APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jovanca Sang Penggoda

Jovanca Sang Penggoda

Jovanca adalah wanita cantik yang hidup keras sebagai yatim piatu. Demi bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi, ia bekerja serabutan hingga merasa jenuh. Keadaan ini mendorongnya memanfaatkan pesonanya untuk menggoda pria demi kesenangan. Namun, permainan itu justru menjadi bumerang saat ia dikejar banyak pria beristri. Di tengah kekacauan tersebut, hati Jovanca justru tertambat pada lelaki lain. Terjebak dalam intrik cinta, mampukah ia menemukan kebahagiaan?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab 3

Mata Jovanca, terbelalak tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Benar kata orang, di saat memasuki dunia baru, di kampus. Akan banyak jenis manusia yang ditemui.

Begitulah yang dilihat Jovanca saat ini. Ini adalah hal gila, gadis itu muak melihatnya. Steacey, tengah asyik, bercinta dengan sesama jenisnya. Perut, Jovanca serasa diaduk aduk. Dia kembali menutup pintu kamar itu, dan memutuskan untuk pergi.

"This is crazy! Bisa bisanya, dia melakukan itu di kamarku? Oh— bukan, di kamar kita bersama. God— bisakah aku bertukar kamar?" gumam, Jovanca.

Gadis itu terus berjalan, tangannya setia menggenggam pegangan kopernya. Berjalan, tidak tentu arah, hingga dia lelah. Seharusnya, dia istirahat, sore ini. Tetapi, Steacey, membuat jam istirahat, kacau.

Gadis itu, berkeliling, ke pekarangan motel, banyak tanaman yang ada di sana. Menurutnya, dan sejujurnya, tempat itu tidak terlalu buruk. Dari kejauhan, dia bisa melihat, sepasang manusia.

Jovanca, menatap terus, meski tidak mengetahui, apa yang mereka bicarakan. Pria itu, terlihay begitu marah, membantah, menuding, bahkan sampai mendorong wanita itu.

"Not good! Pria gila!" gumamnya.

Jovanca, bak menonton drama secara langsung, adu mulut, saling pukul, dan tidak ada yang mau mengalah diantara mereka. Mendapatkan hiburan baru. Setidaknya, kejadian di depan matanya itu, asli, dan wajar.

Bukan menyimpang, jika Steacey, hanya mabuk, mungkin, Jovanca akan memaafkannya, dan bukan tidak mungkin, dia akan ikut bergabung. Namun, di dalam kamar itu, lain hal. Lebih baik, dia tidak bercinta selamanya, dari pada harus bersama dengan wanita.

"O—" Mulutnya, mengerucut, kala melihat, pria itu, menampar wanitanya.

"Bukan lelaki sejati," gerutu, Jovanca.

Setiap yang terjadi, di hadapannya, selalu dia komentari, meski hanya sebuah guyonan baginya. Sungguh, dia tidak benar benar peduli. Dia mengambil keuntungan, dari semua yang dilihatnya.

"Ups, jangan kemari, Do not come close," lirih, Jovanca, ketika melihat sang pria itu, mendekati dirinya.

"Hei, sedang apa?" tanyanya, tanpa merasa bersalah, canggung, atau aneh. Seperti, dia tidak melakukan apapun sebelumnya.

Nyatanya, dia baru saja meninggalkan, wanita, dalam keadaan, buruk, menangis, dan sendirian.

"Nothing, ehm— hanya, mencari angin saja," sangkal Jovanca. Mencari alasan, kalau kalau pria itu, marah, karena kedapatan dirinya melihat adegan, demi adegan lelaki itu.

"Mau, ikut denganku?" ajaknya. Jovanca, menggeleng, dia tidak suka, lelaki yang seperti itu. Kasar, dan hanya berani dengan perempuan.

"Maybe, Next time," jawab, Jovanca dengan ringan.

"okay, see you." Pria itu, meninggalkan Jovanca. Kemudian, kini giliran, si wanita yang mendekati, gadis berambut merah itu.

"Kamu, melihatnya?" tanyanya, dengan parau.

"Ehm— yeah, semuanya. Why? Kalian— hmm, tidak, tidak jadi," sahut, Jovanca.

Tanpa kata, gadis itu pergi. Mereka, berpisah, dan Jovanca, berharap, tidak akan bertemu lagi dengan salah satu dari mereka, atau bahkan keduanya.

"Yeah, enyahlah. Aku, akan tidur di sini setidaknya, sampai waktu makan malam. Jika sampai tiba saatnya, mereka belum keluar, aku tendang kedua bokong tipis itu!" kesalnya.

