatapan terkesima. Dia terus menyodorkan payudaranya ke hadapanku, seolah memintaku untuk segera menyentuhnya.

“Ma..maf Tan, ta…tadi waktu di kamar pass, a…aku kan aku ngelihatnya kan gak sengaja,” jawabku mengklarifikasi insiden yang terjadi di kamar pas tadi, walau masih blepotan. Dan entah untuk apa aku harus bicara demikian. Sejak kapan juga sapaan kami jadi berubah ‘aku dan kamu’?

“Aku tahu, karena memang aku sengaja memperlihakannya sama kamu, agar bisa menilainya,” balas Tania sambil tersenyum.

“Kamu hanya ingin aku menilai tubuhmu?” tanyaku bingung, dan Tania mengangguk sambil terus tersenyum menggoda.

“Tu…tubuh kamu benar-benar indah dan seksi, Tan. Lelaki mana pun yang ngeliatnya pasti tergiur dan terangsang. Maaf, kamu juga pasti bisa liat bagaimana mata orang-orang di mall tadi, bukan hanya aku kan?” Kembali aku memujinya sambil terus berusaha mengendalikan degup jantungku yang kian bergemuruh.

“Beneran semua lelaki akan menyukai tubuhku, Fan?” tanyanya lagi seolah tidak percaya dengan ucapanku. Aku pun kembali menjawab dengan anggukan karena susah menjawab dengan kata-kata.

“Tapi calon suamiku pengecualiannya, Fan,” ucap Tania yang tiba-tiba suaranya terdengar lirih.

“Mak..mak..maksudnya gimana, Tan?” tanyaku heran bercampur bingung.

“Entahlah, aku menduga calon suamiku itu sebenarnya tidak benar-benar suka sama perempuan. Dia bahkan lebih telrihat mesra dengan temannya sesama cowok.”

“Hah!”

“Makanya aku gak pernah mau ngenalin kamu sama dia. Takut malah dia yang naksir sama kamu.” Tania bicara semakin lirih dan wajahnya sedikit menunduk menatap selangkanganku.

Aku benar-benar bingung harus berbuat dan berkata apa lagi. Lelaki model apa yang sesungguhnya dijodohkan oleh orang tua Tania? Masa iya jeruk makan jeruk harus dipaksakan makan martabak?

“Ma..maaf, menurutmu dia seorang gay?” Aku membernaikan diri bertanya hati-hati.

“Namanya Haykal. Aku menduganya begitu, mungkin setidaknya bisek. Jujur aja, dia memang pernah mencumbu bahkan menyetubuhiku. Tapi mungkin hanya pura-pura aja, feel dan gairah yang kurasakan pun sama sekali tidak ada. Hambar!” jawab Tania tanpa sungkan.

Aku kembali tak bisa berucap apa-apa. sudah kuduga jika Tania memang sudah tidak polos lagi dalam urusan ranjang.

“Beda banget dengan kamu. Cuma deket aja, aku sudah langsung bisa merasakan aura seorang jantannya,” lanjutnya dengan nada yang sedikit mendesah.

“Ma.. maaf, Tan, a..aku tidak tahu ka..ka..kalau urusan yang gituan,” jawabku sambil menatap buah dadanya penuh nafsu yang kian dia sodorkan ke hadapanku. Sejatinya aku malah pernah trauma dikejar-kejar temanku yang ternyata seorang gay. Jangan sampai kejadian lagi, ngebahasnya aja aku sudah ngeri.

“Gak perlu minta maaf, Fan. Bukan salah kamu, kok. Kalau menurutmu tubuhku menarik kan?” Tania balik tanya.

“Ba..banget Tan,” jawabku singkat.

“Kamu memang jantan dan normal.”

“Bangetlah!” kataku sambil memperhatikan perutnya yang langsing dan super mulus. Puting payudaranya terlihat sudah mengras, sepertinya dia sudah sangat terangsang.

“Seseksi dan semenggairahkan apa tubuhku ini, Fan?” tanya Tania dengan nada seperti pertanyaan dari seseorang yang sedang sedih dan frustasi.

“Susuah dikatakan, Tan.”

“Tapi kenapa kamu tidak pernah menggodaku?” susulnya.

‘Baiklah’ jawabku dalam hati. Dengan tanpa menjawab, aku segera meraih tubuhnya dan membawa masuk dalam pelukanku,

“Susah untuk digambarkan, Tan. Aku bahkan gak pernah berani ngebayanginnya. Apalagi bisa melihat dan memelukmu secara langsung seperti ini. Tubuhmu benar-benar sangat luar biasa dan menggoda. Namun aku tahu kamu sudah ada yang punya. Tidak mungkin aku menggangumu,” terangku.

