APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kambing Hitam Cinta, Pengkhianatan Tersembunyi

Kambing Hitam Cinta, Pengkhianatan Tersembunyi

Demi Tristan, karier arsitekku kurelakan. Tragisnya, Dara sang sahabat justru menjebakku dalam kasus korupsi satu dekade silam. Alih-alih dibela, aku malah dihujat suami dan putraku sendiri, Rehan. Bahkan orang tuaku lebih memuja Dara sebagai pahlawan. Setelah sekian lama menjadi kambing hitam dan nyaris tewas dalam kecelakaan, mataku terbuka. Di pesta perusahaan, aku hadir membawa bukti kejahatan Dara. Saatnya membalas pengkhianatan mereka dengan kehancuran total.
Bab
Bagikan

Bab 2

Alissa POV:

Dara berdiri di ambang pintu, dengan putrinya, Dinda, di sampingnya.

Mereka terlihat terkejut melihatku dengan koper.

"Ada apa ini?" tanya Dara, suaranya lembut, tapi matanya menatapku dengan tatapan tajam.

Aku menatap tangan Dara yang memegang kenop pintu.

Kenop pintu itu adalah pemindai sidik jari.

Dia bisa masuk kapan pun dia mau.

Aku ingat pernah mengatakan kepada Tristan bahwa aku tidak ingin Dara memiliki akses ke rumah kami.

Tristan hanya mengabaikanku.

Aku menatap Dara dengan tatapan penuh kebencian.

Wanita ini telah menghancurkan hidupku.

Dia telah mencuri segalanya dariku.

Dan sekarang, dia berdiri di sini, berakting sebagai korban.

Dara melihat tatapanku, dan ekspresi wajahnya berubah.

Dia mengerjap-ngerjap, seolah menahan air mata.

Dinda bersembunyi di belakang ibunya, menatapku dengan mata lebar.

"Tante Alissa, kenapa Tante marah-marah?" tanya Dinda, suaranya bergetar.

"Tante menyakiti Mama lagi?"

Aku hanya menatap Dinda dengan dingin.

Aku mengingat kejadian di rumah orang tuaku beberapa bulan yang lalu.

Aku sengaja datang untuk makan malam keluarga.

Aku berharap bisa memperbaiki hubunganku dengan Tristan, dengan Rehan, dan juga dengan orang tuaku.

Aku sudah mencoba segalanya.

Aku mencoba bersabar, mencoba mengalah.

Aku mencoba untuk menjadi ibu dan istri yang baik, meskipun itu berarti mengorbankan diriku.

Aku pikir, mungkin, dengan makan malam keluarga ini, semuanya bisa berubah.

Mungkin, mereka akan melihat usahaku.

Mungkin, mereka akan memberiku kesempatan kedua.

Aku salah.

Saat makan malam berlangsung, Dinda tiba-tiba mendorongku dari tangga.

Aku jatuh terguling.

Kakiku patah, tapi tidak ada yang peduli.

Semua orang panik, menghampiri Dinda.

"Dinda, kamu tidak apa-apa?" kata Tristan, memeluk Dinda.

"Dinda, sayang, kamu tidak terluka?" kata ibuku, membelai rambut Dinda.

Semua orang menatapku dengan tatapan menuduh.

"Alissa, kenapa kamu mendorong Dinda?" tanya ayahku, suaranya keras.

Aku mencoba menjelaskan, tapi tidak ada yang mendengarkanku.

"Aku tidak mendorongnya!" teriakku, air mata mengalir di pipiku.

"Dia yang mendorongku!"

Dara tidak mengatakan apa-apa.

Dia hanya menatapku dengan tatapan sedih, seolah-olah aku telah melakukan sesuatu yang sangat buruk.

Dinda mulai menangis.

"Tante Alissa jahat!" teriak Dinda.

"Dinda tidak mau makan malam di sini! Dinda tidak mau melihat Tante Alissa!"

"Dinda hanya tidak sengaja mendorongnya, Mama tidak menyuruh Dinda melakukan itu!"

"Dinda tidak mau disini! Dinda tidak suka Tante Alissa!"

Ibuku menamparku.

Pipiku terasa panas, tapi aku tidak merasakan sakit fisik.