Jovanca, merebahkan tubuhnya, di atas rerumputan hijau, mengambil selimut, sebagai bantalannya. Dia berusaha terpejam, melupakan hari buruk ini. Sejak pagi, sampai sor, sepertinya, keberuntungan, sama sekali tidak memihak padanya.

"Andai, aku punya sugar Daddy, tidur di kasur empuk, banyak duit, rumah mewah— oh— indahnya. Tapi, boleh dong, minta yang masih gagah perkasa gitu. Jangan yang bau tanah. Aku tidak suka berpura pura."

Jovanca, menatap luasnya langit, khayalannya benar benar liar, dan umum, di minta wanita yang pemalas, atau lebih tepatnya, lelah berjuang sendirian.

Wait— siapa kedua orang yang dia temui?

Di sudut taman belakang motel. Dua sejoli yang seharusnya masih membina hubungan baik. Namun perselisihan, tidak mengenal berapa lama, suatu hubungan terjalin.

Mereka bertengkar, satu membela, satu menyalahkan, bukankah seperti itu, pertengkaran? Jeffrey, pria itu memejamkan, matanya, dan mengepalkan tangannya.

Dia marah, tapi tidak tega menyakiti wanita. So— yang dilihat Jovanca, bukanlah mereka. Melainkan, teman satu angkatannya. Yang mana, si lelaki menjadi idola banyak wanita. Sok cool, tetapi kelakuan minus.

Terlihat, gadis bernama Ainsley Hills, menitikan air mata. Dia yang banyak berusaha untuk hubungannya. Dia yang banyak berkorban, demi mempertahankan, satu komitmen rumitnya.

"Jeff, please, jangan seperti ini. Kita sudah membahasnya ratusan, bahkan ribuan kali kan? Dari awal, sampai pada akhirnya keputusan yang kamu ambil. Bahkan, aku mempercayakan semua milikku padamu," titah, Ainsley.

"Karena kamu menyogokku! Karena memang kamu mau mengurungku. Hah— Ainsley, aku lelah. Oke, kita buat kesepakatan, baru. Jika kamu, melahirkan, bayi laki laki, maka, aku akan tetap tinggal. But—if the baby is born a girl. I have to go." Wajah Jeffrey, terlihat begitu serius.

"What?! Jeffrey, dengar, tidak ada hubungannya, anak lelaki atau perempuan, dengan pekerjaanmu. Jika pun dia laki laki, dia juga masih bayi, tidak mungkin langsung besar, dan menggantikanmu mengurus, pekerjaan bukan?!" Ainsley, masih terlihat begitu kesal.

Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa hanya masalah anak, bahkan lelaki bisa melepaskan semua kekayaan. Tentu saja, ada. Dia yang memang terobsesi, atau teramat ingin, mimpinya terwujud, tidak lewat tangannya, tetapi lewat tangan anaknya. Bukankah, itu sangat egois?

"Jeff, ayolah. Lupakan, semuanya. Oke, oke, aku pastikan dia lelaki, tidak ada bayi perempuan. Fix, jangan mengungkit masalah ini lagi. Aku bisa stress." Gadis itu memegang tangan suaminya, dan menepuknya lirih.

Meyakinkan, bahwa bayi yang dia kandung, adalah lelaki. Meski, dalam hatinya ribuan kecemasan, ketakutan, melanda diri. Namun, rasa cinta, dan tulusnya pada Jeffrey seakan mengalahkan segalanya.

Jeffrey, menggedikkan bahunya. Kemudian, dia menghembuskan napas dengan perlahan. Mengontrol dirinya, agar tetap tenang. Bagaimana pun dia lelaki yang jauh lebih matang dari Ainsley, usia mereka terpaut delapan tahun.

Ainsley sembilan belas tahun, dan yah— dua puluh delapan tahun untuk Jeffrey. Lelaki itu, memeluk gadis kecil yang dihadapannya. Melupakan, pertengkaran yang baru saja mereka jalani.

"Okay, i'm sorry. Mungkin, aku masih butuh banyak waktu, untuk menghadapi dunia baruku, Ains. Kamu tahu, sejak dulu, aku tidak pernah memegang berkas apapun. Yang aku, sentuh hanya stang motor, peralatan untuk memperbaiki, motorku, lahan sirkuit, dan— kamu."

Pria itu mengulas senyum, dan menarik dagu, Ainsley, kemudian mencium kening wanita itu. "Maafkan, aku," sesal Jeffrey.

Ainsley mengangguk, "it's ok. Aku paham, aku mengerti. Kamu adalah laki laki hebat, Jeff. Dalam sebulan, kamu bisa menaikkan saham kita. Tenanglah, kamu tetap akan menjadi pembalap profesional, hanya untukku," kikih Ainsley. Mereka tersenyum, dan kembali berpelukan.