Jawabanku tiba-tiba membuat Tania tertawa kecil, entah apa yang lucu.

“Bagaimana bila dibandingkan dengan tubuh mantan-mantanmu, Fan?” tanyanya lagi.

Aku tak menjawab, namun langsung melumat bibirnya. Untuk membungkam pertanyaanya yang benar-benar membuatku serba salah, tak jalan lain selain membuatnya mendesah. Tania sepetinya sudah tahu kalau aku bukanlah anak kampung yang polos-polos banget.

Tania membalas lumatan bibirku dengan lebih mesra dari sebelumnya. inilah cumbuan serta sentuhan terindahku dengan Tania, istri sahabat karibku sendiri yang selama ini selalu kujaga agar tidak tersentuh oleh lelaki mana pun selain suaminya.

Kulit Tania terasa begitu halus dan lembut, payudara yang berdiri tegak kuremas dengan penuh penghayatan, mata kami sama-sama merem melek, kepala kami bergerak lambat mencari posisi ternikmat dalam berciuman. Aku bahkan tak peduli sedang berada di mana saat ini.

“Beri aku sesuatu, Fan!” desahnya manja penuh birahi.

Jariku mulai menyentuh tiap inci payudaranya dengan perlahan, berputar di sekitar areolanya, lalu kemudian meremasnya dengan lembut. Desahan dan lenguhan Tania terdengar sangat lirih dan berat. Tiap kali tangaku meremas, dia mengigit leher, kuping atau bagian wajahku yang lain.

“Aaah, Arfaaan, aku sudah lama merindukan ini, oooh sssst…,” lenguhnya manja dengan mata yang terlihat sangat sayu, membuatku semakin bergairah.

Kembali kumainkan jariku menyentuh sekitar areolanya. Sampai kemudian tak sanggup lagi memainkannya. Putingnya yang tegak berdiri sangat menggoda, dengan sedikit nakal aku sentil puting itu dengan telunjukku membuat Tania mengerang lebih kencang. Erangannya cukup nyaring, sampai-sampai jariku sempat berhenti sejenak.

Wajah Tania memerah sepertinya menahan malu. Namun setan terus mendorongku untuk kembali melumat bibir mungilnya. Mobil itu menjadi saksi betapa panasnya ciuman kami berdua, seperti yang sudah kuduga.

Tania memang sangat mahir dalam berciuman bahkan cenderung liar. Entah siapa yang mengajarinya? Aku yakin bukan calon suaminya yang katanya agak belok itu.

Remasan-remasan tanganku berhasil membangkitkan gairah Tania. Dia melenguh, mengerang dan merintih penuh hasrat yang membuatnya semakin liar. Bahkan batang kejantanku sudah keluar dari celah retsleting celanaku.

Tania tersenyum begitu menyadari kalau aku memang tidak memakai celana dalam,

“Aaah sudah aku duga,” ucpanya, lalu dia merebahkan kursinya sambil memelorotkan celana panjangnya, lalu rebahan hingga aku bisa dengan leluasa menikmati pemandangan indah tersebut. Buah dada Tania benar-benar besar dan sangat menggoda. Aku pun menggarap putingnya yang tegang menantang.

Sesekali tubuh Tania membusung tiap kali kuhisap putingnya yang mancung. Tanpa pikir panjang segera kumasukan telapak tanganku ke dalam celana dalamnya. Sekarang bukan cuma payudaranya yang kugarap, namun vaginanya yang sangat basah pun sudah menjari sasaean jari jemariku. Bulu-bulu lembut sungguh sangat menggetarkan.

“Arfaaan ooooh, aaaah…” Calon istri orang itu mendesah malu-malu ketika jari jemariku semalam nakal. Sebelah tangannya berusaha seolah akan menolak tanganku yang sedang mengocel liang kewanitaannya. Namun tak kupedulikan.

Jari telunjuk dan jari kelingkingku membuka bibir vaginanya yang sudah basah. Sementara jari manis kuarahkan ke dalam lobangnya. Dengan gerakan menusuk-nusuk lembut Tania makin kalang kabut dibuatnya. Desahan demi desahan tak terhindarkan lagi.