Hanya sakit hati yang tak tertahankan.

"Alissa, kamu semakin kejam!" bentak ibuku.

"Kamu sudah seperti monster!"

"Ibu, aku tidak!" kataku, air mata mengalir deras.

"Apa yang kamu harapkan, Alissa?" kata ayahku, suaranya dingin.

"Kamu tidak pernah bisa dipercaya."

Tristan menatapku dengan tatapan kecewa.

"Aku tidak percaya kamu melakukan ini, Alissa," katanya, suaranya rendah.

"Aku sangat kecewa padamu."

Rehan tiba-tiba menendang kakiku yang patah.

Aku menjerit kesakitan.

Tapi tidak ada yang peduli.

Semua orang hanya menatapku dengan tatapan jijik.

"Mama memang pantas mendapatkannya!" teriak Rehan.

"Mama jahat! Mama sudah menghancurkan hidup Tante Dara! Mama sudah menghancurkan hidupku!"

Aku tidak bisa lagi menahan air mata.

Aku tertatih-tatih keluar dari rumah itu.

Meninggalkan semua orang yang kucintai.

Meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi tempatku bernaung.

Aku tidak pernah kembali ke sana.

Aku mencoba untuk melupakan malam itu.

Tapi setiap kali aku melihat Rehan, aku mengingatnya.

Aku mencoba untuk tidak membenci Dara.

Tapi setiap kali aku melihatnya, aku mengingatnya.

Malam itu, aku tahu.

Aku harus pergi.

Meskipun Tristan merobek surat perjanjian perceraianku.

Setengah tahun yang lalu, dia melakukan hal yang sama.

Aku sangat takut saat itu.

Aku takut kehilangan Rehan.

Aku takut menjadi yatim piatu.

Dia memelukku, menatapku dengan mata penuh kasih.

"Kamu tidak akan ke mana-mana, Alissa," katanya, suaranya lembut.

"Aku tidak akan pernah melepaskanmu."

"Hanya aku yang akan mencintaimu, Alissa."

Aku tidak tahu apakah aku harus percaya padanya.

Aku tidak tahu apakah aku harus tetap tinggal.

Dia melihat keraguanku.

"Kamu tidak bisa pergi, Alissa."

"Kamu tahu kan, kamu pantas menerima semua ini."

"Kamu harus menebus kesalahanmu."

"Ibu dan ayahmu bahkan sudah menganggap Dara sebagai putri mereka."

"Kamu tidak punya siapa-siapa lagi."

"Kamu harus patuh kepadaku."

Aku melihat matanya.

Dia tidak mencintaiku.

Dia hanya ingin mengendalikanaku.

Tapi aku terlalu takut.

Aku takut sendirian.

Aku takut menjadi tidak punya siapa-siapa.

Aku tidak ingin menjadi seperti rumput liar yang diinjak-injak siapa saja.

Jadi, aku mengangguk.

Aku tinggal.

Aku berhenti membela diri.

Aku membiarkan mereka mengatakan apa pun yang mereka inginkan.

Aku membiarkan Tristan dan Rehan lebih menyayangi Dara.

Aku membiarkan mereka menganggap Dara sebagai pahlawan.

Aku membiarkan mereka menghina dan meremehkanku.

Aku pikir, mungkin, jika aku bersabar, jika aku diam, semuanya akan kembali seperti semula.

Aku salah.

Semuanya hanya semakin buruk.

Kini, suara Dinda membuyarkan lamunanku.

"Tante Alissa, jangan menyakiti Mama!" teriak Dinda.

Rehan mendorongku, lalu berlari ke arah Dinda.

"Dinda, kamu tidak apa-apa?" kata Rehan, memeluk Dinda.

"Tante Alissa jahat! Jangan dengarkan dia!"

Rehan menatapku dengan mata penuh kebencian.

"Jangan pernah berani menyakiti Tante Dara dan Dinda!" ancamnya.

"Kamu tidak pantas untuk mereka!"

Dara menatapku dengan mata sendu.

"Dinda tidak apa-apa, sayang," katanya, mengelus rambut Dinda.

"Biarkan saja Tante Alissa. Mungkin dia sedang tidak enak badan."

"Tapi Mama... Dinda takut," kata Dinda, memeluk erat ibunya.