***

Matahari telah menyingsing, cahaya jingga, membuat bayangan panjang. Semua aktivitas di luar ruangan, telah berpindah, ke dalam gedung. Makan malam, berbincang, bercanda, tertawa bersama.

Jovanca, sudah siap menghadapi meja penuh dengan santapan lezat. Perutnya memang sudah berdemo, minta segera diisi. Dia keluar dari kamar, dengan balutan dress berwana merah, diatas lutut, dan dengan punggung yang terbuka. Rambut merahnya seakan menyatu dengan baju yang dia kenakan.

Akan tetapi, dia mengikat rambutnya, tinggi tinggi. Begitu terlihat jelas, leher yang jenjang, dan menggoda. Alasannya, simpel, karena dia tidak mau, sehelai rambut masuk ke mangkuk supnya. Mungkin—

Akankah sesuatu akan terjadi, di malam pertama tour gila' yang mereka lakukan?

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adegan Panas Malam Pertama
8.7
Malam pertama yang seharusnya menjadi momen istimewa bersama suami justru berubah menjadi kejutan tak terduga. Aku melewati malam penuh gairah dan kepuasan intens dengan sosok pria perkasa yang identitasnya bukan pasanganku. Saat fajar menyingsing, drama kehidupan yang rumit pun dimulai. Pengalaman intim yang memabukkan itu seketika membalikkan duniaku, membawa konsekuensi besar yang mengubah seluruh alur takdir masa depanku selamanya.
Sampul Novel Antara Tajir dan Hafidz Qur'an
8.7
Nadia adalah wanita ambisius yang terbiasa hidup dalam kemewahan. Namun, dunianya berubah saat ia bertemu Akbar, seorang penghafal Al-Qur'an yang sangat sederhana. Di tengah ambisinya, Nadia mulai meragukan nilai materi setelah mengenal spiritualitas Akbar. Kini ia bimbang antara menjaga gengsi sosial atau memilih cinta sejatinya. Sayangnya, keluarga Nadia menentang keras karena perbedaan kasta ekonomi. Mampukah mereka bersatu meski terhalang tembok status sosial?
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika dan mentornya, Charli, mengelola ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali. Di sana, Randika jatuh hati pada Andini Wijaya, seorang wanita mandiri pemilik sekolah. Namun, asmara mereka terancam saat Junot, mantan Andini, mendadak kembali. Di sisi lain, adik Andini yang bernama Lily berambisi merebut Randika demi mendapat pengakuan sang ayah, Sigit Wijaya. Terjebak dalam dilema masa lalu dan ambisi keluarga, mampukah cinta Randika dan Andini bertahan?
Sampul Novel MEMBAKAR GAIRAH
9.4
Sepuluh tahun berlalu sejak tragedi hotel menghancurkan cinta Joshua dan Reinata. Takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi pelik saat Joshua muncul sebagai kekasih Kayla, putri tiri Reinata. Terbakar api cemburu dan perasaan yang belum padam, Reinata bertekad menggoda Joshua demi merebutnya kembali. Akankah Joshua terjebak dalam gairah terlarang bersama calon ibu mertuanya? Bagaimana hancurnya hati Kayla jika rahasia kelam masa lalu sang suami terungkap?
Sampul Novel Menjadi Istri Kedua Kakak Ipar
8.2
Slavia terpaksa menikahi Rio, kakak iparnya sendiri, demi memenuhi ambisi Shara yang mendambakan keturunan. Perjanjian rahasia pun dibuat; Slavia harus menyerahkan bayinya lalu pergi selamanya setelah melahirkan. Namun, situasi memanas saat Shara mulai terbakar api cemburu melihat kedekatan suami dan adiknya. Ia pun menyusun rencana licik untuk mengusir Slavia tepat setelah persalinan demi menghapus jejak pengorbanan sang adik di rumah tangganya.
Sampul Novel Misteri Cinta
9.4
Oceania Samudra hancur saat Banyu Siliwangi gagal hadir di pernikahan mereka. Tak hanya menanggung malu, gedung acara pun meledak secara tragis. Kini Ochi terjebak dalam investigasi polisi yang dipimpin Badai Putra Alam, perwira bermulut pedas yang menguji kesabarannya. Di tengah ancaman teror yang mengintai nyawanya, Badai hadir sebagai pelindung meski ia berusaha profesional. Namun, satu pelukan tak sengaja mengubah segalanya, membuat Badai tak ingin melepaskan Ochi.