“Aaah..Fan, jangan di situ aah,” desahnya lagi saat jemariku berkerja di liang kewanitaannya. Cairan pelumas segera kembali meluber membasahi bibir vagina wanita cantik ini. Memang soal permainan jari, aku sudah ahlinya. Banyak wanita yang sampai kubuat orgasme berkali-kali hanya dengan permainan jari semata.

“Arfaaan aaaaaah aku dapaaaat ssssssst aaaah,” lenguh Tania cukup panjang dan tertahan. Sengaja aku memepercepat serviceku karena keadaan yang tidak memungkinkan. Bagiku yang terpenting Tania segera mencapai klimaksnya.

“Faaan, ah, kamu bener-bener gilaaa, jago banget aaah sssst…” ucapnya lirih, lalu bibir bawahnya digigit sendiri, merasakan sensasi kenikmatan yang mungkin masih meluap dari dalam dirinya. Tubuhnya mengejang beberapa saat kemudian lemas.

Sekian menita berikutnya kami sudah meluncur di jalan raya menuju rumahnya. Hari sudah mendekati sore, aku harus segera pulang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME
8.7
Pasca menikah di Pakistan, Adiba dan Syden menetap di Rusia. Gangguan mistis mulai menghantui Adiba serta ibu mertuanya di rumah baru mereka, namun Syden terus bersikap skeptis. Tragedi besar terjadi saat Adiba keguguran, memicu amarahnya untuk menuntut balas atas kematian sang buah hati. Sambil bersumpah demi Allah, wanita Pakistan ini tidak akan membiarkan siapa pun menghalanginya. Siapakah dalang keji di balik teror yang menghancurkan hidup Adiba?
Sampul Novel Hanya Suami di Atas Kertas
8.0
Agnes Permatasari, seorang wanita karier, terpaksa mengakhiri pernikahannya dengan Rama Pratama akibat tekanan mertua dan ipar yang toksik. Setelah bercerai, Rama segera menikahi wanita kaya pilihan ibunya, meninggalkan Agnes dalam bayang-bayang status janda. Di tengah hinaan dan cacian masyarakat, Agnes harus berjuang menentukan arah hidupnya. Apakah perpisahan ini akan membuatnya semakin terpuruk, atau justru menjadi titik balik baginya untuk bersinar?
Sampul Novel Malaikat dalam Gaun Baru
9.0
Keajaiban pertukaran jiwa membawa seorang wanita masuk ke tubuh istri miliarder ternama. Meski hidup bergelimang harta, ia justru menghadapi sikap dingin sang suami. Saat kekasih lama suaminya kembali, permintaan cerai pun diajukan. Ia setuju untuk pergi tanpa beban, namun takdir cinta berkata lain. Perpisahan itu justru menjadi awal dari babak baru yang tak terduga dalam hubungan mereka. Kisah romansa penuh kejutan ini baru saja dimulai.
Sampul Novel MENGEJAR CINTA ANAK KYAI
9.8
Andre, putra konglomerat, nyaris mengakhiri hidup karena dipaksa menikahi wanita pilihan orang tuanya. Beruntung, Amira yang merupakan anak seorang kyai berhasil menyelamatkannya. Pertemuan itu mengubah Andre hingga ia tekun mendalami agama demi memenangkan hati Amira. Namun, harapan Andre hancur saat Amira justru bertunangan dengan Adam di depan matanya. Kini, ia harus memilih antara terus berjuang atau kembali terjatuh dalam keputusasaan yang gelap.
Sampul Novel Menjadi isteri pengganti
7.9
Kelalaian Ameera akibat kekasih toxic-nya berujung maut bagi Ambeera, saudari kembarnya yang tengah hamil. Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi Liam, suami Ambeera, yang terpuruk dalam depresi. Demi memulihkan kondisi Liam, Ameera terpaksa menjadi istri pengganti. Namun, setelah Liam siuman dan menyadari kenyataan, ia justru meluapkan kebencian. Kini, Ameera harus bertahan menghadapi kekerasan fisik dan verbal dari pria yang sangat membencinya.
Sampul Novel Moonstruck
9.2
Beryl merasa tertantang saat orang lain meragukan kemampuannya mendekati Simfoni, gadis yang dikenal sangat sulit digapai. Berawal dari ego yang tersentil, Beryl pun memulai misi untuk memenangkan hati Simfoni dengan berbagai cara. Dari strategi wajar hingga aksi nekat yang menguras emosi, ia melakukan segalanya demi menarik perhatian sang gadis. Meski penuh rintangan yang membuat stres, Beryl yakin pesonanya takkan gagal. Akankah kegigihan Beryl sanggup meluluhkan hati Simfoni?