"Dinda tidak mau Tante Alissa mengusir kita."

"Kita tidak punya apa-apa lagi, Mama."

"Dinda tidak mau kita diusir dari sini."

Aku tertawa.

"Usir? Memangnya kenapa?" kataku.

"Bukankah rumah ini pada akhirnya akan menjadi milikku? Atau kamu yang akan tinggal di sini selamanya?"

Dara terkejut.

Dia tidak menyangka aku akan mengatakan itu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Cinta di Kota Tua
9.7
Sofia, fotografer yang patah hati, mencari inspirasi di kota tua yang penuh sejarah. Di sana ia bertemu Adrian, penulis misteri yang berduka atas kematian istrinya. Meski dihantui masa lalu, ikatan emosional tumbuh di antara mereka. Namun, kemunculan mantan kekasih Sofia dan rasa bersalah Adrian mengancam hubungan ini. Melalui keintiman dan pengorbanan, mereka belajar menyembuhkan luka lama dan memilih membangun masa depan baru yang penuh harapan bersama.
Sampul Novel Gadis Penghibur Tuan CEO
8.5
Ajeng Kirei Aswari dijual ayahnya ke tempat prostitusi saat berusia 18 tahun. Selama sepuluh tahun, ia menjalin hubungan dengan Reynold Bill Timur, CEO sukses yang menjadi tumpuan hidupnya. Namun, keluarga Bill menentang status Ajeng dan menjodohkan Bill dengan wanita sederajat. Tak mampu menolak, Bill tetap membawa Ajeng ke dalam skandal di tengah pernikahannya. Mampukah Ajeng bertahan bersama Bill meski harus menyakiti perasaan wanita lain yang tak bersalah?
Sampul Novel Hingga Menjadi Kita
9.7
Nissa, seorang siswi SMA, menaruh hati pada guru Bahasa Indonesianya yang masih muda dan rupawan, Ilyas. Berbagai upaya ia kerahkan demi memikat perhatian sang guru di sekolah. Namun, akankah Ilyas membalas perasaan muridnya tersebut? Ataukah perbedaan usia dan status menjadi penghalang besar? Di tengah kebimbangan, muncul pilihan bagi Ilyas untuk menikahi wanita dewasa. Akankah cinta remaja Nissa berakhir manis atau justru bertepuk sebelah tangan?
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Paman Mantan Pacar
9.7
Brendan meninggalkan pernikahan demi wanita lain dan yakin aku akan memohon untuk kembali. Namun, keputusanku sudah bulat untuk mengakhiri hubungan kami. Saat dunia mengira aku terpuruk, Edrence, sang pangeran sekaligus paman Brendan, justru mengunggah bukti pernikahan kami. Brendan yang panik segera mendatangi kediamanku, namun ia tertegun melihat siapa yang menyambutnya. Sambil bersandar pada suamiku, aku bertanya sinis, Ada urusan apa kemari, Ponakan?
Sampul Novel Mencintai Anak Kakakku
8.0
Ara Qubilah Iskander, gadis cantik keturunan Turki, telah mengidolakan Chandra Syauqi Abimana sejak kecil. Baginya, adik dari ibunya itu adalah sosok pangeran sekaligus pahlawan sejati. Sebaliknya, Chandra justru merasa terbebani dan terganggu oleh kehadiran Ara di hidupnya. Sebuah kesalahpahaman besar di suatu malam akhirnya memicu konflik tajam yang membuat Chandra membenci Ara. Mampukah hubungan mereka membaik, ataukah kekaguman Ara terhadap Chandra akan sirna selamanya?
Sampul Novel Neng Zulfa
8.5
Zulfa Zahra El-Faza, putri kiai yang dingin terhadap asmara, selalu menolak setiap lamaran yang datang. Namun, keteguhannya runtuh saat mengenal Fatih Thoriqul Firdaus. Meski akhirnya menikah, Zulfa justru terjebak dalam kepedihan. Fatih menyimpan banyak rahasia kelam yang memicu luka mendalam. Di tengah bayang-bayang orang ketiga, sanggupkah kejujuran menyelamatkan cinta mereka? Sebuah kisah tentang pengkhianatan dan pencarian kepercayaan dalam rumah tangga.